
Satu tahun kemudian …
Dalam sebuah mobil sedan, Gala, Gemma dan Viani sudah duduk manis untuk pergi ke sebuah tempat hiburan pada hari Minggu siang menjelang sore tersebut.
Gala yang sedang menyetir, dapat merasakan kalau Gemma meliriknya dengan kaku. dan menghembuskan napasnya dengan kasar sambil bersandar pada sandaran kursi. Belakangan ini, Gemma uring-uringan dan sikapnya agak ketus.
Gala dapat memahami hal itu. Sudah satu tahun mereka menikah tapi belum ada tanda-tanda kalau Gemma akan hamil. Mereka sudah mencoba cek ke dokter, tapi semuanya normal.
Tidak ada kista, Miom, PCOS atau gangguan-gangguan lainnya yang dapat membuat sulit hamil. Pria itu juga sudah menjalani tes yang menunjukkan kalau ****** yang dia miliki juga bagus dan normal. Mereka berdua sehat dan bugar.
Gala sendiri sebenarnya tak terlalu pusing dengan perkara anak. Namun, kejadian kemarin pagi dan juga tadi pagi membuat mood Gemma berantakan.
Kemarin pagi, Gemma sudah menghitung kalender kalau dia terlambat setidaknya seminggu dari tanggal menstruasinya. Dia membeli lima pack alat tes kehamilan tapi tak ada satu pun yang memberinya tanda garis dua meski hanya samar-samar.
“Ma … masih belum ha … hamil,” bisiknya terbata-bata dalam isak tangis.
Begitu pula pagi ini ketika dia mendapati bercak darah di ****** ********. Gemma kembali menangis sesenggukan di kamar mandi selama setengah jam. Gala pun harus membujuknya untuk menyudahi tangisnya itu, karena mereka akan bertemu dengan teman-teman mereka siang ini untuk jalan-jalan sampai sore.
Gemma memang kelihatan agak lelah belakangan ini. Usaha music course-nya memang laris manis, terutama di kalangan anak-anak di bawah usia 10 tahun.
Dia mengerjakan semuanya sembari kuliah. Gala membantu Gemma sedikit-sedikit untuk promosi dan membelikan ruko. Sisanya, Gemma mengerjakan sendiri bersama beberapa karyawan yang dia rekrut. Mulai pembuatan silabus, administrasi, hingga terjun langsung untuk mengajar.
Gala membiarkan Gemma melakukan apa saja yang dia mau, yang selama 15 tahun tak pernah dia kerjakan dan tak pernah dia rasakan, yaitu kuliah dan juga bekerja.
“Apa gara-gara aku kebanyakan kerja ya? Atau terlalu sibuk kuliah?” ungkap Gemma seraya menghapus air matanya.
“Enggak kok, Sayang.”
“Apa aku berhenti kuliah aja?”
“Ya jangan!” Mana mungkin Gala menyuruh Gemma berhenti dari apa yang dilewatkannya belasan tahun belakangan. Gala juga ingin Gemma menempuh pendidikannya yang sempat tertunda.
“Lalu aku harus gimana?” rengek Gemma yang tak ubahnya anak kecil yang kehilangan mainannya.
“Usaha kamu nanti aku yang bantu handle, jadi kamu tinggal datang ngawasin aja. Kamu nggak usah turun ngajar. Biar kamu nggak kecapean, Sayang.”
Gemma mengangguk lalu menyandarkan kepalanya pada dada sang suami yang selalu membuatnya nyaman dan aman. “Maafin aku belum bisa kasih kamu anak.”
__ADS_1
“Udah, jangan bilang gitu. I’m okay kok, Sayang. Justru, kamu itu jangan terlalu bebanin diri kamu sendiri! Enjoy aja! Nanti, kita pasti dikasih ...” Gala pun mengelus punggung Gemma yang masih bergetar karena tangisan tadi.
Kembali ke masa sekarang, dia pun hanya bisa menghela napas panjang kalau mengingat momen itu.
Lalu, lamunan Gala buyar saat dia merasakan sebuah tangan kecil menoel bahunya. “Ya?”
“Mau ke mana kita, Om?” tanya Viani seraya gadis itu melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah tiga.
Gala tersenyum. “Ke Dufan, Vi. Kita family time bareng sama temen-temen. Ada keluarga Om Niko juga entar.”
Tiba-tiba, Viani yang duduk di kursi penumpang, bergeser ke tengah dan memajukan wajahnya sangat dekat dengan Gala. Dia kemudian berkata pelan, hampir berbisik.
“Ada Vincent juga?”
“Hm-m! Ada kok. Ada Tante Diana dan Om Febri sama baby Briana.”
“Great!” ujar Viani malas. Gadis itu langsung menyandarkan punggungnya di jok mobil seakan tak tertarik lagi dengan perjalanan ini.
