Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan

Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan
Mencium Bibir Yang Masih Tertidur


__ADS_3

Malam telah sepakat bersama senja, kalau mereka akan berpisah di penghujung waktu. Aku tidak lagi punya alasan untuk tidak mengatakan, aku tidak pernah bahagia di alam nyata. Pernyataan itu sudah aku lenyapkan dari kehidupanku.


Dulu memang aku adalah orang paling malang di antara yang paling menyedihkan. Semenjak aku membuka mataku dan membiarkan semua kebahagiaan dalam pejaman mataku untuk kembali kepada malam, aku mulai tahu ternyata bahagia itu sangat sederhana, ketika aku memejamkan mataku dan mencoba untuk mencintai perempuan lain ternyata kebahagiaan seperti itu akan segera pulang pada penciptanya ternyata aku lebih bahagia hidup sederhana dalam alam nyata dari pada tersenyum dan tertawa ketika aku memejamkan mata, terimakasih Ardi. Kau lah orang pertama yang ingin mengubah hidupku, sayangnya setelah aku membaik kau malah pergi dan tidak ingin berjuang melawan kehidupan yang keras bersamaku.


Tidak berselang lama setelah aku bicara dengan diriku sendiri, aku mencoba untuk menenangkan diriku terlebih dahulu. Sampai saat ini aku tidak tahu, kenapa mimpi terlebih dahulu datang untuk perbuatanku selanjutnya.


To dan Lol mendekatiku, wajah mereka sudah menggambarkan kalau mereka sedang bahagia. Mungkin karna sebentar lagi mereka akan menjadi bangsawan yang hebat. Jika aku melihat wajah mereka berdua rasanya aku sudah siap untuk berdosa seumur hidupku. Jika aku melihat mereka, aku teringat dengan sosok perempuan yang tidak pernah menyusuiku, tapi surgaku di bawah telapak kakinya.


Nasip mereka sama denganku, sama-sama menyedihkan, aku masih belum tau kelanjutan dari hidupku. Hanya angan-angan yang semakin menua dalam usiaku.


Setelah malam semakin dalam, aku semakin tidak bisa menahan rasa laparku pada uang. Aku sudah berupaya untuk mengalahkan sosok gelap dalam diriku seperti yang diberitahukan sosok lain dalam mimpiku. Aku gagal, rasa lapar akan uang terus menyesakku. Sialan!


***


Jalan yang aku tempuh siang tadi, malam ini aku lewati kembali. Sangat sunyi, tidak ada suara musik, aku juga tidak ada mendengarkan suara hempasan panci akibat pertikaian antara sepasang suami istri, yang paling sedihnya aku tidak mendengar suara gonggongan anjing kelaparan. Biasanya untuk membuat suasana semakin mencekam harus ada suara teriakan anjing yang meminta sepotong daging busuk. Sayang perbuatan burukku itu tidak diiringi suara-suara seperti itu.


Gang demi gang telah kami lewati, angin berhembus sedikit kencang, hingga membuatku sedikit hati-hati untuk kesalamatan kepalaku.


Di balik pohon pelindung yang tidak begitu jauh dari target yang aku gambar siang tadi. Aku dan dua orang anak buahku mengatur siasat.

__ADS_1


"To kamu ikut masuk bersamaku, kita jarah semua harta yang bisa kita bawa. Kamu Lol, kamu sebagai pengaman, jika nanti kamu mendengar suara benda pecah, kamu langsung matikan seluruh lampu dalam rumah itu."


"Caranya?"


"Kamu tinggal menekan tombol listrik di samping pintu itu, semua akan padam."


"Kenapa dimatikan bos?"


"Supaya pemilik rumah tidak melihat siapa kita."


"Kan kita memakai penutup kepala, mana mungkin mereka bisa mengenali kita."


"Aih,, jika mereka punya pistol dan menembak kepalamu, apa kamu tidak akan dikenali juga. Jika sudah gelap, ia tidak akan bisa melihat kita lagi, dan bagaimanapun caranya kita harus bisa keluar dari rumah itu. Paham!"


