Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan

Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan
Perempuan Yang Akan Aku Bunuh Itu Hadir Dalam Mimpiku


__ADS_3

Selesai menulis suratku pada Nuri Amelia, aku mencoba untuk membuat target baru kembali. Tidak mungkin aku dan dua orang anak buahku selalu berjalan. Tidak mungkin! Aku harus membeli kendraan baru, mungkin juga barang elektronik baru supaya target dan urusan lain dapat kami selesaikan dengan baik, tanpa sembunyi-sembunyi.


Aku masih berjalan menyusuri gang-gang sempit. Mataku liar menatap semua sudut rumah yang terpampang di depan mataku. Rata-rata semuanya rumah itu memiliki bagasi mobil. Ah, aku tidak perlu khawatir lagi, sebab semua orang yang membangun rumah di gang ini adalah orang-orang berdasi atau orang-orang yang lihai membodoh-bodohi anak buahnya. Seperti aku. Simpulnya bagaimana pun mapannya To dan Lol sudah pasti aku lebih mapan dari pada mereka berdua, karna aku lah bosnya. Targetku untuk nanti malam sudah jelas, semuanya sudah terlukis dengan indah dalam mataku, kalau mereka sedang membuat pesta besar untuk menyambut kedatanganku dan kematian mereka.


Setelah lelah seharian berpetualang ke istana-istana besar, aku pulang kembali. Seperti biasa perjalanan pulangku selalu dengan cara sembunyi-sembunyi.


Dari bawah aku sudah melihat To dan Lol melambai-lambaikan tangannya ke padaku. Aku juga memberikan kode yang sama.


Lantai demi lainti aku naiki, sampai ke pada lantai teratas, tempat kami istirahat dan mengatur siasat.


"To dan kamu Lol, nanti malam kita objek baru tapi nanti saja saya jelaskan, apa yang harus kalian lakukan. Sekarang, aku istirahat dulu, nanti jika aku terlambat bangun, bangunkan saja aku. Oh iya satu lagi, kalian jangan lupa untuk memantau ke bawah, jika ada pergerakan segera bangunkan aku. Paham!"


Seperti biasa mereka berdua serentak merapatkan kakinya dan memberikan hormat padaku.


"Siap bos."


Aku melihat mereka berdua merangkak menuju sebuah jendela tempat mereka melambaikan tangannya padaku tadi. Mereka berebutan teropong yang aku beli beberapa hari yang lalu. Teropong itu aku beli untuk persiapan saja, supaya mereka dapat dengan leluasa untuk melihat ke bawah terutama keselamatanku jika aku sudah masuk ke dalam gang sempit dan sunyi itu.


Aku belum tidur, aku masih merasakan suara To dan Lol bercerita. Ternyata mereka juga sama denganku, memiliki masa lalu hidup yang buruk. Aku mendengarkan To, kalau nanti ia sukses ia ingin pulang ke kampungnya untuk membahagiakan ayahnya dan menziarahi makan ibunya. Tapi di akhir kalimatnya mengatakan kalau ayahnya di serang tumor ganas. Ia tidak tahu bagaimana keadaan ayahnya saat ini, karna hari ini sudah lebih dari pada 365 hari sejak kepergiannya. Sebetulnya ia sangat ingin pulang tapi biaya untuk pulang dan berobat ayahnya tidak kunjung terkumpulkan. Beda dengan Lol, ia mengatakan, hidupnya lebih pahit lagi. katanya, setelah ia tahu ternyata ia adalah seorang manusia, sejak saat itu pula ia tidak tahu dari rahim perempuan siapa ia lahir. Yang ia ketehui, ia sudah berada di dalam panti asuhan. Harusnya ia masih harus di sana, belajar untuk menghadang dunia luar sesungguhnya. Lantaran hidup penuh dengan peraturan yang disiplin, ia pun keluar tapa diketahui pembina panti. Sampai pada sebuah hari yang baik. Orang tersesat bertemu orang tersesat, atau orang bingung bertemu dengan bingung, atau juga seperti nama mereka, orang ***** bertemu dengan orang *****.

__ADS_1


Aku tidak mendengarkan percakapan mereka lagi, hanya hitam yang terselubung dalam mataku. Aku seperti berada dalam gua, tapi tidak begitu jelas, hanya anggapan saja. Tiba-tiba dari ujung lorong yang tidak begitu jauh dariku, aku melihat sebuah cahaya besar, tapi seperti bayangan cahaya lain. Aku juga tidak mengerti perihal cahaya itu. Dari dalam cahaya itu pula aku melihat seseorang berjalan kehadapanku. Ia terus mendekat, cahaya itu juga ikut memberikat sedikit pandangan ke dalam mataku karna cahaya itu ternyata datang dari dalam tubuhnya.


"Ladri, bagaimana hari-harimu?" Begitu ucapnya setelah berdiri tepat di hadapanku.


"Baik, kamu siapa?" Jawabku sederhana dan terus menatapnya mencoba untuk mengingat, adakah sebelumnya aku bertemu dengannya.


"Aku adalah orang yang akan kau bunuh nanti malam. Tidak salahkan kalau aku menemuimu dulu. Ya,, paling tidak aku bisa bercakap-cakap dengan orang yang akan membunuhku," timpalnya tersenyum padaku.


