Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 38 - Complication


__ADS_3

Suara tangis kecil membahana dalam ruang operasi itu. Seorang bayi telah lahir dari rahim Viani, dibantu oleh ayah mertuanya sendiri.


"Dok ..."


"Dok?"


Pemilik tangan gemetaran yang sedang menggendong bayi merah berlendir itu segera sadar dari lamunannya.


"Permisi, Dok?" ulang seorang bidan padanya.


Dokter hampir paruh baya itu segera memberikan bayi mungil dengan tangis lemah itu pada bidan yang memanggilnya agar segera dibersihkan.


Malam ini, ia tidak kembali ke rumahnya, lagi pula, Erika berada di rumah sakit ini juga menemani menantu mereka.


Subuh itu, Niko sedang duduk dengan wajah termenung menghadap kaca besar yang menampilkan jalanan lengang, dengan lampu-lampu kota beserta gedung tinggi.


Lingkaran hitam di mata pria itu seakan menandakan bahwa dia tidak tidur semalaman.


Bagaimana tidak? Ingatannya pada tubuh mungil tak berdaya yang punya wajah persis Vincent dengan jenis kelamin perempuan itu menggeliat lemah di tangannya. Pergerakan bayi itu halus, tetapi membuat Niko sama sekali tidak bisa lupa. Suaranya yang lemah selalu terngiang-ngiang di telinganya.


Niko sudah melakukannya puluhan kali selama pengalamannya sebagai dokter kandungan---memegang bayi pertama kali keluar dari rahim ibunya setelah ceasar. Tetapi, tetap saja ini sensasi berbeda. Kali ini, cucunya sendiri yang dia pegang yang sayangnya tidak dalam kondisi baik-baik saja.


Entah didorong oleh apa, Niko kemudian pergi menuju NICU yang posisinya tak begitu jauh dari ruangannya. Posisinya sebagai dokter di rumah sakit itu dapat membuatnya masuk keluar dengan bebas.


Bip... Bip... Bip...


Monitor di samping inkubator tersebut berbunyi dengan jeda waktu tertentu, menampilkan status pasien yang terbaring tak jauh dari benda tersebut.


Adalah cucunya sendiri yang bernapas dengan bantuan oksigen dengan susah payah untuk berjuang hidup.


Awalnya dia menatap datar pada makhluk tak berdaya tersebut. Namun lama kelamaan, suatu perasaan aneh menyerbu dan membuat dadanya mendadak bergemuruh. Lama-lama perasaan itu menjalar ke wajah Niko dan pelupuk mata itu mulai mengembun.


Bagaimana dia bisa membenci makhluk lemah, kecil dan tak berdaya seperti itu?


"Ya Tuhan," gumamnya dengan napas berat. Matanya memejam dalam perih, netranya sudah berkaca-kaca.


Mendadak, tubuh kecil itu bergerak, kedua matanya yang terpejam berkerut dan bibir imut itu terbuka. Suara rintih tangisan kecil terdengar dari mulut kecil itu.


Bayi dengan berat badan cukup rendah tersebut mulai menangis. Refleks alami pun terjadi saat tangan kanannya terjulur masuk ke inkubator dan mengelus kaki gadis kecil tersebut.


"Sstt... It's okay. Opa di sini," bisiknya tanpa sadar.


Ajaibnya, seketika itu pula tangis sang bayi berhenti. Niko takjub pada hal yang menurutnya luar biasa itu. Tubuhnya terasa menghangat kala kulit super halus dari bayi itu menyapa indera perabanya.

__ADS_1


Tak ingin hanyut lebih jauh, Niko segera keluar dari sana setelah dirasa bahwa anak itu sudah tertidur kembali.


***


Setelah tidur beberapa jam, Vincent terbangun. Diusapnya kedua bola matanya yang masih begitu berat. Tidak, dia tidak bisa tidur lama-lama, dia ingin berjaga jika sewaktu-waktu Viani membutuhkannya.


"Sayang?"


Tangan Vincent terjulur untuk mengelus kepada istrinya dengan lembut. Sepertinya sang istri juga amat kelelahan dan tidak terbangun.


Sehabis mencuci wajahnya, Vincent memperhatikan jam di tangannya. Waktu besuk NICU masih beberapa jam lagi, di saat itulah dia baru bisa menengok buah hati.


"Selamat Pagi. Sarapannya, Pak." Seorang pegawai datang membawa troli berisi makanan pasien. Vincent pun membersihkan meja agar Viani dapat leluasa makan.


"Errghh," erangan kecil keluar dari bibir istrinya.


Vincent pun tersenyum saat Viani mengerjapkan matanya perlahan. "Bangunlah. Sarapan dulu ya, Sayang."


Wanita itu menjawab dengan anggukan. Matanya masih menerawang, mengumpulkan belahan jiwanya yang sedang terpecah berkeping.


Sementara itu, Vincent menyiapkan air hangat untuk menemani sarapan Viani yang telah siap.


Sambil membawa gelas keramik, Vincent menyeberang ruangan untuk mengisinya dengan air panas dan dingin.


"Sayang, ayo--"


"Vin ... se--sak!" rintih Viani dengan wajah meringis.


