Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
79. Will You…


__ADS_3

“Viani, maukah kamu jadi anak Om?”


Gemma mengerjap pelan, lalu membalik tubuhnya perlahan-lahan. Semula dia mengira Gala berlutut di hadapan wanita itu. Tapi setelah di perhatikan, Gala ternyata berlutut tepat di hadapan Viani. Karena efek cemburu, otaknya jadi tak bisa memproses dengan benar semua kejadian yang harusnya dapat dia tebak dengan mudah.


Terlihat jelas dari tempat Gemma berdiri kalau gadis kecil itu menganga karena kaget. Beberapa detik tubuhnya mematung, lalu celingak-celinguk salah tingkah. “A-apa maksud Om? Ihh… kok jadi sama Viani sih yang ditanyain!"


Gala tersenyum, dia menatap Viani penuh arti dan menampilkan isi kotak itu pada Viani. Pria itu mengeluarkan secarik kertas dari kantong celananya dan membacakannya di hadapan semua orang.


“Viani. Saya sama Mama Gemma dulunya sepasang kekasih yang terpisah karena keadaan. Bahkan setelah 15 tahun berlalu, perasaan saya ke dia sama sekali nggak berubah, malah semakin dalam dan semakin menyakitkan karena nggak bisa memiliki.


Saat kesempatan itu datang, saya langsung menyambutnya dengan semangat. Lalu saat itu saya sadari, bahwa di sana ada kamu.


Awalnya saya memang hanya cinta sama ibumu aja. Saya nggak kepikiran terhadap kamu sama sekali. Tetapi setelah beberapa bulan ini saya masuk lebih dalam hidup kalian, saya sadar kalau saya nggak boleh egois dengan hanya mencintai Gemma aja.


Satu hal yang saya baca setelah mengenal kalian lebih dalam, bahwa Gemma akan berbuat apa aja demi kamu. Mama kamu nggak mau kehilangan kamu, Vi… Dan saya akan jadi orang yang paling kejam di dunia kalau saya sampai berani memisahkan kalian.


Kalau kalian terpisah, saya nggak akan bisa bayangkan hidup Gemma akan serusak apa. Saya nggak mau memaksa dia mencintai saya dalam keadaan seperti itu.


Saya memang baru ada di hidup kamu beberapa bulan belakangan ini. Meski Saya memang bukan orang baru dalam hidup ibumu, saya tetaplah orang asing buat kamu. Saya tau itu dan saya sadar diri.


Karena seluruh diri saya mencintai seluruh diri Gemma, maka dari itu saya juga harus mencintai kamu. Dan saya semakin jatuh cinta sama mama kamu lebih dari sebelum-sebelumnya, karena dia punya kamu. Dia jadi lengkap karena kamu, Vi, dan saya nggak mau merusak itu.


Saya nggak akan minta kamu untuk menjauhi Papa Indra. Dia adalah ayah kamu. Dan kamu juga utuh karena adanya Papa Indra.


Kalau seandainya kamu mau terus panggil saya ‘Om’, saya nggak pa-pa, karena posisi itu memang bukan buat saya. Tapi saya ingin ada di hidup kamu. Saat Papa Indra nggak ada di samping kamu, biarkan saya yang menjadi tempat kamu bersandar sementara waktu, untuk melindungi dan menjaga kalian. Sesudah itu, ketika kamu nggak memerlukan saya lagi, saya siap untuk menjauh, Vi…


Saya hanya minta sedikit ruang kecil di hati kamu untuk saya.


Jadi, di hadapan semua keluarga dan teman-teman saya…


Lunaviani Suteja… Mau ya, jadi anak Om?”


Mulut Viani semakin terbuka lebar kala pertanyaan itu diulang oleh Gala. Dicarinya sang bunda yang ternyata tadinya hampir keluar dari tempat itu. Mata ibunya terlihat berkaca-kaca.


Pria itu lalu memperlihatkan isi kotak yang dia pegang. Ada dua cincin emas yang bersinar indah dan berkilauan karena diterpa cahaya matahari sore. Yang satu terlihat seperti cincin imut khas remaja, yang satunya lagi ada sebuah cincin solitaire megah bertahtakan berlian di tengahnya.



