Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan

Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan
Berpisah


__ADS_3

Kami sudah sampai di rumah, ia masih sedikit marah padaku. Simpulnya, usaha yang ia buat entah dari kapan untuk berbahagia bersamaku, malah lenyap begitu saja.


Saat itu aku berbaring di dalam kamarku, di lantai atas. Aku berdiri di teras kecil dengan beberapa bunga hias yang tersusun rapi di atas pembatas. Aku melipa kedua tanganku lalu menenggadah menatap langit hitam , tidak ada cahaya yang begitu mencolok, hanya beberapa bintang yang sedang ingin pergi.


keadaanku seperti itu, Pikiranku tidak lepas dari pristiwa di televisi tadi siang. Kabar tadi adalah langkah awalku untuk hancur. Bagaimana pun tikus sembunyi, kucing pasti menemukanya.


Setelah cukup lama memikirkan diriku, aku berbalik untuk istirahat sejenak. Tiba-tiba Fariza sudah berdiri di hadapanku.


"Kamu belum tidur?" Aku masih berdiri di depannya, matanya tajam menatapku.


Pelan-pelan ia terus mendekatkan tubuhnya ke tububku sampai betul-betul bertemu.


wajah ia dongakkan untuk melihatku. Matanya berkaca-kaca, setelah itu ia langsung memeluk tubuhku tanpa aku tahu apa penyebabnya.


"Kenapa kamu bohong Lad, kenapa?" Air matanya tumpah, sambil menangis di dadaku ia terus memukul-mukul tubuhku, tak tentu ke mana ia arahkan.


"Maksudmu?" Aku tidak melepaskannya dari pelukanku, aku haya melihat diriku dalam diriku. Mungkin ini lah saatnya aku memberikan kebahagiaan itu kembali pada pemiliknya.


"Kau pembohong ! Aku benci kamu Ladri, aku benci kamu !" Terus ia ucapkan.


"Aku memegang kepalanya, dan menghadapkannya ke mataku, " Lihat aku Fariza, lihat ! Apa kau menemukan sesuatu yang tersembunyi dari wajah dan mataku. Dan rasakan detak jantungku, adakah engkau menemukan kebohongan."


Ia melepaskan pelukan dari tubuhku, lalu menatapku dengan sinis, "Aku kira kau itu berbeda dengan laki-laki lain, sayang sekali anggapanku itu adalah anggapan yang paling salah di atas dunia ini. Kau pembohong, pembohong."


Ia menarik tanganku ke lantai bawah, setelah itu ia berhenti dan menunjukkan sebuah kabar berita tentang matinya seorang polisi di tangan laki-laki yang gambarnya itu adalah aku.


"Lihat, kau bilang kau hanya orang biasa yang tidak pernah berdosa, tapi ini apa ? Ini apa Ladri?"


Sial ! Aku tidak menyangka akan secepat ini hancurnya.


"Fariza, itu memang aku, tapi percayalah bukan aku yang melakukannya. Aku hanya ditipu, percayalah padaku Fariza."


Mendengar pembicaraanku dan Fariza cukup keras, ke dua orang tuanya datang dari dalam kamar.

__ADS_1


"Ada apa Fariza, kenapa ribut-ribut ? Fariza tidak mengindahkan pertanyaan ibunya.


Seketika, suara terkejut keluar dari mulut ayah Fariza. Ia melihat gambar seorang pencuri sekaligus pembunuh polisi dari televisi di sampingnya.


Ia membaca dan mendengarkan berita itu sampai selesai, lalu menatapku penuh emosi.


"Jadi selama ini anakku berteman dengan seorang pembunuh." Ia mendorong-dorong tubuhku, aku tidak berbuat apa-apa, hanya tertunduk tanpa ada sedikit pun usaha untuk menyelamatkan diri.


Ia kelantai atas tidak lama setelah itu, ia turun kembali dengan satu tas milikku. Tas itu ia lemparkan ke arahku.


"Pergi kau dari rumah ini, pergi!" Suaranya keras mengarah ke dalam telingaku.


Istrinya hanya diam, tak mampu berbuat apa-apa. Mungkin ia juga menyesal pernah bercinta denganku.


Aku mengambil tas yang ia lemparkan ke arahku. Aku berdiri di hadapan Fariza.


