Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan

Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan
Cara Terhormat Untuk Berpisah


__ADS_3

Setelah perempuan itu datang bertamu ke tempat kami, sejak saat itu pula, aku, Ardi dan Anu mulai paham terhadap kehidupan di ibu kota. Perempuan itu mengatakan, kota ini adalah kota terbaik bagi orang-orang yang memiliki kekayaan, tapi kota terburuk bagi orang-orang yang belum menemukan jadi dirinya.


Saat sore mulai muncul ke dalam mataku dengan warna-warna terbaik yang ia miliki. Aku, Ardi dan Anu duduk tak teratur di dalam kamar. Aku membuka kata terlebih dahulu,


"Saya rasa kita harus lebih semangat lagi, lihat orang-orang sukses itu, rata-rata dari mereka semua tidak ada yang tahu, bahkan nasib baik yang mereka dapatkan itu adalah sesuatu yang mustahil bagi mereka kalau mereka ternyata akan menjadi sukses. Kenpa kita tidak bisa, lihat artis-artis hari ini, dengan menciptakan sebuah lagu namanya langsung terkenal, seperti penyanyi keong racun, Norman yang meniru lagu dari india, kalau tidak Ayu Ting-Ting yang menyanyikan alamat palsu. Kita pasti bisa, banyak cara untuk menjadi orang sukses."


Belum selesai aku bicara Anu langsung memotong pembicaraanku, "Salah satunya?"


Aku berkumur-kumur tanpa air dalam mulutku. Hanya kata seperti, seperti dan berulang-ulang aku ucapkan.


"Iya, seperti apa?" Lanjutnya bicara.


"Seperti yang kita lakukan tadi," jawanbku tidak begitu percaya.


"Jika yang kita lakukan itu cara baik untuk sukses kenapa kotak yang aku suguhkan itu tidak ada yang mengisinya dengan uang. Sudah lah Ladri, dari pada kita beradu pendapat tanpa kejelasan yang tentu lebih baik kita coba untuk sendiri-sendiri. Aku pekerjaan apa pun akan aku lakukan, asalkan itu masih halal." Ardi mulai tidak sependapat lagi denganku.


"Kau Anu?" Tanyaku berharap ia masih bersedia menjadi melodi indah untuk syair-syair yang akan aku bacakan nanti.


"Aku mengikut pada Kang Ardi saja." Begitu jawabnya pelan tak memandangiku.


"Baiklah, jika itu langkah yang baik, apa salahnya untuk kita coba. Hanya satu pesan yang dapat saya berikan, jangan pernah mencuri."


Setelah pembicaraanku selesai, Ardi dan Anu tidak bicara lagi, sampai kami lupa ternyata kami sudah tertidur. Aku tidak tahu siapa di antara kami bertiga yang terlebih dahulu tertidur yang pasti tertidur cara yang tepat untuk mencoba mati bagi orang-orang yang masih hidup.


Seperti biasa, selepas kisah dalam mimpi selesai, satu persatu dari kami bertiga mulai bangun.


Aku yang lebih dahulu, karna bangun waktu subuh adalah kebiasaan yang sudah ada sejak aku tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Saat itu masih pukul setengah lima. Aku duduk di samping tempat tidur yang sedikit tidak pas untuk kami bertiga.


Aku memejamkan mataku dan mencoba bahagia dengan perempuan yang aku temui beberapa hari yang lalu. Aku memberinya nama Putri. sebetulnya di balik kekuranganku, aku mempunyai satu kelebihan yang tidak ada pada manusia lain. Setiap aku memejamkan mataku, aku selalu menemukan duniaku, dunia yang betul-betul aku lalui.


Siapa pun yang aku masukkan ke dalam mataku Itu, pasti aku temui dengan kondisi seperti yang aku inginkan. Kali ini aku membayangkan Putri menjadi istriku dengan lima orang anak yang berbakti padaku dan padanya.

__ADS_1


"Sayang, lihat anak-anak kita, mereka sudah hampir dewasa. Saya rasa sebentar lagi kita akan mempunyai cucu. Dalam dunia hebat itu aku melihat Putri duduk di sebelahku sambil memegang tanganku, kemudian mengatakan, kalau ia bahagia sekali bersamaku. Sebelum aku membuka kedua belah mataku, terlebih dahulu aku akan mencium keningnya. Jika aku menghitung, mungkin sudah lebih dari pada tiga perempuan yang aku cium dalam mataku.


Aku membuka kedua belah mataku, aku melihat Ardi dan Anu sedang bersiap-siap untuk pergi. Mungkin mereka sengaja untuk tidak membangunkanku.


"Kalian mau ke mana?" Tanyaku sambil berdiri di samping mereka.


"Oh, kau sudah bangun," timpal Ardi seperti ingin mengalihkan pembicaraan.


"Iya, mungkin tadi malam aku terlalu lama untuk tidur,"


lepas aku bicara, Ardi mengajak Anu pergi. Aku tidak tahu ke mana mereka akan pergi. Hmm, cuman gara-gara aku mengutarakan isi hatiku pada perempuan yang tidak tahu tentang apa yang aku ungkapkan, aku sudah mereka kucilkan. Bagaimana jika aku betul-betul mendapatkan hidayah Tuhan tentang cinta yang sewajarnya, barangkali mereka akan pergi selamanya dari kehidupanku.


