
Sekarang yang harus aku pikirkan bagaimana caranya untuk tetap hidup. Aku perlu untuk hidup, karna aku belum merasakan bagaimana jatuh cinta itu. Aku pantang untuk mati sebelum Tuhan memberikanku sedikit ruang kosong dalam hati seorang perempuan untuk aku bahagiakan, semoga saja dari syair yang aku tulis di mading kampus itu mampu memberikan sedikit harapan padaku.
***
Seperti biasa, Pagi adalah aroma terharum sepanjang waktu yang aku silang siurkan di kota ini. Tapi tidak dengan pagi kali ini, aromanya sangat busuk, sulit untuk aku beritahukan, kadang sudah seperti bau darah, sesekali sudah seperti bau bangkai manusia yang didiamkan selama setengah bulan, sangat busuk sekali.
Aku mengambil tas yang aku jadikan bantal tidurku tadi malam. Itu pilihan terakhir, sebab tidak ada pintu untuk tempatku pulang, jadi tertidur di dalam alam bebas adalah pilihanku.
Aku sempat menidurkan diri di depan toko-toko yang sudah tutup, tapi beberapa penjaga kota seperti satpol PP mengusirku pada akhirnya beristirahat di tempat kematian yang buruk adalah pilihanku.
Sebuah jembatan yang memang sudah direncanakan pemerintah untuk tempat pembuangan sampah dan bangkai-bangkai manusia.
Pagi itu aku kembali membawa batang tubuhku untuk berkelana. Semakin tinggi usia hari, rasa lapar semakin mendesak dalam perutku. Jika aku ingat-ingat baru kemaren pagi aku mencicipi makanan, itu pun makanan ringan yang aku beli di kaki lima.
Sekarang rasa lapar itu kembali menagih hutangnya dan tidak tahu dengan apa harus aku bayar. Tidak mungkin dengan batu, atau pun sampah plastik. Tidak mungkin.
Aku terus berjalan, tapat di persimpangan lampu merah, aku melihat beberapa orang bocah mendekati satu persatu mobil yang berhenti.
Aku melihat mereka bernyanyi dan menodorkan sebuah plastik pada pemilik kendraan itu, kadang ada yang memberi tapi sangat banyak tidak memperdulikan. Dan itu lah sebabnya aku tidak jadi mengamen melalui syairku karna manusia-manusia di kota ini tidak pernah tahu mereka hidup karna rasa kasihan dari orang lain pula. Dasar brengsek.
Tidak lama setelah itu aku melihat atraksi seorang pencopet. Ia menarik sesuatu dari dalam tas perempuan muda. Sangat mulus sekali ia melakukan itu semua. Tanpa keringat, ia langsung mendapatkan uang banyak.
Ya, aku harus bisa seperti dirinya. Jika tidak, aku akan menemukan ajalku di kota ini. Mati tanpa ada tangisan, paling menyedihkannya jasadku tidak akan ada yang mengubur. Hanya dibiarkan busuk lalu kering hingga menyatu dengan tanah.
Tidak, aku belum ingin mati. Aku harus bahagia terlebih dahulu, setelah itu terserah Tuhan, mau membunuhku silakan mau menyiksaku juga silakan.
Setelah berpikir beberapa saat, aku mendekati beberapa bocah pengamen itu, lalu mengajak mereka untuk bicara.
"Hei," teriakku sedikit keras di antara suara kendraan-kendraan yang membunyikan klaksonnya karna lampu merah sudah pindah kepada biru.
"Hei, aku yang panggil kalian."
Mereka menatapku, aku melambaikan tanganku supaya mereka datang.
"Kalian ingin bekerja dengan hasil yang lebih banyak?" Ucapku sedikit keras dan percaya seperti seseorang yang sudah memiliki usaha.
__ADS_1
"Ya, kami mau kak." Jawab seorang bocah dengan raut wajah bahagia. Mungkin saja nasibnya sama sepertiku, sama-sama menyedihkan, sehingga wajah yang ia perlihatkan itu sangat tepat sekali untuk ia tunjukkan padaku kalau aku mampu untuk menutupi sedikit rasa lapar mereka. Dasar manusia miskin.
"Tepat sekali," timpalku penuh semangat tapi tidak mereka semua yang bersedia ikut bekerja bersamaku. Hanya dua orang dengan wajah paling miskin dan paling *****. Tidak apa-apa paling tidak mereka berdua sudah bisa untuk menjadi kamera pengintaiku jika aku sedang bertugas.
Aku mengajak mereka pergi ke sebuah tempat yang sudah aku gambar sejak pagi tadi. Itu pun aku masih belum penuh percaya di tempat itu ada penghuninya atau tidak jika tidak ada, maka buat sementara tempat itu akan aku jadikan tempat persembunyianku juga tempat mengatur siasat dan rencana, atau orang-orang brengsek menyebutnya markas untuk memakan jantung saudaranya.