"Fariza, terimakasih kau telah membahagiakan aku, meskipun itu hanya sesaat, tapi aku percaya kebahagiaan yang kau berikan itu tidak akan pernah mampu di gantikan oleh perempuan mana pun, termasuk istriku jika nanti bukan engkau. Terimakasih Fariza. Sudah berulang-ulang kali aku beritahukan padamu, kalau aku tidak pernah melakukan pembunuhan. Aku memang salah, tapi kesalahanku tidak seperti yang kalian pikirkan. Terimakasih atas tumpangannya, jika tidak dalam jangka seminggu, sebulan, jika juga tidak masih ada tahun, Tuhan pasti mengabarkan pada kalian, kalau yang kalian lihat di televisi itu bukan aku yang melakukannya."


Aku berdiri dan kemudian pergi pada tempat yang belum aku tahu, akan ke mana.


"Lho Tuan mau ke mana?" Tanya sappam sekaligus sopir pribadi Fariza.


"Bapak melihat televisi hari ini?" Jawabku sedikit pelan.


"Belum, memangnya kenapa, Tuan? Apa tuan masuk televisi? Ha, atau jangan-jangan tuan jadi artis dadakan?" Ia menatapku girang.


"Lihat saja besok pak!"


Aku membalikkan badanku dan melihat rumah itu kembali. Aku melihat ke atas, tempat di mana aku tadi masih berdiri menatap bintang.


"Selama tinggal Fariza, semoga kelak kita bertemu kembali dalam dunia yang sama untuk cerita yang berbeda tapi dengan tujuan yang sama, untuk mencintaimu."


Ketika aku akan berbalik untuk menempuh perjalanan yang takkan pernah usai, aku melihat Fariza muncul di tempat bermenungku tadi.

__ADS_1


Aku melihatnya, ia juga melihatku. Meski tetesan air hujan lebih besar, aku dapat dengan jelas melihat air matanya mengalir lalu jatuh bersama air hujan.


Aku melihat ia menjatuhkan sesuatu, setelah itu memberikan kode kecil lewat tangannya supaya aku ambil.


Ia pun pergi, karna ayah dan ibunya datang dan juga melihatku. Masih dengan tatapan yang sama, kebencian dan amarah yang besar. Tidak lama, mereka pun pergi.


"Apa


"Tuan bicara dengan siapa? Bukannya nyonya Fariza ada dalam rumah?"


Aku meminta sappam itu untuk membuka pintu gerbang.


"Tuan mau ke mana? Apa perlu saya antar?"


"Tidak usah pak." Aku pergi, sappam itu hanya heran menataku.


Harusnya ia sedikit jeli, mengerti dengan keadaanku saat ini. Jika sudah ada seseorang yang keluar rumah pada malam hari, di tambah dengan hujan, biasanya pergi di antarkan, tapi kali ini tanpa dihantarkan itu sudah tanda seseorang itu sedang berada dalam masalah. Ia juga tidak mengerti, kalau aku sudah diusir oleh majikannya.


*****


Kota ini semakin sunyi, kendran yang biasanya lewat sudah parkir di bagasinya masing-masing.


Aku terus membawa kakiku entah ke mana, menyusuri trotor yang entah di mana akhirnya. Hanya lampu-lampu kota yang menerangi jalanku.


Aku sudah sangat lelah, dan ini aku rasa sudah cukup jauh untuk menghilangkan aroma ******** dalam tubuhku pada Fariza dan keluarganya.


Di sebelah kanan, aku melihat sebuah taman yang tak terurus. Di sana juga ada, bangunan yang sepertinya tidak berpakai. Aku ke sana, dan memastikan bangunan itu betul-betul kosong.


.Memang tidak ada orang di sini, jika ada, pasti lampu teras atau pun lampu kamar akan hidup, paling tidak juga, pemilik rumah pasti mengurus taman ini.


Aku mengambil sebuah baliho yang tergantung tepat di antara tiang-tiang rumah ini.


Aku menjadikannya alas tidur kemudian membaringkan tubuh setelah lelah mencari pintuku untuk pulang. Tidak ada pintu yang dapat aku ketuk untuk mengucapkan kata, aku telah datang. Jika aku mengetuk pintu rumah ini, pasti aku adalah orang gila pertama yang tahu kalau aku sudah gila ketika masih sehat.

__ADS_1


Aku memejamkan mataku. Sebelum aku bercakap-cakap dengan mimpi, aku masih berkhayal tentang kebahagian yang saat ini sudah betul-betul mendesak hatiku yang terdalam.


Fariza, sepertinya kau sudah berhasil membuatku mencintaimu.


__ADS_2