Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan

Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan
Kota Pertama Yang akan Membunuh Kami


__ADS_3

Awal pertama hidup di negeri yang kami impikan itu, betul-betul kami nikmati. Terutama Anu, ia tidak jadi hidup sebatang kara. Setelah aku bicarakan bersama Ardi, Anu tidak akan menjadi beban jika ia hidup bersama kami. Kebahagian seperti itu aku rasa tidak akan bisa diubah menjadi cerita terbaik karna dalam sejarah perbukuan kisah seperti kebahagian Anu itu belum pernah aku baca.


Saat itu kami bertiga sedang duduk di sebuah tempat rumah makan mewah. Aku memesan makanan kesukaanku, telur dadar dicampur dengan udang goreng. Ardi dan Anu juga memesan makanan kesukaan mereka.


Setelah itu, kami tinggal menunggu hidangan besar itu. Habis satu menit menjadi lima menit dan sampai kepada tiga puluh menit, makanan yang kami pesan belum juga datang.


"Ayo, mana makanan kami!" Begitu teriak Anu sedikit keras sambil memukul-mukul meja dengan telapak tangannya kadang ia juga melambaikan tangannya.


Mendengar teriakan panggilan itu, seorang perempuan cantik datang menghampiri kami.


"Tuan mau pesan apa?"


Aku sungguh tidak mengerti dengan maksud pertanyaan perempuan itu.


"Lho, bukannya tadi sudah kami pesan!" Perjelas Ardi sambil menatapku.


"Belum ada, tuan-tuan belum ada memesan. jika pun ada pasti akan segera kami hidangkan. Memangnya tuan memesan pada siapa?"


"Tu," tunjuk Ardi pada seorang laki-laki tua yang dari tadi hanya berdiri menatap kami.


Perempuan itu hanya senyum lirih dan mencoba untuk tidak tertawa di depan kami bertiga.


"Tuan, dia bukan pelayan, tapi dia itu pengemis yang sedang meminta makan ke sini."


Aku, Ardi dan Anu saling bertatapan, setelah itu kami bertiga mengalihkannya pada laki-laki tua itu. Spontan kami bertiga pun bicara bersamaan pada laki-laki tua itu.


"Kenapa tidak engkau beritahu kek, kalau kau bukan pelayannya!" Setelah itu kami bertiga pun saling bertatapan. Laki-laki tua itu hanya tersenyum simpul lalu pergi.


setelah makanan hebat itu dihidangkan, Ardi dan Anu betul-betul melahapnya, tapi tidak denganku, aku malah sudah merasa nyaman ketika pelayan cantik itu menghidangkan makanan ke hadapanku. Aku rasa ia tidak akan Tertarik pada manusia buruk sepertiku. Mana akan ada, perempuan yang mau pada laki-laki yang tubuhnya tak lengkap. Itu hanya mimpiku saja, hmm Tuhan tolong bunuh rasa cinta yang Ekau dewasakan dalam hatiku. Tolong Tuhan, supaya aku tidak tersiksa menanggung perasaan yang hanya aku sendiri yang tau, kalau jatuh cinta itu ibaratnya merawat luka yang sedang menunggu tanggal yang tepat untuk berdarah.


"Ladri, kenapa kau tidak makan?" Tutur Ardi padaku sambil melahap paha ayam kesukaannya. Mungkin ia merasa aneh dengan wajahku yang aku sembunyikan di samping lesung pipi perempuan itu.


"Iya, ini akan aku habiskan."


Sudah hampir sepekan aku dan Ardi juga Anu berkeliaran di tengah pusat peradaban. Sampai detik ini, belum ada pekerjaan yang bisa kami kerjakan.


