
Aku berjalan menelusuri jejak-jejak manusia yang pergi dan pulang di kota itu. Suara azan berbalas dari segala titik. Kendraan-kendraan yang dinaiki pemiliknya silih berganti berlewatan, seperti tidak berdosa menganggap enteng panggilan tak bermusik itu.
Aku terus berjalan menghitung-hitung jumlah plakat partai yang terpampang di setiap simpang dan toko-toko.
Tidak ada tujuanku kali ini, sama sekali tidak ada. Cinta yang aku harapkan sudah menjadi kata tidak mungkin, sebab sebentar lagi para Polisi akan menemukanku. Mereka akan sangat marah sekali, karna aku telah mereka tuduh membunuh pimpinan atau bawahan mereka.
Setelah cukup panjang menerobos kehidupan malam, aku kembali lagi ke tempatku pertama, di bawah kolong jembatan, mengadu nasib dengan malam. Aku mengambil kain panjang yang terselip di antara beberapa pakian di dalam tas, tiba-tiba mataku tertuju pada selembar kertas kecil yang mengingatkanku pada seorang perempuan. Perempuan yang pernah berhasil membuatku jatuh cinta.
Sebelum hari itu aku pergi, ia memberikanku kartu nama. Semua tentang dirinya ditulis dengan lengkap, mulai dari nama, alamat dan tempat tinggalnya sekarang. Namanya Fariza, alamat kota ini, di bagian selatan arah jarum kompas, tepatnya gang berkarya no 17.
"Besok aku harus menemuinya, sebab tidak mungkin aku selalu bersembunyi dari pengejaram Polisi di tempat-tempat seperti ini."
Malam sudah menenggelamkanku, rasa takut yang menerawang mataku sudah habis menjadi mimpi. Sampai pagi mengucapkan selamat bertemu, aku tidak menemukan mimpi, sebetulnya aku ingin bicara pada suara mimpi yang tak bertuan itu, sudah seperti Tuhan saja, berani mengatakan aku akan sengsara. Mimpi sialan!
Pagi itu aku memperbaiki diri, aku harus sedikit rapi supaya Fariza tidak merasa kecewa melihat penampilanku.
Aku tidak menemunya ke rumah makan tempatnya bekerja, tapi pagi-pagi ini aku akan datang ke rumahnya. Meski nanti ia memiliki orang tua yang garang, aku tidak perduli, sampai Fariza mengatakan "Kamu aman bersamaku."
Jalan-jalan di pusat kota mulai padat, suara klakson kendraan silih berganti mendesak gendang telingaku, belum lagi suara para bocah ingusan yang bernyanyi di setiap lampu merah yang bernyanyi dengan suara berantakan tak jelas telinga siapa yang mereka hibur.
Harusnya mereka mengubah jalan hidup, meski tidak menjadi pencuri paling disegani mereka bisa menjadi ******** terhormat, yang apa bila mati akan diiringi dengan letusan mercun atau nyanyian penguburan. Jika mati sebagai pengamen, aku rasa kubur mereka tidak akan terdaftar dalam buku kuburan negara. Sungguh menyedihkan jika hidup tidak dianggap hidup, jika mati tidak di anggap mati.
Tidak terasa perjalananku sudah hampir 45 menit, gang yang aku tuju sudah di depan mata, sekarang tinggal mencari rumah yang bernomor 17. Seketika aku melihat, Fariza keluar dari rumah yang tidak begitu jauh dariku.
"Fariza," Teriakku sedikit keras.
Ia menoleh padaku, "Ladri," timpalnya dengan senyum tipis yang menjadi alasanku pernah mencintainya.
__ADS_1
"Aku datang seperti undanganmu kemaren," tuturku sambil memberikan kartu namanya.
Ia menerima kertas kecil itu, "Ini apa?"
"Itu tanda, bahwa engkau pernah ingin aku datang ke rumahmu. Sekarang aku datang."
"Pasti kamu sedang ada masalah, betulkan?"
"Apa orang yang mengundangku datang tidak akan mengajakku masuk ke dalam rumahnya?
Ia ketawa manja sambil memegang tanganku sambil berbicara,"Ayo saya perkenalkan pada ayah dan ibuku, juga adikku."
Hatiku hampir saja tidak berpungsi setelah mendengar ia mengatakan, "Ingin memperkenalkan aku pada ayah dan ibunya."
