
Suara sirinai mobil Polisi berbunyi, To dan Lol sudah sangat gelisah, dalam mobil itu mereka mereka bercakap-cakap sendiri mengutarakan nasibnya entah pada siapa.
Sangat mengharukan sekali, seorang pengamen yang tak berdosa malah aku bawa ke jurang kehancuran.
Aku menyuruh mereka untuk turun.
"Pergilah sejauh-jauhnya, kejar mimpi-mimpi kalian. Ruangan polisi bukan tempat yang baik untuk tertawa. Pergilah!"
Mereka berdua menatapku sambil meneteskan air matanya.
"Bos, bagaimana?" Timpal To menatapku penuh.
"Tidak usah pikirkan aku, sekarang pergilah, jika kita masih bersama maka masa depan dan kebahagiaan kalian akan hancur. Berlari lah sejauh mungkin, sebelum Polisi itu melihat kalian, aku akan menghadang mereka. Pergilah, bawa mobil ini, dan semua uang ini."
Tatapan mereka semakin dalam, apa lagi ketika aku memberikan semua uang hasil rampasan ketangan mereka berdua.
"Cepat pergi, cepat!"
__ADS_1
Bunyi sirinai mobil polisi itu sudah semakin dekat. To dan Lol masih tidak ingin meninggalkanku, hingga aku memaksa mereka untuk masuk ke dalam mobil lalu pergi.
Sekarang, hanya diriku sendiri. Tidak ada lagi yang perlu aku takutkan, semuanya sudah beres, Nuriku yang manis juga sudah aku buat kalimat selamat bertemu dalam waktu yang tak terduga, mereka yang siap mati untukku juga sudah pergi meninggalkan jejak.
Aku berlari sekuat tenagaku, meski pada akhirnya aku akan tertangkap paling tidak aku punya cerita untuk semua orang yang masih perduli padaku. Aku akan memberitahukan perjuanganku untuk hidup sebelum mati.
Aku berlari ke gang-gang sempit dan terus berlari sampai aku menemukan tempat baik untuk menyembunyikan diri. Sebuah lorong-lorong gelap tempat saluran air, di sana lah aku menyembunyikan diriku. Hanya pipa-pipa besar yang terpsang rapi di sana, kadang di titik-titik tertentu ada air yang mengalir, menetes pelan tapi semakin lama menjadi genangan lebih kurang setinggi mata kakiku.
Aromanya busuk, sulit untuk aku defenisikan aroma seperti ini, hanya tikus dan kalilawar yang mampu bertahan hidup.
Hampir dua jam aku menahan sesak dalam gorong-gorong itu, pada akhirnya aku keluar dari sebuah lubang yang di tutupi besi bulat. Aku membuka sedikit hanya sampai hidungku dan melihat, apa masih ada Polusi yang mengincar keberadaanku.
Sialan! Ternyata 3 mereka bertiga mengepungku, hingga aku tidak mampu lagi untuk melarikan diri.
Di gang sempit yang sunyi itu, aku berdiri tak punya cara lagi untuk selamat. Mereka menyuruhku untuk mengangkat tanganku.
"Angkat tanganmu !" Begitu perintah mereka padaku sambil mengarahkan pistol kecil tapi mematikan ke dadaku.
__ADS_1
Aku tidak bicara, aku hanya teringat tentang bahagia yang belum sempurna terbentuk dalam hidup.
Mereka bertiga berjalan ke arahku, tiba-tiba akan sampai di hadapanku, seorang Polisi yang belum aku tahu tentang identitasnya mengarahkan pistol di tangannya pada seorang Polisi di depanku. Belum sempat aku berpikir kenapa ia mengarahkan pistol itu ke arah temannya, Polisi malang tak mengerti dengan takdir dari dirinya malah mati di tangan seorang Polisi juga.
Setelah menembak rekan kerjanya, ia menghembus asap putih yang telah meluncurkan timah panas tepat di bagian jantung.
Ia berjalan mendekati hasil tembakannya. Masih belum mati, suara letusan darah dari mulutnya sontak membuatku sedikit terkejut. Darah itu muncrat ke seluruh wajahnya. Ia memaksa jantungnya untuk tetap berdetak dulu, mungkin selama ia ingin bicara dengan orang yang ingin ia cepat mati.
Suaranya serak bercampur dengan suara darah segar yang bertahan di kerongkongannya.
"Kau kejam, kejam !" Begitu ucapnya sambil menahan ujung hidup di pangkal kematian.
"Selamat atas keberhasilanmu teman, pangkatmu pasti bintang lima, karna kau sudah rela mati demi tugas kita, untuk mengayomi masyarakat. Setelah ini, mayatmu akan aku bungkus dengan kain kafan yang paling mahal, kalau perlu aku datangkan dari negara penghasil kain kafan terbesar. Simpulnya hanya kain kafanmu satu-satunya yang memiliki merk internasional." Balasnya sambil mengarahkan pistol itu kembali, kali ini lebih mengerikan lagi, Polisi itu menghadapkannya tepat di bagian jakun di batang lehernya.
Suara pistol itu menggelegar seluruh isi telingaku. Aku melihat Polisi malang itu sudah tewas.
Polisi itu mendekatiku lalu bicara, "Simpan baik-baik pistol ini, jika nanti ada yang ingin bertanya kronologis kejadiannya kau harus menyebutkan bahwa ia mati bukan karna aku tembak, tapi karna kamu. Mengerti! Sekarang pergilah beberapa saat lagi, akan ada yang menjemputmu, dan kamu harus mejawab semua pertanyaan mereka seperti aku beritahukan."
__ADS_1
Mereka pergi, Polisi di sampingnya hanya tersenyum simpul. Aku rasa mereka melakukan itu karna ingin melepaskan demdam pada Polisi itu.