Sunghuh sangat menyedihkan sekali, ketika di negeri kami, kami berpikir tempat ini adalah tempat yang layak untuk hidup, ternyata itu semua salah. Bisa aku sederhanakan, hidup di negeri seperti ini adalah awal yang buruk untuk berjabatan tangan dengan kedamaian. kenapa aku mengatakan demikian, karna di sini tidak ada satu manusia yang perduli pada manusia lain. Sangat memprihatikan sekali, ketika aku melihat seorang perempuan tua mendorong gerobok bututnya. Dari yang aku lihat, tidak ada satu pun hati yang berdetak untuk membantunya. Sungguh Surga terbaik bagi orang-orang yang terkutuk.


Kami bertiga tinggal di sebuah rumah kecil yang kami sewa selama dua bulan. Awalnya Anu akan kami suruh pergi, tapi setelah melihat batang tubuhnya Aku dan Ardi tidak sanggup untuk melepasnya begitu saja. paling tidak sebelum ia betul-betul mampu hidup di negeri ini, ia harus berpengalaman terlebih dahulu.


Saat itu kami bertiga sedang duduk tak teratur di dalam bilik. Ardi memulai percakapan.


"Bagaimana ini Ladri, sudah lebih sepekan kita hanya berpikir dan berpikir. Jika seperti ini, kita bisa mati kelaparan."

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu Ardi," aku mengeluarkan sisa uangku dan memperlihatkannya, "Ini uang terakhirku. Aku tidak percaya, uang ini bisa untuk memberikan kehidupan yang baik meskipun itu hanya dua hari."


Tiba-tiba Anu, masuk ke dalam kamar dan membawa tasnya ke hadapan kami.


"kau mau ke mana? Tanyaku sedikit gusar padanya.


"Tidak, aku tidak akan ke mana, aku hanya ingin memberikan ini."


Aku dan Ardi terdiam dan saling bertatapan.


"Dari mana kau dapatkan itu?" Tanya Ardi seperti tidak yakin dengan apa yang diperlihatkan Anu.


"Ini aku ambil sebelum pergi dari rumah ibu tiriku. Awalnya ini milik ibuku, tapi ayah memberikannya pada ibu tiriku. Aku rasa, aku tidak akan berdosa mengambil hak ibuku dari perempuan lain," timpal Anu sambil meletakan kotak berisi emas itu ke hadapanku dan Ardi.


"Aku rasa, jika emas ini kita jual, kita masih bisa berpikir sejenak untuk mencari pekerjaan," lanjutnya bicara sambil meneteskan air matanya.


"Kenapa kamu menangis?" Tanyaku pelan.


"Tidak apa-apa, aku hanya teringat pada ibu saja."


"Jadi"


"Tidak masalah, dari pada bersama perempuan jahat itu lebih baik kita jual untuk hidup kita yang lebih baik."


Buku yang dibawa Anu itu kami jadikan tempat perjanjiannya. Kalimatnya aku yang menulis karna Ardi percaya kalimatku sangat pasti untuk sebuah pengharapan.


Isi dari perjanjian itu,


Rabu malam, di tempat kontrakan pertama


dengan rahmat Tuhan yang maha kuasa yang telah memberikan kesehatan kepada penulis dan dua orang sahabatnya Ardi dan Anu. sehingga pada malam ini, kami bertiga berjanji tidak akan pernah berpisah kecuali ajal telah berangkat ke pangkuan Tuhan.


Tertanda, Ladri, Ardi dan Anu


Sejak saat itu kami mulai menemukan jati diri kami sesungguhnya, menjadi manusia yang layak untuk menerima catatan-catatan pahala dari Tuhan.


"Mari kita berjuang memerdekakan diri," teriak Ardi sebelum melangkah ke depan.


Kami bertiga siap berjuang, Aku lengkap dengan kostum terbaikku. Seperti biasa aku tidak akan lupa mengenakan topi kesayanganku untuk menutupi kepalaku, karna kepalaku tidak mempunyai hak untuk diperkenalkan pada mata-mata yang akan bertatapan denganku. Juga aku mengenakan baju panjang untuk menutupi tangan sebelah kiriku yang tak sempurna.


