
“Gem… kita damai yuk. Kita berteman…” Gala mengambil tangan kiri Gemma dan menggenggamnya erat.
Gemma memandang tangannya yang malah betah menempel di tangan Gala. Ada kehangatan tak biasa yang dapat dirasakannya. Hatinya tergerak.
Gala tidak pernah putus asa untuk meminta maaf padanya meski bukan dia yang salah. Apa mungkin ada baiknya Gemma berdamai saja dengannya?
Namun, belum sempat Gemma menjawab, nama Gala sudah dipanggil untuk persiapan, suara sang MC menggema dari dalam gedung.
Gala menoleh ke dalam, lalu kembali pada Gemma. “Gue masuk dulu. Semangatin gue dong.”
Mendengar permintaan Gala itu, Gemma terkekeh pelan.
“Kok lo ketawa?” Gala protes, merasa tidak ada yang lucu.
Gemma membuka mulutnya, bingung ingin berkata apa. Berusaha sesantai mungkin dengan mengubah ekspresi wajahnya agar terlihat lebih bersahabat.
“Mmm… Semangat ya… Gala…” ucap Gemma kaku, namun terlihat jelas kalau dia sedang berusaha untuk bersikap lebih lunak padanya. Dan Gala, sangat menyukai kenyataan kalau si Es Batu akhirnya mencair. Setidaknya untuknya.
“Gitu dong.”
Gala pun melepas tangan Gemma dan berbalik. Ada satu kelegaan yang membuat hatinya akhirnya terasa lapang, saat menyaksikan bibir tipis gadis itu kini mengembang sempurna dan tersenyum tulus padanya.
...***...
“Runner up? Not bad,” komentar Rosa sambil memegang piala tersebut dengan senyum mengembang. “Terima kasih Gala, sudah membawa nama baik sekolah kita.”
Dari jauh, Gala bisa melihat Julian tersenyum penuh kemenangan sambil menenteng piala juara satu.
"Nggak usah dipikirin. Lo tetap juara!" ucap Gemma. Dia menatap Julian dan melambai padanya. Julian balas lambaian tangan Gemma sebelum dia masuk ke dalam sebuah mobil.
Gala hanya terkekeh pelan. Untuk di posisi ini saja, dia sudah mengalahkan puluhan sekolah. Bagaimana bisa dia tidak bersyukur?
Kini, Gala dan Rosa berdiri berdampingan di belakang spanduk besar lomba tersebut. Di leher Gala tergantung piagam yang disepakati akan dibawa pulang oleh Gala, sedangkan piala dan sertifikat tersebut akan menjadi milik sekolah. Sementara hadiah berupa uang akan dibagi tiga per empat untuk Gala, sisanya untuk sekolah dan kas sekbid* Seni.
Niko berdiri berseberangan dengan mereka untuk mengabadikan momen ini. Mengambil foto sebanyak-banyaknya untuk diserahkan pada tim mading dan kepala sekolah.
“Ngomong-ngomong, jam segini, sekolah sudah bubar,” ucap Rosa sambil melihat jam tangannya. “Kalian boleh langsung pulang.”
“Makasih Bu Rosa yang cantik,” ucap Febri sambil mempersilakan wanita itu pergi.
“Gem… kita ke mall yuk…” tiba-tiba saja, entah angin dari mana, Gala mengajak Gemma pergi.
Gemma mendadak ragu. “Ki-kita berdua aja?”
“Nggak, kita sama Febri dan Nik—”
Febri memotong. “Gue harus balik ke sekolah sekalian pengen jemput Diana. Katanya dia masih di sekolah sampe jam 3 sore nanti buat siapin MOS besok.”
Mata Gala membesar, “Men! Cepat juga gerakan lo!”
__ADS_1
“Entar diambil orang,” jawab Febri santai dan langsung pergi.
Gala menoleh ke kanan dan ke kiri saat menyadari Niko menghilang.
