Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan

Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan
Ayah Bukan Aku Yang Membunuh Istrimu


__ADS_3

Aku masih di dalam perut ibu, jika aku tahu kehidupanku akan seperti ini, aku lebih baik menua dan terkubur dalam perutnya saja. Itu mustahil sekali, karna dalam sejarah penciptaan manusia dan kelahiran manusia atau pun kehamilan seorang perempuan, Tuhan belum pernah membuat sebuah keajaiban tentang seorang perempuan tua yang melahirkan seorang anak yang telah mati diusia tua pula. Itu belum pernah terjadi, jadi pikiranku itu hanya angan-angan yang takkan pernah terkabulkan.


Saat itu adalah saat di mana aku akan dilahirkan. Aku sedang bersiap-siap, tentu dengan membuka kedua belah mataku dan mulutku. Jika aku lahir, aku ingin melihat ayah dan ibuku, sebab hanya mereka yang selalu menyapaku ketika aku tidak bekerja untuk mengubah bentuk tubuhku di dalam perut ibu.


"Ayo jagoan ayah, kamu harus sehat dan kuat, agar ketika ayah tidak ada di rumah kamu bisa menjadi kebanggaan ayah untuk menjaga ibu."


Suara-suara seperti itu sering aku dengar, sampai-sampai aku lupa dengan masa kelahiranku. Dari dalam perut ibu aku melonjak ingin keluar, meski beberapa kali ada suara tak bertuan masuk samar-samar ke gendang telingaku,


"Jangan sekarang, belum waktunya,"


Aku tidak memperdulikan itu, pada akhirnya, aku pun keluar dari rahim ibu dengan kondisi tubuh yang tak sempurna sehingga tangan dan wajahku tidak terbentuk dengan baik.


Aku tidak menyalahkan siapa pun, tapi dari kejadian itu, ibu yang amat sangat dicintai ayah malah meninggal dunia karena tidak mampu menahan darah yang keluar dari dalam tubuhnya. Meski saat itu aku masih baru lahir, aku sudah mengerti dengan keadaan. Saat itu ayah menatapku dengan tatapan yang amat sangat garang. Matanya merah bercampur air mata, tangannya gemetar seperti ingin memukul tubuhku yang masih lunak.


"Pembunuh! Kau pembunuh! Kenapa kau muncul jika hanya untuk membunuh. Anak sialan!" Begitu kata-kata pertama ayah yang ia lontarkan ke dalam telingaku, sehingga aku tidak menangis saat aku dilahirkan. Karna bagiku tangisan itu adalah cara yang paling bahagia untuk menyambut pertemuan yang sederhana.


Aku langsung dibungkus dalam kain, seorang perempuan hampir tua langsung mendekapku dan melontarkan beberapa kalimat pada ayah,


"Apa yang kau katakan itu, jangankan untuk memeluknya, kau malah memberikan pengajaran yang tak baik pada dirinya. Lihat tubuhnya ini! Masih bergelimangan darah kau sudah mencacimakinya. Bagaimana jika ia tumbuh besar denganmu. Laki-laki sialan. Itu sebabnya aku kurang merestui pernikahan kalian, karna aku sudah percaya kau laki-laki yang tidak baik."


"Ah, masa bodoh dengan bayi pembunuh ini. Ibu, aku rasa ibu tidak akan ragu lagi pada cinta yang aku berikan kepada anakmu. Lihat semua pengorbananku, dari yang tak berada menjadi orang terpandang, dari yang kelaparan menjadi manusia yang serba berlebihan. Cinta dan kasih sayang yang aku berikan dan aku dapatkan dari anakmu melebihi cinta seorang ******* pada dosanya. Jadi, apa aku salah jika aku membunuh pembunuh ini!" Begitu kata ayah sambil menunjuk-nunjuk wajahku.


Nenekku tidak bicara lagi, ia hanya diam dan memelukku penuh dengan tangisan. Aku tidak tahu, rasa seperti apa yang ada dalam diri ayah, sampai-sampai ia mengatakanku pembunuh istrinya.