Dalam sejarah peradaban manusia, baru kali ini aku merasakan bagaimana rasa itu ketika berperan dengan baik. Aku belum pernah tau bagaimana bersilaturrahim ke rumah seorang perempuan.
Tentu aku bersiap dengan baik, dan yang tidak aku lupakan, membaca mantra-mantra kuno yang pernah di ajarkan nenek padaku. Katanya, jika aku sedang mengalami kesulitan, terlalu bahagia sehingga merasa asing, seperti saat ini.
Kaki sudah menyentuh lantai rumah Fariza, berlahan aku membuka kedua belah mataku, dan membayangkan semua itu pasti bisa aku lewati.
Fariza memanggil ayah dan ibunya, kedua-duanya pun muncul dari dalam kamar. Aku tidak mengerti kenapa ada sepasang suami istri yang bersembunyi di dalam kamar siang-siang hari begini.
"Lo, kenapa balik lagi?"
Fariza seperti memainkan mata pada ayah dan ibunya. Mata itu iya sudutkan ke arahku. Sontak orang tuanya memandangku.
"Salam Ibu," tuturku lembut memikat hati mereka.
__ADS_1
"Salam," jawabnya sedikit pelan padaku.
Fariza langsung memperkenalkanku pada ayah dan ibunya, "Ini teman Fariza bu, Pa. Namanya Ladri."
Seketika wajah ibu dan ayahnya berubah menjadi wajah yang paling bahagia.
"Aduh, kenapa tidak diajak duduk!" Ungkap ibunya pada Fariza sedikit melirikku dengan sudut matanya.
Tapi tidak dengan laki-laki itu, dari awal aku masuk ke dalam rumahnya, aku tidak melihat ia seperti suka padaku.
Fariza mengajakku untuk duduk di atas kursi sofa yang tidak begitu jauh dariku.
Aku pun duduk tepat di samping Fariza dan di depan ibunya.
Harusnya pembicaraan kami itu tentang siapa aku, dari mana aku, dan apa pekerjaanku. Tapi perempuan hampir paruhbaya itu malah memainkan matanya beberapa kali padaku. Bukan itu saja, dari bawah meja ia menyentuh jari-jari kakiku dengan jari-jari kakinya. Ia menggigit sedikit bibirnya dan agak bergerak seperti ingin jatuh cinta padaku.
"Jadi bagaimana Pa, Ma bolehkan jika Fariza menjalin hubungan bersama Ladri!"
"Boleh," jawab ibunya penuh tatapan yang menggoda padaku.
Kakinya tak lepas-lepas menyentuh kakiku. Aku hanya menahan rasa entah seperti apa dalam diriku. Aneh saja rasanya, seorang perempuan yang memiliki anak gadis yang Mungkin baru jatuh cinta malah menggoda pasangan anaknya.
"Oh iya, kamu tinggal di mana?" Gerutu perempuan hampir paruhbaya itu padaku. Bibir yang ia perlihatkan padaku sedikit merayu. Sialan! Aku tidak mungkin mencintai seorang ibu dan anaknya tapi dadaku sudah mendesak supaya aku mencintai perempuan itu pula.
"Aku belum mempunyai tempat tinggal, terakhir aku tinggal di jalan pangeran tapi kemalangan menimpaku, semua harta bendaku habis di ambil pencuri. Aku tidak bertahan hidup lagi sehingga aku menjual rumahku dan setelah itu aku datang menemui Fariza untuk menceritakan itu semua."
"Kalau tidak kamu di sini saja, baguskan Pa!" Jawabnya sambil meminta pendapat dari suaminya. Sayang sekali suaminya tidak mampu menantang keputusan istrinya. Sunggu menyedihkan sekali jika seorang suami malah takut pada istrinya.
__ADS_1
Sekita itu juga Fariza memeluk ibunya, tidak menyangka kalau ayah dan ibunya juga membolehkan aku untuk tinggal di rumah mereka.
Aku bahagia, tapi aku harus jujur pada Fariza tentang keadaanku saat ini karna mimpiku tidak pernah salah untuk memberikan kabar padaku. Sekarang aku tinggal menunggu pukul berapa hari ini para Polisi itu akan membawaku ke dalam sel tahanan. Aku memang ********, tapi alangkah bajingannya lagi jika aku dituduh membunuh seorang Polisi.