Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
69. Language!


__ADS_3

Belum selesai kejutan dari Viani, tiba-tiba Indra muncul. Anak itu langsung pergi dari hadapan Gemma, masuk dalam mobil sang ayah.


“Ngapain kamu di sini?” tanya Gemma.


“Viani kemarin sakit dan ingin ketemu kamu. Tapi sepertinya kamu lagi sibuk,” ujar Indra menunduk menatap ponselnya seraya berdiri di depan mereka, mengetik sesuatu di sana.


Dan ketika Indra mengangkat wajahnya, dia nampak kaget karena ternyata pria yang bersama Gemma adalah Gala. Lalu kemudian, dia tersenyum misterius, menatap Gala dan Gemma bergantian.


“Well, well… Kamu sama istri saya ngapain berduaan di sini? Kalian pacaran? Awas ketangkap hansip loh!"


“Ralat, Ndra… Ex-wife,” geram Gemma, menatapnya dengan penuh kemarahan.


“Kalian kenal dari mana?”


“Dia mantan aku waktu SMA,” jawab Gemma yang kini memalingkan wajah dari sang calon mantan suami.


“Pegawe gue dan istri gue… Ck! Jadi kamu suka pria kere, Gem? Selera kamu kok jadi terjun bebas? Atau jangan-jangan, kamu emang se-kesepian itu sampe nyari produk obralan?


Ya, aku bisa pahami sih kalo cowok-cowok kayak aku memang di luar jangkauan kamu. Tapi melihat penampilan kamu sekarang, kalian cocoklah,” Indra terkekeh dengan nada menghina.


Meskipun Gala mendengar semua dengan jelas, dia tidak memiliki rasa tersinggung sama sekali. Dia hanya sedang waspada.


Diam-diam Gala menyilangkan kedua tangannya di belakang punggungnya untuk melepas jam tangan Hublot miliknya dan menyimpannya dalam kantong celananya. Untung saja tak ada aksesoris lain yang mencolok.


Penampilannya malam ini cukup sederhana untuk seorang pegawai biasa. Gala masih ingin Indra punya asumsi seperti itu terhadap dirinya.


Tatapan tajam Gemma tertuju pada sang calon mantan. “Aku mau berteman sama siapa aja, itu bukan urusan kamu lagi!”


“Sok suci kamu, udah selingkuh masih aja bilang teman! Sini aku foto dulu kalian,” Indra tiba-tiba mengangkat ponselnya dan segera menggeser ikon kamera dengan begitu cepat mengambil foto mereka tanpa Gala dan Gemma bisa menghindar.


Gemma maju menatap Indra face to face. “Apa-apaan ini, Mas?”


“Buat jaga-jaga aja… Kita jadi saling punya bukti perselingkuhan kan?"


"Jangan konyol sama foto yang cuma berdiri berdua begini! Pergi dari rumahku!” usir Gemma dari sana.


“Aku juga nggak mau lama-lama di sini. Kalian bisa bersenang-senang. Saran aku, kamu hati-hati dengan penyakit menular seksual. Kayaknya cowok kamu ini, hmm... suka jajan sembarangan,” ujar Indra sambil memasukkan ponsel itu ke dalam saku celananya dan pergi dari sana menyusul sang anak yang masih syok melihat Gemma bersama pria lain.


Gemma hendak menjawab Indra, tetapi buru-buru Gala menangkap lengannya dan menggeleng, sehingga wanita itu menutup mulutnya kembali, menahan setiap kata-kata kasar yang telah terkumpul penuh di ujung lidahnya. Seraya matanya memandang kepergian Indra, napasnya dengan cepat berubah jadi lebih teratur.


“Kamu baik-baik aja?”

__ADS_1


Gemma tak menjawab. Dia masih mencoba mengatur desiran darahnya yang menggila. Walaupun hari ini sudah tiga kali Gemma diberi kejutan yang hampir membuatnya kena serangan jantung, wanita itu masih dengan kuat berdiri tegak di sebelah Gala.


“Gem…”


Wanita itu mengangkat tangannya, memeluk dirinya sendiri. Dia memandang Gala begitu getir. “Aku perlu waktu buat sendiri dulu.”


“Gemma, I’m so sorry.”


"Kamu nggak salah. Aku yang setuju sama hubungan ini dan terlalu ceroboh untuk menunjukkannya pada dunia tanpa mikir bagaimana reaksi Viani ataupun mantan suamiku. Gala, kita jaga jarak dulu. Aku perlu space untuk berpikir."


"I see."


Hanya itu saja yang mampu diucapkan Gala ketika meninggalkan rumah Gemma setelah pertemuan tak terduganya dengan Viani dan Indra.


...***...


Gala tidak pulang ke apartemennya malam itu. Pria itu ke rumah lamanya, rumah yang kini sudah jadi milik Mona beserta tiga anaknya, sedangkan suaminya masih di luar negeri dan baru akan kembali dua minggu lagi.


Paginya, Mona membangunkan Gala untuk berbicara empat mata di ruang kerja milik almarhum ayah mereka. Mona mendengarkan cerita Gala dengan seksama.


