Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan

Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan
Lubang Kecil di Sudut Kamar


__ADS_3

Pagi sudah datang, aroma mimpi yang baru aku lepaskan masih terasa di setiap titik tertentu di tubuhku, terutama dalam diriku yang kedua, ia tidak lagi kuat seperti beberapa saat lalu. Aih,,


Lantaran tempatku ini adalah tempat paling buruk, untuk bandit-bandit sepertiku, mereka tidak menyediakan lubang besar untuk tempatku menatap dunia luar, hanya lubang kecil di sudut dinding. Memang mereka sengajakan. Lubang itu keras terbuat dari besi, mungkin setiap pergantian hari aku akan tau, hari ini telah malam dan sudah pagi dari lubang kecil itu.


Saat itu aku mendekatkan wajah pada lubang kecil yang sedikit pas melingkari sebelah mataku. Dari lubang itu aku melihat batu dan beberapa pohon. Sial, tidak ada yang menarik. Anehnya, kenapa di tempat seperti ini ada lubang kecil.


Tidak berapa lama setelah itu, aku mendengar suara derap sepatu mengarah ke ruanganku. Suaranya lebih dari pada satu hentakan, tidak mungkin orang yang sama melangkah dengan kedua kakinya. Mungkin pagi ini aku akan mendapatkan sarapan yang enak.


"Ini sarapan, silakan dimakan bandit terbaik."


ia letakkan di depanku lalu pergi kembali, tanpa basa-basi menutup pintu.


Aku memang sudah sangat lapar sekali, aku mengambil piring yang ditutup dengan plastik hitam juga satu gelas air di sebelahnya juga ditutup dengan plastik hitam.


Aku membawanya ke sudut ke tempatku bisa melihat batu dan pohon. Aku melipat kakiku, dengan tergesa-gesa kemudian melepas plastik hitam pembungkusnya. Perasaanku langsung berubah, aku tidak tahu apa yang mereka berikan ini, seperti campuran taik orang miskin dan orang kaya. Warnanya kuning terpaksa, juga ada beberapa pembaur, tak jelas. Orang miskin kadang-kadang taiknya berdaun, seperti daun pucuk ubi atau daun-daun- yang lain, orang kaya, tentu taiknya licin, hanya saja kadang-kadang berwarna-warni, bukan indah tapi menjijikkan.


Satu sendok, yang bagian penampungnya sudah terbenam, aku tarik. Aihhh, Kental tak putus ikut memanjang, berlendir. Aku angkat lebih dekat ke arah hidungku, aromanya lain, aku keluarkan ujung lidahku dan berusaha untuk tidak terkejut dengan rasa yang akan aku terima.


Saat lidahku sudah menyentuh makanan itu, sontak tanganku bergerak kencang dan sendok di tanganku terjatuh. Rasa yang aku temukan lebih buruk lagi dari pada rasa makanan apa pun yang didiamkan selama dua puluh tahun. Aku langsung meneguk air dalam gelas itu, rasanya lebih buruk lagi, tak bisa aku sebutkan, seperti apa rasanya.


Aku meletakkan makanan dan air minum itu kembali di tempat pelayan tadi memberikannya padaku.


Hampir 10 jam kemudian ia datang kembali membawa makanan yang sama dan piring dengan corak yang sama padaku. Piring alumanium, yang sudah mereka rancang. Apa bila aku kecewa, piring itu sudah siap untuk menerima kemarahan dan kekecewaanku.


"Bagaimana, apa makanannya enak?" Ia tersenyum simpul sambil mengambil makanan pertama.


"Sudah, rasanya enak. Jika aku tahu, dalam penjara seperti ini makanannya enak, sudah dari dulu saja aku menjadi bandit. Atau, agar lebih tragis, aku membunuh satu kantor polisi, semuanya mati mengenaskan. Aku pasti tersenyum, karna aku akan di hukum lebih lama, tentu berkesempatan untuk makan yang enak-enak. Kamu mau membantu aku?"


"Untuk apa?"


"Keluarkan aku dari sini, sebentar saja."


"Untuk apa?"


"Untuk membunuh ibu atau ayahmu, agar aku dihukum lebih lama dan makan enak. Bagaimana kau mau?"

__ADS_1


Wajahnya langsung memelas, kemudian pergi meninggalkanku, terakhir ia tinggalkan suara hempasan pintu yang kuat.


******


Pagi itu, dua orang Polisi yang sama mendatangiku kembali. Dengan raut wajah sumringah ia menyapaku.


"Bagaima kabarmu?"


"Sehat sekali, bahkan lebih sehat dari padamu." Aku menatapnya dengan tajam.


"Owwhhh,, pagi-pagi sudah marah, sabar. Aku datang ingin memberitahukan padamu, bahwa sebentar lagi wartawan televisi akan datang menemuimu, dan jika engkau ingin keluar dengan cepat, kau harus jawab seolah-olah kamu pelakunya. Ingat jika kau mengatakan yang sebenarnya, maka usiamu di sini sudah bisa aku pastikan, sampai seumur hidupmu. Kau mengerti!"


Aku tidak bisa berbuat apa-apa, sudah aku coba untuk membela diri, tapi aku tidak punya saksi, kecuali mataku sendiri. Sudah pasti aku kalah karna, mereka mempunyai dua saksi. Meski saksi kaleng, sudah pasti mereka yang menang.


Aku tidak mengindahkan pertanyaannya. Siap dengan segala sesuatu adalah cara yang tepat utuk aman.


