
Pagi-pagi sekali, Gala sudah ada di rumah Gemma. mereka semua telah berpakaian rapi, sedangkan Viani sudah berpakaian seragam dan siap bersekolah.
“Kok Om Gala di sini?” tanya Viani saat menghabiskan roti selai miliknya, memperhatikan tampilan formal Gala yang jarang dia lihat, berupa kemeja putih lengan panjang, celana kain hitam dan sepatu pantofel. Rambutnya yang dipotong side-part telah tersisir rapi.
“Kita mau ke pengadilan, Vi,” jawab Gala yang juga turut makan bersama di atas meja yang sama dengan Viani. “Sekalian anter Viani sekolah.”
Sedikit banyak, Viani tahu kasus yang dibahas di pengadilan itu.
“Vi… Om boleh nanya?”
“Ya?”
“Viani di sekolah, baik-baik aja?”
Kernyitan di dahinya pertanda bahwa kondisi di sekolah anak itu tak terlalu baik, tapi cukup kondusif. Semua orang membicarakannya, baik di kelas, ruang guru dan kantin sekali pun. Hal itu membuat telinga Viani panas karena orang-orang itu sering menyebut-nyebut nama ayahnya.
“Baik aja sih…”
“Pasti ada tapinya,” tebak Gala.
Sebuah dengkusan meluncur dari hidung Viani. “Cuma nggak nyaman aja, banyak yang ngomongin di sekolah.”
“Kamu di-bully?”
“Nggak, Om.”
“Kalo emang Viani nggak ngerasa nyaman, Viani bisa pindah sekolah. Biar Om yang urus.”
“He?” Viani menoleh bingung pada tawaran Gala. “Nggak usah Om.”
“Yakin?”
Viani mengangguk pelan. “Iya. Palingan bulan depan, mereka diem sendiri.”
“Kasih tau Om kalo ada yang bully ya. Jangan diem aja.”
“Ayo… Bentar lagi masuk sekolah,” ajak Gemma yang sudah terlebih dulu menghabiskan sarapan miliknya.
...***...
Dan kini tibalah mereka di pengadilan, setelah mengantar Viani ke sekolah. Sebenarnya tidak ada undangan khusus untuk ke mari. Setelah berdiskusi, Gala dan Gemma hanya ingin melihat persidangan Bambang untuk pertama kalinya yang akan dimulai pukul 9 nanti. Gemma dan Gala telah duduk di kursi yang ada di kursi nomor 3 paling depan.
Sidang pertama kali itu berjalan degan lancar. Sesekali Bambang dengan tajam melirik pada Gala, tapi Gala terlihat santai dan tenang.
Semuanya memang terlihat tenang. Tapi terlalu tenang sampai Gemma dan Gala seperti merasakan sesuatu yang aneh di balik air yang tampak tak beriak. Barulah firasat mereka terjawab saat sebuah nama yang dipanggil, membahana ke seisi ruangan.
Dari belakang, seorang pria paruh baya berjalan ke tengah area sidang, lalu duduk di salah satu kursi yang ada di tengah, tepat di seberang hakim ketua.
Merasa dipandangi, pria itu membalikkan tubuhnya, menoleh ke belakang, sampai matanya dan mata Gemma bertemu.
...***...
__ADS_1
Persidangan itu selesai pukul 1 siang yang akan dilanjutkan beberapa hari kemudian. Gemma sudah duluan keluar dari ruangan itu dengan terburu-buru.
Gala mencari keberadaan wanita itu hingga dia melihat sosoknya sedang berdiri di ujung parkiran, tepat di bawah pohon pinang merah. Tatapannya kosong, ekspresinya hampa. Jelas kalau Gemma tidak baik-baik saja setelah bertemu pria itu.
Gala datang dan langkahnya terhenti tepat di sebelah Gemma. “Are you oke?”
Wanita itu menggeleng dalam diam, menatap susunan batako yang jadi pijakannya dengan gamang. Kemudian, dia terperanjat mendengar ada langkah kaki lain yang kini berhenti tepat di belakang mereka.