“Yang ini buat Mama, Om?” bisik Viani. “Padahal kalau Om ngelamar Mama langsung, Viani nggak keberatan kok. Mama juga pasti bilang ‘mau’.”


“Bukan itu yang Om mau, Vi… Om mau semua keluarga Om mengenal kamu dan sayang kamu seperti Om dan Mama Gemma sayang sama kamu. Dibandingkan kami, kamu yang lebih utama… Om menginginkan kalian dikenali semua orang, lengkap satu paket, bukan hanya Gemma aja.”


Bibir Viani spontan melengkung dalam senyum penuh haru, air matanya menetes tak terhankan. Bahkan dalam keluarga Suteja, Viani tak pernah diperlakukan sespesial ini. Hatinya begitu tersentuh dengan seluruh usaha Gala. Dilihatnya sang ibu sudah ikut mengharu biru dari jauh. Kalau sudah begini, mana mungkin dia bisa menolak lagi.


Tidak lagi membuang waktu, gadis itu mengangguk dan menyerahkan tangannya untuk disematkan cincin oleh Gala.


“Terima kasih, Vi…”


Viani langsung menghambur, memeluk Gala erat-erat.


Kontan saja semua wanita di atas geladak tersebut meneteskan air mata mendengar pernyataan Gala dan betapa anak itu membuka diri pada sang calon ayah. Termasuk Niko yang tak bisa menahan air matanya yang ikut menetes. Erika tertawa dalam tangisannya karena jarang melihat suaminya itu menangis. “Kamu nangis…”


Niko menyambut tisu dari sang istri. “I love you, Er.”


“Love you too,” bisik Erika.


Gala dan Viani sama-sama mengurai pelukan mereka dan menyeka air mata masing-masing. Kedua insan yang memang sudah seperti ayah dan anak itu saling mengumpulkan seluruh akal sehat mereka untuk dapat berdiri kokoh.


Masih ada satu hal lagi yang harus Gala lakukan.


“Om, saatnya datangin Mama,” bisik Viani.


...***...


Gala dan Viani sama-sama mengurai pelukan mereka, lalu menyeka air mata masing-masing.


Pria itu berdiri, menutup kembali kotak cincin tadi dan menegakkan badannya. Gadis kecil di sampingnya dapat merasakan betapa gugupnya Gala saat ini. Keringat dingin sebesar biji jagung menghiasi keningnya kendati angin laut berhembus lembut.


Dilihatnya Viani sekali lagi untuk bertanya dalam diam. Anggukan Viani mengonfirmasi segalanya, membuat Gala semakin yakin untuk menghampiri pujaan hati yang telah menunggu di sana.


Gemma masih berdiri pada tempatnya, menyaksikan kalau detik-detik yang digunakan Gala untuk datang padanya jadi terasa begitu lama.


“Gala… nggak usah ber—“ bisiknya tanpa mampu lagi melanjutkan kalimatnya begitu pria itu sekali lagi menekuk sebelah kakinya dan berlutut di hadapan Gemma.


“Kamu nggak tau gimana rasanya nungguin 15 tahun.”


“Kamu kira aku nggak tau?”

__ADS_1


Gala terdiam.


“Bukan cuma kamu yang menderita dalam penantian yang bahkan terkesan begitu mustahil.”


“Tapi sekarang udah nggak mustahil… Aku berada di sini di depan kamu. Ini nyata, Gem.


Gala menunduk, membuka kotak beludru yang dia pegang dan menampilkannya pada Gemma seraya meraih tangan kiri wanita itu dan mengelusnya dengan lembut.


“Gemma Aruna Fransius. I’ve been waiting you for so long… Aku sayang kamu, mungkin kamu nggak tau seberapa besar. Tapi yang jelas, sekarang aku ingin kamu tau, kalau kamulah wanita yang aku ingin jadikan partner seumur hidup.


Aku meminta Viani lebih dulu daripada kamu karena aku tau, kamu nggak akan bisa bertahan tanpa Viani. Karena aku memutuskan untuk mencintai kamu seutuhnya, dan kamu utuh karena Viani.


