
Perempuan tua yang aku temukan di pinggir trotoar itu, sudah aku jadikan nenek. Meski kata nenek tidak pernah lagi bersemayam dalam mulutku, tapi kali ini aku akan mengucapkannya lagi pada perempuan yang entah ibu siapa yang di dalam mataku ia adalah ia yang pernah menjagaku.
Dari kejadian di rumah makan tadi, ia sangat kagum ke padaku. Dengan suara terbata-bata ia mengatakan, aku lah satu-satunya manusia yang pernah berjuang untuk menyelamatkan hidupnya dari rasa lapar yang tak putus.
Harusnya aku menawarkan tempat tinggal untuknya, tapi itu tidak mungkin karna aku juga orang melarat yang juga sedang berusaha tidak mati kelaparan.
Meski demikian, bukan berarti aku lebih unggul dari padanya. Toh tampangku saja tak layak untuk diperjuangkan.
Setelah mengatakan, tujuanku ke kota ini tidak lain untuk mencari sebuah keluarga yang belum di pertemukan Tuhan, atau sedang berjuang untuk mencari takdir tentang pernikahan yang kata Tuhan itu adalah rahasianya. Jodoh, rezeki pertemuan, maut.
Perempuan tua itu mulai tidak percaya kalau aku adalah orang mapan yang tidak perlu susah. Dari penampilanku saja, sudah tidak pantas untuk bahagia, jika pun itu bahagia hanya dalam mataku saja. Ketika aku sadar mataku telah tertutup pada saat itu lah aku akan memikirkan wajah perempuan yang paling pas untuk aku bayangkan menikah denganku. wajar saja ia berprasangka seperti itu. Apa lagi jika ia melihat kepalaku, bisa-bisa ia mati mendadak karna jantungan melihat kumpulan-kumpulan rambut brengsek tumbuh di sembarang tempat. Ada di tengah, di belakang, dan yang paling rimbun itu di bagian telinga, seperti kera dari Astralia.
Kami bercakap-cakap, sambil menelusuri jalan-jalan di tengah kota. Aku di sebelahnya,mengikuti langkah yang terombang ambing. Aku tidak tahu ke mana ia akan membawaku, yang jelas ia mengatakan kalau ia ingin membawaku ke rumahnya.
Bagiku itu sudah bagian dari hidup, entah kenapa aku bisa melihat wajah nenek di wajahnya, sehingga aku rela mengeluarkan beberapa tetes darahku untuk alat tukar makanannya. Sehingga, ia ingin membalas kebaikanku. Sewaktu aku bingung tidak tahu akan ke mana, ia malah menawarkan untuk tinggal di rumahnya. Sungguh luar biasa Tuhan membuat kisahku kali ini.
Jalan yang kami tempuh tidak begitu jauh dari tempatnya terpuruk tadi, hanya beberapa kilo meter saja.
Sampai di sebuah gang sempit, ia mulai senyum-senyum padaku.
"Apa kita sudah akan sampai nek?" Tanyaku sambil menatapnya. Ia hanya melihatku dengan sudut matanya lalu bicara kembali, "Sebentar lagi, kita akan sampai."
Sepanjang perjalanan di gang sempit itu, jarang sekali aku melihat orang di luar rumahnya. Hanya satu-satu dan mereka pun seperti mayat, tidak tahu menahu tentang perjalanan kami. Jangankan untuk bertanya, melihat saja mereka sudah merasa rugi. Sungguh mengerikan, orang yang agak kaya malah memiliki pantangan tidak boleh melihat orang miskin.
Sekitar 15 menit berjalan, keaadaan sudah semakin payah, jalan setapak yang di beberapa titik mengharuskan aku untuk menyingsing celana, karna genangan air. Dari situ aku sudah bisa melihat sebuah rumah kecil dan bahkan sangat kecil sekali.
"Apa itu rumahnya nek?" Tanyaku datar.
"Itu lah rumah nenek," senyumnya yang sumringah tampak dengan jelas sekali. Tentu, karna ia masuk ke dalam rumahnya tidak lagi dalam ke adaan kelaparan.
__ADS_1
Kami sudah sampai, bagiku rumah ini memang pantas untuknya, seorang pengemis. Tidak ada dinding beton, semuanya terbuat dari triplek bekas dan atapnya dari seng yang penuh dengan karatan. Sangat rendah, bahkan atapnya yang paling atas bisa aku sentuh dengan tanganku.
Ia mengambil kunci dalam saku bajunya, saat akan memasukkan anak kunci itu, tangannya gemetar, tak pernah pas, selalu melenceng dan akhirnya ia menyuruhku untuk membukanya.
