Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan

Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan
Surat Pada Perempuan Yang Tidak Mengenalku


__ADS_3

Setelah Ardi, Anu sepakat untuk pergi ketempat kontrakan baru mereka. Aku semakin bingun dengan diriku sendiri. Sebetulnya aku diciptakan untuk apa. Untuk apa Tuhan? Apa tujuan-Mu menciptakan manusia malang sepertiku. Apa aku harus melakukan perbuatan yang tak pernah diajarkan mendiang nenekku? Tuhan, aku lelah hidup pada batang tubuh yang malang ini, biarkan aku mati dan jika engkau masih kasihan padaku, hidupkan lah aku kembali pada batang tubuh yang baru yang memiliki kesamaan dengan mahkluk manusia yang Engkau ciptakan.


*****


pagi itu adalah pagi ke 37 aku memilih hidup untuk lebih baik. Meski sampai detik ini belum dapat aku raih, aku masih selalu berusaha. Jika aku ingat-ingat kembali, tidak sedikit lagi tempat yang aku ratapi agar mereka menerimaku sebagai karyawannya.


Menjadi pelayan rumah makan, pelayan di kafe-kafe yang buka 24 jam, kuli bangunan, banyak yang aku datangi, sayang satu pun tidak ada yang bersedia menerimaku. Itu dikarnakan nasib hidup yang terlalu malang yang menimpa diriku. Setelah mereka tahu ternyata tangan kiriku tidak terbentuk dengan sempurna, mereka mengatakan tidak bisa menerima karyawan cacat sepertiku.


Tuhan! Beri aku petunjuk, agar aku bisa melanjutkan takdirku sebagai manusia.


Ketika aku berdialog dengan hatiku sendiri, tiba-tiba ada suara gedoran pintu. Sangat kuat sekali, di antara suara gedoran pintu itu ada suara pangilan padaku, pada Ardi juga pada Anu. Jangan-jangan pemilik kontrakan.


Dengan cepat aku membuka pintu itu, ternyata benar ia ibu Ningsig pemilik kontrakan.


"Bayar, uang kontrakan kalian! Bayar! Cepat bayar!"


suaranya kuat dan menghentak-hentakkan kakinya. Jika hanya ia sendiri aku pasti tidak setakut ini, tapi ia tidak sendiri, ia dikawal oleh dua laki-laki bertubuh kekar.


"Bayar, mana bayar! Kamu kira hidup di kota ini gratis. Gundulmu mungkin gratis. Mana uang kamu, mana?"


Aku sangat terkejut mendengar teriakannya. Aku betul-betul tidak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


"keluarkan semua barangnya," begitu perintahnya pada dua orang laki-laki yang berdiri di sebelah kanan dan kirinya.


Tanpa pikir panjang, laki-laki bertubuh kekar itu masuk ke dalam kamarku dan membereskan semua barang-barangku. Hanya tas hitam yang ia lemparkan ke hadapanku.


"Pergi!" Teriak perempuan itu kembali padaku. Jari telunjuk di tangan kirinya menunjuk sebuah gerbang pintu untuk jalanku keluar.


Aku tidak bicara sama sekali, mungkin ini lah saatnya aku akan menderita.


Aku melangkah pergi, tidak tahu mau ke mana jika aku mencari Ardi dan Anu, ke mana aku akan mencari mereka. Jika pun itu bertemu mereka sudah pasti tidak akan menerimaku.


Aku di pinggir taman kota, di depan taman itu ada sebuah Universitas yang sangat besar. Gerbangnya terbuka, sepertinya memberikan izin pada siapapun untuk masuk. Aku melihat itu semua, aku melihat mahasiswa-mahasiswa hebat lalu lalang dari gerbang itu tidak tertutup kemungkinan pula aku bisa masuk meskipun untuk menjadi sampah terbaik.


Aku berjalan mengikuti beberapa orang perempuan. Aku berjalan di belakang mereka, tapi tak satupun dari mereka yang perduli atau pun ingin melihatku.


Aku terus berjalan seperti mahasiswa. Aku juga menyandang tas dan memakai sepatu hitam, hanya saja aku sendirian dan tak pernah mau membuka topinya.


Aku duduk di bawah pohon pelindung, sambil menikmati hidup yang sebetulnya tidak pantas untuk aku dapatkan. Jika aku melihat semua perempuan, aku betul-betul mencintai mereka semua. Hmm, mungkin aku harus menjadi laki-laki gaib yang akan memberikan hatinya pada perempuan manapun.


Saat itu aku menulis sebuah syair yang nanti syair itu akan aku rekatkan di mading-mading besar di kampus ini. Aku yakin pasti akan ada yang membacanya, karna mereka adalah orang-orang hebat yang akan merasa mati jika tidak membaca.


Aku mengambil selembar kertas koyak yang tidak begitu jauh dari hadapanku, lalu aku perbaiki beberapa kali. Aku mulai berpikir dan berimajinasi, tentang surat cinta pada perempuan yang tidak akan pernah mencintaiku.

__ADS_1


Terlebih dahulu aku mengambil pensil yang sudah hampir habis dari tasku. Pensil itu sudah ada sejak aku masih bersama nenek dan selalu aku bawa ke manapun aku pergi. Aku mempergunakannya untuk menulis segala sesuatu yang aku bahagiakan dalam mataku. Tapi kali ini tidak. Aku tidak akan menulis kisah dari dalam mataku, tapi dari perempuan yang aku lihat.


Sebuah syair untuk seluruh perempuan yang nanti salah satu dari kalian akan menjadi ibu yang baik dari sekian banyak anakku.


Aku panggil saja dirimu sayang.


Sayang, siapa pun dirimu, aku sangat menyayangimu. Simpulnya, aku lebih khawatir engkau sakit dari pada aku mati.


Tidak perlu kita menikah dalam dunia ini, tapi aku meminta izin tolong biarkan aku membayangkanmu menjadi istriku dalam mataku.


Sayang, kamu tahu, sampai detik ini aku belum pernah tahu bagaimana rasanya jika perempuan yang aku sayangi memegang tanganku untuk berjalan bersama ke sebuah tempat. Aku tidak pernah mendapatkan itu.


Jadi tenanglah aku bukan ******** yang mengincar kenikmatan dalam tubuhmu. Tidak, aku tidak perlu itu, yang aku inginkan hanya keikhlasanmu pada laki-laki malang sepertiku.


Maaf aku bukan orang gila yang mengungkapkan perasaannya pada seluruh perempuan.


Tertanda, Ladri mahluk Tuhan yang paling malang.


Setelah syair itu aku tulis, aku mencari tempat yang pas untuk menggantungkan nasibnya. Adakah yang bersedia membacanya atau tidak.


Sebuah mading berukuran besar terpampang di depan sebuah ruangan tempat para mahasiswa untuk beristirahat. Mading itu memang dibuat untuk tulisan-tulisan seperti syairku. Aku menempelkannya, setelah itu pergi kembali menapaki hidup yang entah ke mana akan aku bawa. Paling tidak aku sudah berusaha untuk mengabulkan permintaan hatiku akan seorang perempuan.

__ADS_1


Aku terus berjalan dan berjalan, belum ada pintu yang bisa aku buka untuk pulang. Semuanya masih tertutup rapat tanpa bisa aku buka dengan kunci apapun.


__ADS_2