***


Pre eklamsia yang dialami Viani sudah masuk dalam tahap yang sangat mengkhawatirkan. Paru-paru Viani terisi air dan dirinya tak bisa bernapas tanpa alat bantu.


Sekali lagi Vincent menanda tangani surat yang isinya resiko-resiko dari setiap tindakan medis yang dialami Viani di ruang perawatan intensif.


Hati Vincent luluh lantak melihat belahan jiwanya terbaring tak berdaya di ruang ICU. Tubuh Viani masih bengkak, selang ventilator yang masuk lewat mulutnya untuk langsung menyalurkan oksigen ke paru-paru.


Kemarin anak mereka dan sekarang Viani. Mental Vincent dibuat jatuh secara brutal.


"Dok, saturasinya turun," ujar seorang perawat saat Vincent bertandang ke NICU melihat sang bayi.


Ya Tuhan, apalagi ini?


Vincent yang tak berdaya hanya bisa meratapi nasib keluarganya di ruang tunggu ICU. Anak dan istrinya sedang berjuang antara hidup dan mati.

__ADS_1


Baginya, melihat pasien sakit adalah hal biasa. Namun kali ini, ketika dia ada di posisi yang sama, Vincent baru tahu bahwa rasanya akan sesakit ini. Ternyata inilah rasanya sakit hati, cemas dan takut yang bergabung jadi satu.


Berulang kali dia menyalahkan diri, kalau saja dia tidak meniduri Viani malam itu, mungkin hal ini tidak akan terjadi.


Lututnya menekuk, Vincent pun menjatuhkan wajahnya di antara lututnya dan mulai menangis dalam ketidakberdayaannya. Dia begitu jatuh, begitu hancur dan begitu ketakutan akan kehilangan.


Sementara di ruangan lain, seorang pria sedang tak kalah depresi setelah berusaha menyelamatkan nyawa menantunya dari komplikasi kehamilan yang paling mereka takutkan.


Semakin ke sini, Niko semakin dihantui rasa tak wajar. Apa jangan-jangan Tuhan sedang menghukumnya? Apakah semua yang terjadi sebenarnya karena ulah dirinya yang tak memberi restu pada Vincent sehingga Viani dan bayinya yang terkena imbasnya?


Sungguh, Niko tidak pernah merencanakan kecelakaan pada keluarga kecil Vincent, sekalipun dirinya masih dirundung benci.


Niko mencoba mengingat-ingat, jangan-jangan ada sumpah serapah yang dia lontarkan pada Viani hingga terjadi kejadian seperti ini. Tapi tidak ada.


Niko mencoba menepis semua rasa itu. Tubuhnya berbalik untuk melangkah ke NICU, hanya untuk menemukan satu pemandangan menyakitkan lainnya.


Terduduk di Koridor ruang tunggu ICU, Vincent menekuk kedua lututnya dan menangis terisak di sana. Pria muda itu jelas sedang menangisi sang anak yang lahir dengan paru-paru belum sempurna dan istrinya yang sedang terbaring di ICU.


Dengan perasaan yang masih meragu, Niko mendatangi anaknya, yang masih belum sadar akan kehadirannya.


"Vin...?"


Vincent mengangkat kepalanya dan mendapati sang ayah berdiri di sampingnya. "Papa?"


Niko tergerak, tak tega melihat sang anak terpuruk seperti ini. Kali ini dia sudah siap menerima segala caci maki yang akan dilontarkan Vincent.


Memanglah sedari awal, dirinyalah yang mungkin jadi penyebab utama Viani seperti ini. Gadis itu pasti begitu tertekan karena penolakannya pada pernikahan mereka, dan berujung stres selama kehamilannya.


Rasa bersalah pun menguasai. Dan mungkin, sudah saatnya Niko melepaskan semuanya. Dirinya membuka mulut, hendak meminta maaf atas semua kesalahannya. Namun Vincent sudah lebih dulu.


"Maafin Vincent. Ini semua gara-gara Vincent. Viani dan anakku sekarang di dalam, Pa, aku nggak kuat. Aku pasti sudah jadi suami yang buruk sehingga mereka seperti ini! Aku---"


Tak tahan mendengar penuturan anaknya, Niko meraih Vincent dalam pelukannya. "Ini semua karena Papa, Vin."


Segala gengsi, amarah dan kecewa habis sudah. Segalanya sudah tidak lagi penting, anaknya sekarang lebih memerlukannya dari apapun.


Kedua tangan Vincent terulur untuk memeluk sang ayah, mencari-cari rasa aman dari semua kepenatan yang sudah dirasakannya sejak tadi malam. Air mata Vincent semakin deras mengalir begitu dirinya masuk dalam dekapan ayahnya.


"Mereka di dalam, Pa. Dan Vincent nggak bisa berbuat apa-apa!"


Ekspresi datar Niko seketika berubah total. Bukan, ini bukan salah Vincent. Bukannya seharusnya Vincent menyalahkannya atas apa yang terjadi? Tetapi tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut anaknya yang dilontarkan untuk memakinya.


"Vincent nggak kuat Pa..."

__ADS_1


Hati Niko berdenyut lagi. Niko pun hanya berdiri di sana, menyalurkan semua kekuatan yang dia miliki untuk anaknya yang sedang ketakutan.


...****************...


__ADS_2