
Angin sangat tenang, kesejukan menyertai pembicaraanku dengan Fariza. Sesekali masih terdengar isak tangisnya. Aku meminum air berwarna yang dihidangkan pembantunya.
"Fariza, ada satu hal yang harus kau tahu sebelum kita terlalu jauh berlayar. Aku ingin kau tahu, pulau yang akan aku serahkan padamu sungguh ingin membahagiakanmu, tapi ada beberapa permasalahan darinya, pertama pulau itu memang indah tapi jika kau lihat dengan seksama kau akan terkejut bahkan tidak percaya kalau pulau indah itu ternyata tidak seperti yang kau lihat."
"Maksudmu?" Timpalnya di tengah pembicaraanku.
"Aku tidak seperti yang kau lihat."
"Aku belum mengerti, langsung saja apa inti dari ceritamu?" Ia menatapku penuh, rasa raguku sudah muncul. Aku tidak percaya lagi pada cinta yang baru saja mekar begitu saja. Tapi jika tidak aku ceritakan siapa lagi yang akan membantuku. Aku tidak ingin hidup menua dalam penjara, awalnya aku tidak begitu takut, tapi setelah cinta tumbuh rasa khawatir dan takut bermunculan begitu saja.
"Ayo ceritakan Ladri! Aku percaya setiap cerita yang kau utarakan nanti pasti memiliki alasan yang baik. Ceritakan saja, aku siap mendengarnya tanpa akan mengubah rasa cintaku padamu."
Aku tidak percaya ia akan mencintai aku lagi. Bagaimana pun itu sel penjara adalah tempatku setelah ini. Aku harus bahagia dan merasakan bagaimana jatuh cinta itu.
"Fariza, pulau yang aku katakan tadi adalah diriku. Jika kau lihat dari jauh pulau itu memang indah bagi matamu, tapi jika kau kenal lagi lebih dalam pulau itu jauh lebih buruk dari pada kisahmu dengan seorang laki-laki yang menghamilimu."
__ADS_1
Mendengar perkataanku itu, air matanya tumpah lagi, "Apa kau tidak suka pada perempuan yang tak mampu menjaga dirinya?" Tuturnya lembut dengan raut wajah meneduh.
"Aku pasti mencintaimu Fariza, tentang kesucian yang kau sebutkan itu tidak akan menjadi apa pun untuk hubungan kita," balasku sambil memegang tangannya dan meletakkannya ke dadaku.
"Rasakan lah detak jantungku Fariza, sepanjang usianya ia akan tetap berusaha untuk menghidupkan batang tubuhku. Batang tubuhku yang hidup akan menjadi aku, yang akan berjuang sekuat tenaga demi demi kebahagiaanmu. Fariza, kau khawatir aku tidak menyayangimu karna engkau telah habis menjadi seorang wanita, bagaimana denganku jika engkau tahu aku adalah," beberapa saat aku terdiam tidak melanjutkan pembicaraan.
"Adalah, apa? Beritahu aku Ladri, jika engkau menerima kekuranganku maka pulau yang rusak itu juga akan aku terima sebagai tempatku berlabuh. Bersamamu aku ingin memperbaiki pulau itu. Sebutkan lah!"
"Aku sakit Fariza, umurku sudah tidak lama lagi. Kata dokter jika aku mampu bertahan hidup selama satu bulan dari tanggal terakhir aku ke rumah sakit, itu adalah keajaiban Tuhan," ucapku merangkai kata yang lebih brengsek lagi.
Harusnya aku jujur dan siap menerima apa pun yang akan ia sampaikan termasuk untuk melupakan kalau ia sudah mencintaiku selama usia percakapan di teras rumah.
Setelah mengatakan kekuranganku di bagian umur, seketika itu juga air matanya tumpah kembali. Ia tidak bicara padaku, tapi ia bicara pada Tuhan, mengeluh terhadap semua perasaan yang ia perkenalkan pada laki-laki.
