
Tidak ada cahaya sedikit pun di tempat ini. Sangat gelap. Aku menghidupkan senter yang aku pegang.
"Kita di mana bos?" Tanya To sambil mengarahkan pandangannya ke depan.
"Aku juga tidak tahu, yang pasti kita di bawah rumah. Pintu rahasia yang kita buka tadi ternyata jalan pintas untuk keluar. Aku rasa begitu, jika pemilik rumah itu sedang dalam bahaya aku rasa ia akan masuk ke lorong-lorong ini lalu keluar." Jelasku sambil terus berjalan mencari pintu berikutnya.
"Coba lihat bos! Di sana ada cahaya, berarti kita sudah hampir menemukan jalan keluar," ucapnya sedikit bahagia.
Aku mempercepat langkahku, tidak berselang lama, aku mendengar suara gesekan pintu.
"Cepat !"
To membuka pintu rahasia yang ia lihat tadi. Pintu itu tidak terkunci dengan baik hanya kayu hampir lapuk yang mengganjalnya.
Tiba-tiba suara teriakan bergemuruh dalam lorong itu. Aku tidak tahu mulut siapa yang berteriak itu, yang pasti suara laki-laki.
"Berhenti !" Begitu katanya sambil mengarahkan senter di tangannya ke arah kami.
__ADS_1
Aku berlari, To juga mengikutiku, belum beberapa langkah mereka mengarahkan senjata apinya ke arahku. Aku masih dapat berlari karna yang mereka tembak hanya tanganku.
Aku dan To menuju mobil, setelah sampai To mengemudikan mobil itu dengan sangat cepat hingga kami sampai kembali di tengah kota, membaurkan diri dengan kendraan-kendraan yang berlewatan malam itu.
Lol mencoba merobekkan bajunya, ia tarik lalu ia berikan padaku, "Lilit dengan ini bos supaya darahnya berhenti,"
"Terimakasih," ucapku sambil mengikat bekas peluru itu dengan kain yang ia berikan. Darah masih menetes pelan dari ujung jari-jariku.
"Kita mau ke mana lagi bos?" Tanya To sambil melihatku dari kaca spion tepat di atasnya.
"Kemudikan saja dulu, nanti jika sudah sampai di Universitas kota ini, kita berhenti di sana."
"Masih ada satu urusan yang harus aku selesaikan di sana. Pagi-pagi betul, nanti aku akan ke sana. Setelah itu kita baru pergi jauh dari kota ini. Kalau perlu kita pindah pulau, supaya tidak ada lagi keraguan jika kita ingin berbuat sesuatu."
"Malam semakin dalam, kendraan-kendraan yang lewat juga sudah kembali ke bagasinya masing-masing. Tidak ada lagi suara teriakan atau pun kejar-kejaran seperti yang alami tadi.
Semuanya sudah aman, aku tinggal memejamkan mataku dan mencoba untuk menemui mimpi yang mungkin dari tadi pagi sudah bersiap-siap untuk menyambut kedatanganku dan bercakap-cakap kembali denganku membahas masa depan.
__ADS_1
Aku sudah berada kembali dalam alam mimpi, kali ini cahaya betul-betul baik menyinari mataku. Aku masih menunggu siapa yang akan datang menyapaku, selain orang yang akan aku celakakan, biasanya juga ada suara-suara baik yang tidak bertuan.
"Ladri"
Suara itu sudah datang, yang aku tunggu-tunggu akhirnya muncul juga.
"Bagaimana hari-harimu suara tak bertuan?" Tanyaku sambil menatap sumber suara itu.
"Aku baik, hanya saja ada sedikit kabar buruk yang harus kamu tahu."
"Sampaikan saja, meski buruk paling tidak aku akan selalu bersiap."
"Ladri, aku tidak persis tau kapan detik dan jamnya, tapi setelah engkau bangun dari mimpi ini, kau akan kembali pada dunia yang mungkin tidak pernah engkau pikirkan. Semoga kau bisa bahagia di sana.
"Aku tahu itu, itu sebabnya aku mencarimu. Terimakasih sudah kau beritahu aku, jika masih bisa diusahakan, aku akan menghindar dati takdir itu."
"Semoga saja, selamat tinggal aku masih punya cerita dalam mata laki-laki lain."
__ADS_1
Ia telah pergi, dan sekarang aku tinggal menunggu waktu itu.