“Kamu kenapa? Kok tiba-tiba nanyain Vincent?” Gala menyadari perubahan anaknya yang mendadak cemberut.
“Nggak suka ada dia!” jawab Viani ketus.
Viani mendengkus. “Dia suka gangguin Viani di sekolah, Om!”
“Kamu di-bully atau gimana? Nggak mungkin Vincent bully kamu!”
“Ganggu, Om. Dia gang-gu! Bukan bully! Lagian kenapa sih Viani sama Vincent harus satu sekolah? Kan Om bisa pilihin Viani SMA yang lain!”
“Ya karena sekolah itu bagus, Vi.” Gala memejamkan matanya sejenak karena hari ini dia harus memupuk kesabaran ekstra menghadapi dua orang perempuan yang sedang bad mood.
Sampai di sana, mereka langsung bertemu dengan teman-teman mereka lalu masuk ke dalam bersama-sama.
Sebagai bayi satu-satunya yang masih berusia 10 bulan, Briana tentu yang paling bersinar, paling gembul dan paling kissable dari semua anak-anak. Saat ini, anak itu telah digendong oleh Gemma, spesialis penggendong bayi dan batita. Tentu saja Diana tidak keberatan.
“Kalo gitu, gue nitip Briana ama elo ya Gem. Kalo misal gue mo quality time sama Bapaknya. Gue juga harus layanin bayi besar gue."
Erika menepuk bibir Diana. “Ngomong difilter dulu kek! Dah punya anak juga! Untung anak gue lagi dibawa Bapaknya.”
__ADS_1
“Kayak elo nggak begitu!” protes Diana. “Lebih parah dari gue!”
Gemma tak menoleh dan terus menciumi pipi Briana yang seperti minta dikecup nonstop. “Titip aja sama gue. Gratis ... Eh doi gumoh!”
Gemma buru-buru mengambil tisu kering dan mengusap bekas gumoh yang ada di jumper Briana. “Siniin tisu basah!”
“Eh, seriusan lo? Briana tuh tukang ngambek loh. Kalo keinginannya nggak diturutin dia ngamuk dia. Emaknya aja dijambak-jambak. Nggak tau deh gedenya gimana. Dia udah barbar sejak dini,” ujar Febri sambil menyerahkan tisu basah pada Gemma yang hendak membersihkan bibir Briana dari gumoh.
“Kurang lebih Diana waktu kecil dong. Barbar banget dia kan?" tanya Gemma.
"Hm! Sampe SMA pun masih barbar!" tukas Febri menertawakan sang istri.
"Sebut aja gue barbar teruusss ... Tapi seriusan lo bisa dititpin baby?"
"Iya," jawab Gemma singkat namun terdengar meragukan.
Diana dan Febri menatap Gala yang hanya mengendikkan bahu. “Kalo kalian beneran pengen honeymoon lagi, titip aja, that’s okay. Gemma suka anak-anak.”
“Elonya gimana, siap nggak bobo sama bayi? Atau sekalian lo praktek sebelum eksekusilah …” Diana mendekati Gala dan berbisik. “Katanya kalo sambil asuh anak, biasanya si ibu bakal kepancing untuk hamil.”
“Mitos ah,” jawab Gala sambil memainkan tangan Briana, tak mengacuhkan Febri dan Diana.
“Bener, kok. Diana dulu gitu. Kita asuh anak ponakan gue dua minggu gara-gara emaknya masuk rumah sakit. Eh bulan depannya ini Nyonya dah bunting!” tukas Febri.
“Kapan aja lo mo titip, gue siap!” kata Gemma.
Diana dan Febri tersenyum lebar saat mendengar kesempatan honeymoon tersebut. “Oke, kita bakal atur jadwal sama izin dari komandan dulu.”
Gemma pun menyerahkan Briana pada Diana untuk disusui terlebih dulu karena anak itu sudah mulai rewel dan tangan kecilnya ingin menggapai-gapai sang bunda.
“Nih. Tetekin ampe kenyang. Abis tuh kasih gue lagi!” Gemma melihat-lihat sekeliling. Tak menemukan yang dicarinya, dia menyentuh tangan Gala. “Sayang, Viani ke mana?”
Niko yang baru saja kembali dari beli boba bersama Elvina pun nyeletuk, “Viani Diajak Vincent naik Kora-kora.”
Setahu Gala dari cerita Viani tadi, Vincent selalu mengganggu anaknya. Tapi Gala membiarkan saja Viani bersama Vincent. Anak lelaki itu tak mungkin macam-macam ke Viani kan? Seketika naluri kebapakannya muncul.
Meski anak laki-laki itu adalah anak dari sahabatnya, tapi kalau sampai macam-macam ... Beuh! Gala sudah menggeram dalam hatinya.
__ADS_1
"Biarin aja mereka pergi, lagian Viani nggak ada temennya," ujar Gemma yang terlihat tenang-tenang saja.
...****************...