
Pagi muncul dengan kondisi tubuh yang lemah sekali. Hujan tidak deras, hanya cahaya matahari yang tertutup kabut tebal sehingga angin kencang berdatangan menampar apa pun yang ia lewati, termasuk diriku.
Pagi itu aku berangkat ke Universitas yang aku datangi beberapa musim senja lalu. Entah satu atau dua, aku sudah lupa. Penampilanku, tidak begitu-begitu buruk, aku memakai sepatu hitam dengan baju kemeja kotak-kotak berlengan panjang, yang wajib untuk aku bawa tentu topi hitamku. Topi itu memiliki kesamaan dengan jantungku. Jika jantungku tidak ada, maka aku akan mati begitu juga dengan topiku, jika ia tidak ada untuk menutupi kepalaku yang tak di tumbuhi rambut secara menyeluruh, maka aku juga akan mati.
Saat itu aku sedang bersiap-siap untuk pergi. Tentu sebelum pergi aku harus memberitahun pada dua orang ***** itu untuk tidak pergi ke mana-mana.
"To dan kamu Lol, jangan ke mana-mana Dulu, Aku sedang ada urusan di luar sebentar. Tunggu saja, cuman sebentar."
"Kalau kami lapar bagaimana bos?"
"Tahan dulu, usahakan untuk tidak lapar sebelum saya datang."
"Gimana caranya supaya tidak lapar bos?"
"Aihh sudah, tunggu saja dan tidak ada yang keluar, paham!"
Mereka berdua hanya mengangguk setelah aku memaksa mereka untuk tidak lapar buat sementara. Sebetulnya aku juga tidak tahu, seberapa lama aku akan pergi.
Aku sudah pergi, perlengkapanku sama seperti seorang mahasiswa hanya saja absensiku tidak ada di dalam kelas.
"Salam pak," tuturku pada dua orang scurity. Mereka berdiri sambil mempersilakan mahasiswa untuk masuk, termasuk aku.
Aku ia beri izin untuk masuk, sama sekali ia tidak curiga padaku, kalau aku bukan seorang mahasiswa tapi binatang yang sedang belajar meletakkan hatinya pada manusia.
__ADS_1
Aku sudah berdiri di depan mading besar itu.Banyak balasan syair yang aku tulis beberapa hari yang lalu. Sekitar delapan syair, dari nama yang berbeda.
Aku hanya berfikir, mungkinkah mereka akan hidup lagi jika melihat kepala dan tanganku. hmm, sangat mustahil mereka akan mencintaiku.
Dari delapan syair itu hanya satu yang aku balas, tentu syair yang paling hebat dan menyentuh hatiku, namanya, Nuri.
isi dari suratnya,
Ladri, semoga setelah ini engkau masih ingin membalas surat dalam karyaku. Meski hati tak pernah bertemu tapi jantungku sudah memberi tahukan, kalau engkau adalah dia yang disebutkan Tuhan ketika aku masih dalam perut ibuku, kekasihku.
Ladri, jangan penuh percaya pada yang kau lihat, karna aku yang tak tampak lebih memastikan.
Ladri, dalam do'a aku meminta, semoga Tuhan memberikan waktu luang untuk kita bertemu.
Syairnya hebat sekali.
Tak perlu waktu lama aku pun sudah selesai menulis kelanjutan dari surat dalam hikayat yang ia ratapkan padaku, tentu seekor binatang malang yang dibiarkan Tuhan menjadi manusia.
Nuri, sebelum gunung meletus engkau harus tau dulu siapa saja di lembahnya. Kau harus tau, supaya ketika memilih mati kau tidak kecewa, karna di lembah itu ada ruh-ruh yang pernah kau sayangi.
Jika aku samakan dengan diriku, sebelum kita berjalan dan berhenti di sebuah garis, kau harus menyesal terlebih dahulu supaya ketika bertemu, wajahmu tidak malu menatap wajahku yang penuh dengan kekurangan.
Nuri, bagiku tidak ada siang dan tidak ada malam untuk tempat berbahagia. Semuanya sama saja, karna aku lebih bahagia ketika aku memejamkan mataku dan berpikir untuk berbahagia denganmu dalam mata dan imajinasiku.
__ADS_1
Nuri, jika engkau berharap maka aku bermohon. Jika harapanmu untuk bertemu, maka permohonanku bersedialah untuk bertemu dalam waktu yang selalu terpaksa aku bahagiakan.
Salam dari aku Ladri.
Mahluk Tuhan yang selalu membawa mimpinya ke alam nyata
Surat yang tak bertuan itu aku gantungkan kembali tepat dibawah syair yang ia tulis.
Sebelum aku pergi, aku menatap beberapa orang perempuan yang sedang beristirahat di ruangan itu. Dengan cepat aku menundukkan kepalaku. Aku tidak ingin mereka tahu, kalau pembuat surat itu adalah aku.
Aku berjalan di antara mereka sambil menunduk dan sedikit memiringkan tubuhku ke arah lain.
Aku terus pergi tanpa ingin tahu seberapa cantik perempuan yang membalas surat dalan hikayatku itu. lebih baik aku tidak mengetahuinya, supaya hatiku tidak menangis lagi ketika aku sudah tahu ternyata ia sama dengan semua perempuan. Haram bagi mereka jika menjalin hubungan apa lagi menikah dengan se ekor manusia malang sepertiku.
Tiba-tiba seorang perempuan memanggilku,
"Kak, aku mahasiswa baru. Aku mau tanya kak, kalau Fakultas keguruan letakknya di mana?"
Sial, aku tidak mampu untuk menjawab pertanyaannya. Ke mana aku harus menyuruhnya pergi, satu ruangan saja aku tidak ada yang tau namanya.
"Aku juga mahasiswa baru, aku belum penuh tahu letak-letaknya."
Dengan cepat aku meninggalkan perempuan itu dan kembali pulang ke tempat persembunyianku. Aku rasa To dan Lol sudah tidak sabar menungguku.
__ADS_1
Di setiap langkah yang aku bawa, ingatanku hanya satu, bagaimana caranya perempuan-perempuan itu tahu, kalau aku sebetulnya bukan binatang tapi manusia yang sedikit memiliki kesamaan dengan binatang. Kalau binatang mereka tidak merasa berkeberatan dan malu jika punya tubuh yang tidak baik, seperti anjing. Mereka tidak akan sedih apa lagi menangis melihat tubuh mereka yang tidak berbulu. Aku tidak, aku tidak bisa seperti mereka. Jika aku melepas topiku, pasti semua mata yang tertuju pada kepalaku akan ketakutan. Karna kepala sepertiku ini adalah kepala yang tak layak untuk di beri mahkota meskipun itu ******. Sungguh sangat memprihatikan jika hidup pada batang tubuh seperti yang kutompang ini.