Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan

Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan
Mencuri Dengan Cara Romantis


__ADS_3

Setelah berangan-angan cukup jauh, tidak terasa aku sudah sampai sekitar pukul 11 siang di tempat persembunyiaku. Aku melihat To dan Lol sedang terkapar, mungkin sedang melawan renterir perut yang meminta tagihannya supaya dibayar.


"Aku sudah sampai, ini makanan untuk kalian"


Makanan dalam plastik itu aku lempar pada mereka. Dengan sigab, To menangkapnya.


"Terimakasih bos," ucapnya sambil membuka plastik itu.


Kadang aku kasihan pada mereka, harusnya usia seperti mereka, tidak hidup di tempat seperti ini, tapi di tempat-tempat yang dipenuhi orang-orang hebat yang akan menjadikan mereka orang hebat pula. Tidak ada yang bisa disalahkan, sebab yang demikian banyak latar belakangnya, salah satu penyebabnya mereka berdua memang seperti yang aku lihat, *****. Tentu orang ***** sangat sulit untuk diselamatkan di bangku pendidikan, jika itu pun berhasil, maka mereka akan menjadi raja yang lupa kalau sempaknya sudah mempunyai hak untuk di kenakan di kepala. Sebab yang ia pikirkan hanya dirinya sendiri tanpa memikirkan orang-orang yang nasibnya sama dengan mereka hari ini.


"Selepas kalian makan, kita akan pergi ke tempat kerja yang pernah aku sebutkan itu," ucapku sambil duduk di atas kursi sofa yang mungkin sudah rindu mencium pantat orang-orang jelek sepertiku.


Mereka sudah melahap makanan itu tanpa ada menyisisakan sesikit pun.


"Bagaimana, apa kalian sudah siap untuk bekerja?"


"Siap bos," jawab mereka serentak sambil berdiri tegab dan memberikan hormat seperti upacara penaikan bendera padaku.


"Bagus, sekarang dengarkan baik-baik apa yang harus kalian lakukan. Intinya pekerjaan ini baik hanya saja sedikit jelek kalau ketahuan. Jika kita mampu melakukannya dengan baik, perbuatan kita ini sangat pantas untuk diberikan pujian karna kita sudah mampu menjadi seorang bangsawan hebat yang menguras uang bawahannya dengan sangat romantis."


"Maksudnya Bos?"


"Begini, kita akan pergi ke pasar, di sana kita akan mengambil sedikit harta kita yang belum waktunya untuk dibagikan,"


"Seperti, kol, ikan asin, bawang. Seperti itu bos?" Sanggah To, sedikit kecewa.


"Bukan itu, tapi emas dan berlian. Dengarkan caranya, nanti saya akan mendatangi toko emas itu, saya akan mengajaknya bicara dan melakukan penawaran. Jika emas itu sudah banyak yang ia lekatakkan di atas meja kaca emas itu, saat itu lah, kamu To datang dan merampas emas itu, di sudut sana berikan pula emas itu pada Lol, itu untuk menghilangkan jejak kita, saat suasana gempar, saat itu pula kamu Lol memberikan emas itu pada saya. Ingat jangan sampai ada yang mihat, Paham!"


"Siap bos."


"Bagus, sekarang mari kita pergi."

__ADS_1


Kami bertiga telah sampai di pasar. Suasanya sangat kacau sekali, tidak ada aturan. Harusnya orang miskin berjualan di sebelah kiri dan orang agak kaya berjualan di sebelah kanan. Ya, supaya maling-maling brengsek seperti kami tidak perlu sibuk untuk memilih. Banyak maling yang sudah hafal siapa saja yang harus ia kelupasi kulitnya pelan-pelan, seperi bangsawan kaya raya. Ia pernah menguli orang-orang di kampungku, sehingga pisang dan ubi menjadi pengganti makanan pokok. Sangat darurat masa itu, sehinga banyak yang mati. Jadi aku berkesimpulan, aku dan dua orang ***** temanku melakukan itu bukan mencuri tapi mengambil diam-diam hak kami.


Aku mulai bergerak, To dan Lol sudah siap menunggu aba-aba dariku. Tentu aku menunggu, pelanggan di toko emas itu pergi dulu supaya aku bisa dengan leluasa untuk membujuknya. Tidak perlu waktu lama, toko emas yang aku tuju sudah lengang. Aku masuk ke dalam toko itu, dan mencoba berlagak seperti bangsawan kaya yang betul-betul ingin membeli emasnya.