To mengeluarkan besi sedikit tajam dari dalam tas yang ia kenakan di pinggangnya. Aku rasa ia lebih hebat dari padaku perkara membuka dan menutup. Ya, dengan mudah sekali To membuka jendela yang tidak memiliki trali itu. Sangat pelan sekali, sehingga bunyi gesekan jendela itu tidak terdengar dan kami bebas untuk masuk. Aku melihat mulut To menganga ketika melihat aku meletakkan jendela itu kembali.


Rumah yang sangat mewah, bahkan jauh lebih mewah dari yang aku pikirkan. Sangat menyedihkan sekali, ternyata dalam alam nyata masih ada kemewahan yang luar biasa yang menandingi kemewahan dalam mataku.


Mataku liar menatap seluruh sudut dalam rumah itu. Kami berjalan, dan aku melihat sebuah guci besar. Apa ini guci yang akan aku atau mungkin juga To pecahkan itu.

__ADS_1


"Kamu harus jauh-jauh dari guci itu!" Bisikku pelan ke samping telinganya.


"Memangnya kenapa?" Timpalnya sambil melihat guci yang aku sebutkan.


"Nanti saja aku jelaskan, sekarang ambil semua barang yang berharga, bawa apa yang bisa kita jual."


"Kamu sebelah sana, dan aku akan masuk ke setiap kamar."


Sebuah pintu kamar yang tidak begitu tertutup rapat, membuatku semakin mudah untuk masuk ke dalam. Aku membuka pintu itu dengan sangat pelan, hingga yang tertidur dalam kamar itu tidak tahu ternyata aku sudah masuk, tamu yang tidak pernah mereka kehendaki untuk hadir.


Aku melihat seorang perempuan muda, dengan Tubuh sangat baik untuk memperbaiki keturunan tapi aku belum melihat wajahnya. Ia memiringkan badannya dan kepalanya pada dinding kamarnya, sehingga aku sedikit sulit untuk melihat wajahnya yang kata seseorang dalam mimpiku ia akan aku bunuh. Aku bergerak kesampingnya, tiba-tiba tubuhnya bergerak dan berhenti tepat di hadapan mataku. Aku membuka penutup kepalaku, dan memandang perempuan itu dengan pandangan yang betul-betul luar biasa. Simpulnya sampai detik ini mataku belum pernah memberitahukan pada hatiku kalau ia pernah melihat perempuan secantik ini.


Jika pun mimpi itu tidak memberitahukannya padaku, jika seperti ini aku berarti yang *****, mampu melenyapkan satu nyawa manusia secaktik dirinya. Aku mendekati wajah perempuan itu, bukan nafsu birahi yang aku pikirkan, tapi hanya ingin menyenangkan hatiku yang malang, supaya setelah mati tidak ada tuntutan padaku, kenapa aku tidak pernah memberikan sedikit ruang di bibirku untuk tempat persinggahan bibir perempuan.


Aku mendekati perempuan itu, lalu mencium pipi sebelah kanannya. Ia tidak bangun hanya sedikit gerakan pada ujung jarinya yang lembut. Aku masih berencana untuk mencium kening dan bibirnya, sewaktu bibirku akan terdampar di bibirnya, tiba-tiba suara keras masuk dalam telingaku. Sontak perempuan itu terbangun. Saat itu wajahku masih tepat di depan wajahnya, aku rasabia tidak melihatku, karna seketika itu juga semua lampu dalam rumah itu padam. Sambil ingin berlari, aku mencium bibir perempuan itu. Ia berteriak keras memanggil mama dan papanya. Dalam kegelapan itu aku melihat bayangan berjalan tergopoh-gopoh, aku mendengar percakapan mereka.


***


Kami bertiga sudah di luar, kami sembunyi di balik pohon pelindung. Aku dan dua orang anak buahku melihat laki-laki hampir tua berdiri di depan pintunya sambil mengarah-arahkan senter di tangannya.v

__ADS_1


Semua berjalan dengan lancar, aku memang tidak membawa apa-apa tapi To berhasil membawa satu kotak besar, seperti berangkas uang.


"Kita akan kaya," Teriak kami bersama setelah sampai di tempat persembunyiam.


__ADS_2