
Aku sudah duduk berpangku tangan, di sebuah sudut yang tak bercahaya. Hanya lampu kecil yang memberikan cahaya ke dalam mataku. Mungkin ini lah tempat yang disebutkan Polisi tadi, sel yang paling hebat. Jauh di letakkan di antara sel-sel yang lain.
Saat aku digiring berjalan dengan kaki tergopoh-gopoh di gorong-gorong tahanan itu, suara teriakan dan cemoohan menghantam diriku.
"Kawan baru, hei semuanya kita punya anak baru. Lihat kepalanya, lebih brengsek dari pada dirinya." Suara dalam sel tahanan itu menderu saat aku lewat dengan kepala yang menyedihkan. Kali ini aku tidak dapat menutupi kepalaku yang sudah sejak dahulu aku tutup-tutupi dari pandangan manusia.
Tidak berselang lama, dua orang Polisi yang memfitnahku datang menghampiri. Mereka tidak masuk ke dalam sel tahananku, hanya dari luar saja mereka melihat-lihatku, kadang tersenyum.
"Aku tidak menyangka, orangnya akan seperti engkau." Ia tersenyum sambil menawarkan sebatang rokok padaku.
"Kau brengsek, kenapa kau menuduh aku, kenapa?"
"Ini lah yang disebut dengan hukum politik, rencanaku berjalan, pangkatku naik,"
"Tapi kenapa dendammu kau balaskan padaku, kenapa?"
"Dengarkan baik-baik, pertama kau harus tau siapa yang kau bunuh, ke dua kau juga harus tahu kenapa aku membunuhnya dengan cara mati di tanganku yang bernamakan kamu. Pertama, yang kamu bunuh itu adalah Putra dari atasan semua polisi di kota ini, sejak orang tuanya tau anaknya meninggal karna ditembak oleh seorang bandit, amarahnya memuncak dan ia ingin engkau segera ditemukan. Silakan ditunggu, ia pasti akan segera datang membawa ruh anaknya yang kata semua orang iya mati di tanganmu. Kedua, ia adalah sainganku, karna sebentar lagi ia akan menikahi perempuan yang sangat aku cintai, maka aku menyusun rencana untuk membunuhnya. Dan hal itu tidak bisa aku lakukan dengan seperti itu saja, harus ada tangan yang terbelenggu untuk mempertanggung jawabkannya. Oh iya terimakasih, kau sudah bersedia membersihkan aib-aibku. Satu lagi, karna kebaikanmu, selama dalam sel ini aku bersedia membantumu, terkecuali untuk keluar."
"Kamu benar-benar kejam, kamu tidak pantas menjadi seorang Polisi, kamu lebih pantas menjadi sampah."
Ia tidak marah meski aku bicara demikian, hanya suara tertawa bangga yang ia tunjukkan padaku.
"Kau memang ********," aku meludahinya, meski tidak sampai tapi aku sudah meludahinya.
"Puaskan lah dirimu untuk mencaci makiku, aku tidak akan apa-apa. Ungkapkan semuanya, ayo! Ungkapkan semuanya, jangan ada yang tersisa. "
"Bedebah," aku berdiri lalu memukul besi tahanan itu kuat.
"Jika nanti kebenarannya telah terbukti, aku lah orang pertama yang akan menjenguk jasatmu ke tepat ini."
Tidak lama setelah itu ia pergi, dan mengatakan kepadaku untuk bersiap-siap menyambut pagi yang cerah.
Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, ruangan tanpa cahaya terang ini betul-betul mngurungku dan melenyapkanku.
Aku tersudut dan mencoba berdiri, sialan ternyata aku sudah di dalam mimpi kembali. Setelah sekian malam tidak menemuiku akhirnya malam terkutuk ini ia datang juga.
"Wahai engkau mimpi burukku, kau tahu kabar yang engkau sebutkan itu sudah aku temui, dan sekarang mereka sedang bersamaku mengelilingi diriku tanpa boleh aku pergi ke mana pun."
__ADS_1
Seperti biasa, suara tak bertuan kembali bergetar ke dalam hati dan pikiranku.
"Bagaima, apa di sana menyenangkan?"
"Untuk saat ini aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana kesenangan itu, aku hanya tersiksa, dan tersiksa."
"Hmm,, Yang sabar, untuk menghiburmu aku akan selalu datang padamu menceritakan dunia luar.
"Tepat sekali, apa kamu bisa masuk ke dalam mimpi manusia lain?"
"Tergantung."
"Maksudnya?"
"Jika sosok putih yang ada dalam mimpinya lebih kuat dari padaku, maka aku tidak akan bisa masuk ke dalam mimpinya, jika aku bisa mengalahkan sosok putih itu maka dengan mudah aku akan masuk ke dalam tidurnya."
"Baiklah, sekarang bagaimana? Apa kau bisa pergi?"
"Maksudmu ke dalam mimpi mereka?"
"Ya siapa lagi."
"Baik, aku akan membayangkan wajahnya. Ada dua perempuan, namanya Fariza dan Nuri Amelia."
"Baiklah akan aku coba, tunggu saja. Selama aku pergi, aku sudah meninggalkan mimpi baik untukmu, mimpi masa remaja. Kau tau mimpi basah? Itu lah mimpi yang akan datang padamu, tenang perempuannya pasti secantik perempuan yang kau cintai. Puaskan lah dirimu, satu lagi, jangan ragu untuk menidurinya, kalau perlu usahan mimpi itu lebih hebat dari pada kenyataan. Sudah aku pergi dulu."