Waktu pun berputar, habis hari berganti menjadi minggu, bulan dan tahun. Tahun ini adalah tahun kedelapan aku hidup sebagai seorang pembunuh.


*****


Aku dipanggil Nenekku dengan panggilan Ladri, gabungan antara nama ayah dan ibu. Wulan dan Andri, dua huruf dari nama ibu dan tiga huruf dari nama ayah. Meski aku tidak pernah mengalami hidup yang layak seperti bayi-bayi yang lain, aku tidak begitu merasa kekurangan, karna aku percaya, tidak akan ada pula seorang perempuan di atas dunia ini yang mampu memberikan kasih dan sayangnya kepada makhluk Tuhan, meskipun itu anaknya sendiri. Dan aku mendapatkan itu semua dari seorang ibu yang melahirkan anak yang tak sempat sempat menyusuiku.


Sejak berumur delapan tahun itu pula, ia memberikan pesan kepadaku. Saat itu kami sedang duduk di pelantara rumah memandangi perubahan dunia yang semakin menua.


"Ladri, jika engkau merindukan ayah dan ibumu, pejamkan lah matamu dan bermimpilah, kalau engkau sedang berbahagia bersama mereka. Jangan berkecil hati, kebahagian seorang anak yang ia dapatkan dari ayah dan ibunya juga dapat dengan mudah engkau peroleh tanpa batasan di mana pun itu. Pejamkan lah matamu, dan tersenyumlah."


Saat Nenek memberitahukan hal itu padaku, sejak saat itu pula aku belajar untuk bahagia dalam mataku sendiri.


Tapi kebahagiaanku bersamanya tidak lama, hanya sepersekian dari umurku. Saat itu aku berumur tujuh belas tahun, Tiga hari setelah usiaku genap ia pun meninggal dunia. Aku tidak tahu, rasa seperti apa yang mendesak untuk aku teriakan melalui air mata. Sulit untuk aku beritahukan, hanya ayah yang teringat olehku, mungkin seperti ini lah rasa jika melihat orang yang amat kita sayangi telah tiada. Amat perih sekali. Mungkin itu sebabnya ayah membenciku, karna aku tidak mampu menggantikan posisi ibu sebagai permatanya. Tuhan jangan kau kenalkan siapa pun dalam hidupku, aku tidak mampu lagi menjadi saksi kematian pada orang-orang yang aku cintai.


*****


Nenek telah aku kuburkan bagaimana layaknya penguburan yang dianjurkan oleh Tuhanku. Sejak saat itu lah cerita ini akan bermula, kisah cinta yang sesungguhnya. Meski manusia tidak ada yang akan mencintaiku paling tidak, aku akan memejamkan mataku dan melakukan percintaan dengan perempuan manapun yang aku suka.


Perempuan-perempuan yang tidak akan pernah menjadi istriku, melalui kata yang paling romantis, aku meminta izin kepada kalian semua. Tolong biarkan aku bertelanjang bersamamu di dalam mataku. Tolong biarkan dan bebaskan lah dirimu dalam mimpiku.


*****


Pagi baru saja berlabuh membawa embun-embun dari langit. Aku duduk di tempat yang sering aku duduki ketika bercerita dan memandang penuaan dunia bersama nenek. Aku tidak bisa seperi ini saja, aku harus membuka mataku dan menerjang dunia yang sesungguhnya. Aku tidak ingin kekurangan pada tubuhku menjadi penghambat untuk keberlangsungan hidupku. Jika aku mati tanpa keturunan, maka garis keturunan ibu dan Nenek di dunia ini juga akan punah. Aku harus menikah dan berjuang keras pada perubahan dunia.

__ADS_1


Di atas meja ada segelas kopi yang berangsur dingin. Aku meyeruput beberapa kali kopi hitamku itu, setelah itu aku keluar dari rumah membawa batang tubuh yang barang kali akan menjadi do'a bagi siapa pun yang melihatnya.