Hanya Gala yang menoleh pada orang tersebut.
“Hei, Nak… Kamu nggak mau nyapa ayahmu?”
Gemma dengar suara itu. Terdengar horor sampai-sampai tubuhnya membeku begitu lama dan tak mampu berbalik. Jantungnya memompa darah dengan detak-detak yang begitu amburadul. Meski sudah bertahun-tahun, kenapa aura yang ditimbulkan selalu semengerikan ini?
“Sepertinya aku memang kurang banyak mengajarimu cara menyapa orang tua dengan baik.”
Meski sudah bertahun-tahun, kenapa dengan mendengar suaranya saja, Gemma merasa terintimidasi dan sampai akal sehatnya anjlok seketika?
“Selamat siang Pak Yahya,” sapa Gala pada akhirnya memecah keheningan Gemma yang masih bergeming dengan wajah yang sudah tak berwarna. “Mungkin Bapak tidak ingat siapa saya. Saya teman Gemma, nama saya Gala.”
Mata Yahya membesar, memancarkan keterkejutan yang alami. “Anda Gala? Galandra Putra Aditya? Anak dari almarhum Bobby Aditya?”
“Sekaligus teman SMA Gemma. Ya… Kita pernah ketemu satu kali saat Anda minta dibawakan Pecel Lele. Apa Anda baru mengenali saya sekarang?”
Kepala Yahya naik turun dengan perlahan seiring dengan maniknya yang menyorot Gala dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dulu Gala memang sangat muda sekali, lumayan jauh berbeda dengan sekarang. Semakin dewasa Gala, semakin pula dia mirip dengan ayahnya.
Dia ingat kalau saat itu, Gala hanya mengenalkan diri dengan nama awalnya saja. Dulu, dia benar-benar tak tahu kalau anak ini adalah keturunan langsung Bobby Aditya.
“Jadi, begini cara kamu, Gem? Habis manis sepah dibuang? Kamu tinggalkan Indra demi konglomerat ini saat dia ada dalam titik terendahnya? Kamu benar-benar ikutin jejak ibumu.”
“Jangan bicara apa-apa tentang ibu saya dan saya seakan-akan Anda melihat semuanya!”
Pancingan Yahya sukses mengembalikan Gemma pada alam sadarnya dan membuat amarahnya naik ke level tertinggi. “Semua neraka yang saya alami selama 15 tahun itu tak lepas dari ulah Anda!” Gemma menghampiri Gala. “Ayo kita jemput Viani.”
“Kamu tau?”
Pertanyaan Yahya menghentikan langkah Gemma.
“Kamu tau kenapa kamu saya nikahkan sama Indra?”
Gemma memutar tubuhnya pelan-pelan, menatap lurus-lurus pada sang ayah. Selama 15 tahun dia ingin menanyakan hal itu, tetapi entah kenapa hal itu tak pernah terjadi. Gemma terlalu terperangkap dalam takdir kecilnya sendiri.
“Ingat peraturan bahwa setiap jabatan Manajer ke atas harus yang sudah menikah? Aditya Group adalah salah satu penganut keras paham tersebut. Tentu aja kalian waktu itu masih terlalu kecil untuk tau urusan pekerjaan orang dewasa."
Bagai mendengar petir di siang bolong, tangan Gala tremor tak terkendali. Dia menatap Yahya dan Gemma bergantian dengan begitu nanar.
Lalu sekelebat ingatannya tentang bagaimana Rapidash Express yang diambil alih Aditya Group beberapa bulan sebelum sang ayah meninggal muncul. Mona-lah yang menceritakan hal itu.
Rasa bersalah menyerang hatinya secara membabi buta. Perempuan ini hancur karena Keluarga Aditya… Gara-gara dirinya, gara-gara keluarga dan juga perusahaannya, Gemma jadi korban? Dia tak menyangka kalau peraturan sesimpel itu punya dampak yang besar.
Segitu besarnya sampai orang seperti Indra yang gelap mata akan uang dan jabatan menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisinya, tak peduli hal itu akan merugikan orang lain atau tidak. Dan sedikit banyak, peraturan yang dibuat Aditya Group itulah yang menjadi sumber penyebabnya.