“Tuh anak kemana sih?” Gala lalu menarik tangan Gemma dan membuka pintu mobil yang hari ini dia kemudikan sendiri hari ini, menunggu Niko yang mungkin akan muncul sebentar lagi.
Tetapi Gemma bergeming, dia tidak mau masuk ke dalam mobil. Gemma menampilkan ekspresi yang begitu rumit untuk dibaca Gala. Gadis itu seperti kehilangan orientasi saat tatapannya terfokus pada satu titik di ujung sana, dekat pintu masuk venue, di mana semua orang berkumpul dengan heboh.
Penasaran, Gala juga melayangkan pandangannya pada kerumunan orang itu dan mendapati seorang wanita yang usianya kira-kira 40 tahunan bernama Paramitha Wilson, yang dia kenal sebagai gitaris band tanah air The Blues Mixer dengan genre pop rock yang terkenal selama hampir 20 tahun.
Gala jadi bersemangat melihat legenda hidup yang kini ada di depannya. Hanya berjarak dua puluh meter dari tempat mereka berdiri.
“Gem, itu Paramitha Wilson! Ayo ke sana,” ajak Gala sambil menggandeng Gemma ke sana.
Sesampainya mereka di sana, Mbak Mitha, begitu panggilan pada wanita setengah bule Inggris itu, sedang melayani sesi foto bersama dan tanda tangan.
“Kita foto sama beliau yuk.” Ujar Gala yang begitu antusias sambil mengeluarkan ponselnya.
Tapi semakin kesini, Gemma jadi semakin berperangai aneh, menatap kerumunan itu dengan wajah sedih. What’s wrong with her?
Dan tiba-tiba saja, Gemma berlari dan menerobos kumpulan manusia itu.
“Mom!”
Mata Gala terbelalak… Mom? Siapa yang Gemma panggil ibunya?
Dari sini saja, Gala sudah bisa menebak, siapa sebenarnya Paramitha Wilson. Tapi, ah… apa mungkin? Paramitha Wilson memang pernah menikah dan punya seorang anak remaja putri yang tak pernah terekspos media. Apa Gemma ini hanya mengaku-ngaku?
“Mom!” seru Gemma terakhir kali.
Dan wanita itu akhirnya dengan mantap menatap lurus-lurus pada mereka, ke arah Gemma. Sekarang, Gemma terlihat amat putus asa, sampai Gala merasa kasihan.
Gala juga bisa melihat ekspresi terkejut Mitha saat melihat betapa berusahanya Gemma menerjang batas untuk mendekatinya. Tetapi Mitha langsung pergi dari sana, kabur dari para fans yang ingin berfoto dengannya dan kamera wartawan yang menyorotinya saat ini. Wanita itu menghindar dengan ekspresi ketakutan tanpa ingin menoleh ke belakang.
Melihat sang bunda yang menghindarinya seperti hantu, Gemma berdiri terpaku sendirian di tengah lapangan yang hampir sepi, karena sebagian besar orang sedang mengejar musisi papan atas tersebut menuju lahan parkir di belakang gedung.
“Mom…” Gemma hanya bisa bergumam dengan kecewa. Gadis itu terlihat kehilangan arah dan akal sehatnya. Tubuhnya berdiri terpaku, wajahnya tercenung, dan dia seperti orang linglung.
“Gem…” Meski belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi, tapi Gala mencoba tetap berada di sisi Gemma. “Are you okay?”
Mata Gemma mulai berkaca-kaca. Sebenarnya, dia merasa begitu dungu, berdiri di sini bagai orang bodoh, memanggil-manggil Mitha seakan-akan orang itu akan mengenalinya.
Hingga dia tidak sadar, kalau tubuhnya sekarang dituntun Gala masuk dalam mobil. Dan kini, dia bahkan sudah mengenakan seatbelt. Gala memasangkan sabuk itu untuknya, lalu segera duduk di belakang kemudi.