Mereka telah pergi, sesaat setelah itu 2 orang wartawan dan dua orang Polisi dengan persenjataan yang lengkap mendatangiku. Mereka berdiri di depan sel penjaraku. Satu orang wartawan memegang kamera besar, dan yang satunya lagi tepat berdiri di depanku. Sementara dua Polisi itu berdiri tegab di belakang mereka.


Wartawan itu mengajukan banyak pertanyaan padaku. Aku hanya menjawab beberapa pertanyaannya saja.


5 hari pertama aku masih dalam sel tahananku, apapun yang terjadi aku tidak di izinkan untuk keluar. Jika ingin buang air besar dan kecil aku melakukannya di dekat gambar perempuan telanjang itu. Bukan apa-apa, buang air sambil menghayalkan sesuatu yang sudah di depan mata aku rasa adalah cara yang mudah untuk menambah kebahagian di tempat seperti ini.


Hari ke enam, dua orang Polisi mendatangiku. mereka mengatakan hari ini adalah hari bebas.


Mereka menarik tubuhku keluar, kakiku masih sedikit ngilu akibat tembakan beberapa hari yang lalu.


"Silakan ke mana pun dalam ruangan besar ini, kau bebas berbuat apa saja itu pun jika kau mampu dan juga hati-hati dengan kematian, ia bisa datang jika kau salah tindakan. Ujung pistol ini tidak akan ragu mengeluarkan timah panas ke arah jantungmu atau supaya tidak menggelepar ke arah batang lehermu," mereka pergi samibil menghembus ujung pistol di tangannya.


Aku berdiri menatap semua tahanan, ada yang berkelahi, mungkin sudah sepekan mereka membuat perjanjian untuk berkelahi, barangkali untuk menjadi penguasa di tempat terburuk yang pernah aku lihat. Anehnya tidak satu pun dari Polisi itu melarangnya, mereka hanya tersenyum sambil bersiap untuk meluncurkan timah panas pada siapa saja, tentu yang melanggar peraturan.


Aku berjalan ke arah lain, aku melihat pertemuan antara keluarga tahanan. Ternyata memang betul bebas. Tiba-tiba seorang laki-laki remaja dengan tubuh kecil berjalan sedikit cepat ke arahku. Aku menarik tangannya.


"Hei, kau mau ke mana?"


Ia melihatku sedikit sinis, "Kau mau apa?" Begitu jawabnya sambil ingin pergi.

__ADS_1


"Tunggu, tunggu, aku ingin tahu kenapa di tempat ini ada hari bebas seperti ini?"


"Sudah syukuri saja, yang pasti jika kau sudah berada di tempat ini jangan kau berangan-angan untuk bisa keluar. Kau tahu, tahanan di tempat ini adalah tahanan paling mengerikan sepanjang sejarah. Jadi bersenang-senang lah, sebelum masa memilukan datang."


"Maksudmu?"


Ia tidak menjawab pertanyaanku lagi, ia hanya pergi. Sambil mengatakan, "Siapkan kuda-kuda sebelah kananmu."


Aku belum mengerti apa yang akan terjadi.


Tidak lama setelah itu aku mendengar suara sirinai dari sebuah posko penjaga. Semua tahanan langsung berlarian ke arah pintu besar yang aku lihat masih tertutup tapi tiba-tiba pintu itu terbuka. Aku tidak berbuat apa-apa memandangi itu semua aku rasa adalah cara yang aman untuk menghindari keburukan.


Tidak ada lagi yang tersisa, semuanya sudah masuk dalam lorong-lorong itu. Sangat jelas sekali suara teriakan kesakitan.


Pelan-pelan aku ikut masuk ke dalam lorong itu, semakin ke dalam semakin gelap hanya sedikit cahaya yang tampak jauh di ujung lorong itu.


Setiap kali aku melangkah, sekian kali pula aku mendengar jeritan suara kesakitan. Aku tidak bisa melihatnya, tapi dari yang aku dengar sangat banyak sekali orang-orang yang kalah dalam kegelapan ini.


Hampir lima menit aku melangkahkan kakiku dalam lorong gelap itu, tiba-tiba lampu menyala dengan cahaya yang sangat terang. Awalnya aku terkejut, tapi setelah cahaya itu mulai aman di mataku, aku mencoba untuk melihat dengan jelas. Sial, ternyata tidak 5 atau 6 orang yang terkapar di tempat ini.


Aku mendekati laki-laki remaja yang mengatakan padaku tadi, agar bersiap.


"Kau tidak apa-apa?" Tanyaku sambil mengangkat tubuhnya untuk berdiri.


"Aku gagal."


"Maksudmu?"


"Aku gagal dalam lomba ini. Ini yang aku sampaikan tadi, dalam lorong gelap ini kau harus mampu jadi yang pertama untuk menyentuh sel tahananmu. Jika kau menang, maka masa tahananmu di tempat ini dikurangi sebanyak 30 hari."


Aku berdiri dan menatap semua yang terkapar itu, "Mungkinkah aku bisa menjadi tercepat pertama?" Pikirku sendiri dalam hatiku.


Aku kembali lagi ke dalam sel tahananku menikmati cahaya dari lubang kecil dan jika aku lelah bisa berpindah pada gambar perempuan telanjang, jika aku ukur tingginya pas se daguku. Sangat mantap jika bercinta untuk kategori tubuh seperti itu.


Malam telah datang, aku berharap mimpi hebat datang menemuiku.

__ADS_1


__ADS_2