
Pagi hari ,Tria bangun ! ia membantu Ibunya menyiapkan sarapan . Setelah selesai , Tria memanggil kak Hendra dan Ayahnya untuk sarapan . Hari ini Tria kerja sore ,jadi ia punya waktu untuk membantu Ibunya membersihkan rumah . Hendra yang hari ini libur ,ia hanya bermalas - malasan di dalam kamarnya .
Di rumah Diki
Diki tersadar dari mabuknya semalam ,ia merasakan kepalanya sangat berat .Perlahan ia memaksa membuka matanya , dan mencoba bangun dari tempat tidurnya .Baru satu langkah ia sudah terjatuh karena sempoyongan .Mama Diki yang kebetulan masih berjaga di kamar Diki ,ia pun kaget melihat anaknya yang kini terkapar di lantai . Sontak ia berteriak histeris dan meminta tolong.
"Papa,,,Bibi ,,, tolong bantu Diki !" teriak Mama Diki yang kini mencoba mengangkat kepala Diki .
"Ada apa Ma? kenapa Diki seperti ini? kita panggil Dokter !" seru Suaminya yang mendekat dan membantu mengangkat Diki ke atas ranjang.
Bibi ,berlari menuju telepon rumah dan ia langsung menghubungi Dokter keluarga Diki . Dokter pun mengiyakan permintaan Bibi dan segera menuju kerumah Diki . Setelah sampai di rumah Diki ,Dokter Aldi memeriksa keadaan Diki .
"Dokter Aldi ,bagaimana keadaan putra saya?" tanya Mama Diki yang kini masih ditenangkan oleh suaminya .
"Diki baik - baik saja ! hanya dia kebanyakan minum alkohol,sehingga membuat dia mabuk dan kepalanya terasa sangat berat ! " sahut Dokter Aldi sembari mencatat obat yang harus di tebus di apotik .
"Ini resep obat untuk Diki !" Dokter Aldi menyodorkan selembar kertas kepada Mama Diki .
__ADS_1
"Terimakasih !" sahut Mama Diki sembari menerima kertas tersebut .Segera Papa Diki menebusnya ke apotik dengan menyuruh sopir pribadinya .
Mama dan Papa Diki masih setia menunggu putranya sadar, mereka memperhatikan keadaan putranya .Mereka tak pernah menyangka jika anaknya akan frustasi seperti ini dan terjebak di dalam urusan percintaannya .
"Tria,,,,, Tria,,,,, Tria ,,,!" Diki masih terpejam ,namun ia kembali memanggil - manggil nama Kekasihnya itu .
Mamanya yang tak tega melihat kondisi putranya ,ia pun menghubungi Tria agar segera datang kerumahnya . Panggilan pun terhubung dan di jawab oleh Tria .
Tria : Selamat pagi tante ! apa kabar?
Tria : bisa tante ! maaf ada apa ya ?
Tante: Diki sedang sakit ,dia membutuhkan mu sekarang .
Tria : baiklah ,aku segera datang !
Panggilan pun diakhiri ,kini Tria tengah bersiap dan ia meminta ijin kepada Ibunya , Hendra yang mendengar itu lalu ia akan menawarkan diri untuk mengantar adiknya. Karena ia takut jika disana adiknya akan kecewa setelah tau apa yang menyebabkan Diki sakit .
__ADS_1
"Mau kemana dik?" tanya Hendra mendekati.
"Kak ,aku mau kerumah Diki ! tadi tante telepon ,katanya Diki sakit ."sahut Tria dengan raut wajah cemasnya .
"Biar kakak yang antar kamu ! mumpung kakak libur hati ini !" sahut Hendra beralasan ,padahal ia tau apa penyebab Diki sakit .Hendra tidak ingin melihat kesedihan di wajah adiknya hanya karena lelaki plin plan seperti Diki .
Mereka memasuki mobil Hendra, di sepanjang perjalanan Hendra fokus menyetir ,namun sesekali ia memandangi wajah adiknya yang sangat khawatir akan Diki . "andai kamu tau kelakuan Diki ,pasti kamu sangat terpukul !" gumam Hendra ,yang tak tega melihat wajah adiknya yang sendu .
"Kak ,di depan berhenti sebentar ! aku mau beli sesuatu !" pinta Tria ,menunjuk satu toko ,ia ingin membeli roti dan buah untuk Diki . Setelah mendapatkan apa yang ia ingin bawa,ia kembali masuk ke mobil dan meminta kakaknya melanjutkan perjalanan tersebut .
Setelah 15 menit kemudian ,sampailah mereka di rumah Diki . Mereka disambut oleh Bibi yang menjadi pelayan dirumah Diki . Mereka saling sapa lalu Tria segera menaiki tangga menuju kamar Diki . Tria sudah di suruh langsung ke kamar Diki oleh Bibi tadi yang karena Mama Diki sudah berpesan sebelumnya . Jika Tria datang ,agar langsung me kamar Diki . Namun Hendra hanya menunggu Di ruang tamu sembari duduke menikmati minuman yang sudah dibuatkan oleh Bibi .
Tria yang sudah berada di kamar Diki ,ia mencium tangan Papa dan Mama Diki .Lalu ia mendekati Diki yang masih belum sadarkan diri. Diki masih saja menyebut nama Tria .
"Tria ,Tria maafin aku!" seru Diki dengan mata yang masih terpejam .
"maaf untuk apa?" gumam Tria yang bingung lalu menatap ke arah orang tua Diki dengan mengangkat kedua bahunya .
__ADS_1