"Ada kalung emas campuran berlian murni di sini pak?"


"Ada, ada. Tunggu sebentar!"


Ia mengeluarkan emas yang aku minta itu dari almari yang menang dikhususkan untuk emas-emas dengan harga yang mahal tapi ia meletakannya di atas kaca di depanku.


"Ini, anak muda. Apa untuk seorang perempuan?"


Beragam cara ia utarakan padaku, supaya aku betul-betul tertarik untuk membelinya. Katanya , Anak muda, asal kau tahu, emas ini di ambil di bawah kaki gunung tertinggi di negeri ini, bahkan saking berharganya, mereka para penambang memaksakan diri untuk melubanhi tanah sehingga banyak di antara mereka yang tertimbun reruntuhan. Ini emas bukan asal emas, emas ini memiliki ruh yang bisa menghantarkan pemiliknya pada tempat yang paling tinggi. Ini aku juga memakainya."


Begitu ia sebutkan, sebetulnya aku melihat apa yang ia lakukan. Aku melihatnya mengambil dua kalung yang sama, yang satunya ia kalungkan ke lehernya. Intinya siapapun yang datang untuk membeli ia pasti mengenakan apa yang diminta oleh pembelinya. Dasar penipu.


Beberapa kali aku memintanya untuk mengeluarkan kalung-kalung yang lebih mahal, dengan senang hati ia lakukan itu.


"Yang ini berapa harganya pak?"


"Yang itu, 25.000.000"


"Yang ini?" Tunjukku pada emas yang lain.


"Kalau yang itu sedikit lebih mahal,


30.000.000 karna berliannya lebih besar."


"Aku ambil ini saja pak, silakan di bungkus!" Tunjukku pada emas yang paling mahal.


Pemilik Toko emas seperti masih ingin menawarkan yang lain, tapi tiba-tiba To datang dengan cepat untuk merampas emas di depan. Pemilik toko itu dengan jelas melihat pencurian itu. Ia berteriak.

__ADS_1


"Maling, maling!"


Sontak seluruh yang ada di sekitar tokonya berdatangan, dan bertanya di mana malingnya.


Ia menunjuk ke arah sebelah kiriku, sebetulnya emas itu sudah di tangan Lol. Aku melihatnya, To dengan sigab memberikan emas itu ke tangan Lol. Supaya semakin tersembunyi, aku berpura-pura mengutarakan kata-kata pada pemilik toko itu,


"Bagaimana ini pak, emasku mana?"


"Maaf anak muda, lain hari saja kau datang lagi. Saya sudah tidak fokus lagi. Sebelum emas-emasku dapat aku tidak akan tenang. Semua emas itu lebih dari pada 100.000.000 Aku bisa gila anak muda.


Beberapa saat kemudian orang-orang yang mengejar To, datang kembali dan mengatan, kalau pencurinya sudah lari jauh. Aku hanya tersenyum bahagia dalam hatiku, karna aku melihat To sedang duduk menikmati semakkok bakso yang begitu jauh dariku. Aku juga melihat to, ia sedang berteriak keras untuk menawarkan beberapa jualannya, yang sudah aku atur sebelum pergi tadi.


"Jadi bagaimana Pak?" Tanyaku kembali.


Sebetulnya aku ingin tertawa sekuat-kuatnya, melihatnya tersungkur sambil berpangku tangan.


"Yang sabar ya Pak, kalau bapak tidak bisa melayani saya lagi, saya ke toko emas yang lain saja."


Ia tidak melihatku sedikitpun, hanya lambayan tangan yang ia perlihatkan padaku.


Akupun pergi sambil memberikan kode pada To dan Lol.


***


Suara, terikan berbalas bahagia dalam tempat persembunyianku itu. Tentu suara kami bertiga yang merayakan keberhasilan itu dengan cara berteriak.


"Bagaimana? Apa kalian masih ingin menjdi pengamen?" Ucapku sambil memegang emas itu dan memandanginya dengan luar biasa.


"Sangat tidak sekali bos, jangankan menjadi pengamen, bekerja yang di gaji langsung oleh negeri ini belum tentu kami berdua mau, betulkan Lol."


Kami tertawa dan berteriak lagi, mungkin seperti itulah cara orang ***** seperti mereka dan menyedihkan sepertiku untuk merayakan keberhasilannya.

__ADS_1


__ADS_2