Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan

Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan
Menangis lah Ke Dadaku Sampai Kau Bahagia


__ADS_3

Setelah cukup lama berada di dalam rumah Fariza dengan beragam bentuk percakapan yang tak jelas, aku meminta izin pada kedua orang tuanya untuk duduk sebentar di teras rumah mereka.


Sebelum aku berdiri, ibu Fariza masih memainkan pandangannya padaku. Aku tahu, ia pasti sudah bosan dengan suaminya. Banyak alasan seorang istri jika mereka menumbuhkan rasa pada laki-laki lain. Seperti, keharmonisan dalam keluarga yang sudah memudar, keromantisan dalam kesunyian yang tidak hidup lagi dan masih banyak lagi yang tidak mampu dilengkapi oleh suaminya. Wajar saja ia mencintaiku dan aku juga wajar jika mencintainya dan juga anaknya, juga Nuri Ameliaku.


Aku dan Fariza sudah duduk berhadapan di teras rumah. Seorang pembantu perempuan datang lalu meletakkan dua gelas air berwarna di hadapan kami. Ia juga memandangku agak lain, aku rasa ia juga mencintaiku.


Ternyata itulah kelebihanku, meski rambut yang tumbuh di kepalaku tidak pantas untuk diperlihatkan tapi para perempuan tetap mencintaiku, meski tanganku tak sempurna mereka bersedia menerima genggaman jemari tanganku.


Sungguh hidup yang begitu hebat, ketika aku berpikir aku takkan pernah mendapatkan cinta ternyata aku malah bingung harus mencintai siapa, dalam waktu yang tak tertentukan. Paling tidak mereka akan mencintai aku sampai mereka telah tahu ternyata di kepalaku ada rambut yang tak jelas tumbuhnya. Bertumpuk-tumpuk. Sudah pernah aku cukur, tapi penampilanku seperti tuyul yang mengerikan, tapi jika rambut aku biarkan tumbuh aku sulit menjelaskannya seperti apa kepalaku. Sebab itu topi adalah ruh keduaku. Jika ia lepas dari kepalaku, maka aku akan mati untuk orang yang melihatku.


Ketika aku berkhayal, tiba-tiba Fariza melambai-lambaikan tangannya ke depan wajahku.


"Halo, orangnya masih adakah?" Gumanya padaku.


Sontak aku terkejut, dan bicara tak jelas pada Fariza, "Iya, aku mencintaimu," begitu ucapku sambil memperbaiki diri.


"Apa? Kamu mencintaiku?"


"Bukan, itu maksudku, aku hanya ingin bertanya sebesar apa cintamu pada pasanganmu?"


Aku berusaha untuk mengubah situsi setelah aku salah bertutur.


Ia senyum tipis, lalu mengangkat gelas yang terhidang di atas meja. Ia seruput setelah itu ia bicara kembali,


"Jika engkau ingin tahu sebesar apa cintaku pada pasanganku, maka aku harus mencintaimu, karna pasanganku adalah engkau." Ia meletakkan gelasnya tepat di samping gelasku.

__ADS_1


"Seperti gelas ini, ia takkan indah jika kedua-duanya di isi dengan air yang keruh tapi jika salah satu gelas ini kita isi dengan air berwarna pasti kedua-duanya akan indah jika disatukan. Seperti senja, ia tidak akan indah jika langit dan embun putih tidak menyelip di antara warnanya yang keemas-emasan."


Aku tidak mengindahkan ungkapannya. Aku tidak mampu untuk mengatakan kalau hatiku yang brengsek ini juga mencintainya.


Sungguh hati brengsek, siapapun perempuannya pasti ia cintai, membuat dadaku sesak.


Jika aku melihat ibunya, cinta juga tumbuh, sialan!


Melihatku tak bereaksi pada ungkapannya ia menatap mataku dan memintaku untuk mendengarkan ceritanya.


