Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan

Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan
Bertemu Dengan Fariza


__ADS_3

Sudah hampir dua minggu aku menikmati alam dalam penjara, rasa-rasa menyesakkan itu sudah aku kalahkan dengan kemenangan yang luar biasa. Sekarang, aku sudah terbiasa memakan makanan menjijikkan itu, juga aku sudah mulai tahu apa itu yang dimaksud dengan hari bebas. Meski Tidak ada yang akan datang menemuiku paling tidak aku bisa menghangatkan tubuhku dari cahaya besar dari langit.


Hari itu yang tidak aku tahu entah hari dan tanggal berapa, dua orang Polisi yang menipuku dan menfitnahku datang kembali. Bagiku setiap kedatangan mereka pasti akan ada pula yang menemuiku. Awalnya mereka datang untuk mengatakan dua orang wartawan akan bertanya-tanya perilah kasus pembunuhan itu, maka aku harus menjawab sesuai yang mereka inginkan. Setelah itu di hari berikutnya, sebelum kepala pimpinan kepolisian datang ke sel tahananku, terlebih dahulu mereka juga menemuiku. Saat pimpinan kepolisian ke ruanganku, ia tidak sendiri, ia dijaga ketat oleh beberapa polisi dengan persenjataan yang lengkap.


Saat itu aku didudukkan di sebuah kursi. Tangan dan kakiku sudah diborgol, jika pun aku berencana untuk kabur, sudah pasti timah panas melayang kembali ke kakiku. Banyak pertanyaan yang ia kemukakan padaku, setiap kali jawaban berbeda sekian kali pula kaki dilapisi sepatu menghantam perutku. Sempat aku menunjuk dua orang Polisi itu, tapi mereka malah memanggil saksi kaleng. Aku tidak berdaya lagi, sejak hari itu, aku dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atau denda sebesar, Rp 65.000.000. Bisa aku katakan, mereka menghukumku tidak berdasarkan peraturan dan undang-undang tapi karna dendam yang entah dari mana datangnya.


Dua orang Polisi itu sudah berdiri di depanku, kedatangan mereka tidak sesuatu yang menakutkan lagi.


"Siapa yang akan datang itu?" Tanyaku penuh keberanian kepada mereka.


"Kau sudah hafal, ya anggap saja itu ucapan terimakasihku, kalau kebaikanmu aku balas dengan kebaikan pula. Maksudnya begini jika ada orang yang membuat jadwal pertemuan denganmu maka sebelum mereka datang aku sudah memberitahukannya padamu terlebih dahulu. Aku baikkan, jadi jangan sebutkan aku lagi ********."


Mereka pun pergi, kalimat yang ia tinggalkan masih sama dengan kalimat-kalimat sebelumnya, bahwa aku lah yang melakukan membunuhan itu.


Tidak berselang lama seorang Polisi membawaku ke ruang pertemuan. ketika akan sampai, dari arah samping aku melihat dua orang laki-laki yang tidak asing lagi bagiku.


"Andrian, Anu," wajah yang aku pasang masih sedikit belum percaya dari kedatangan mereka.


"Apa kabarmu Ladri?" Adrian mencoba untuk tenang. Meski di antarai dengan kaca tebal suara kami masih jelas untuk bercakap-cakap.

__ADS_1


"Baik seperti yang kalian lihat ini lah, kalian bagaimana? Mungkin kalian sudah menjadi orang hebat," mereka tidak mengindahkan keluhanku.


"Lad, sebetulnya sudah lama kami ingin menemuimu, tapi kami tidak tahu di mana tempat tinggalmu. Hingga beberapa hari yang lalu, kami melihat engkau disiarkan di televisi. Ternyata kamu telah melakukannya."


Beberapa saat hening, polisi yang berdiri di sebelahku hanya menganga dan tidak ikut campur mengenai pertemuanku ini.


"Memang, aku pernah berbuat kejahatan, tapi jika membunuh seumur-umurku belum pernah aku lakukan Yan. Sumpah demi apa saja, percaya lah. Bukan aku pembunuhnya, bukan aku."