Kamu nggak usah takut sama keluargaku. Mereka semua udah nerima kamu sepenuhnya, begitu juga dengan Viani. Kalian akan disayangi, kalian akan dicintai. Keluargaku nggak seperti Tante Mira atau Ayah kamu. Kami adalah keluarga yang kompak dan saling menghargai.


Ijinkan aku buat jagain kamu dan jadi partner hidup kamu. Aku nggak tau hari esok seperti apa, aku nggak bisa janjikan banyak mengingat perjalanan hidup yang kamu lalui sebelum ini jauh lebih berat. Aku tau kalau ketakutan terbesar kamu adalah ditinggalkan. Tapi percayalah Gem, itu adalah hal terakhir yang aku mau lakukan ke kamu.


Kita mungkin akan berantem, kita akan beda pendapat, kita juga bakal saling cela dan berdebat karena banyak hal termasuk Viani atau ketika anak itu udah mulai jalan sama cowok. Kita akan mengalami pertengkaran wajar di antara pasutri. Tapi kita juga akan mengalami hal-hal manis bersama. Kalau kita saling mencintai dengan benar, aku jamin, kalau hidup kita akan lebih banyak manisnya dari pada hal-hal pahit.


Ijinkan aku ada saat kamu lelah. Ijinkan aku jadi penopang untuk kamu dan jadi sandaran ketika kamu sedang susah. Aku akan temani kamu, sampai luka hatimu sembuh. Sebagai gantinya, aku mohon kamu tetap disisiku. Aku perlu kamu karena aku cinta kamu, bukan aku cinta kamu karena aku perlu.


So… Gemma… Will you marry me and spend the rest of your life with me?”


Oh Tuhan, ini akhirnya terjadi juga.


Hati Gemma kembali diselimuti haru yang membuat perasaannya campur aduk. Gemma tak lagi mampu menahan desakan air mata yang tadinya sudah sempat mengering.



Dianggukkannya kepalanya, ditariknya Gala dalam pelukannya dan dia menangis di dada pria itu dengan begitu bahagia. Tubuhnya yang gemetar itu tenggelam dalam tubuh tinggi Gala.


“I love you, Gem,” bisik Gala padanya sambil mengecup keningnya dengan lembut. “Give me your finger…”


Gemma mengurai pelukannya dari Gala dan memberikan tangannya pada pria itu. Gala juga tak membuang-buang waktu. Diraihnya jari manis Gemma dan segera dia memasangkan cincin itu sampai melingkar dengan sempurna menghiasi jemari wanita impiannya.


“Terima kasih, Gemma.”


Resmi! Gemma menerima pinangan Gala!


Wanita itu menangis dalam bahagia. Dia tak sanggup lagi bicara, karena tak ada satu pun kata-kata yang bisa menjabarkan rasa yang dia miliki saat ini. Dia terlalu cinta, terlalu sayang pada pria itu. Hari ini, dia izinkan hatinya untuk merekah sekali lagi, untuk kembali percaya pada komitmen itu.


Seakan tersihir dengan kebahagiaan Gemma dan Gala, para pria sampai melayangkan ciuman dan memeluk pasangan masing-masing tak terkecuali para sesepuh. Semua orang turut berbahagia untuk Gemma dan Gala.


Pria itu kembali mengecup kening Gemma. Dia mengangkat tubuh Gemma dan memutarnya dengan gembira sampai wanita itu tertawa riang, sekaligus ketakutan dan minta diturunkan. Hatinya bersorak gembira. Sel-sel tubuhnya seakan bereuforia dengan semarak.


Memang, ada banyak hari-hari bahagia dalam hidup Gala. Namun hari ini, Gemma baru saja menuliskan daftar tambahan hari bahagia milik pria itu dengan tintanya dan dengan cintanya sendiri.


Viani pun datang, bergabung dengan Gala dan Gemma. Gala mendekap mereka berdua begitu erat seakan tak ada hari esok. “Kalian udah jadi hidupku sekarang. Terima kasih sudah terima aku dalam hidup kalian.”


