Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan

Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan
Bertemu Dengan Perempuan Masa Lalu


__ADS_3

Aku dan dua orang anak buahku masih tinggal di bangunan tua itu. Tinggal di apartemen mewah atau rumah sendiri, itu akan semakin memudahkan Polisi mencari keberadaan kami.


Pagi masih betul-betul sehat, aku duduk di kursi sofa usang itu, tapi sudah sedikit di perbaiki To dan Lol. Aku menghempaskan tubuhku di sana dan berencana hari ini, kami tidak akan ke mana-mana.


Sebuah televisi layar datar yang aku beli beberapa hari yang lalu menyiarkan kabar-kabar aneh di negeri ini. Tidak sedikit kabar mengerikan yang mereka buat sehebat mungkin, seperti, banjir, longsor, pembunuhan, pemerkosaan. Semuanya berita jelek. Apa salahnya mereka membuat satu berita tak perlu lengkap dengan unsur-unsurnya. Seperti, semua warga miskin awal bulan nanti akan diberikan bantuan berupa uang dan beras. Aku rasa tidak akan ada lagi berita jelek seperti itu karna pelakunya sudah hidup nyaman.


"Bos, bos lihat! bukannya ini rumah yang kita datangi tadi dua hari yang lalu!" Tutur To sambil duduk di sampingku, Lol juga datang ia berdiri di belakang kursi.


"Kita akan di penjara bos, lihat polisi-polisi itu sudah mengatur siasat untuk menangkap kita," lanjutnya bicara penuh kepanikan.


"Apa kita akan dipenjara?" Timpal Lol tepat berdiri di belakangku.


"Yang ngomong siapa?" Balasku meatap mereka berdua.


"Itu Polisi yang ngomong."


"Memangnya dia tau, kalau kita sembunyi di sini."


"Tidak sih bos."


"Jadi untuk apa takut, meskipun berita itu diputar selama dua tahun, kalau pelakunya hanya dijelaskan memakai penutup wajah yang tidak mereka kenal, pada tubuh yang berwajah siapa yang harus mereka tangkap. Sudah, hari ini kita tidak membuat target dulu. kita di sini saja, sampai keadaan sedikit membaik. Jika kalian ingin keluar, kalian harus hati-hati."


Mereka masih memberikan hormat padaku, tapi suaranya tidak lagi tegas sudah sedikit bercampur dengan ketakutan.


***


Aku cukup lelah, berpikir dan bahagia dalam mataku, aku tidak tahu mau pergi ke mana mungkin berkeliaran adalah cara sedikit baik untuk menghibur diri.


"To, keluarkan mobil!"


"Kita mau ke mana bos?"


"Keluarkan saja, jangan banyak tanya."


To dan Lol Turun meniti anak tangga, aku juga ikut di belakang mereka.


"Apa kita akan membuat target baru lagi bos?"


Tanya To sambil menghidupkan mesin mobilnya.


"Tidak, aku rasa uang kita sudah cukup untuk menghidupi kita sampai mati. Sudah tidak perlu ditanya lagi, cepat jalankan mobilnya!"


Aku menempelkan wajahku pada kaca mobil. Jalan sempit yang kami lewati sedikit memberikan geraran pada jantungku.

__ADS_1


"Jangan berhenti, dan jangan tanya mau belok ke mana jika ada persimpangan. Jalan saja ke mana hatimu ingin membawanya"


To dan Lol menatapku dari kaca spion, mungkin mereka merasa aneh dengan tindakanku.


Sepanjang jalan, banyak wajah yang masuk ke dalam pikiranku, mulai dari ayah, mendiang nenek, Ardi dan Anu, perempuan di rumah makan, sampai ke pada permataku, Nuri Amelia yang mungkin sudah lelah menunggu balasan surat dariku.


"Bos, ini sudah sangat jauh bos! Apa kita masih terus jalan?"


Aku tidak bicara, hanya gerakan tangan yang aku berikan padanya.


"Atau kita makan dulu bos!"


"Putar lagi!" Ucapku sedikit mendesak.


"Putar saja dan ikuti ke mana jalan yang aku tunjuk."


Sekitar satu jam, To dan Lol bingung dengan tindakanku. Mereka semakin merasa aneh ketika aku memberhentikan mobil itu di depan rumah makan mewah. Biasanya aku paling tidak suka di tempat keramaian karna itu sama saja dengan memberikan tangan pada Polisi. Kali itu tidak, malahan aku semangat.