Mereka belum penuh percaya padaku, wajar saja sebab kabar dari polisi sangat jarang sekali melenceng. Seperti yang sudah diberitakan ke seluruh negeri, kalau aku seorang laki-laki menyedihkan diketahui telah berbuat kejahatan, dan melakukan pembunuhan pada seorang polisi.


Sembari aku melihat rasa ragu dari wajah mereka Adrian kembali bicara,


Mereka telah pergi, di hari yang sama ketika aku dalam sel penjaraku, dua orang polisi itu datang kembali, kalimatnya masih sama dengan kalimat sebelumnya. Aku digiring ke tempat pertemuan yang di batasi dengan kaca tebal.


Dari kejauhan aku sudah melihat seorang perempuan, dari tubuhnya juga tidak asing bagi mataku.


"Fariza," aku tidak pernah berpikir setelah kejadian itu ia akan datang membesukku.


Aku duduk di depannya, tangan dan tubuh yang pernah aku sentuh, saat itu hanya angan-angan yang takkan pernah terkabulkan untuk aku rasakan.

__ADS_1


Setelah melihatku, sontak ia terperosok ke belakang, "Apa kamu Ladri?"


"Ya, ini aku. Maaf mengenai kekurangan di kepalaku ini. Memang bagi seluruh manusia, kepala adalah tempat untuk dikenakannya mahkota dan mahkota itu adalah rambut, tapi harus bagaimana sejak aku lahir Tuhan sudah menjadikan kepalaku seperti ini. Maaf aku sudah bohong padamu, tapi percayalah, di balik kepalaku yang malang ini ada satu kumpulan rambut yang menyatu ikhlas dalam ubun-ubunku untuk mencintaimu dan memberitahukan pada, kalau aku sayang kamu."


Ia betul-betul terkejut, hening tidak mengindahkan penjelasanku adalah pilihannya buat sementara untuk mengingat-ingat cinta yang pernah aku serahkan dan ia terima. Meski tidak banyak tempat yang indah untuk dirayakan, aku rasa kisah bersamaku adalah kisah yang paling buruk yang pernah ia alami.


"Kau tau, aku datang hanya ingin memberitahukan padamu, kalau aku sudah hamil. Aku harap kau tidak lupa kenikmatan malam itu, tapi sangat-sangat menyedihkan sekali, ternyata anaku memiliki seorang ayah pembunuh dan pendusta."


"Hamil?"


"Ya, aku hamil karna kebodohanku. Kau tau, jika anak dalam perutku ini tidak ada bapaknya, maka aku tidak akan pernah bisa datang ke rumahku sendiri. Kau tau, ayah dan ibuku sangat benci padamu dan jijik padaku, sebab sepanjang usia keturunan mereka belum ada yang hamil sebelum menikah tapi itu terjadi padaku. Aku harap kau bersedia untuk menikahiku, apa pun yang terjadi. Awalnya aku memang ingin menikah denganmu, mencoba dengan ikhlas untuk memaafkanmu dan mencintaimu lagi, tapi hari ini kau perlihatkan belangmu. Andai aku tahuLadri yang aku kenal kemaren seperti ini sudah pasti aku tidak akan sudi berbuat apa pun denganmu. Tapi semuanya sudah lenyap, angan-angan untuk menikah dengan laki-laki baik, malah mendapat laki-laki sepertimu."


Ia langsung berdiri tanpa ingin mendengarkan keluhan dan jawaban dariku. Hingga tubuhnya hilang di balik pintu, aku masih terpaku mengingat diriku ternyata akan berhasil menjadi seorang ayah. Terimakasih Tuhan, semoga setelah ini kau beri aku kembali keajaiban.


Aku dibawa kembali ke kurunganku. Di sana aku melihat 2 orang polisi yang sudah siap tersenyum padaku. Mereka berdua memang brengsek, jika bukan karna mereka aku tidak mungkin seperti ini, terkurung dalam sel paling mengerikan.


Di dalam penjara, tidak ada kisah yang patut untuk aku ceritakan, hanya dinding penuh coretan, dan di antara coretan itu gambar perempuan telanjang yang siap untuk aku perkosa kapan saja, kemudian cahaya kecil dari lubang di sudut tahananku, itu pun jika pagi telah muncul.


Aku mencoba kembali kepada masa silam, masa yang mengajarkanku untuk bahagia dalam mataku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2