"Ya Tuhanku, semoga anakku tidak seperti laki-laki menyedihkan itu." Jika memang ada yang berdoa melihatku, aku akan berdoa pula, semoga doa mereka dikabulkan Tuhan, karna menjadi orang sepertiku adalah pilihan hidup yang paling buruk.


"Hei, Ladri kamu mau ke mana? Jarang sekali saya melihatmu keluar dari rumah. Kamu mau ke mana?" Suara itu dari seseorang yang nasibnya hampir persis sama denganku, hanya saja ia tidak dituduh sebagai pembunuh dan tubuhnya juga lengkap tidak ada kekurangan sedikit pun. Kesamaannya denganku, kami sama-sama lahir tanpa disusui oleh seorang ibu. Namanya adalah Ardi. Aku mendekatinya, ia juga mencoba untuk mendekatiku sampai pada di bawah batang pohon di tepi jalan.


"Aku ingin ke luar dari dalam diriku, aku ingin melihat dunia nyata, dunia tanpa pejaman mata."


"Itu yang aku inginkan darimu, sahabatku. Sudah sejak dahulu aku ingin membawamu pergi dari negeri ini. Seperti syair yang kau tulis, negeri besar itu tidak mempunyai pintu untung pulang. Aku tahu, itu pasti rumahmu yang memenjarakan dirimu."


"Bagaimana jika kita pergi dari negeri ini, kita tinggalkan semua kisah dan kita mulai kisah baru. Di mana pun persinggahannya."


"Tapi,"


"Percayalah sahabatku, jika untuk mengubah hidup kita harus keluar dari hidup yang tidak ingin melihat kita berubah."


"Ke mana kita harus pergi?"


"Banyak tempat yang bisa kita tempati, meskipun hanya cerita, paling tidak sudah ada gambaran dari negeri besar itu, negeri yang semua sudutnya adalah pintu. Jadi kita tidak akan susah mencari jalan jika kita tersesat ingin pulang. Bagaimana?"


"Menurutmu adakah perempuan yang ingin denganku di sana? Aku ingin merasakan bagaimana jatuh cinta itu," timpalku sedikit memohon pada dirinya.


"Tak perlu kau ragukan tentang perempuan, Perempuan itu seperti besi, semakin besar magnet dalam tubuhmu maka besi-besi itu akan menempel dengan sendirinya. Tidak perlu tempatmu menompang, latar buruk tak menjadi masalah jika objeknya sudah pas untuk mereka kenakan di hatinya masing-masing apa lagi yang tidak mungkin.


"Maksudmu?"


"Kenapa begitu?"


"Supaya kau tahu perempuan itu tidak memandang rupa, tapi kepastian hidup lah yang mereka utamakan."


"Apa aku harus mencintai perempuan di dalam karyaku sendiri?"


"Jika itu dapat mengubah hidup, apa salahnya. Ladri, kau harus betul-betul konsentrasi pada sesuatu yang memiliki nilai tinggi dalam dirimu. Syair dan hikayatmu sangat merobek hati bagi mulut yang menyampaikan kisah itu pada hatinya. Aku percaya jika engkau menulis hikayat tentang seorang laki-laki tua dengan balon-balon merah dan kuning di tangannya, semua laki-laki tua akan menangis tapi tangisan itu adalah tangisan masa kanak-kanak yang tak sengaja mereka ratapi diusia tua karna tulisanmu."


"Baiklah Ar, aku akan mencoba untuk bermaaf-maafan dengan diriku."


"Itu baru sahabatku, tanpa basa-basi, besok kita pergi ke mana angin membawa kita."


*****


Aku sudah mempersiapkan semua perlengkapan yang akan aku bawa entah ke mana bersama Ardi. Semua kewajibanku sudah aku laksanakan terlebih dahulu, mulai dari menziarahi makam ibu dan orang yang paling aku sayangi, tentu Nenekku sampai dengan mencari tentang keberadaan ayah. Untuk ayah, aku tidak tahu di mana ia sekaran mungkin ia telah betul-betul lupa padaku.


