Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan

Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan
Berjanji Untuk Membodoh-bodohi


__ADS_3

Malam sudah datang dengan beragam bentuk kegelapan. Setelah pembicaraanku dengan Fariza selesai buat satu tetesan air mata. Aku berencana untuk pergi.


"Fariza aku pergi dulu."


"Kamu mau ke mana? Bukannya kamu tidak punya tempat tinggal lagi. Tinggal saja di sini, orang tuaku sudah memberikan izin, jadi tinggal lah di sini." Fariza mendekatiku dan kelihatan sekali ia sangat ingin aku tinggal di rumahnya.


"Iya, tinggal lah di sini Ladri," pintas ibunya sambil memperlihatkan wajah jatuh cinta padaku.


"Memangnya tidak apa-apa kalau saya tinggal di sini. Takutnya nanti ada yang tidak suka." Aku melihat papa Fariza dengan sudut mataku.


"kamu tinggal di sini saja Ladri, kamu bebas untuk tinggal selama yang kamu mau." Ibu Fariza bertindak aneh setelah bicara demikian. Bibir yang tak mau basah itu beberapa kali ia paksa berpenampilan seksi di hadapanku.


"Iya bu, buat sementara saya di sini saja. Nanti jika tempat tinggal sudah dapat, saya aksn segera pergi," wajahku sedikit meneduh. Ayah Fariza tidak lagi berdiri di samping lemari tamu, ia pergi setelah mengetahui aku akan tinggal di rumahnya.


"Mari saya tunjukkan kamarmu," ibu Fariza mendekatiku dan ingin memegang tanganku.


"Ibu!" Suara Fariza sedikit kuat, matanya sedikit sinis tidak terima kalau aku dipegang oleh ibunya.


Perempuan paruh baya itu tidak jadi melakukan niatnya untuk memegang tangan kekasih dari anaknya. Jemari tangan yang hampir sampai seolah-olah tidak mampu untuk bergerak mendengar suara Fariza.


Fariza mengajakku pergi ke dalam kamar yang letaknya di lantai atas.


Setiap anak tangga yang aku lewati, perempuan hampir paruh baya itu tidak lepas menatapku dari bawah.


"Ini kamarmu, Lad. Semoga kamu suka," wajah Fariza masih belum pulih dari kejadian tadi. Sepertinya, ia sedang memikirkan sesuatu yang sulit untuk ia selesaikan.


"Terimakasih, aku suka kamarnya," balasku singkat sambil mengalihkan pembicaraan.


"Kamu kenapa?" Begitu ungkapku sambil duduk di atas kasur mewah. Ia juga ikut duduk di sebelahku.


"Ladri, mengenai ibuku ada satu rahasia yang harus kau tahu, tapi aku tidak sanggup untuk menyampaikannya padamu. Aku malu Lad," wajahnya semakin kacau, aku menatapnya dekat-dekat.


"Fariza, apa aku harus menikahimu dulu agar kamu memberitahukan semua rahasia keluarga dalam rumah ini. Jika ia, maka beritahu aku, kapan aku bisa menikahimu !" Setelah aku bicara demikian, wajahnya mulai membaik dan mengernyitkan keningnya.


"Kamu memang pandai untuk membuatku tenang." Ia sedikit memiringkan bibirnya, barangkali itu adalah caranya untuk berbahagia.


"Itu sudah tugasku Fariza. Aku diciptakan Tuhan untuk menghilangkan semua kesedihanmu. Jadi ceritakan lah, aku sudah siap untuk mendengarkannya.?


Ia memperbaiki tempat duduknya, dan beberapa helai rambutnya sebelum menatapku.