Ia menyuguhkan tangannya padaku. Sangat menyedihkan, orang yang berkata akan aku bunuh, malah ingin berjabatan tangan denganku.


Ia perempuan sedikit muda dari padaku, wajahnya cantik. Ah, kenapa rencana burukku selalu muncul terlebih dahulu ke dalam mimpiku.


"Kamu kenapa?"


"Kenapa kamu seperti orang bingung?


Sialan! dia juga bisa melihat gambaran diriku dari wajahku.


"Apa ini dalam mimpi?" Tanyaku sambil menggerak-gerakkan kakiku untuk mundur.

__ADS_1


"Iya ini memang dalam mimpi, aku juga ada dalam mimpi tubuh yang akan segera kau bunuh. Hanya setelah malam ini aku tidak akan pernah muncul lagi ke dalam mata tuanku sebab ia akan mati."


"Perkenalkan namaku Santi. Kamu tidak perlu kasihan mungkin memang sudah waktunya Tuanku itu akan bertemu dengan Tuhanku. Oh iya, sebelum aku pamit pergi, adakah salam yang ingin engkau sampaikan pada tuanku? Ya, paling tidak yang akan engkau bunuh malam nanti tidak merasa kecewa karna mati di tangan manusia, bukan di tangan Tuhan seperti yang ia harapkan. Beritahukan lah, apa sebab atau pun mungkin alasamu sehinga membunuh adalah cara terbaikmu untuk tetap hidup."


"Apa engkau akan datang ke dalam mimpinya, lalu memberitahukan maksudku?"


"Ya, setelah ini aku harus masuk ke dalam matanya, aku kira ia bahagia sekali karna sedang menikmati mimpi yang aku tinggalkan tadi. Aku rasa ia pasti senang. Sampaikan lah, agar ketika kami berpisah tidak ada air mata yang harus ditangisi."


"Apakah perempuan itu orang baik-baik?"


"Sangat, dia sangat baik. Seingatku ia belum pernah membuat siapa pun di dunia ini menjatuhkan air matanya dan hebatnya sampai detik ini ia masih berhasil untuk menjaga haknya sebagai perempuan meskipun itu dalam mimpi. Jika ditanya, sudah tidak sedikit laki-laki yang meminta izin padaku agar aku menyerahkannya ke dalam mimpi mereka untuk mereka telanjangi. Sedangkan dalam mimpi saja aku tak memberi izin apalagi dunia nyata. Sayangnya, aku tidak mampu hadir dalam dunia nyatanya, hanya apa yang sedang ia rencanakan yang akan aku ketahui, karna ia akan membawanya padaku, pada mimpinya. Beberapa hari yang lalu ia memberitahukan padaku, kalau ia sedang jatuh cinta pada laki-laki yang baginya hebat sekali. Tapi engkau akan segera menghancurkan itu semua, kecuali engkau mampu mengalahkan sosok hitam dalam mimpimu, mungkin kematian perempuan tak berdosa itu tidak akan terjadi."


"Maafkan aku."


"Tidak apa-apa, jadi bagaimana, apa ada pesan yang harus aku sampaikan pada perempuanku itu?"


"Jika kau mau, tolong sampaikan padanya, aku minta maaf telah berencana untuk membunuhnya. Beritahukan juga, aku tidak akan merusak kebahagiaan yang sedang ia rayakan. Terimakasih kau sudah memberitahuku, bahwa yang akan aku bunuh itu, bukan orang yang tepat untuk mati. Terimakasih."


"Aku tau rencanamu, sebetulnya kau ingin mengambil harta dalam rumah itu, tapi karna engkau dan dua orang anak buahmu tergesa-gesa, salah satu dari kalian bertiga menyentuh sebuah guji hingga pecah. Tapi karna perempuan itu satu-satunya yang terjaga, dengan terpaksa engkau menusukkan pisau ke dalam perutnya. Aku melihatnya dari wajahmu, ketika ingin menusukkan pisau itu, kau seperti berpikir, dan pikiranmu itu sangat ikhlas. Aku tahu, jika perempuan itu meletakan hatinya padamu sudah pasti engkau sangat bahagia sekali, karna engkau akan mencintainya. Jika engkau ingin ia hidup dan membiarkan aku mimpinya untuk tetap terlelap dengan kisah yang luar biasa kamu harus mengalahkan sosok hitam dalam dirimu. Setelah itu atur lah siasat, bagaimana caranya kalian selamat dan tidak diketahui oleh perempuan itu bahwa kalian sudah meringkus semua uang mereka. Aku pamid dulu, jika aku bisa bermohon tolong jangan kau bunuh perempuan itu, karna sepanjang usia mata yang terlelap aku belum pernah sebahagia dalam matanya."

__ADS_1


Aku melihatnya pergi pada sebuah tempat yang begitu terang sekali, aku juga melihat seorang perempuan tersenyum menyambut kedatangannya. Mereka seperti bercakap-cakap tapi tidak jelas bagiku apa yang mereka bicarakan, mungkin saja batang tubuh yang ia ceritakan tadi.


Andai aku punya mimpi seperti itu, mungkin aku tidak akan pernah kecewa pada batang tubuhku yang kurang lengkap. Aih, Nuri, semoga juga engkau sama bersih dan sucinya dengan perempuan yang tidak mungkin akan aku bunuh itu.


__ADS_2