"Tuhan, dulu kau kenalkan aku pada laki-laki yang aku kira laki-laki itu sempurna, tapi setelah rasa tumbuh, Engkau menyuruhnya pergi dariku meninggalkan air mata yang tak mengenal waktu untuk ditangisi. Setelah aku mulai membaik, aku Engkau kenalkan kembali pada laki-laki yang menurutku jauh lebih sempurna dari laki-laki pertama yang Engkau kenalkan padaku, bertahun-tahun aku bahagia bersamanya sampai-sampai aku lupa untuk beribadah padamu. Waktu yang engkau lingkari di almanak tidak pernah aku tahu, ternyata tanggal yang berbeda di bulan yang sama kembali merongrong air mataku. Aku betul-betul tak mampu untuk hidup, tapi Malaikat maut tak kunjung Engkau kirimkan padaku, untuk mencabut nyawaku. Paling memilukannya di antara semua laki-laki yang menjadi calon imamku, sudah ada yang memberikanku anak sebelum tanggal menikah Engkau sebutkan padaku. Kehancuran melandaku kembali, setelah bayiku yang belum berbentuk baik Engkau ambil kembali. Hari ini, setelah sepuluh tahun aku membenci semua laki-laki, rasa itu Engkau tumbuhkan kembali dalam hatiku dengan rasa yang sangat berbeda, tanpa kisah, tanpa pertemuan panjang aku sudah mencintainya melebihi cinta-cintaku sebelumnya. Aku betul-betul nyaman, tapi kenapa kau kenalkan aku pada rasa yang singkat untuk kenangan hidup yang begitu panjang. Tuhan aku tidak mampu lagi."
__ADS_1
Ia betul-betul menangis, isak tangisnya sampai ke dalam hatiku. Rasanya aku tidak sanggup melihatnya seperti itu, menyalahkan Tuhan karna kebohonganku. Tapi jika aku tidak seperti ini, sudah dapat aku simpulkan, hidupku hanya untuk melengkapi penderitaan manusia di dunia ini.
Aku mengelus-elus rambutnya yang lembut dan kembali memegang kepalanya dengan kedua telapak tanganku dan menatapkannya pada wajahku.
"Lihat aku Fariza, Lihat! Pandang wajahku, lihat ke dalam mataku, selagi engkau masih mampu untuk melihatku aku berjanji tidak akan pernah pergi dari dalam matamu. Dokter itu bukan Tuhan, percayalah, Tuhan kita tidak akan rela membuat kisah seluar biasa ini tanpa kebahagian yang hebat pula. Jangan salahkan Tuhan, cerita masa lalumu itu adalah pendayungmu untuk sampai pada pulau yang aku berikan. Jika telah sampai bawa lah pendayungmu itu lalu tancapkan di hamparan pasir. Mereka akan menjadi saksi dari kebahagiaan kita.
Ia kembali merebahkan tubuhnya ke dadaku, kepalanya bersandar di pundakku. Aku merasakan air matanya jatuh membasahi batang leherku dan pundakku.
Aku tidak pernah membayangkan seorang perempuan akan menangis dan menjatuhkan air matanya ke tubuhku.
Perbuatanku ini memang tidak patut untuk dicintai, tapi kali ini seperti ini lah caraku untuk memperoleh kebahagiaan sebelum kubur dunia menimbunku dalam penjara.
Tiba-tiba orang tuanya muncul, aku sedikit tidak percaya diri, mungkin karna tatapannya pertama aku masuk ke rumah tadi.
"Anak muda, mungkin kau sudah laki-laki yang kesekian belas datang bertamu ke rumah ini. Beragam macam bentuk dan cara bertamu yang mereka sandiwarakan pada akhirnya pergi dan lenyap meninggalkan duka bagi putri kami satu-satunya. Awalnya tadi aku sempat tidak suka padamu, tapi setelah aku dan istriku mendengarkan percakapan kalian ternyata engkau tidak seperti laki-laki yang pernah bertamu ke sini."
__ADS_1
Ia duduk di hadapanku, tapi tidak dengan istrinya. Ia hanya berdiri dan sedikit memiringkan tubuhnya dariku. Wajahnya kusam tak menerima kalau anaknya mulai sembuh dari penyakit masa lampau. Sungguh ibu yang aneh. Maaf ibu untuk kali ini hatiku tidak lagi berpungsi untukmu. Yang tadi itu aku lupa ternyata aku tidak pantas untuk berbahagia dengan dua orang perempuan dengan detak jantung yang sama.
Aku tidak memperdulikan kode-kode tubuh yang ia selipkan di antara percakapanku dengan suaminya, sampai aku ingin meminta izin untuk pergi.