Ia telah pergi, aku tahu itu, karna dari aromanya yang entah bau apa sudah hilang begitu saja. Tiba-tiba aroma yang sama datang kembali, tapi suaranya lebih lembut dan sepertinya perempuan. Apa ini sosok perempuan yang ia kirimkan padaku itu.
"Hai Ladri, tuanku yang bertuankan padamu sedang dalam proses usaha untuk masuk ke dalam mimpi perempuan lain. Sebab itu ia memanggilku untuk datang ke dalam tidurmu, apa yang kau inginkan dariku, lakukan lah."
Sialan, mendengar suaranya yang lembut dan kata lakukan lah, diriku yang kedua sontak bertenaga. Kuat sekali, bahkan se ingatku, ini pertama rasa luar biasa itu datang.
Ia sangat cantik sekali, wajahnya putih, bulu matanya sedikit tebal, rambutnya terurai memanjang. Aku sudah berniat untuk bersembunyi dalam rambutnya.
Belum lagi yang lain, dadanya yang tidak kecil tidak besar, membuat kepalaku yang jelek dan menyedihkan ini berkeinginan untuk mendarat di sana, mencium aroma Surga dari dadanya yang putih mulus. Au,, bulatannya sangat sederhana, jaraknya seperti sesuatu yang tak tersebutkan olehku.
Ia memakai baju yang sering dipakai perempuan-perempuan untuk bermalam pertama. Baju putih, dengan sedikit gambar bunga. Lengan bajunya pendek, roknya juga pendek, hanya sampai pahanya saja, sekitar setengah jengkal di atas lututnya. Aihh, putih mulus itu yang membuat diriku yang kedua menjadi bringas untuk menabraknya. Belum lagi, pas di bagian tengah ada pula sedikit robekan yang memanjang ke atas, hampir sampai ke bagian yang tak perlu dieja. Sangat sempurna. Jika aku bisa memilih, aku lebih baik dalam mimpi saja dari pada dalam dunia nyata.
__ADS_1
"Kamu kenapa Ladri, apa kamu tidak suka jika aku perempuannya?"
"Bukan, aku hanya berkhyal, bagaimana jika aku bisa menyentuhmu seperti.." Aku tidak meneruskannya.
Ia langsung menyambung perkataanku, "Kemarilah, lengkapi kata-katamu yang putus itu."
Aku mendekatinya, matanya yang indah sudah ia pejamkan. Meski hanya mimpi paling tidak aku bahagia.
Pertama-tama aku mencium bibirnya, hampir lima menit bertahan menikmati sesuatu yang begitu lembut, basah dan tak terceritakan. Pelan-pelan aku menurunkan kepalaku yang malang, ke bagian lehernya, aku cium dan aku rasakan, aroma aneh seperti aroma mimpiku sebelumnya.
Aku menarik, rok pendak yang ia kenakan. Pelan sekali aku tarik, saat menariknya aku merasakan gesekan jari-jari tanganku pada pahanya yang empuk.
Ia sama sekali tidak memberontak, hanya pasrah dan siap menerima apapun yang akan aku lakukan.
"Cepat, aku tidak bisa berlama-lama, sebab tuanku akan segera datang."
Saat aku ingin melepaskan bajunya, kira-kira baru sepertiga dari dadanya, bulatan di dadanya juga baru setengah yang terlihat, putih mulus dengan ujung merah sebesar jagung menggugah semua selera dalam tubuhku. Tiba-tiba tuan yang ia sebutkan tadi sudah datang dengan bayangan hitam yang selalu ia perlihatkan padaku.
"Maaf Ladri aku harus pergi."
"Tapi kita belum..." belum selesai aku bicara, bayangan hitam itu menyambung perkataanku.
"Sudah, tak perlu kau cemaskan itu, kapan pun kau menginginkan itu, dia pasti siap melayanimu."
"Kenapa dia pergi?"
"Karna sudah aku perintahkan dari awal, jika aku datang maka ia harus pergi, karna dalam waktu yang sama tidak bisa hadir sekaligus dua mimpi dalam tidurmu."
Aku betul-betul kecewa, hampir saja aku menemukan tempat kepalaku untuk bersembunyi, ehh lenyap begitu saja.
"Jadi bagaimana, apa kau bisa masuk dalam mimpi mereka?
"Bisa, karna saat aku datang tidak ada mimpi satu pun yang menjaganya."
"Syukurlah, sekarang masih bisakah kau pergi lagi menyampaikan pesanku?"
"Untuk sekarang aku tidak bisa, karna sebentar lagi ia akan bangun. Tentu aku akan terkurung di sana. Sekarang kau pun bangun lah, pikirkan saja dulu apa yang akan kau sampaikan pada mereka berdua. Salam"
__ADS_1
Ia telah pergi, dan pelan-pelan rasa sadarku sudah kembali lagi dalam tubuhku. Aku juga sudah melihat sedikit cahaya temaram menyelinap ke dalam mataku. Aku telah bangun menikmati dunia petak bersegi dalam sel penjara. Aku tidak tahu, apa aku hanya akan di sini saja atau di siksa di tempat lain.