
Suara kendraan dan bunyi klakson membangunkaku Setelah beberapa jam tertidur di bawah jembatan.
Aku menyeka kedua belah mataku, kemudian turun ke tepian yang sepertinya tidak pernah di sentuh oleh kanak-kanak.
Aliran sungainya sangat lambat, dan bahkan sama sekali tidak bergerak. Aku melangkah pelan menginjak beberapa batu. Sial! Aroma airnya busuk, berlumut dan yang paling mengerikannya, di setiap genangan banyak taik manusia bercampur dengan sampah. Aku tidak jadi cuci muka, juga berencana untuk berkumur-kumur aku lenyapkan dari kepalaku. Tidak bisa aku membayangkan mengambil air dengan telapak tanganku yang keruh akibat taik yang pecah, lalu mengusapkannya ke seluruh wajahku.
Aku berjalan kembali menelusuri pagi di setiap sudut kota. Jam terus berangkat, mengikuti pergerakan matahari. Trotoar yang menjadi landasan kakiku tak henti-hentinya memberikan pijakan pada telapak kakiku. Rasa lapar juga sudah meminta haknya untuk aku beri beberapa kepal makanan dalam tanganku.
Tuhan,
Aku melihat seorang perempuan tua menyedihkan, pakaiannya hancur, wajahnya kumuh, dan sepertinya ia sama sepertiku, sama-sama kelaparan. Ia duduk tepat di atas trotoar, menyuguhkan tangannya pada siapa pun yang lewat, mungkin juga aku.
Aku mendekatinya, dan melihatnya penuh. Aku terbayang pada nenekku yang tak pernah putus asa untuk mendewasakanku.
Matanya tak bercahaya, raut wajahnya sedikit merah, berminyak dan berabu.
Tuhan, kenapa di negeri kaya ini masih bayak orang kelaparan.
"Nek, nenek sudah makan?" Aku duduk di depannya.
Pelan ia menenggadahkan kepalanya untuk melihatku, Ia senyum dan bagiku itu adalah senyuman paling manis yang pernah ia sematkan di wajahnya.
"Sebentar lagi Nenek akan makan. Sekarang uangnya masih belum cukup untuk membeli nasi di tempat itu." Ia menunjuk rumah makan kecil yang dari tadi aku lihat selalu ramai.
Ternyata masih banyak manusia yang tidak bisa mengibaratkan bagaimana jika ibunya yang duduk di depanku ini.
Aku memegang tangannya, dan membawanya ke rumah makan itu.
"Aku mau dibawa ke mana?"
"Kita ke sana Nek," tunjukku pada rumah makan yang mungkin sejak dari tadi ia pandangi.
Ia tidak bicara lagi, hanya diam menatap wajahku dan berusaha sekuat tenaga untuk melangkah kan kakinya yang lemah.
__ADS_1
Sungguh sangat menyedihkan, Nenekku yang tersayang, melalui perempuan ini aku akan melihatmu kembali. Aku percaya ini adalah petunjuk darimu yang di bisikkan Tuhan padamu. Kalau aku akan merawatnya sampai masa kehancuran menimpa diriku.
Setiap langkah yang ia bawa sekian kali pula air mataku jatuh, melihat telapak kaki yang retak tak beralas menyusuri dunia yang amat keras dan kejam.
Dalam rumah makan itu banyak orang menatapku, mungkin mereka menyimpulkan dua orang menyedihkan masuk dalam rumah makan.
Aku menarik kursi untuk tempat duduknya, tangannya gemetar, bibirnya juga gemetar.
"Bu, cepat antarkan makanan ke meja ini!" Teriakku sedikit keras pada seorang perempuan yang juga sedang sibuk melayani pelanggannya.
Mendengar ucapanku itu, pemilik rumah makan dan beberapa orang pengunjung tidak lepas-lepas menatap kami berdua.
Lima menit kemudian, seorang pelayan datang dan menyuguhkan beberapa makan ke atas meja.
"Ini makanannya tuan," tuturnya, lalu mengatakan semoga bisa menikmati.
Bagaimana mungkin orang kelaparan bisa menikmati apa yang ia makan. Kata nikmat itu berarti betul-betul dirasakan, untuk orang seperti perempuan tua ini, tidak ada kata untuk menikmati. sedangkan untuk dikunyah saja sudah hampir tidak mampu.
"Ayo di makan Nek," ucapku setelah memandangi pelayan aneh itu.
Tidak semua makanan yang ia susupkan ke mulutnya tertelan dengan baik, sebab tangannya yang masih gemetar membuat nasi yang ia susupkan ke mulutnya berjatuhan.
