Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan

Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan
Asal Dari Air Mataku Ternyata Dari Kisah Yang Hebat


__ADS_3

Saat dunia berhasil memberikan warna terbaik dalam mataku, aku mencoba memejamkan mataku. Setiap sore aku selalu seperti itu, melamun untuk berimajinasi setinggi-tingginya. Jika ada yang bertanya kepadaku apa yang aku pikirkan, maka aku akan menjawab, aku sedang memikirkan bagaimana bahagianya jika Tuhan memberikanku satu perempuan paling buruk di atas dunia-Nya ini. Aku akan mengatakan pada perempuan itu, Tuan Putri, jika engkau tahu bagaimana sesaknya dadaku ketika aku tahu engkau bersedia menenua bersamaku, mungkin engkau akan lebih memilih mati dalam angan-anganku dari pada menjadi manusia nyata yang dihakekatkan Tuhan hidup abadi dalam Surganya. Begitulah rasa cinta yang ada dalam dadaku, sayang sekali cinta yang tulus itu belum menemukan dada yang mengerti untuk tempat jantungku hidup dan berdetak, agar aku selalu hidup untuk melindunginya dari tangisan terkecil.

__ADS_1


Banyak manusia mengatakan padaku, aku adalah makhluk terburuk yang pernah diciptakan Tuhan, saking buruknya aku beranggapan Tuhan menciptakan aku dari sari pati tanah paling tandus di atas dunia ini. Meski aku seperti itu, mereka mengatakan ungkapan selamat, tertanda aku berhasil menjadi laki-laki paling romantis. Aku juga tidak tahu, kenapa aku suka meluapkan kalimat-kalimat seperti itu, mungkin karna aku sering memejamkan mataku untuk berbahagia dengan perempuan mana pun yang aku suka. Entahlah, itu hanya anggapanku yang masih sangat gaib. Aku juga tidak sadar, kenapa aku tidak pernah menangis ketika menulis ratapan tersedih, sedangkan mulut-mulut yang membaca karya tulisku itu malah melimpahkan air matanya. Mereka tidak tahu pada bibir siapa lagi air mata itu akan mereka jatuhkan. Terimakasih Tuhan, meski aku adalah sandiwara terkonyol yang engkau buat, paling tidak aku mampu menjadi air mata di seluruh kebahagiaan. Bagiku air mata tersedih itu berasal dari kebahagiaan yang hebat.

__ADS_1


Aku mempunyai Ayah yang selalu siap untuk menguburku kapan saja jika aku mati, tapi aku tidak mempunyai ibu lagi, karna ia telah mati sewaktu aku berhasil ia selamatkan ke atas dunia. Meski demikian bukan sosok ayah yang merawatku, tapi nenek orang tua dari ibuku. Itu sebabnya aku menjadi laki-laki yang dalam hidupnya selalu menyedihkan karna ayahku tak pernah mengajarkanku untuk memanggil dirinya dengan kata ayah, aku juga tidak pernah tahu bagaimana rasanya jika ayah memeluk tubuhku yang kering, aku juga tidak pernah sadar bagaimana rasanya jika ayah memegang tanganku ke sebuah tempat yang mungkin tempat itu akan menjadi tempat pertama persinggahanku selama hidup di atas dunia. Aku tidak mempunyai cerita seperti itu, dan untuk memejamkan mataku untuk berbahagia bersama ayah, aku sangat kesulitan, karna imajinasiku bingung, aku harus membayangkan kisah yang bagaimana. Ayah hanya mempunyai satu kalimat padaku, kalimat yang amat sangat menyedihkan, tidak termakan oleh huruf, kata atau pun kalimat. "Aku Telah Membunuh Istrinya Yang Aku Panggil Ibu." Maafkan aku ayah, dari sanubariku terdalam aku tidak pernah berniat apa lagi berencana untuk membunuh ibu tapi Tuhan lah yang menginginkan itu semua. Tuhan ingin tahu, seberapa sayang ayah pada makhluk yang ayah rencanakan sendiri untuk hadir.

__ADS_1


Para pembaca yang romantis, siapkan dirimu, ini baru gambaran dari ceritaku. Jika ini sedih, berpikirlah kesedihanmu itu sudah pasti berawal dari kebahagiaan yang luar biasa. Menangis lah sepuas-puasnya, supaya air matamu tidak pernah kecewa pada kisah yang barangkali akan sangat terpaksa engkau bahagiakan.

__ADS_1


__ADS_2