
Pagi itu sedikit cerah, aku dan Fariza, sedang bersiap-siap untuk pergi ke meja makan.
Sebelum anak tangga kami turuni, beberapa kali ibunya memanggil.
"Fariza, ayo kita makan dulu."
Bunyi alas sendal ala rumahan yang dipakai Fariza, sedikit berbunyi, klepak, klepak. Dari atas aku melihat ibu Fariza menatapku dengan sinis. Ia tidak tahu, kebahagiaan yang ia peroleh dariku, juga aku peroleh dari anaknya.
Aku duduk di atas meja, sama dengan posisi waktu kemaren. Aku duduk bersebelahan dengan Fariza, dan tepat di depanku ibunya, yang beberapa kali sudah memasang pandangan padaku.
"Pa, setelah ini aku dan Ladri akan pergi ke luar kota, mungkin kami akan sedikit lama untuk pulang."
"Kalian mau ke mana?" Gerutu ibunya sambil menahan nasi dalam mulutnya.
"Lho bukannya, selama ini ibu tidak pernah bertanya ke mana aku pergi. Kenapa kali ini ibu bertanya aku mau ke mana?" Wajah Fariza memerah, mungkin ia sudah tahu kalau ibunya juga suka padaku.
"Sudah, lagian mama kenapa? Biarkan saja mereka pergi. Biasanya ke mana pun Fariza pergi mama memang tidak pernah bertanya.
Perempuan hampir paruh baya, alias ibu Fariza itu menghempaskan sendok ke atas piring. Sontak aku , Fariza juga ayahnya terkejut.
Tidak lama, setelah ia menatap suaminya, ia pergi. Aku rasa ia masih lapar, tapi mendengar aku dan Fariza akan pergi entah ke mana, nafsu makannya buyar. Perempuan malang, sudah diberikan Tuhan satu laki-laki hebat, eh mala minta tambah.
*****
Sebuah mobil warna hitam dikeluarkan seorang supir dari bagasi.
"Pak Ujang hari ini aku saja yang menyetir," Pinta Fariza setelah laki-laki yang ia panggil pak Ujang itu keluar dari dalam mobil untuk membukakan pintu untuknya.
"Nanti bapak marah Non," Pak ujang mengernyitkan keningnya.
"Sudah saya beritahu Pak, kalau hari ini Pak Ujang bekerja di rumah saja."
Laki-laki hampir paruh baya itu, hanya diam dan merasa takut.
Fariza tidak memperdulikan itu lagi, ia langsung membuka pintu mobil dan mengajakku untuk masuk.
Awalnya aku tidak percaya, kalau Fariza adalah orang kaya raya sebab jika aku ingat, ia hanya pekerja serabutan yang mengharapkan keping-keping recehan. Nanti akan menanyakannya.
Mobil yang dikemudikan Fariza sudah masuk ke jalan kota. Hampir sepuluh menit aku menahan kalimat dalam mulutku. Aku belum menemukan waktu yang pas untuk memulai percakapan sebab ia terlalu asik mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh, Kangen Band, "Pujaan Hati"
Beberapa kali ia mengikuti lirik lagu itu, setiap kali di lirik Pujaan Hati ia selalu menoleh padaku saat itu juga ia memegang tanganku tanpa melihatku. Sungguh sangat membahagiakan sekali.
Tapi aku masih ragu dan hampir tidak percaya. Jika ia tahu kepalaku tak seperti kepala manusia pada umumnya, aku rasa ia akan jijik padaku karna jika aku melihat diriku dari cermin, kepalaku tak obahnya seperti anjing yang tak berbulu. Sama denganku, hanya saja kepalaku di tumbuhi beberapa tumpuk rambut dengan penyakit di antaranya. sangat menjijikkan, dan itu ada di kepalaku.
__ADS_1
Di persimpangan lampu merah, kendraan semakin padat. Tiba-tiba lampu berubah menjadi merah.
"Sial !" Bentak Fariza sambil memukul-mukul klason mobilnya. Bukan dia saja, tapi seluruh orang yang terjebak di lampu merah itu membunyikan klaksonnya.
Dari arah sebelah kiri, aku mendengar suara ketukan pintu.
"Jangan di buka !" Fariza menatapku dengan wajah penuh emosi, bukan padaku tapi pada kemacetan dan seseorang yang mungkin pernah senasib denganku.
Lampu merah telah berubah menjadi biru, bunyi klakson semakin kencang, juga klakson mobil Fariza yang tak henti-hentinya ia tekan penuh dengan teriakan kecil.
"Brengsek, belok kiri kenapa, ha itu yang warna merah, sudah tau tak muat, masih juga menyelip. Dasar tak punya otak." Ia bicara sendiri, aku hanya sebagai pendengar yang baik mihatnya emosi.
Keadaan jalan sudah semakin baik, wajah Fariza pun juga sudah sedikit layak untuk aku pandangi kembali, tentunya awal yang baik untuk memulai percakapan.
