
Perasaan bahagia menyelinap ke dalam tubuhku. Rasa yang entah seperti apa muncul sesuka hatinya. Aku hanya terpaku memandangi sosok yang sama sekali belum pernah terpikirkan olehku ternyata Tuhan juga menciptakan bidadari di dunia-Nya ini. sangat sempurna, bahkan aku bisa mengatakan, lebih sempurna dari pada langit dan bumi.
"Sudah pulang kau Nisa," perempuan Tua itu menyambut kedatangan gadis cantik yang membuatku lupa pada perempuan mana pun.
"Sudah nek," begitu jawabnya dengan suara lembut bak suara biola bagi seorang pembaca puisi menyatu dalam melodi. Aihh, kenapa aku terlalu sering jatuh cinta.
"Ini siapa nek?" Matanya sekilas melihatku lalu ke dapur mengambil air untuk membasahi kerongkongannya.
"Dia Ladri, orang yang nenek cari selama ini."
"Yakin orangnya seperti dia?" Belum di jawab oleh perempuan tua itu, ia bicara kembali "Mama tadi nitip pesan, katanya besok ia akan ke sini menjemput nenek." Ia duduk di atas kursi sambil mengunyah sepotong coklat yang baru ia ambil dari dalam tasnya juga sibuk mengutak-atik hp.
Aku belum mengerti apa maksud dari ini semua, dan anehnya jika perempuan tua ini betul-betul mempunyai anak seperti cucunya ini, kenapa ia jadi seorang pengemis.
Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatiku, wajahnya seperti pernah aku lihat, tapi di mana.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanyaku.
"Bertemu, ah, kamu ada-ada saja. Dengar ya, aku ini keturunan konglomerat, dan aku hanya bisa ditemukan yang berbau dengan kemewahan. Kalau seperti kamu, amit-amit." Ia mengangkat tangannya menyatakan jijik padaku.
Tidak lama setelah itu, gadis cantik yang berhasil membuatku mencintainya, pergi begitu saja.
"Jangan masukkan ke dalam hati nak Ladri, sifatnya memang seperti itu."
Aku hanya mengangguk pelan sambil melepas cucunya pergi.
"Tapi jika memang keturunan konglomerat kenapa nenek memilih jadi pengemis?
Ia senyum padaku, kemudian mengajakku untuk masuk ke dalam rumah kembali.
"Mari ke dalam," ia duduk di atas kursi sambil menatapku.
"Nak Ladri, semua anak-anakku memang orang kaya raya, itu kan mereka, bukan aku. Meski mereka sering mengajakku untuk tinggal di rumahnya, aku tidak pernah mau, karna aku tidak ingin menjadi masalah dalam keluarga anak-anakku. Anakku pasti akan setuju untuk menerima kedatanganku ke rumahnya, tapi bagaimana dengan pasangan mereka, apa mereka akan menyetujui hal itu juga. Itulah sebabnya aku memilih hidup berkeliaran di tengah jalan sebagai sampah. Sudah tidak perlu dibahas lagi."
*****
Setelah mengetahui cukup jauh tentang jati dirinya sesunguhnya, aku berencana untuk pergi neninggalkan perempuan tua itu. Jika pun aku ingin membantu masih banyak di luar sana yang layak untuk aku bantu, jika bersamanya, sama saja aku mengajari induk ayam untuk mengeluarkan telurnya.
__ADS_1
Ketika aku ingin melangkah untuk pergi, aku melihat beberapa orang polisi mengarah ke rumah ini.
Mereka sudah di lengkapi dengan berbagai perlengkapan untuk menangkapku. Dari beberapa polisi itu aku melihat polisi yang menembak rekannya sendiri beberapa waktu lalu.
Mereka semakin dekat.
"Kamu kenapa?"
"Di luar ada Polisi nek, jika mereka nanti bertanya tentang diriku tolong jangan beritahu.
Aku tidak membuang-buang waktu lagi, dari pintu dapur aku melarikan diri. Seorang polisi melihat pergerakanku. Aku melompat ke semak-semak dan berlari terus dari gang-ke gang. Beberapa kali aku mendengar suara pistol menggelegar ke angkasa.
Kejar-kejaran terjadi, suara pistol membubung ke angkasa. Belum selesai suara pistol berikutnya bergaung dalam telingaku, sesuatu yang kuat dan sakit sekali menyelinap masuk ke dalam betis kakiku.
Aku terperosok ke dalam parit, beberapa orang polisi langsung berlari ke arahku. Mereka sangat kuat sekali, dengan mudah mereka memborgol tanganku.
Aku mereka bawa dalam mobil, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, hanya kata mungkin yang bersemayam dalam diriku, mungkin ini lah masa hancur yang disebuatkan mimpiku.
Setelah beberapa saat menempuh perjalanan, mobil yang membawaku itu berhenti di sebuah tempat yang memang dikhususkan untuk orang-orang sepertiku.