Jam-jam terus berlalu, membawa kehampaan hidup dalam hidupku. Dari pada terpenjara dalam rumah lebih baik memenjarakan diri dalam perut dunia. Aku bersiap-siap pula untuk pergi, belum jelas ke mana langkah kaki akan aku bawa.


Aku berjalan seperti orang gila. Tidak ada satu pun yang menyapaku. Kota aneh, entah berapa juta manusia yang berkeliran di sini, satu pun tidak ada yang memperdulikanku. Bisa aku sederhanakan manusia di sini belum menemukan kebenaran dari manusia itu sendiri atau mereka belum tahu, menjadi manusia itu untuk apa mungkin mereka mengira seperti kucing dengan cacing yang hanya berfikir untuk mengisi perut saja.


Tidak jauh dari hadapanku, aku melihat segerombolan mobil mewah lalu dari hadapanku, sebagian mobil-mobil itu bertuliskan coblos no 67 sebagiannya lagi, hanya tulisan, "Bersama kami, kita bisa untuk mewujudkan cita-cita bangsa."


Mobil-mobil mewah itu telah hilang bersama teriakan yang mereka genggam dalam tangannya. Pilih no 67, pilih no 67.


Ya akan saya pilih, jika rajanya mampu membuat kota ini menjadikan manusia seperti manusia.


Kaki terus aku bawa melangkah, bunyi klakson yang saling berbalas, suara-suara pekikan tak jelas dan serempetan kap-kap kendraan menjadi irama terbaik untuk perjalananku ditambah lagi dengan kabut dan asap knalpot kendraan membuat kota ini seperti panggung terbaik untuk mati.


Syukurlah para raja di kota ini sudah membuat sebuah tindakan, kata mereka bersama kami bisa untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Aku rasa cita-cita mereka adalah semoga mereka layak untuk disebut sebagai manusia.


Sudah hampir menjelang sore, aku belum tau mau berbuat apa. Hanya batu dan botol aqua bekas yang kadang terletak di sepanjang trotoar, sesekali sampah tak bertuan aku tendang ke selokan.


Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan seorang perempuan, ia meneriaki seorang laki-laki muda yang menarik tas dari tangannya. Hampir sepuluh kali ia berteriak, tapi tidak ada yang membantu, aku tidak mungkin karna itu sama saja aku membahayakan diriku. Jika ia memberikan perlawanan aku sudah pasti akan terluka bisa juga mati. Anehnya, pencuri tas itu malah berlari ke hadapanku, aku berpura-pura tidak tau, dan setelah kaki kanannya melintasiku, dengan cepat aku menodorkan kaki sebelah kananku pada kaki kirinya. Ia terpental lalu berguling-guling. Aku menatapnya seperti tidak tau saja. Tidak lama setelah itu perempuan yang ternyata sudah paruhbaya itu datang dan mengambil tasnya.


"Terimakasih nak," begitu ucapnya padaku setelah beberapa kali ia memukul-mukulkan tas miliknya pada pencopet itu.

__ADS_1


"Sama-sama buk," jawabku datar sambil


ingin pergi dari hadapannya.


"Tunggu nak!" Lanjutnya bicara, setelah hampir dua langkah aku berjalan. Aku hanya membalikkan tubuhku, lalu menatapnya dengan biasa.


"Ya, ada apa buk?"


"Ini ambillah!" Ia menyuguhkan beberapa lembar uang yang tidak aku tahu berapa jumlahnya.


"Oh, tidak usah buk. Saya membantu ibu itu ikhlas, jadi tidak usah dibayar." Perempuan hampir paruh baya itu hanya terkesima menatapku. Aku pun berbalik lagi untuk menendang botol aqua atau pun sampah yang tak bertuan.


Semakin lama, cahaya lampu mobil semakin jelas, itu hanya tanda ternyata malam betul-betul sudah hitam.


Aku pulang tanpa membawa apa-apa. Harusnya aku membawa uang, meskipun dari perempuan paruh baya tadi. Aku juga tidak mengerti kenapa sewaktu perempuan itu memberikanku uang, aku malah mengatakan, aku ikhlas membantunya, harusnya aku terima dan kalau perlu aku meminta lebih. Sialan.


Aku telah sampai di rumah, aku mendapati Ardi dan Anu sedang makan malam.


"Oh, ternyata kalian juga sudah pulang."


"Kami sudah dari tadi sore. Kamu dari mana saja?" Tanya Ardi padaku dengan nada sedikit gusar.


"Aku tidak dari mana-mana, haya mutar-mutar kota saja, berharap ada yang bisa aku kerjakan."


"Sudah ke temu?" Timpalnya sambil terus mengunyah nasi di mulutnya tanpa mengajakku untuk ikut makan.


"Sudah, tapi tidak ada yang mau menerima orang malang sepertiku.


Ardi tidak mengindahkan jawabanku lagi, setelah ia meminum segelas air putih lalu mengajak Anu untuk duduk di teras rumah katanya untuk mendinginkan badan. Aku tahu, mereka sudah tidak suka padaku, wajar-wajar saja, sebab hasil dari Eskapator tak sama galiannya dengan apa pun peralatan yang dibawa ke sawah.


Tidak apa-apa, aku yakin ini adalah cara terhormat untuk berpisah.

__ADS_1


setelah ini, Ladri akan melakukan perbuatan yang kejam. silakan dibaca epesode berikutnya.


__ADS_2