"Ayo masuk! Ayo!"


"Polosi"


"Hmm, kalian tau di negeri ini semua orang juga sembunyi. Biar tempatnya aman mereka sembunyi di tempat seperti ini. Sesekali kita juga harus ikut. Gak usah banyak tanya, nikmati saja."


"Silakan duduk tuan!" Ucap seorang perempuan.


Mataku tak lepas menatapnya, ia juga demikian.


"Bukannya kamu yang pernah dadang ke tempat," belum selesai aku bicara ia sudah memotong pembicaraanku.


"Ia itu aku, meski belum kenal, saat itu aku percaya kalian orang baik. Sebetulnya aku sering datang ke tempat itu lagi sayang kata pemilik rumah yang baru kalian diusir. Ya pada akhirnya niat untuk berteman tidak jadi, karna aku tidak tahu kalian di mana. Oh iya, temanmu yang duanya lagi di mana"


"Hmm, aku juga tidak tahu mereka di mana. Sejak aku baca puisi di sini dan tidak mendapatkan hasil, mereka menjauhiku dan sejak saat itu pula aku tidak pernah melihat mereka lagi."


"Oh begitu ya, maaf kalau pertanyaanku tadi menyinggung perasaanmu."


"Gak apa-apa. Mereka hanya masa laluku, tapi bukan berarti aku melupakan mereka, karna mereka jugalah aku bisa berubah."


"Oh iya, kamu tinggal di mana?"


"Tempatku jauh dari sini. Sangat jauh."


"Intinya aku gak boleh ke sana. Ya sudah lah tidak apa-apa. Oh iya, kalian mau pesan apa?

__ADS_1


"Terserah saja, yang pasti bisa dinikmati."


Perempuam itu hanya mengernyitkan kepalanya. Aku tidak tahu, kenapa aku tidak bisa nyaman lagi ketika melihat wajahnya. Aih, apa rasa cinta dalam dadaku tidak lagi biasa aku serahkan kesembarang wanita.


Setelah makan aku pergi dan mengucapkan terimakasih padanya. Ia memberikanku satu lembar kertas.


"Ini alamatku, jika kau perlu apa-apa hubungi saja aku. Aku pasti siap untuk membantumu."


Aku hanya tersenyum dan mengucapkan, kata selamat bertemu kembali. Lain waktu, aku pasti datang ke rumahmu.


Dari dalam mobil aku masih melihatnya berdiri menatapku pergi. Orang yang belum ia ketahui asal usulnya. Mungkin jika ia tahu aku adalah ******** berkulit orang baik, aku rasa ia akan menyampaikan bahwa tindakannya padaku tadi adalah kecerobohan yang paling besar dalam hidupnya.


Perempuan itu telah hilang, aku tidak lagi memandangnya. Hanya pikiran kosong yang menerjang-nerjang hatiku. Aku diam tidak ada bicara sedikit pun pada To dan Lol mereka juga demikian. Mungkin mereka juga merasakan kalau perpisahan tanpa pertemuan yang layak dengan perempuan tadi bukan cara yang baik untuk melayani seorang perempuan.


"Kita mau ke mana lagi bos?"


"Jalan saja, nanti jika ada tempat yang baik untuk singgah aku beritahukan."


Mereka berdua hanya mengangguk terpaksa.


Tidak berselang lama, aku menyuruh To untuk memberhentikan mobilnya.


"Kita berhenti di sini, jangan tanya untuk apa?"


"Jembatan, bos mengajak kita ke sini untuk apa."


"Apa mungkin untuk bunuh diri!" Ucap mereka berdua dengan nada sedikit berbisik.


mereka langsung menatapku. Aku melangkah pada pembatas jembatan lalu berdiri di atasnya. Aku mengembangkan tanganku.


"Bos jangan mati dulu. Jangan bos, jangan lakukan itu bos!"


Aku melihat mereka dengan sudut mataku


"Siapa yang mau mati, kalian kira aku mau bunuh diri."


"Kami kira bos mau melompat."


Aku belum turun, aku masih berdiri di pembatas jembatan itu, berlahan aku memejamkan mataku dan membayangkan kebahagian yang sesungguhnya.


"Hati-hati bos!"


Aku mengucapkan pada mereka berdua, kalau caraku ini adalah hal yang baik untuk merasakan bagaimana bahagianya kalau diterpa ngin di ujung tebing.

__ADS_1


__ADS_2