Salah seorang Polisi menarik tanganku, dan menyuruhku untuk berjalan. Kakiku tak kuat untuk melangkah, hanya kaki kananku saja, kaki kiriku menggantung tak menyentuh tanah. Sangat sakit, dan perih sekali.
Setelah dua menit tatap-tatapan, Polisi yang duduk di depanku itu bicara, "Betul kau yang bernama Ladri?" Suaranya agak parau bernada kuat.
"Iya pak, itu memang namaku," jawabku datar tidak melihatnya.
"Kau tau, kenapa kau ada di sini?" Suaranya semakin pelan, sesuatu di tangannya ia putar-putar beberapa kali.
"Aku tidak tau pak," aku mencoba menatapnya.
"Tidak tahu, jadi kenapa kau ada di sini?"
Aku hanya diam, tidak mengindahkan pertanyaannya lagi.
"Jawab !" Suaranya menggelegar diiringi hantaman meja tepat di depan wajahku.
Sontak aku terkejut, seorang Polisi yang berdiri di sampingku berbisik kepadaku, "Jawab dengan jujur ****** supaya kau tak mati."
__ADS_1
"Iya pak aku akan jawab dengan jujur, aku pernah mencuri di toko emas, dan di rumah mewah."
"Trus apa lagi?" Ia mendekatkan kupingnya kepadaku.
"Itu saja pak"
"Yakin tidak ada yang lain?" Nada suaranya memelan, dan posisi duduknya ia perbaiki kembali dengan baik. Apa lagi yang akan ia lakukan setelah memukul meja di depan wajahku.
"Jadi siapa yang membunuh Polisi ketika mereka sedang mengincarmu, siapa?" Wajahnya takkan kurang dari dua jengkal dari wajahku, matanya sangat tajam.
"Itu bukan aku yang membunuhnya pak."
"Panggil, saksi mata ke mari," ucapnya pada seorang Polisi yang berdiri di sampingku.
"Siap," kaki sebelah kirinya menutup dengan rapat diiringi hormat. Ia melangkah seperti padukan pengibar bendera.
Tidak berselang lama ia datang kembali dengan dua orang saksi yang sama sekali belum aku kenal. Mereka berdua, dan juga dua orang polisi yang saat itu hadir dalam tragedi memilukan bagiku.
"Coba ceritakan apa yang kau lihat?" Ia menunjuk seorang yang mengenakan pakaian kaos hitam, umurnya belum terlalu tua sebab wajahnya sedikit saja lebih tua dari pada wajahku.
"Begini pak, saat kejadian itu terjadi aku sedang berkeliling berjualan bakso. Awalnya aku ingin lari, aku kira sedang terjadi razia pedagang kaki lima. Tapi setelah aku amati ternyata tidak, aku melihat seorang polisi mengejarnya." Tunjuknya ke arah wajahku, "Setelah itu ia berhenti, dan sewaktu Polisi yang sama ingin membekuknya, tiba-tiba ia mengambil pistol yang terselip di pinggangnya. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengarahkan mengarahkannya, dan terjadilah."
"Bohong itu pak, aku tidak ada melakukan itu. Sumpah demi Tuhan, aku tidak ada melakukan itu semua pak," sanggahku membela diri.
"Diam kau dulu *****, nanti ada giliranmu untuk bicara," bisik polisi yang berdiri di sampingku itu kembali.
"Kamu, bagaimana yang kamu lihat?" Lanjutnya meminta penjelasan pada laki-laki sedikit muda dari padaku.
"Aku tidak dari awal melihat kejadiannya pak, yang aku dengar hanya suara dentuman pistol, aku mendekati sumber suara, aku melihat ia" tunjuknya juga ke wajahku, "Memegang pistol itu dan berencana untuk lari, tapi untung bapak ini" Tunjuknya pula pada Polisi yang sebetulnya melakukan itu, "Datang dengan cepat, jika tidak aku yakin ia pasti melarikan diri. Hanya itu yang saya lihat pak."
"Sudah dua sumber yang sama mengatakan kau lah yang membunuhnya. Sekarang kau mau menyangkal juga." Ia berdiri lalu pergi, sewaktu di pintu ia berhenti lalu bicara pada bawahannya, " Bawa ia ke sel yang paling hebat di tempat ini."
Sebelum ia jauh, aku berteriak untuk membela diriku, "Bukan aku pembunuhnya pak, tapi dia," tunjukku pada Polisi yang entah dendam apa yang ia balaskan padaku.
"Pak, bukan aku pelakunya,"
"Diam kau *****, sudah jelas kau pembunuhnya masih juga bersilat lidah. Kau mau hukumanmu bertambah berat? Jika tidak diam kau."
__ADS_1
Aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi, hanya kekuasaan Tuhan yang aku tunggu.