“Is that your mom?” tanya Gala yang akhirnya memecah lamunan Gemma.
Gemma mengangkat kepalanya, menatap Gala dengan tatapan sendu penuh kesedihan.
Rasa peduli yang hebat mendorong Gala untuk menggenggam tangan Gemma dengan erat. Dia tak tahan melihat Gemma seperti ini. “Hei, it's okay...”
__ADS_1
Batin Gala semakin teriris kala melihat satu tetes air mata jatuh di rok abu-abu milik Gemma, diiringi tetesan lainnya, sehingga warna abu-abu terang di rok tersebut berubah jadi abu-abu gelap dan basah.
Hingga, tanpa menimbang-nimbang lagi, tangannya bergerak begitu saja, membawa Gemma masuk dalam pelukannya dan membiarkan gadis itu menangis di dadanya. Tangisannya terdengar semakin pilu, sehingga Gala refleks menyentuh puncak kepala Gemma dan mengelusnya perlahan. “It’s okay, Gem … aku di sini."
Beberapa menit kemudian, Gemma akhirnya berhenti menangis. Dia kembali memperbaiki posisi duduknya, membersihkan wajahnya dengan tisu dan merapikan rambutnya. “Maaf, Gala…”
“Nggak apa-apa, Gem. Kalau lo sedih, lo bisa cerita sama gue.”
“Gue malu-maluin, ya?”
Gala refleks mengelus puncak kepala Gemma lagi. “Ya nggak lah!”
Tindakan kecil seperti itu sukses membuat wajah keduanya tersipu. Gala terlihat malu, sedangkan Gemma terlihat salah tingkah. Sampai memperbaiki posisi duduknya saja, Gemma terlihat kebingungan.
Sementara itu, Niko tiba-tiba datang lalu mengetuk kaca jendelanya, memecah kecanggungan di antara mereka. Akhirnya orang yang tadi dicari Gala muncul juga.
“Kemana aja lo, Nik? Dicariin loh, dari tadi!”
“Sori, gue tadi kebelet. Eh, Febri mana?”
“Doi jemput Diana. Mau ikut nggak?”
Niko melirik ke dalam mobil Gala yang tidak ada siapa-siapa selain Gemma dan Gala. “Kalo gitu gue cabut, ah!”
Tangan Gemma hinggap di lengan Niko, mencegat kepergian laki-laki imut itu. “Nik, kok cabut? Ikut aja deh sama kita. Please.”
“Nggak ah, lo pada aja. Ogah gue jadi obat nyamuk. Mending gue ke Glodok, nyari referensi.”
Gala membiarkan saja temannya pergi dan berdecak. “Ke sana nyari referensi, ck!”
Baik Gemma dan Gala bukan anak yang terlalu polos. Mereka tahu kemana perginya Niko dan apa yang dilakukannya di sana. Postitif thinking aja…. Mungkin Niko lagi nyari referensi Tivi….
“Anyway, Gem. Nggak apa-apa kok kalau rencana kita nggak jadi. Gue bisa anter lo pul—“
“Jadi…”
“Hah?”
“Jadi, Gala. Gue mau kok jalan sama lo,” kata Gemma setuju. Meski kelihatan masih murung, tapi Gemma berusaha memaksakan untuk tersenyum.
Senyuman itu yang membuat Gala membalasnya dengan senyuman lebar. “Tunggu bentar. Gue mau kabarin orang rumah kalau gue pulangnya sore.”
Tapi tiba-tiba, Gala teringat kejadian tadi. Dia mengerutkan keningnya, menimbang-nimbang antara benar-benar mengabari orang rumahnya, atau menghubungi orang lain.
Akhirnya dia memutuskan menghubungi orang lain, tanpa memberitahu gadis itu apa yang sedang dia rencanakan nanti.
...****************...
*Sekbid \= Seksi Bidang
__ADS_1