Awalnya kedengaran seperti curhatan cinta monyet remaja yang lagi ketahuan cheating karena cara Gala bicara persis seperti ABG labil yang baru tahu namanya cinta. Tapi seperti dugaan Mona, semua ini tak sesimpel itu.


“Itulah sebabnya kami semua belum setuju dengan hubungan kamu dan Gemma. Bukan tidak merestui, tapi—“


Mona tersenyum lembut pada sang adik. Meski saat Gala masih di Aussie dulu, dia masih tetap aktif mengurus Diverto dibantu oleh Felix. Namun, tetap saja hal ini adalah hal yang baru untuk adiknya. Apalagi kalau sudah menyangkut sesuatu sesensitif uang.


“That’s okay. Untuk orang yang baru terjun langsung, pekerjaan kamu itu sudah sangat baik sekali, Gala… Jadi sekarang, kita harus mikirkan bagaimana nantinya kalau Indra dan Bambang sampai tau siapa kamu. Identitas kamu harus tetap tersembunyi, paling nggak sampai Bambang dan Indra ditahan.


Kita nggak pernah tau apa yang jadi isi kepala Bambang begitu dia tau kalau pegawai rendahannya adalah orang yang membongkar kasus korupsi mereka. Dengan semua sumber daya manusia yang kita miliki, kita memang akan aman walaupun—“


“Aku dan Gemma akan jaga jarak dulu,” putus Gala.


“Udah bilang ke Gemma? Bagaimana reaksi dia?”


“Dia yang minta duluan setelah Indra pergoki kita di rumah."


Tatapan Mona jadi makin lembut apda adiknya. “Kakak akan kirim orang untuk awasin Gemma. Don’t worry, okay?”


“Makasih, Kak.”


Akhirnya Gala mengalah, ini yang terbaik dari semuanya. Dia harus jaga jarak dari Gemma untuk sementara waktu.

__ADS_1


 ***


Hingga hari-hari berganti jadi minggu, penyelidikan terhadap delik laporan itu terus bergulir sampai pada pemeriksaan Indra dan Bambang. Semua orang yang terlibat dipanggil untuk diinterogasi.


Namun yang mereka dengar, kedua orang itu tidak datang pada panggilan pertama, dan pihak berwajib sudah melayangkan surat panggilan kedua.


Keempat orang yang jadi ujung tombak keluarga Aditya tetap memantau perkembangan kasus itu. Gala sendiri masih berkomunikasi dengan Hendra dan kawan-kawan yang juga turut diperiksa sebagai saksi.


Hendra dan Daniar yang ketakutan terus menerus bertanya tentang nasib mereka yang seakan-akan diujung tanduk. Karena siapapun dari mereka kini bisa saja statusnya dinaikan jadi tersangka. Ya, salah sendirilah! Siapa suruh ikut korup?


Hari itu, Paul, Felix dan Mona sedang berkumpul di rumah Mona untuk makan siang bersama.


“Gimana kabarnya Gemma? Tumben lo jarang ngomongin dia?” tanya Felix sambil memakan daging panggang.


“Dia aman. Sekarang dia lagi ngedaftar di institut kesenian,” jawab Gala datar.


“Ambil jurusan apa?”


Gala mengangkat kedua bahunya, lalu menjawab dengan tak yakin. “Mungkin seni musik."


Felix menaikkan sebelah alisnya lalu menunduk dan berbisik, “Lo nggak pa-pa, Bro? Hari ini lo kayak mudah sewot banget. Apa jangan-jangan Gemma udah tau ya?”


Gala mengangkat wajahnya menatap Felix sejenak, lalu kembali fokus memotong daging panggang di atas piringnya. “Dia belum tau.”


“Sooner or later, dia harus tau, Gala. Dari mulut lo sendiri.”


Gala tahu itu. Gala tahu persis apa yang harus dia lakukan. Tapi bagaimana sekarang kalau keadaan komunikasi mereka tidaklah sebaik yang dulu? Belum lagi berbagai pemikiran yang akhir-akhir ini mengganggunya. Dia tidak bisa tidur selama Bambang dan kawan-kawan belum diadili.


“Entah, Lix. Entah ada hubungannya sama Gemma atau nggak, hari ini perasaan gue lagi nggak enak.”


Gala kemudian mengambil ponselnya, dan mendapati balasan pesan orang suruhan Mona yang mengatakan kalau Gemma baik-baik saja dan sedang duduk di kantin kampus bersama seorang pria muda.


Bodyguard itu bahkan mengirim foto mereka sedang duduk di meja sambil berbincang santai. Melihat hal itu, memang ada amarah tertahan yang membuat darah Gala mendidih, tetapi dia tak bisa berbuat banyak. Tidak saat ini.


“Ho-ly-shi**t!”


Suasana tiba-tiba berubah saat mereka serentak menoleh ke arah Felix yang tiba-tiba berdiri dan memekik, kala matanya menatap sesuatu dalam ponselnya.


“Language!” bentak Paul yang masih menyuap daging panggang itu ke mulutnya.


“Lo kenapa?” tanya Gala dengan menuntut.

__ADS_1


“Om Bambang dan Indra masuk dalam daftar DPO. Mereka BURON!”


...****************...


__ADS_2