Gala tersenyum lebar pada kedua perempuan itu. Lesung pipi dalam miliknya menambah kharismanya dengan begitu sempurna dan membuat Gemma semakin mengaguminya.


“Ngomong-ngomong, cewek itu siapa?” tanya Gemma yang teringat dengan rasa penasarannya tadi. “Dia kenapa tadi cipika cipiki sama kamu?”


Jelas saja Gemma dan Viani bingung. Wanita yang begitu cantik itu tiba-tiba datang dengan begitu mesra dan akrab menggandeng tangan Gala, bahkan mencium pipinya. Tentu saja semua jadi terasa aneh, karena Viani hanya biasa melihat Gala bertindak perhatian pada Gemma, bukan pada perempuan lain.


“Jadi Mbak ini siapa sih, Om? Kok cium-cium Om?”


Pria dan wanita paruh baya tadi serta Sesembak tersebut spontan terkikik pelan. “Nama saya Yosef Ardius, dan ini istri saya Arni. Sedangkan Mbak itu anak saya, namanya Ilana Ardius. Saya adalah Omnya Gala dari pihak almarhum ibunya. Sedangkan Opa Paul di sana, adalah Omnya Gala dari pihak ayah.”


“Kenalin, Ilana Ardius, sepupu ‘Papa’ Gala,” ujar Ilana menyodorkan tangannya, yang disambut kikuk oleh Viani karena sempat salah mengira.


Viani memicingkan matanya saat mendapati sebenarnya ada sedikit kemiripan antara Yosef dan Gala. Mata sipit dan kulit kuning langsat itu berasal dari klan Ardius, sedangkan lesung pipi dalam itu dari klan Aditya. Luar biasa memang, satu keluarga good looking semua. Di antara mereka yang berada di atas dek kapal, hanya dia dan Gemma yang sedikit Caucasian. Tapi punya wajah kebulean itu bukan berarti mereka tergolong cantik, Viani sadar persis akan hal itu.


“Jadi… Semua di sini keluarga Om Gala?” tanya Viani.


Diana nimbrung, “kecuali Om Febri, Om Niko, Tante Erika, dan Tante Diana yang cantik ini.”


“Yee, pede!” seru Erika.


“Abis nggak ada yang muji gue.”


“Iyain aja deh, Tante cantik,” tukas Viani yang langsung membuat Diana merona. Gadis itu langsung mengeluarkan ponselnya, mengabadikan setiap momen berharga ini di sosial media miliknya.


“Terus, yang main band siapa, Gala?” tanya Gemma yang mulai curiga. “Mereka ini—“


“Mereka The Black Ruby, Sayang.”


OMG! Mereka datang jauh-jauh dari Aussie buat ngelihat Gala melamar Gemma! Mulut Gemma membuka lagi karena kaget.

__ADS_1


“Congratulations, Man!” sapa pria bertato yang tadi main gitar. “Finally, you’re off the market!”


Satu per satu mereka menyalami Gemma dan Gala dan berbincang-bincang sebentar dalam bahasa Inggris dengan aksen Australia. Gala membawa mereka untuk berfoto bersama sebelum makan malam.


“I’ll see guys at downstairs, okay?” ujar Gala sambil mempersilakan ketiga pria bule itu turun.


Gemma menyentuh siku Gala. “Aku baru nyadar ada fotografer.”


“Hm… Aku tau kalo aku ganteng, Sayang. Makanya kamu nggak bisa berpaling dari aku sampai nggak sadar kalau ada fotografer!”


Gemma mencubit pinggang Gala. “Ish!”


“Kamu suka banget cubit-cubit. Awas nanti enam minggu lagi, aku balas!”


“Apanya yang enam minggu lagi?” tanya Gemma dengan kening mengerut. “Jangan bilang—“


Gala tersenyum nakal dengan menaik turunkan alisnya. “Aku udah nggak sabar!”


“Iihh! Diskusi dulu dong!”


“Udahlah, kamu terima beres aja!”