"Apa yang kamu mau dari anak saya? Banyak perempuan lajang yang lebih pantas bersanding sama kamu. Dia sudah menikah, fisiknya tak seperti dulu.
__ADS_1
Ada banyak beban yang akan kamu bawa saat mendapatkan anak saya. Atau jangan-jangan, kamu hanya memanfaatkan anak saya saja? Begitu Pak Gala?"
Ditatapnya Gemma dengan begitu segan, mulutnya terbuka, tetapi lidahnya begitu terkunci untuk merespon informasi dari Yahya. Terlalu malu untuk merespon apa-apa pada Gemma. Otaknya seperti berjalan di tempat, tak berani membayangkan apa reaksi wanita itu setelah ini.
“Ayolah Gala, bilang sesuatu pada anak saya. Kamu nggak merasa bersalah sama sekali?”
“Lalu apa itu jadi pembenaran tindakan Ayah?!”
Wait? Gemma bilang apa sampai Yahya jadi pucat pasi seperti itu?
"Apa Anda pernah berpikir kalau Indra akan mempermainkan saya, seperti tuduhan Anda terhadap Gala tadi?"
Pria paruh baya itu tak mengantisipasi pertanyaan tersebut sampai-sampai tubuhnya mematung bagai terkena kutukan Roro Jonggrang. Perkataan itu tak pelak membuat Gala ikut terhenyak.
“Dari semua gadis, kenapa harus saya yang Ayah jerumuskan? Orang tua macam apa Anda?!”
Yahya dan Gala juga sampai tak bisa berkata apa-apa.
“Asal Ayah tau, dari dulu sampai sekarang, perasaan saya pada Gala nggak akan berubah. Kalau Ayah mau menyalahkan Gala atas apa yang terjadi padaku 15 tahun lalu, Ayah salah besar! Satu-satunya orang yang harus disalahkan adalah Ayah sendiri! Sekarang, permisi, karena saya mau jemput anak saya!”
Digenggamnya tangan Gala lalu ditariknya menuju mobil pria itu.
“Please, bawa aku pergi dari sini,” bisiknya lagi.
Gala pun hanya menuruti apa yang diperintahkan Gemma, pergi sejauh-jauhnya dari pria itu. Pria yang tak pantas disebut ‘ayah’ oleh wanita yang dia cintai. Namun, Gala sendiri sudah terlanjur terintimidasi, dadanya sesak dengan rasa bersalah yang dibangkitkan oleh Yahya.
...***...
Sepanjang perjalanan menuju sekolah Viani, Gemma memalingkan wajahnya, menatap setiap gedung yang mereka lintasi dan tak bicara apa-apa.
Mobil itu terasa sunyi seperti kuburan tanpa pengunjung, pun dengan wajah Gemma yang sedari tadi muram. Di tengah jalan yang cukup sepi, sebelum mencapai sekolah Viani, Gala meminggirkan mobilnya hingga berhenti dengan sempurna.
“Gem. We need to talk… Aku nggak tau kalo Ayah kamu mantan GM Rapidash Express."
“It's okay. Aku udah tau dari lama."
“Kalau kamu udah tau, kenapa kamu diam aja? Kenapa nggak pernah bahas ini sama aku?”
“Udah nggak penting—“
“Tapi itu buatku penting, Gem! Kamu nggak sadar betapa aku sekarang ngerasa bersalah?”
“Lalu aku harus apa? Kamu mau apa? Ngubah masa lalu? Nggak bisa!!”
“Gemma!”
“Sekarang kamu tinggal buktikan sama aku…” Gemma menatap nyalang pada Gala. “Yakinkan hati kamu dulu, kamu cinta aku karena kamu memang sayang, atau merasa bersalah? Kalau kamu cinta sama aku karena rasa bersalah, silakan keluar dari hidupku!”
“Gem!”
“Antar aku jemput Viani, sekarang!"
...****************...
__ADS_1