Aku melihat itu, melihat air mata di wajah perempuan yang tidak pantas untuk menderita.
Setelah selesai makan, aku membawanya keluar, " Nenek tunggu di sini dulu, jangan ke mana-mana!" Ia hanya diam, dan sepertinya akan menunggu meskipun itu dalam jangka puluhan tahun.
Aku masuk kembali ke dalam rumah makan itu. Aku berdiri di depan kasir menunggu beberapa orang pelanggan memesan makanan dan ada juga yang membayar makanannya. Pas waktu giliranku, aku memberikan satu helai baju baru yang pernah dibelikan Fariza. Masih bermerk.
"Maaf buk, saya tidak punya uang tapi saya kasihan pada perempuan tua itu. Jadi untuk pembayarnya, aku ganti dengan baju ini, bagaimana? Kita saling membantu saja bu. Saya membantu perempuan tua itu, dan membantu saya untuk meringankan pembayarannya."
"Tidak bisa, kamu kira ini rumah makan barter." Perempua pemilik rumah makan itu memangil suaminya. Dari pintu yang tertutup tirai, keluar seorang laki-laki mengerikan, dengan tubuh besar, kepala licin mengkilap dan yang paling membuatku takut, dadanya jauh lebih besar dari pada dada istrinya.
"Ada apa, sayang?" Begitu ia tuturkan pada istrinya.
__ADS_1
"Ia tidak mau bayar makanannya." Tunjuknya ke arahku.
Laki-laki bertubuh kekar dan bringas itu mengalihkan pandangannya padaku. Matanya bulat besar, melototiku.
Tanpa pikir panjang, ia langsung memegang krah bajuku dengan kuat.
Semua orang dalam rumah makan itu, apa lagi perempuan hampir saja berlari ketakukan.
Untung saja istrinya dengan cepat mengatasi itu semua, sehingga para pelanggannya tidak jadi pergi dan tetap menikmati makanannya.
Laki-laki bertubuh kekar itu membawaku ke luar rumah.
sebetulnya, jika pun ia memukul aku sebanyak jumlah uang yang ia butuhkan, itu bukan masalah besar bagiku, tapi aku akan sangat malu pada diriku dan perempuan tua yang aku tolong. Ia melihatku ditarik dan di sudutkan di sebuah dinding. Ia tidak bicara, tapi cara air matanya yang berkaca-kaca sudah menjadi pertanda bagiku, kalau ia merasa bersalah.
"Bayar, kamu kira hidup di sini bisa kamu tukar dengan baju kaos." Satu pukulan menghantamperutku. Aku tersungkur. laki-laki besar itu menarik tanganku, ia pukul kembali, sambil melontarkan kata "Bayar"
Beberapa orang melihat kejadian itu, hanya memandangiku begitu saja.
Sebelum laki-laki bertubuh kekar itu meninggalkanku dan juga menyuruh semua yang menyaksikan pristiwa itu iya suruh pergi, ia masih mengucapkan kata-kata yang teramat pilu sekali.
"Kau tahu kenapa perempuan tua itu, tidak berani meminta makanan ke tempatku?" Ia menatap perempuan tua itu lalu melanjutkan pembicaraannya, "Karna ia sudah pernah senasip denganmu hari ini."
Ia mendorongku ke arah perempuan tua itu, lalu pergi.
Aku masih dalam keadaan terjatuh, tepat di samping perempuan tua itu. Aku melihatnya penuh senyuman. Sebelum ia bicara, aku sudah bicara duluan.
"Tidak apa-apa nek, itu sudah makanannya. Jika berani berbuat tentu harus berani pula bertangung jawab."
Meski tubuhku sudah babak belur, aku masih menawarkan diri untuk menggiringnya ke sebuah tempat yang aku lihat tidak begitu jauh dari sini.
"Mari Nek," Aku mengulurkan tanganku. Ia hanya senyum tipis sambil menahan air matanya yang berkaca-kaca untuk tidak pecah lalu tumpah.
Berlahan ia berdiri, dan aku kembali menggandeng tangan seorang perempuan. Aku tidak perduli, ia sudah punya suami atau tidak, yang pasti aku merasa senang jika memegang tangannya, dan tubuhku ingin sekali memeluknya.
__ADS_1
Dalam dadaku, sudah ada landasan tersendiri bagi siapa saja yang akan memeluknya. Fariza, ibunya, perempuan tua ini, dan yang paling aku kagumi, Nuri Ameliaku. Gadis dalam puisi.
Bagaimana kelanjutan berikutnya, silakan simak dan pantau terus ceritanya.