Selamat tinggal pelantara rumahku, selamat tinggal kisah yang bahagia. Nenek, aku pergi, kisah kita akan aku perkenalkan pada dunia, bahwa ada seorang manusia menyedihkan yang memiliki Surga di bawah telapak kaki perempuan yang melahirkan seorang anak yang gagal memberikan air susunya.


Aku mulai berjalan, sesekali pandanganku masih kepada pelantara rumah. Aihh, Tuhan berilah aku kekuatan.


"Ladri kau kah itu?"

__ADS_1


"Ya, ini aku."


"Jangan tanya kita mau ke mana, ikuti saja naluri hatimu, jika tempat itu aman dan layak untuk kita singgahi maka di sanalah kita menetap."


Aku hanya mengangguk, tidak banyak bicara untuk mengindahkan semua penjelasannya.


Tidak lama setelah itu sebuah mobil lewat.


Ardi menghambat laju mobil itu, dengan cara berdiri tepat di tengah jalan sambil melambai-lambaikan tangannya.


"Pak apa kami boleh ikut?"


"Kalian mau ke mana?"


"Ke manapun bapak bawa kami ikut."


"Baiklah, silakan naik"


Ardi senyum tipis kepadaku. Tas yang entah berisi apa ia letakkan pertama di bak belakang setelah itu ia melompat. Aku juga mengikuti apa yang ia lakukan. Ia berteriak aku juga mencoba untuk bahagia dalam teriakan itu. Tiba-tiba dari balik terpal yang menumpuk ada seorang anak kecil yang tidak begitu jauh beda usia denganku, mungkin umurnya masih sebelas sampai dua belas tahun. Ia menatap kami penuh dengan keanehan. Aku dan Ardi juga saling melihat dan kembali melihat bocah itu.


"Kau siapa?" Tanya Ardi pelan.


"Aku Anu," jawabnya sambil keluar dari tumpukan terpal itu.


"Anu? Anumu," balas Ardi sambil senyum simpul padanya dan padaku. Merasa aneh saja dengan nama bocah. Anu.


Kami bercerita sepanjang perjalanan. Wajah kami hadapkan ke arah yang sama, sebuah bukit yang tidak bertuliskan kata selamat tinggal, tapi dari burung-burung yang berterbangan di pematang sawah sudah sangat jelas kalau mereka sedang mengucapkan hati-hati di perantauan.


Cerita kami semakin panjang. Anu mengatakan, ia pergi karna tidak sanggup lagi hidup bersama keluarga tirinya. sebetulnya ia punya ayah yang sangat baik padanya tapi ibu tirinya tidak. Sehingga pergi adalah cara terbaiknya untuk menentukan jalan hidup. Ya, paling tidak di dunia sananya nanti ia bisa menjadi pemungut sampah atau pun pengamen. Semakin malam kami pun terlelap.


Suara bising dan bunyi klakson masuk ke dalam gendang telingaku. Aku belum penuh sadar, tiba-tiba Ardi menyentuh-nyentuh pundakku, lalu berkata, "Ladri, Ladri, bangun. lihat! Kita sudah sampai, ini Surga Ladri, Surga!"


Aku menyeka kedua belah mataku, dan mencoba memandangi kemewahan yang luar biasa, Anu juga melakukan hal yang sama hanya saja ia sedikit berlebihan. Ia mengambil sebuah buku dalam tasnya, lalu ia gulung setelah itu ia susupkan lubung gulungan itu ke mulutnya dan berteriak.


"Heiiii, Hoiii, kami telah datang"


Aku dan Ardi hanya tersenyum.


mobil tumpangan kami telah berhenti di sebuah perjalanan yang bersimpang.


"Turun lah, perjalanan saya masih jauh. dan kalian tidak baik untuk ikut lagi karna tempat itu bukan tempat merantau. Menetaplah di sini dan berjuanglah."


"Iya, Terimakasih pak" jawabku sambil memberikan suguhan tangan tertanda terimakasih yang sebesar-besarnya.


Mobil itu telah pergi.


Sekarang tinggal manusia aneh yang berbaris di tepi jalan menatap dunia yang luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2