
Suasana sangat hening, angin yang berhembus sedikit kencang. Aku dan dua orang anak buanku sedang mengendap-endap di sekitar taman bunga pemilik rumah itu.
"kau yang jaga di gerbang!" Tuturku pada Lol sambil menyuruhnya untuk sembunyi di belakang bunga di sebelah kanannya.
Suasana semakin ganas, angin menerpa pelepah-pelepah pohon yang sudah enggan untuk hidup. Suara dengkuran masyarakat sudah terpikir olehku, bahwa pemilik rumah ini sedang bermimpi dengan seorang pemulung yang memberikannya uang banyak.
Aku rasa ini lah waktu yang sangat tepat untuk mengambil kembali hak yang pernah mereka renggut dari batang leherku.
"To, mari kita lenyapkan semua omong kosong di negeri ini !"
Ia memberikan kode lewat tangannya, bahwa ia sudah siap menjadi pembrontak yang bersembunyi.
Seperti biasa, aku berhasil membuka pintu rumah itu. To, masuk terlebih dahulu, aku masih memandang kiri dan kananku, setelah semuanya aman, aku baru masuk. Aku memeriksa di lantai dua sementara to di lantai bawah. Aku masuk sebuah kamar. Pikiranku hanya satu, di mana pemilik rumah itu tidur berarti di sana juga lah ia menyimpan uangnya. Terlebih dahulu aku harus mencari ke beradaan pemilik rumah ini, di mana ia menyembunyikan matanya.
__ADS_1
Hampir lima menit aku berputar-putar dalam rumah besar untuk menemukan di mana pemilik rumah itu menahan suara dengkurannya. Setelah itu aku baru melihat sebuah lorong kosong yang tidak ada pintu satu pun. Aku terus berjalan, kira-kira lima belas langkah dari lorong-lorong tak berpintu itu aku baru melihat sebuah pintu. Aku hanya beranggapan, mungkin ini lah pintu kamar pemilik rumah ini.
Aku mencoba untuk membukanya, tapi terkunci. Aku tidak melihat lubang untuk tempat pengait di tanganku, tapi di samping pintu itu ada sebuah kotak yang berisi tombol-tombol gaib, "Mungkin saja ini rahasianya," Pikirku sendiri dalam hatiku.
Beberapa kali aku menekan tombol-tombol itu, mulai dari angka yang ada dalam almanak berketepatan angka tujuh bulan 4. Aku masukkan kedua-duanya, hasilnya tidak ada nihil. Setelah gagal, aku pindah ke pada angka yang tertulis di kepalaku, angka sembilan belas, angga gaib dan misteri, dimulai dengan angka pertama di akhiri angka terakhir, angka sembilan belas juga rajanya bilangan, angka yang aku pikirkan itu juga masih gagal, setelah itu aku menulis angka kelahiranku dan berharap angka lahirku adalah angka terbaik bagi pemilik rumah ini, sayang angka lahirku juga tidak bisa membantu, hanya penjelasan yang tertulis di bagian layar kecil dari kotak itu. Maaf kata sandi yang anda masukkan salah, silakan coba lagi. Mirisnya dalam layar itu menyertakan banyak kesempatanku untuk menekan tombol-tombol itu hanya lima kali dan ini sudah ke empat kalinya. Aku masih belum tahu bagaimana cara membuka pintu gaib itu.
Percobaan terakhir aku menekan angka dengan lebih sembarang lagi, aku sendiri pun tidak tahu berapa jumlah angka yang aku tekan. Hanya rasa marah yang semakin memanas dalam pikiranku setelah percobaan ke lima juga masih gagal.
Bgaimana mungkin aku bisa tahu berapa angka yang di tulis oleh seseorang yang tinggal di rumah besar ini. Siapa dirinya saja aku tidak tahu.
Namanya saja orang terpandang, wajar saja ia membenamkan dirinya dalam rumah tak bersudut.
Aku pindah ke lantai bawah, di sana To sedang mengakali bagaimana caranya membuka sebuah ruangan yang pintunya persis seperti pintu yang aku lihat di lantai dua.
__ADS_1
"Mari kita pergi, rumah ini tidak tepat untuk di jadikan sasaran."
Sebelum melangkah dan membuka jendela, dari luar aku mendengar suara bisikan, seperti bersiap-siap. Aku memberikan kode pada To, untuk tetap berjalan dan tenang.
Tiba-tiba hp di dalam saku bajuku bergetar, aku membukanya dan melihat, ternyata Lol yang mengirimi pesan.
"Bos di depan pintu ada 3 orang Polisi lengkap dengan senjatanya. Cari jalan keluar lain, aku mendengar percakapan Polisi itu dengan pemilik rumah, isi dalam pembicaraan mereka, katanya bos dan To menekan-nekan tombol dalam rumah itu, jika ia itu bukan tombol, tapi kamera pengintai. Cepat keluar bos, jangan sampai Polisi itu masuk. Cari pintu keluar yang lain."
To menatapku, dan aku memberitahukan padanya, kalau yang di depan pintu itu adalah Polisi.
Ia sedikit melototkan matanya padaku, mungkin ia ingin bertanya, "Jadi bagaimana?"
Aku berjalan dengan sangat pelan, menyembunyikan derap kaki dari kuping-kuping terlatih milik Polisi itu.
__ADS_1
Satu persatu lorong-lorong dalam rumah itu kami lewati kembali hingga To tidak sengaja menginjak sesuatu di bawah karpet.
Ia membuka karpet itu, dan ternya sebuah pintu rahasia yang entah ke mana tujuannya.