"Ladri, sebelum aku menyatakan cinta padaku, aku sudah sering menerima ungkapan cinta dari laki-laki lain. Aku sudah lupa berapa jumlah mereka, tapi ada beberapa laki-laki yang aku balas cintanya, tapi sayang cinta yang aku dewasakan dalam hati mereka malah mereka bunuh dengan sangat mengerikan. Mereka meninggalkanku ketika aku mulai menemukan rasa nyaman. Di antara semua kisah yang aku alami bersama laki-laki ada satu laki-laki yang menjalani hubungan denganku lebih dari pada dua tahun. Tidak sedikit kisah yang ia berikan padaku, termasuk ia juga memberikan benih anak dalam perutku. Tidak lama setelah itu, ayah dan ibuku tahu, kalau aku sudah hamil tiga bulan. Tanpa sepengetahuanku, mereka memberikanku ramuan yang membuat calon manusia dalam perutku meninggal dengan wujud yang tak sanggup untuk aku lihat."


Air matanya tumpah, mungkin ia tak kuasa mengingat kisah masa dulunya.


Ia belum berhenti bicara, saat itu aku hanya sebagai pendengar yang baik untuk kisah memilukan.


"Terimakasih jika engkau sudah percaya padaku."


"Ladri aku tidak perduli seperti apa masa lalumu dan latar belakang hidupmu. Yang aku butuhkan adalah hati yang mengerti tengangku bukun nafsu padaku juga harta orang tuaku."


Aku berdiri dan berpindah duduk di sebelahnya. Aku memberikan dadaku untuk tempatnya meluapkan air matanya.


"Tumpahkan lah semua air matamu, jangan ragu dadaku siap untuk menerima kisah memilukan itu. Aku akan menerimanya lalu meletakkannya di setiap kisahku yang tak pantas untuk ditangisi," Aku mencoba menenangkannya sambil membuka kedua tanganku untuk masuk dalam pelukanku.


Meski sangat aneh sekali, begitu lah kisahku. Aku mendapatkan cinta dari perempuan yang teramat cantik. Tidak ada kisah yang begitu hebat untuk ditangisi jika perpisahan datang mengucapkan kata, selamat bertemu kembali. Tapi ia mencintaiku, dan aku juga mencintainya.

__ADS_1


Setelah ia mulai lelah menjatuhkan air mata tepat di depan jantungku. Aku mengangkat kepalanya lalu menghapus air mata yang masih mengalir menuju bibirnya.


"Jangan pernah menangis lagi untuk semua kisah masa lalumu. Para laki-laki yang mentelantarkanmu itu adalah orang-orang yang paling merugi karena melepaskan cincin emas berbalut berlian dari tangannya ketika ia jatuh miskin. Sekarang tatap mataku, meski kita tak pernah membuat kisah romantis, aku akan berusaha untuk membahagiakanmu lebih dari pada kebagagian seorang ibu melihat bayi pertamanya lahir kedunia. Fariza, jika aku sedang tidak di dalam mimpi bolehkan aku memastikannya?"


Ia tertawa manja padaku, sambil menepuk-nepuk dadaku.


"Mana mungkin ini mimpi," begitu sanggahnya sambil melap kedua mata dengan telapak tangannya.


"Kalau ini betul tidak mimpi, berarti engkau orang pertama yang pernah aku peluk dan menangis dalam pelukanku."


Ia semakin menangis manja padaku, "Aa, kamu pasti bohong. Aku gak percaya."


"Fariza, jika engkau belum percaya silakan kau tanya siapa pun yang menurutmu ia tidak akan sanggup untuk berbohong termasuk tentang ucapanku tadi."


"Siapa, semua orang selalu berbohong,"


Aku memeluknya lebih erat lagi dan kembali menatap wajahnya kemudian bicara,


"Jika manusia sulit untuk berkata jujur, coba kau tanya Tuhan yang maha akan segala yang tidak pernah ingkar pada janji dan apapun itu. Tanyakan dalam hatimu, dan temukan jawabannya dalam do'a dan mimpi. Bukan Tuhan yang akan menyampaikan, tapi rasa nyaman yang kau peroleh dariku. Fariza, setelah ini aku ingin menceritakan kisahku yang belum pernah kau tahu."


"Ceritakan saja, aku sudah pasti tahu, ujung-ujungnya kau mengatakan kau mencintaiku seperti yang engkau utarakan tadi."


"Bukan itu."


"Jadi apa?"

__ADS_1


Aku masih berpikir jernih, haruskah aku memberitahukannya kalau aku adalah laki-laki brengsek yang sedang sembunyi di rumah calon pasangannya.


__ADS_2