Bunyi kunci terbuka jelas sekali ke gendang telingaku. Aku tidak mendorong pintunya, aku mundur selangkah untuk membiarkan tuan rumah yang masuk terlebih dahulu. Paling tidak, ia menjawab salamku jika kaki telah masuk ke dalam.
"Ini lah rumah nenek," Ia berjalan gontai ke arah dapur. Aku mendengar suara air jatuh, aku mengintip dengan sudut mataku, ternyata ia sedang mengambil air dari termos. Pantas saja suaranya sama dengan air yang jatuh di kampungku, suara air dalam termos jatuh ke dalam gelas.
Sambil melangkah untuk meletakkan segelas air hangat di atas meja kayu di depanku, ia mengutarakan pertanyaan, "Dulu kamu tinggal dengan siapa?" Ia ke dapur kembali kemudian datang lagi dengan segelas air hangat untuknya.
"Dulu aku tinggal dengan nenekku, dan jika nenek tidak tersinggung itu lah sebabnya aku tidak kuat membiarkan nenek terbujur tak berdaya di tepi jalan. Aku melihat wajah mendiang nenek di kampung, di wajahmu. Seorang perempuan yang menggantikan posisi ibu kandungku."
"Kenapa dengan ibumu?" Ia duduk di depanku sambil meniup air hangat dalam gelasnya.
"Ia meninggal saat melahirkan aku," wajahku mulai berubah. Aku memang tidak pernah kuat jika bercerita tentang ibu.
"Ayahmu?"
"Memangnya, kamu pernah membunuh?"
"Mana mungkin aku membunuh, maksudnya, saat ibu yang amat teramat ia cintai melahirkan aku, saat itu pula ibuku yang ia cintai meninggal dunia. Aku tidak pernah berencana untuk membunuh ibuku, dan kalau bisa aku ingin hidup sampai ibuku menyaksikan cucu-cucunya telah besar. Itu hanya angan-angaku saja, nyatanya aku adalah bayi malang yang dituduh ayah kandungnya sendiri telah membunuh istrinya, ibu kandungku sendiri. Sebab itulah, ia benci padaku dan bahkan pernah ingin membunuhku. Saat itu pula Tuhan memberikanku seorang wanita yang melahirkan ibuku. Hingga ajalnya datang menjemput, aku tidak pernah meninggalkannya. Sekarang ia sudah tenang di alam sana, bersama ibuku tercinta." Takku sadar ternyata air mataku telah mengalir di pipiku, aku hapus sedikit tergesa-gesa dengan ke dua tanganku.
"Maaf nek, aku sudah terbawa suasana."
"Nak, kata tetua zaman nenek dulu kalau kau menangis berarti satu masalah akan hilang. Jangan sungkan-sungkan untuk menangis, menangis lah sepuas-puasmu, kalau bisa tak pakai air mata lagi." Ia tersenyum padaku dan aku tahu itu hanya caranya saja untuk membuatku tenang kembali.
Beberapa saat hening, aku melihat beberapa poto hitam putih yang sudah buram, siapa orang dalam poto itu pun tidak jelas.
"Itu siapa nek?" Tanyaku membuka percakapan kembali.
__ADS_1
"Itu orang tua nenek, gambarnya di ambil sebelum nenek lahir." Ia berdiri, dan seperti mengambil sesuatu dari kotak kayu kecil di belakangnya.
"Ia punya satu keinginan yang tidak sempat aku kabulkan, ia ingin melihat nenek mempunyai seorang suami." Setelah bicara seperti itu, air matanya mulai berkaca-kaca, beberapa kali ia menenggadah menatap langit-langit rumah juga sesuatu di tangannya yang ia ambil dari kotak kecil tadi.
Aku tidak tahu harus berbuat apa, jika aku bertanya aku takut ia akan sedih dan air mata tertua miliknya jatuh sebelum waktunya. Aku memilih untuk diam, membiarkannya meluapkan itu semua padaku.
Banyak kejadian dan kisah masa lalu yang teramat pilu yang ia sampaikan padaku, sampai-sampai air mataku ikut berkaca-kaca.
Tiba-tiba dari luar aku mendengar suara panggilan. Aku tidak tahu siapa yang akan datang, tapi nenek sudah berjalan menuju pintu untuk membuka kunci kayu.
"Siapa nek?" Tanyaku sambil menatap pintu yang beberapa detik lagi akan terbuka.
*****
Siapa kira-kira orang yang akan datang itu ya, yang pasti bukan kamu, haha dan juga bukan aku, karna aku sudah di dalam sebagai tokoh utama.
Mungkinkah
Fariza
Ibu Fariza
Perempuan dalam puisi, Nuri Amelia
Atau To dan Lol,
Bisa juga Anu dan sahabatku dari kampung yang hilang entah ke mana.
Silakan pantau terus up berikutnya, setip hari 1-2 episode.
__ADS_1
Selamat membaca