
Aku berdiri mentap kebahagian yang belum pernah aku rasakan bersama seorang perempuan. Berdiri bersama menatap bukit dengan lembah yang sangat dalam. Aku memegang pagar pembatas, Fariza juga demikian, ia berdiri dengan jarak sedikit jauh dariku sekitar 20 meter. Ia berteriak menyebutkan namaku dan memasang kupingnya baik-baik untuk mendengar pantulan suaranya dari lembah bukit.
"Ladri," begitu teriaknya sambil menatap kevawah.
"Fariza," Balasku juga dengan suara keras dan mendengarkan pantulannya, setelah pantulan itu selesai ia berteriak kembali.
"Aku sayang kamu," Ia menatapku dan menunggu apa yang harus aku katakan.
"Aku juga sayang kamu."
"Apa buktinya kau sayang aku?"
"Aku bersedia mati jatuh ke jurang ini jika kau suruh untuk mengambil setetes air mata bahagia yang tak sengaja kau jatuhkan."
"Betulkah itu,?
Aku tidak bicara, aku hanya meberikan tanda padanya, bahwa aku betul-betul bersedia mati.
"Kalau begitu aku akan menangis, dan menjatuhkan air mataku ke dalam lembah ini." ia menyeka kedua belah matanya seperti gaya seseorang yang akan menangis.
"Apa kau sudah selesai menangis?"
"Sudah, sekarang ambil lah air mataku itu," ia tersenyum dan tertawa manis padaku.
"Sebelum aku melompat, kau harus datang padaku dulu "
"Untuk apa?"
Aku mengembangkan tanganku membuka ruang dada untuk masuk ke pelukanku. Ia berlari pelan ke arahku dan langsung menghempaskan tubuhnya ke tubuhku. Untung saja, kaki sebelah kananku kuat untuk menahan tubuh yang ia hantamkan ke tubuhku.
Dalam pelukanku, aku memperbaiki rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
"Kau tahu kenapa aku ingin engkau datang dulu sebelum aku memperlihatkan padamu kematianku?"
Ia melihatku, "Kenapa?" Begitu jawabnya sambil menyibak rambutnya yang sedikit terurai di alis matanya.
"Karna aku ingin memberitahukan padamu, kalau jantungku hari ini berdetak bahagia dan apa bila berhenti, ia akan mati bahagia."
Ia semakin erat memelukku, aku menenggadah menatap langit,
"Fariza, andai takdir hidup hanya sementara dan ternyata Tuhan punya rencana lain untuk kebahagiaan ini. Apa engkau masih akan sayang padaku, jika salah satu dari kita berdua, mengucapkan kata selamat berpisah."
Berlahan ia melepaskan tangannya dari tubuhku, dan mundur beberapa langkah.
"Jika engkau mengucapkan itu, berarti kau tidak ada ubahnya dengan laki-laki yang hanya ingin tubuhku."
__ADS_1
Ia duduk di atas kursi di bawah pohon. Ia tidak melihatku, dan sepertinya ia benci padaku.
Aku mendekatinya dan duduk tepat di sampingnya.
"Fariza, apa kau sedang bersedih?" Aku tidak melihatnya, hanya tangannya yang aku pegang dan melihat satu titik yang sama di bukit itu, segerombolan burung-burung yang terbang jauh.
Ia menatapku, berlahan aku juga menatapnya.
"Kenapa kamu bicara demikian?" Ia mengernyitkan keningnya dan ingin aku menjawab dengan jujur.
"Karna aku ingin tahu seberapa khawatir engkau pada duriku jika kita berpisah. Ternyata kau betul-betul khawatir, aku lihat itu dari wajahmu."
"Aku tidak khawatir," ia mengalihkan pandangannya dariku sambil menggerak-gerakkan bibirnya, berkomat kamit, mengata-ngatai aku dalam mulutnya sendiri.
"Betul tidak khawatir?" Tegasku sedikit memaksa.
"Iya aku tidak akan pernah khawatir."
"Baiklah, kalau begitu aku akan lompat."
"Coba saja kalau kau berani." Ia mencibirkan bibirnya dan seperti menantangku.
Aku menaiki satu dari tiga palang pagar pembatas, setelah itu aku naik ke pagar ke dua. Sebetulnya aku sangat takut, dan bahkan seumur hidupku, baru kali ini aku tidak menginjak tanah dengan ketinggian seperti ini.
"Ladri, aku juga hanya ingin tahu, seberapa besar pengorbananmu padaku, ternyata kau bersedia mati untuk mempercayakannya padaku. Sekarang aku sudah percaya, dan aku minta turun lah."