“Tapi—“


“Kamu mau pernikahan impian kamu juga kan?” tangan Gala terangkat menyampirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Gemma. “Kita akan diskusikan sama-sama, oke? Aku nggak maksain konsepnya seperti apa. Tapi yang pasti, waktu enam minggu udah fix dan nggak boleh diganggu gugat.”


“Huu dasar bucin kebelet kawin!” Perdebatan mereka diinterupsi Felix yang menggerutu, lalu meledek sang sepupu.


Mereka yang mendengar kontan tertawa lepas.


“Tapi emang gue salut ama lo, Gala,” ujar Felix. “Strategi lo itu anti mainstream… Dia ngelamar Viani duluan coba, biar nggak ditolak! Gue aja nggak tau kalo lo beli lagi cincin yang lain buat Viani.”


“Ya kalo ngelamar emaknya duluan, tar gue ditolak lagi,” ujar Gala sambil mengelus jemari Gemma dalam genggamannya. “Tapi misal tadi ditolak, gue siap kok lamar lagi. Lamar terus pokoknya sampe diterima.”


“Gala!” Gemma menepuk lengan Gala gemas.


“Hahaha, sudah-sudah… Ayo kita turun. Saatnya makan malam,” ujar Paul yang terlebih dahulu turun bersama sang istri. Satu per satu mereka turun ke dek bawah menuju dining room.


Tapi diujung kapal, Viani terlihat berdiri menyendiri dengan ponsel yang menempel pada telinganya. Tatapan dan ekspresinya terlihat begitu serius. Tak lama setelah dia selesai, dia kembali pada Gemma dan Gala dan menjelaskannya tanpa ditanya.


"Tadi itu Oma Mira. Dia ngelihat story aku barusan."


"Beliau bilang apa?"


"Eng... Beliau... Kurang suka dengan pertunangan Mama dan Om," katanya takut-takut sambil meremas ponselnya dengan gentar. "Oma kedengaran marah."


Gala merangkul Viani, "Kamu nggak usah takut. Oma mungkin agak susah menerima, tapi nanti, kita akan bicara sama Oma baik-baik. Om juga nggak akan ngelarang Viani ketemu Oma Mira dan Opa Philip. Viani tenang aja."


"Iya, Om."


"Ya udah, sekarang turun aja dulu, kita makan malam. Oke?"


Gadis itu mengangguk, mencium pipi Gala lalu bergegas turun ke bawah.


Masih berdiri di atas sambil menikmati indahnya sunset berdua di atas salah satu sofa chaise, Gemma mencoba mencari tahu sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya. "Ngomong-ngomong, yang sewa kapal ini kamu atau Niko?"


"Hehehe nggak penting, ah!" kekeh Gala.


"Ayolah, aku pengen tau..." rengek Gemma dengan manja.


"Iya-iya... Kapal ini aku yang sewa, Niko emang nebeng doang."


"Jadi semua orang di sini udah tau kalo kamu mau ngelamar kami?"


Gala mengangguk pelan. Seketika Gemma jadi terharu lagi. Gemma mengedarkan pandangan ke sekeliling, memastikan sudah tidak ada orang. Dia pun maju, mengecup lembut bibir Gala, yang langsung disambut pria itu dengan ciuman yang lebih dalam.


Tangan Gala meraih rahang Gemma dan mengelusnya perlahan, menikmati lembut bibir Gemma yang mengusap bibirya dengan penuh rasa. Ciuman ini adalah ciuman pertama mereka setelah resmi bertunangan dan terasa jauh lebih berkesan dari ciuman mereka sebelumnya.


"Terima kasih, Gala," bisik Gemma usai ciuman itu. Dipandanginya sang calon suami, mengamati indahnya wajah itu yang sebentar lagi akan jadi miliknya seutuhnya.


Gala mengelus puncak kepala Gemma dengan sayang. “Lets go… My fiance…” ajaknya untuk turun, menuju dining room dan bergabung bersama semua yang telah lebih dahulu ada di bawah.


...****************...


Dua bab ini adalah bab paling panjang. Ratna mon maap dulu ga bs double up ya, soalnya nulis part2 ini jujur agak susah hehehee...


Selamat menikmati kebucinan Gala 💋

__ADS_1


__ADS_2