Sebelum sampai, 2 orang ***** di sampingku selalu bertanya,
"Kita mau ke mana kak?
"Tenang dan percayalah, pekerjaan ini seratus kali lipat lebih menjanjikan dari pada menjadi pengamen."
Aku melihat dua orang ***** itu saling bertatapan dan membisikkan angka seratus hingga mereka tersenyum lebar. mereka juga mengutarakan,
"Kak seratus kali lipat itu berapa?"
Aku tersenyum simpul sambil menatapnya.
"Serarus kali lipa itu tak terhitung, hanya mesin pencetak uang yang mampu menghitungnya."
"Iya mesin pencetak. Kita akan punya mesin pencetak uang." Timpalku sambil terus melanjutkan langkah.
Setelah masuk ke dalam gorong-gorong, dua orang ***** itu semakin merasa aneh.
"Sebetulnya kita akan bekerja apa," Bisik mereka berdua berharap aku tidak mendengarkan.
"Sudah tidak usah ragu, pekerjaannya sangat mudah. Kita sudah hampir sampai."
Setelah melalui beberapa bangunan tak berpenghuni dan gang-gang sempit yang telah mati, baru tampak lah tempat yang aku tuju.
Sebuah bangunan yang sangat tua, jika aku melihat dari tulisan-tulisan di dindingnya, mungkin bangunan ini adalah tempat bermusyawarah para pemimpin zaman dahulu untuk memutuskan warna bendara. Tapi untunglah bendera negeri ini tidak seperti lagu yang berjudul pelangi-pelangi. Jika seperti itu aku yakin bendera itu akan semakin mahal harganya karna biaya cat bertambah. Merah kuning Hijau tambah dengan biru, paling sedihnya harus di langit biru dikibarkan. Syukurlah, bendera negara ini tidak seperti itu.
Sebelum membebaskan diri untuk bicara dengan dua bocah ***** yang akan menjadi teman baruku, terlebih dahulu aku memperhatikan semua sudut dalam bangunan itu, mulai dari lantai pertama sampai latai terakhir.
Aku turun kembali, dan mengatakan, "Kita aman di tempat ini."
__ADS_1
"Kita mau ngapain?" Timpal salah satu dari mereka, yang belum aku tau namanya.
"Tunggu saja tanggal mainnya, aku sudah bermimpi bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan terbaik dari semua pekerjan."
Dua bocah ***** itu hanya senyum terkesima sambil menghitung-hitung uang yang belum tampak.
sekarang mari kita ke lantai akhir, kita di atas saja, supaya ketika ada tamu tak diundang ada yang datang kita bisa dengan cepat untuk menyambutnya, seperti membuat acara tari persembahan atau pun tari-tari yang lain.
"Memangnya akan ada tamu spesial datang ke tempat jelek seperti ini kak?"
"Ya, bisa. Kalau sudah lapar, apapun pasti dimakan salah satunya kita. Kita harus hati-hati, karna di luar sana banyak orang kaya yang masih lapar. Mereka membidik jantung orang-orang miskin, seperti kalian berdua."
Aku tertawa simpul.
Malam mulai muncul, saat itu angin sedikit kencang menampar pohon-pohon di sekitar gedung tua tempat kami tinggal.
"Ti dan Lol itu nama kalian berdua, kamu to," tunjukku pada laki-laki yang paling besar. Wajahnya hitam pekat, giginya kuning mungkin tak pernah disentuh pepsoden.
"Dan kamu Lol, tunjukku pula pada laki-laki paling kecil. Ia sedikit putih, rambutnya sedikit agak panjang, giginya teratur tidak ada yang mencolok. Barangkali ibunya berhasil mendidiknya untuk menjadi manusia bersih.
"Itu bukan namaku, kak!" Timpal To dengan Raut wajah menyedihkan.
"Sekarang kak lagi tapi bos. Sekarang aku bos kalian, paham!"
"Ia deh bos, kami paham."
"Nama itu hanya nama samaran, sudah tidak ada lagi yang komentar. Terima saja, itu sudah nasib kalian."
Mereka berdua bicara tentang nama yang aku berikan, "Bukannya To dan Lol itu adalah kata *****. Apa kita memang orang *****?" Kata To pada Lol.
"Sudah lah, tidak usah diperdebatkan. Kalau kita betul ***** mana mungkin Bos mengajak kita untuk bekerja bersamanya."
"Oh, iya juga ya."
Malam semakin dalam, aku dan dua anak buahku To dan Lol sudah hampir sampai pada titik di mana mimpi akan datang.
__ADS_1
Sebelum aku betul-betul terlelap, aku masih berencana untuk melihat syair yang aku tempelkan di mading Universitas besar itu. Ya, aku harus ke sana. Tujuanku pertama ke kota ini adalah untuk menemukan cintaku, jadi aku harus ke sana dan membuat syair berikutnya tentu jika ada yang membalas panggilan hatiku.