"Ladri mengenai ibuku, ada sesuatu hal yang mungkin kau tidak akan percaya. Dulu sebelum dirimu aku sudah pernah membawa laki-laki ke rumah ini, tapi tanpa sepengetahuanku, ibu malah menjalani hubungan bersama laki-laki itu. Sangat menyedihkan sekali, ketika seorang perempuan mencintai laki-laki tapi ibu dari perempuan itu malah jatuh cinta juga Akhirnya aku putus dari laki-laki biadap itu, aku meninggalkannya. S

__ADS_1


Sejak saat itu aku membenci ibuku. Aku tidak ingat berapa bulan aku bisa kembali bercakap-cakap dengan dirinya," setelah bicara demikian, ia merebahkan tubuhnya ke dadaku. Aku merasakan suara kesedihan dari kisah masalalunya kembali.


"Jika ibuku mencintaimu, apa engkau akan mencintainya juga?" Suaranya sedikit kandas di antara baju dan dadaku.


"Sudah, tidak perlu kau tangisi lagi. Percayalah, aku diciptakan Tuhan bukan untuk ibumu tapi untukmu, untuk kita berdua," Aku mengelus-elus rambutnya dan mencium ubun-ubunnya.


Sebetulnya bibirku sangat gamang sekali untuk mencium rambutnya, tapi hanya ini kebahagiaanku, dan mungkin setelah malam ini semua hari-hariku betul-betul akan gelap.


"Itu yang membuatku kagum padamu Ladri. Awal aku melihatmu, aku sudah percaya kau itu orang baik. Terimakasih Ladri, kau telah hadir dalam hidupku," ia kembali merebahkan tubuhnya ke pelukanku setelah mengangkat kepalanya untuk menatap wajahku.


Jika kebahagian ini mampu bertahan seusia umur ruh yang ditiupkan Tuhan ke dalam jasadku, mungkin aku lah manusia pertama yang menemukan wujud dari cinta di dunia ini.


Sekitar 30 menit aku di dalam kamar baruku bersama Fariza, anehnya orang tuanya malah membiarkan aku dan anaknya berdua-duaan di dalam kamar. Meski tidak ada acara percintaan, paling tidak kamar sudah wadahnya untuk bercinta dan mereka membiarkannya. Jika hal ini terjadi di kampungku, sudah barang pasti pasangan sejoli itu akan ditangkap dan segera dinikahkan.


*****


"Fariza, bawa temanmu ke bawah. Kita makan malam dulu!" Suara ibu Fariza dari meja makan.


Fariza tidak bicara, ia hanya memegang tanganku dan berjalan menuju ruang makan.


Ruangan makan itu sedikit lapang, untuk meletakkan meja makan sederhana. Bersegi 4 dengan jumlah kursi yang pas untuk kami berempat pula.


Aku duduk bersebelahan bersama Fariza, ayah dan ibunya juga duduk bersebelahan, ibunya berhadapan denganku.


Aku terus mengunyah makanan dalam mulutku, "Yang ini enak lo." Ibu Fariza memasukkan sepotong daging ayam goreng ke piringku.


"Mama, Ladri bisa juga kali ma." Wajah Fariza memelas, nafsu makannya tiba-tiba hilang. Saat itu juga nasi yang ada di piringnya ia bolak-balik.


Tiba-tiba Papa Fariza, meletakkan sendok garpu ke atas piring. Suaranya sedikit membeludak. Parrr,,


"Aduh, papa ngapain sih ! Fariza menatap papanya sedikit heran.


"Napsu makan papa sudah hilang, mungkin cacing dalam perut papa selalu menggerogoti." Laki-laki paruh baya itu, pergi dari meja makan dan pergi masuk ke dalam kamarnya.


Suasana bukannya semakin hening, malah bagi ibu Fariza, keadaan seperti ini adalah waktu yang tepat untuk merayuku. Sialan!


Sambil memilih-milih makanan di atas piringnya untuk ia santap, sesekali ia menatapku dengan sudut matanya.


Aku juga menatapnya dengan sudut mataku, sementara Fariza merebahkan kepalanya ke bahu sebelah kananku.


