
Setelah lelah merayakan keberhasilan kami kemaren, aku kembali berencana untuk pergi ke Universitas yang aku datangi beberapa hari yang lalu. Niatku bukan untuk menjadi bangsawan brengsek yang sangat bahagia, tapi menjadi suami yang baik bagi seorang perempuan yang belum jelas. Semoga saja dia bisa untuk mengandung calon anak-anaku kelak nanti.
Sebelum pergi aku, mempersiapkan diriku terlebih dahulu, seperti baju yang agak rapi, lalu melap sepatu hitamku yang juga sudah sedikit kotor, dan yang paling penting topi kesayanganku.
Setelah semuanya beres, aku menunjukkan pada To dan Lol, apakah aku sudah tampan.
"Bagaimana, apa aku sudah tampan?" Aku memutar-mutar badanku di depan mereka.
Aku melihat ekspresi wajah yang sumringah dari mereka berdua, entah memang betul, atau hanya cara mereka saja untuk menyenangkanku.
"Wah,, bos tampan sekali, sungguh."
"Baguslah kalau begitu."
"Menangnya bos mau ke mana?"
"Ke sebuah tempat yang di penuhi dengan cinta. Sudah kalian di sini saja dulu, jangan ke mana-mana. Nanti kalau kalian melihat orang lain mendekat atau pun masuk ke tempat ini, kalian harus sembunyi. Jangan keluar"
"Siap Bos!" Jawab mereka berdua serentak.
Aku pergi, tentu sedikit mengendap-endap karna di luar sana mata-mata brengsek banyak yang memantau. Aku terus berjalan sambil meliarkan bola mataku, melihat ke kiri dan kanan.
Semuanya berjalan dengan baik, kali ini aku tidak ada menemukan mata-mata itu. Tidak berselang lama, aku pun sudah sampai di gerbang kampus itu, seperti biasa aku mengucapkan salam pada dua orang scuryti itu.
"Selamat pagi pak?"
__ADS_1
"Pagi," jawabnya datar sambil memantau kembali setiap mahasiswa yang masuk.
Aku terus berjalan dan masuk ke dalam sebuah ruangan terbuka yang menayangkan suratku pada seorang perempuan.
Aku sudah berdiri di depan mading, seperti yang aku harapkan perempuan yang takku kenal itu masih membalas surat ratapanku.
sebelum aku membacanya, terlebih dahulu aku menengok ke kiri dan kananku juga belakangku. Aku takut saja, perempuan yang membalas suratku itu ternyata ada di antara beberapa perempuan yang sedang duduk teratur dalam ruangan ini. Semuanya aman, semua perempuan yang aku lihat hanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, ada juga yang bekerja secara kelompok. Mungkin jika ada mata yang melihatku dengan tatapan aneh ceritanya tentu akan lain yang pasti aku akan lari.
Aku membaca surat itu, masih sama dengan kata pertamanya dalam surat pertama, hanya sedikit perbedaan di awal syairnya.
Terimakasih, engkau masih bersedia meluangkan waktu untuk menangis dalam ratapanku ini.
Ladri, aku tidak pernah mempertimbangkan tentang kondisi tubuhmu. Malahan aku ingin yang seperti itu, supaya ketika kita bersama untuk mengisi waktu hidup di dunia tidak ada seorang pun yang dapat mengganggu kita.
Ladri, Beri tahu aku tentang angka-angka dalam almanak supaya dapat pula aku lingkari angka bahagia itu.
Ladri, datang lah ketempat kediamanku.
mari kita duduk bersama, kita selesaikan permasalahan yang tak ada itu.
kalau perlu kita duduk di depan ayah dan ibuku, agar pertemuan kita disaksikan oleh malaikatku.
Dari aku perempuan yang sedang berencana untuk menjadi ibu yang baik untuk semua anak-anakmu kelak. Nuri Amelia.