"Kalau aku boleh tahu, kita mau ke mana?" Aku menatapnya, ia juga menatapku, tapi tidak lama karna ia harus fokos kembali pada laju mobilnya. Hanya sesekali ia melihatku, itu kalau ia bicara.
"Lihat saja nanti, aku yakin kau pasti suka." Ia menatapku sambil senyum simpul.
"Baik lah, untuk hari ini aku akan menjadi pengawalmu dulu," balasku sedikit senyum padanya.
'Apa hari ini saja ?" Wajahnya mulai berubah, tapi aku yakin itu adalah kode dari kemanja-manjaannya saja.
"Ya, memang hari ini saja, karna hari-hari berikutnya aku tidak lagi akan lagi menjadi pengawalmu."
"Karna aku akan menjadi suamimu, jika hari ini kau ratu, berarti yang mengawalmu adalah adalah anak buahnya, dan aku akan menjadi raja yang akan membimbingmu dan menuntunmu pada kehidupan."
sontak mobil yang ia kemudikan itu berhenti. Tubuhku agak terperosok ke depan, ia juga demikian.
Ia melihatku, dan sangat tanjam sekali.
"Kenapa berhenti?" Tanyaku.
Ia hanya senyum, dan tiba-tiba mengarahkan wajahnya ke wajahku.
"Karna aku ingin menciummu," balasnya sambil melepaskan bibir dari pipiku.
Aku tidak bicara, haya mematung metapnya yang seolah-olah sudah lupa.
"Berhenti !" Aku memegang stir mobil itu.
"Jangan Lad, jangan! Nanti kita celaka !" Tanganya berusaha untuk melepaskan tanganku dari stir mobil itu. Aku melihat wajah yang ketakutan di mukanya.
Setelah itu, ia memberhentikan mobilnya ke sebelah kiri. Tanpa basa basi aku langsung memegang kepalanya dan menariknya sedikit kencang ke arah wajahku. Ciumannya tadi aku balas sekuat-kuatnya sampai-sampai ia pengap, napasnya juga sesak.
__ADS_1
Ia mentapku, aku kira ia akan marah padaku karna yang aku lakukan itu sudah di luar batas percintaan, "Mencium seseorang sampai sesak napas."
Napasnya masih sedikit sesak, tanpa basa basi, ia tarik pula kepalaku ke arah wajahnya. Saat itu juga aku menahan topi yang melindungi kepala jelekku. Aku tahan sambil merasakan ciumannya.
Bibirnya masih belum lepas dari pipiku, tiba-tiba bunyi klakson beruntun menghampiri kami. Suara-suara teriakan juga bermunculan.
Wajar saja mereka marah, karna Fariza tidak memberhentikan mobilnya dengan baik.
Mobil yang ia kemudikan itu melaju kembali dengan sangat gesit. Dengan enteng Fariza melewati kendraan-kendraan lain.
sebuah persimpangan, tapi jalannya tidak lagi padat, sudah lengang. Bahkan bisa menjadikannya tempat parkir.
Fariza membelokkan mobilnya ke jalan kecil itu.
Di dalam mobil itu tubuhku naik turun, Fariza juga demikian. Aku menahan pegangan di samping tempat dudukku.
Sialan, isi dalam perutku melonjak ingin naik ke atas.
"Berhenti dulu !"
"Kenapa?"
Aku tidak mengindahkan ucapan Fariza. Aku membuka pintu mobil sambil menahan sesuatu yang akan keluar dari mulut dengan kedua tanganku.
Aku berlari ke belekang mobil, lalu menumpahkan yang mendesak keluar dari perutku itu. Aku melihat Fariza dengan sudut mataku dari dalam kaca spion, ia juga melihatku.
"Kamu tidak apa-apa ?" Ia mengeluarkan sedikit kepalanya.
"Ya, aku tidak apa-apa, hanya sedikit mual saja."
Aku masuk kembali dalam mobil, perjalan ternyata masih jauh. Tubuhku, tidak sja naik turun tapi juga terombang ambing seperti ombak laut.
"Masih jauhkah Fariza ?"
"Meskipun masih jauh, tapi percayalah perjalanan panjang kali ini betul-betul akan memberikan keluarbiasaan dalam hidupmu, hidupku dan kita berdua.
Setengah jamberikutnya, aku sudah tidak sadar ternyata aku sudah di dalam alam mimpi. Aku tahu ini mimpi, karna setiap langkah yang aku bawa selalu di iringi dengan kata-kata yang tak berlut.
"Ladri kau akan bahagia hari ini, tapi setelsh itu kau akan segera menderita. Lupkan semua kebahagiaanmu di tempat itu." Sosok yang belum pernah aku lihat itu, haya memperlihatkan sedikit bayangannya lalu pergi."
"ladri, kita sudah sampai." Fariza menepuk-nepuk bahuku.
Aku membuka kedua belah mataku, dari kaca mobil aku melihat kebahagian yang sangat luar biasa.
__ADS_1
"Mari kita buat penderitaan dunia ini menjadi kebahagiaan yang tak terkalahkan"