Maafkan akuTuhan, aku bukan tidak mensyukuri takdir yang Engkau berikan. Aku melakukan ini supaya hidup yang aku jalani sedikit menyamai manusia lain yang barangkali juga diam-diam sedang berusaha untuk melepaskan ****** dari kepalanya.


Ardi dan Anu juga sudah lengkap. Ardi memegang sebuah kotak kecil yang nanti akan diisi penuh oleh penikmat-penikmat dari penampilan kami, Anu memegang sebuah gitar kecil, dan aku selain topi dan baju panjang yang aku siapkan, aku juga sudah mempersiapkan beberapa syair yang akan kami dendangkan di tempat-tempat keramaian.

__ADS_1


Pertama kali kami menampilkan bakat kami di depan rumah makan yang kami datangi beberapa hari yang lalu.


Anu sudah memetik gitar di tangannya, melodi-melodi indah sangat menyatu dengan syair yang akan aku bacakan.


Aku menggenggam tanganku dan aku letakkan di dadaku.


Teruntukmu perempuanku,


sayang, rasa yang datang hari itu adalah rasa yang paling mendesak dalam dadaku untuk aku bahagiakan sendiri dengan caraku sendiri.


Hari itu engkau menyuguhkan sebuah kado istimewa ke padaku. Kau tau, kado itu sangat berarti sekali untuk keberlangsungan hidupku.


Terimakasih, kau sudah menelantarkan rasa cinta dalam dadaku.


Jangan ragu, aku akan membahagiakan rasa itu seperti aku berbahagia dengan siapa pun yang aku kehendaki.


Jangan khawatir, engkau tidak akan aku bayangkan bertelanjang, tapi akan aku bayangkan kisah paling romantis di atas dunia percintan.


Syairku telah siap aku bacakan, Ardi sedikit aneh menatapku, karna aku membacakan syair itu tidak seperti yang ia inginkan. Seharusnya aku membacakan syair yang bahagia tentang dunia, tapi aku mala bersyair tentang rasa cinta yang tidak akan pernah aku tahu bagaimana jika aku betul-betul menerima cinta dari seorang perempuan.


dengan rasa terpaksa, Ardi berjalan dan menyuguhkan kotak di tangannya kepada siapa pun yang ada di rumah makan itu. selain tepukan tangan yang tidak ada, kota di tangan Ardi juga tidak ada yang mengisi termasuk perempuan yang aku harapkan itu.


Kami pulang membawa harapan yang tidak terwujud. Di dalam rumah kami berdebat panjang, Ardi dan Anu memojokkanku.


"Harusnya bukan syair seperti itu yang kau bacakan, Ladri. Lihat dari yang kau bacakan itu, adakah yang memberi kita uang. Hari ini bukan waktunya untuk bercinta, tapi untuk menunjukkan bagaimana hidup itu sesungguhnya, seperti mengkritik pemimpin, atau pun mengkritik agama. Aku rasa itu akan sangat pas untuk masa seperti ini."


"Memang aku salah jika aku mengungkapkan cintaku pada perempuan yang tidak akan pernah mencintaiku. kalian tau, sepanjang usia yang diberikan Tuhan padaku, aku belum pernah mendapatkan cinta seperti ini."


Ardi dan Anu tidak bicara lagi, mereka hanya diam dan mencoba untuk meminta maaf ke padaku.


tiba-tiba seseorang masuk ke dalam rumah kami sambil bicara.


"Tidak salah pujangga, kau tidak akan pernah salah untuk meletakkan hatimu pada perempuan manapun termasuk aku."


Aku, Ardi dan Anu menatap perempuan itu dengan tatapan tak mengerti dengan takdir Tuhan.


"Bukannya..." Belum selesai Anu bicara perempuan itu langsung memotong pembicaraannya.


"ya, itu aku."


Baca episode 4 ceritanya lebih hebat lagi.


siapa perempuan itu sebetulnya dan apakah ia memiliki pengaruh pada kisah mereka bertiga, Ladri, Ardi dan Anu.

__ADS_1


__ADS_2