Ia memegang tanganku dan sedikit membimbingku untuk turun.
ia berdiri tepat di depanku, aku menyibakkan sedikit rambut yang menutupi sebagian wajahnya, karna memelukku tadi.
"Fariza, kau tahu di atas dunia ini tidak ada yang lebih pasti dari pada kejujuran. Sekarang percaya lah padaku, kalau ciuman itu bukan tanda dari percintaan tapi saling memahami adalah langkah awal untuk membuat cinta itu bertahan sampai usia habis."
"Kau memang bisa membuatku kagum." Ia memukul-mukul dadaku, aku menarik tangannya, tubuhnya sedikit terseret ke arahku sehingga tubuhnya berbenturan dengan tubuhku.
"Diamlah di sana." Aku memegang jemari tangannya dan menekan pelukan itu semakin erat.
"Apa kau masih ingin mencoba di peluk laki-laki lain?" Tanyaku setelah mencium rambutnya dan juga sedikit di bagian telinganya.
Sambil menyembunyikan wajahnya di dadaku, ia mengangkat sedikit kepalanya dan mencoba menatapku.
"Aku ingin di sini saja Lad sampai waktu yang tidak aku tahu."
Aku memegang kepalanya, dan aku arahkan ke wajahku. Berlahan aku mengarahkan bibirku ke bibirnya. Ia mengikuti gerakanku, dan terjadilah sesuatu perkataan yang terucap dari dua bibir yang basah. "Aku sayang kamu"
*****
__ADS_1
Setelah cukup lama menikmati pemandangan dari puncak bukit. Fariza membawaku kembali ke tempat, keramaian.
"Kita mau ngapain ke sini?" Mataku liar, aku takut Polisi menemukanku di sini.
Tiba-tiba Fariza menarik tanganku dan membawaku ke dalam pusat perbelanjaan yang sangat besar. Selesai lantai satu, naik ke lantai dua sampai ke lantai entah berapa.
Aku melihatnya sibuk mencobakan beberapa pakaian ke tubuhnya, sesekali ia meminta pendapatku.
"Ini bagaimana?" Tunjuknya pada baju yang ia cobakan ke tubuhnya.
Aku hanya senyum lalu mengacungkan jempol padanya.
Beberapa kali ia melakukan hal itu padaku, sampai pada ia menarik tanganku lagi pada baju-baju kemeja panjang dan kaos khusus untuk laki-laki.
Ia mengambil sebuah baju kemeja hitam bercorak kotak-kotak. Ia cobakan ke tubuhku, lalu menatapnya lalu ia miringkan kepalanya untuk menilai bagaimana kualitas baju itu di badanku.
Ia menggeleng beberapa kali, sambil mengganti baju itu dengan baju lain.
Kali ini baju dengan warna putih yang ia cobakan ke badanku, hal yang sama ia lakukan. Setelah itu ia tersenyum dan membungkusnya, juga beberapa baju lain.
Tiba-tiba ia mengambil sebuah topi yang terpasang di kepala patung.
Ia hampir saja melepaskan topiku, untung saja aku langsung memegang tangannya.
"Biar aku saja yang mengenakannya." Aku masuk ke dalam ruang ganti pakaian, aku juga mengambil baju yang ia bungkus tadi. Aku kenanakan, tentu topi, posisinya aku buat serapi mungkin.
"Bagaimana?" Aku memutar-mutarkan tubuhku.
Saat aku bergaya di hadapanya, aku melihat sebuah televisi yang terpasang di tiang besar dalam mol itu. Tidak jauh dariku, tepatnya pas di belakang Fariza.
Mataku tidak lepas melihat siaran televisi itu. Gambarku terpampang di televisi, di bawah gambar itu tertulis, seorang pencuri sekaligus pembunuh seorang polisi karna lari dari kejaran.
Aku mengajak Fariza untuk pulang, awalnya ia tidak mau. Tapi aku mengatakan aku sedang ada urusan lain yang sangat penting ia baru menyetujui untuk pulang.
Di atas mobil ia hanya diam dan juga tidak a
melihatku.
"Kamu kenapa?" Aku coba untuk menenangkan pikirannya.
Ia hanya sedikit menoleh padaku, dan memintaku untuk mengulang kembali kata-kataku.
"Apa?"
Aku hanya menghela napas, andai aku jujur sudah pasti kau akan lebih kecewa Fariza, bisikku sendiri.
__ADS_1