Aku tidak Tahu akan berbuat apa-apa lagi, kalimat-kalimat yang ia utarakan padaku sungguh tak masuk di akalku. Bagaimana mungkin ia bisa mencintai laki-laki yang belum pernah datang kehidupnya. Aku terus berpikir apa yang menyebabkan perempuan itu ingin bertemu denganku sementara aku sudah mengatakan kalau aku adalah laki-laki yang dalam tubuhnya memiliki kekurangan. Aih,, apa ini yang disebut dengan cinta, jika memang iya, maka aku dapat menyimpulkan jatuh cinta itu adalah pertemuan hati yang sama-sama akan memberitahukan pada jantungnya agar tetap hidup dalam waktu yang tidak lagi terpaksa aku bahagiakan.
__ADS_1
Setelah aku selesai berpikir tentang cinta, sontak aku melompat lalu berteriak, "Cinta"
Spontan aku pun tersadar. Aku melihat, ke kanan dan kiriku, aih,, sialan. Mereka semua menatapku. Dengan cepat aku menyembunyikan kepalaku.
Nuri, seperti yang kau harapkan, aku masih dalam keadaan baik untuk mengutarakan sesuatu dalam hatiku yang sekalipun belum pernah menangis karna perempuan kecuali ibu dan ibu dari ibuku.
Nuri, jika tulisanmu itu adalah air matamu maka tulisanku ini adalah wadahnya untuk menampung setiap kisah yang kau tangisi.
menangislah sepuas-puasnya. Jika aku penyebabnya maka aku adalah kisah yang paling memilukan sebab kisah yang seperti itu sudah pasti bermula dari kebahagiaan yang luar biasa.
Nuri Ameliaku, dalam hikayat yang tak berdosa ini aku utarakan padamu satu nostalgia yang tidak menemukan malamnya untuk berbahagia tapi ia selalu tersenyum setiap waktu yang berpulangan pada mimpi-mimpi bahagia sejak masa dulu.
Nuri Ameliaku, jika engkau berencana menjadi ibu yang baik untuk semua anak-anakku kelak nanti, maka aku berencana akan membuat meja makan bundar yang bisa di hidangkan banyak makanan untukmu untukku dan untuk anak-anak kita.
Tapi aku masih belum menemukan alasan yang tepat, kenapa engkau mencintai laki-laki malang sepertiku yang sekalipun belum pernah mencoretkan pensilnya dalam kisahmu.
Nuri, beri tahu aku apa yang membuatmu begitu ingin dewasa dan menua bersamaku, beritahu aku, supaya dapat pula aku beritahukan pada hatiku untuk tetap hidup merapalkan kata-kata, Nuri Aku lah laki-laki yang akan merawatmu jika masa tua memberikan sedikit rasa sakit pada tubuhmu. Aku lah orangnya.
Nuri, sebelum aku bertamu kerumahmu, beritahukan pada ayah dan ibumu, kalau yang akan mereka lihat adalah laki-laki malang yang tangan dan kepalanya tidak dibentuk tuhan dengan sempurna.
Tertanda, Ladri laki-laki mustahil yang memiliki rasa sayang yang luar biasa padamu. Simpulnya, aku lebih khawatir engkau sakit dari pada aku mati.
Surat itu telah selesai aku tulis, tentu aku letakkan kembali di tempatnya, dibawah surat sebelumnya. Sebelum aku keluar dari kampus ini, pertama-tama aku harus bersiap kembali, memandangi kiri dan kananku, berharap pembalas suratku itu tidak ada di ruangan ini, seperti yang aku harapkan, aku tidak ada melihat mata yang menatapku penuh dengan kekecewaan.
Aku berjalan dengan cara sedikit menunduk dan juga menurunkan sedikit topiku. Itu sudah caraku untuk menyembunyikan kekuranganku.
__ADS_1
Aku sudah keluar dari gerbang kampus itu dan tentunya kembali lagi ke tempat persembunyianku, yang sudah siap menyembunyikan kepalaku dan kejahatanku dari mata-mata yang tak bertuan.