Tiba-tiba perempuan yang tidak tau diumur itu, memainkan kakinya ke jari-jari kakiku. Sambil menatapku dengan sudut matanya dan gigitan makanan yang menggoda, juga goyangan tubuh yang tak bisa berhenti. Ia memberikan kode padaku lewat mata dan bibir juga kakinya.

__ADS_1


Aku juga mengarahkan kakiku ke kakinya. Aku gosok pelan dan sangat pelan sekali hingga aku melihat wajah yang sumringah.


Aku tidak bisa membayangkan kalau Fariza melihat kakiku dan kaki ibunya sedang bercinta di dekat kakinya tanpa diketahui oleh matanya.


Aku meletakkan sendok di atas piring kaca, lalu melap mulutku sedikit pelan.


"Kamu sudah sudah siap Lad?" Fariza menatapku.


"Iya, aku sudah kenyang," timpalku sambil meletakkan sarbet.


"Mari kita pergi!" Fariza menatap ibunya dengan sudut matanya. Aku tahu, Fariza ingin membuktikan pada ibunya, kalau ia lebih hebat untuk memilikiku. Laki-laki malang yang pada awalnya hanya memejamkan mata untuk berbahagia. Malam ini malah diberikan pilihan untuk berbahagia, yang tua atau yang masih muda.


Aku dan Fariza duduk di astas kursi ruang tengah rumah. Sambil bercakap-cakap ringan. Sesekali ia tertawa melihat tayangan yang tokohnya berjungkir balik demi membuat orang di negeri ini tertawa.


Jam semakin tinggi, aku melihat Fariza menguap beberapa kali, sampai ia tidak kuat untuk tetap bicara lagi denganku.


"Aku sudah ngantuk," ia beranjak dariku tapi memegang tanganku dan membawaku masuk ke dalam kamar.


Dari sudut ruang tengah, aku melihat ibunya menatapku. Tatapan memanggilku supaya tengah malam nanti kami bertemu di sebuah kasur yang belum menjadi pengantin.


Aku menutup pintu kamar, lalu merebahkan Fariza di atas kasur. Ia sudah tidak sadar, matanya sudah tertutup dan tidak mau tau lagi apa ceritaku selanjutnya.


Aku berbaring di sampingnya sambil berkhayal kadang aku tertawa sendiri mengingat kisah dalam keluarga ini.


Tengah malam telah datang, aku belum tidur.


suara napas dari luar aku dengar, semakin lama semakin kuat. Aku merasakannya, suara panggilan napas seorang perempuan.


Kebahagian itu hanya malam ini dan sedikit hari, setelah ini aku akan membuat Fariza kecewa padaku. Mungkin dari sekian banyak laki-laki yang ia kenal, aku lah satu-satunya laki-laki yang berani mengatakan aku mencintainya, juga mencintai ibunya dan juga sel penjara.


Suara napas itu semakin jelas, aromanya tidak begitu harum lagi, sama seperti napas mendiang nenek ketika ia menciumku beberapa tahun lalu.


Aku melihat Fariza, sepertinya ia sedang bertemu dengan sosok baik dalam mimpi. Sangat jelas sekali, karna setiap napas yang ia hembuskan aromanya wangi, aku merasakan itu. Aroma hebat dari napas seorang perempuan yang bermimpi.


Fariza, sebelum aku mencium ibumu, terlebih dahulu aku harus menciummu. Berarti sudah dua orang perempuan yang aku cium dalam kondisi bermimpi.


Setelah mengecup bibirnya, aku memperbaiki selimut yang sedikit berantakan di tubuhnya. Setelah itu aku bergerak pelan menuju pintu kamar.


Aku ke lantai atas, ke dalam kamar yang ia perlihatkan padaku tadi.


setelah pintu aku tutup tidak begitu rapat, aku mendengar suara pintu terbuka. Pelan dan sangat pelan sekali pintu itu bergerak.

__ADS_1


Aku memejamkan mataku, dan berpura-pura tidur.


__ADS_2