
"Kenapa kamu ketakutan gitu?"
Pertanyaan Viani yang persis seperti celetukan itu membuat Vincent langsung menolehkan kepalanya dan menatap sang istri dengan kesal. Bagaimana bisa sekarang Viani justru terlihat amat santai seperti di pantai?
"Kalau kamu sampai--"
"Hamil? Ya baguslah!"
Ciiit!!
Vincent hampir tidak melihat lampu lalu lintas yang sudah berubah merah. Apa Viani sudah gila? Kehamilan adalah sesuatu yang seharusnya amat sangat dihindari sekarang ini, apalagi Viani baru saja melahirkan lebih dari dua bulan lalu.
"Kira-kira kalau lagi becanda, Vi! Kamu nggak ingat gimana sulitnya ngelahirin anak kita? Anak kita aja masih bayi, Vi!!"
Terhentak karena bentakan suaminya, Viani langsung terdiam. Vincent sampai heran pada sang istri.
Padahal sekolah Viani sangat tinggi, tetapi kenapa dia begitu termakan dengan ucapan cetek milik Sari yang sungguh terdengar seperti orang yang tak berpendidikan?
Masih dalam keadaan emosi, bahu pria itu terlihat naik turun menahan amarah.
Di detik yang sama, ponsel Viani dan Vincent sama-sama berbunyi. Dari orang tua masing-masing.
"Halo?"
"Halo!"
__ADS_1
Mereka mengucapkan kata itu bersamaan saat menyambut telepon tersebut. Telinga mereka pun diberondong dengan ungkapan kekhawatiran dari masing-masing pihak.
Bahkan Vincent dicecar habis-habisan oleh Niko karena begitu ceroboh.
Di tengah perjalanan, Vincent mendadak memberhentikan mobilnya pada sebuah apotek untuk membeli alat test pack dan langsung memaksa Viani memeriksakan urinnya.
Seperti yang ditakutkan Vincent, tiga jenis test pack yang sempat mereka beli di apotek sebelum ke rumah sakit menunjukkan garis dua berwarna merah.
Detak jantung Vincent mendadak menggila dan dia menatap Viani dengan mata berkaca-kaca. Tetapi lelaki itu mencoba menguasai dirinya sendiri agar tidak terbawa emosi. Sebagai tenaga medis, semua dugaan yang muncul tentunya harus dibuktikan terlebih dahulu.
Gemma dan Niko bersamaan muncul di rumah sakit dan berlari menuju pasangan suami istri muda tersebut.
"Sayang!" pekik Gemma sambil memeluk anaknya. "Kamu nggak pa-pa? Astaga, Tuhan! Kenapa sih kalian ceroboh banget?!" cecarnya pada sang menantu yang tertunduk dengan wajah bersalah.
Vincent terdiam, sementara Niko terlihat sedikit kesal. Kesalnya entah harusnya pada Vincent atau Viani, sebab mereka sama-sama pasti melakukannya atas dasar cinta.
Kalau Viani sampai hamil, Niko sudah menebak bahwa sebagian besar ibu akan mempertahankan anak mereka meski nyawa taruhannya. Sudah sikap natural seluruh wanita di muka bumi sebagai makhluk terkuat.
Mereka pun tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu.
Waktu telah menunjukkan puku 9 pagi, klinik VIP di rumah sakit tempat Viani melahirkan dulu akhirnya buka. Yang melayani Viani adalah dokter Rani, rekan sejawat Niko.
Dokter Rani yang sudah cukup tahu kejadian yang menimpa Viani tiga bulan lalu menampilkan ekspresi rumit saat melihat test pack yang dibeli Vincent satu setengah jam lalu.
"Silakan berbaring, Bu Viani," ujar dokter Rani ramah.
__ADS_1
Perawat yang menjadi asistennya pun melakukan tugasnya, menutup tirai penghalang saat bagian bawah tubuh Viani sedang dibuka untuk dimasukkan alat transducer vaginal.
Dokter menggerakkan alat itu sedikit lebih masuk dan mendapati ...
Dokter Rani menghembuskan napasnya pelan. Perasaannya sedikit tidak menentu, antara lega dan juga sedikit terusik akibat mendapat kasus baru yang cukup serius bila tidak ditangani.
"Bagaimana Dok?" tanya Vincent menunggu dengan wajah yang terlihat cemas.
Dokter Rani mendekati Vincent dan menjelaskannya panjang lebar perihal apa yang dilihatnya barusan pada anak rekannya tersebut sambil memberikan hasil USG padanya.
Vincent masih dalam mode silent night-holy night, tak berani banyak bicara pada sesuatu yang bukan ranahnya meski dia tahu persis apa yang ada di foto tersebut.
Ada benihnya, sedang berjuang untuk tumbuh.
Seketika dada Vincent kembali merasa sesak. Dilihatnya Viani yang terbaring pasrah di brankar. Wanita itu pasti akan sedih sekali setelah ini. Dia juga ingin punya anak lebih banyak. Tapi kalau keadaan seperti ini, apa boleh buat?
"I'm sorry kiddo," gumamnya pada foto USG itu dengan mata berkaca-kaca.
Niko yang penasaran pun langsung mengintip. Setelah tahu apa masalahnya, dia menatap Dokter Rani. Pria tersebut dan Dokter Rani sama-sama mengangguk, tanda mereka punya pendapat yang sama.
"Selama tidak ada pendarahan ..."
"Tapi tetap saja harus ...."
Melihat koneksi antara Dokter Rani dan Niko, wajah Gemma jadi semakin ketakutan. Viani yang berada di brankar hanya bisa menghela napas pelan. Dia sudah bisa menebak bahwa ada sesuatu lagi yang terjadi dengannya.
__ADS_1
"Mau pakai obat atau operasi?"
***