Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan

Pada Bibir Siapa Air Mata Ini Akan Aku Jatuhkan
Mimpi Sialan


__ADS_3

Suara angin dari luar, masuk dari celah-celah jendela pintu kamar. Suara gonggongan anjing kelaparan sesekali memberi kegaipan.


Aku memejamkan mataku, siapa kah kiranya yang membuka pintu itu.


Suara hembusan napas itu semakin dekat, dan jantungku semakin berdetak kencang. Aku sadar dan aku tahu, ia pasti ibu Fariza. Tapi aku memilih ia yang membangunkan aku untuk berjibaku dengannya malam ini.


Selimutku bergerak, seperti ditarik. Aku tetap tidak perduli, aku biarkan saja dulu, sampai di mana nanti ia akan melakukannya.


Selimut telah lepas dari seluruh tubuhku, aku merasakan jemari tangan menyentuh tanganku.


Sialan, jantungku semakin kencang. Aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi. Aku membuka mataku. Semuanya gelap, ke mana kebahagianku tadi.


"Kebahagianmu sudah pergi."


"Kamu siapa?"


"Kamu lupa padaku? Aku adalah dirimu, sosok yang pernah hadir dalam tidurmu."


"Jadi ini mimpi?"


"Ya ini mimpimu, kau terlalu bahagia sehingga jantungmu tidak berdetak dengan stabil. Pada akhirnya kau jatuh ke dalam dunia yang bebas untuk aku datangi."


"Tidak mungkin !"


"Apa kau sudah bersiap untuk melihat Neraka dalam dunia? Sebentar lagi, tunggu lah, kau akan segera menangis tanpa kisah yang hebat."


"Pergi!"


Suaraku teriakanku membuat semua yang ada dalam rumah itu terbangun. Fariza membangun-bangunkanku. Ia menyentuh tanganku, sambil memanggil-manggil namaku.


"Ladri, kamu kenapa?"


Aku tidak bicara, aku hanya melihat ibunya dengan sudut mataku, ia juga melihatku.


"Kamu kenapa Ladri? Apa kamu bermimpi?"


"Iya, aku bermimpi. Dalam mimpi itu ada sosok aneh yang memperkenalkan kematian padaku. Katanya, aku mati bukan di tangan Tuhan, tapi di tangan manusia."

__ADS_1


Aku memperlihatkan wajah seperti takut, betul-betul takut supaya mereka betul-betul yakin, aku memang bermimpi.


Papanya cuma sebentar, setelah tahu itu semua hanya mimpi, ia pun pergi kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Itu sebabnya, jika akan tidur jangan lupa baca do'a dulu, agar mimpi-mimpi buruk itu kembali pada malam yang mengutuknya. Oh iya, bukannya tadi kau tidur bersamaku. Kenapa sekarang kamu tidur di sini?" Fariza menatapku penuh.


"Aku tidak enak saja pada orang tuamu, masak anak gadisnya tidur dengan laki-laki yang belum menjadi suaminya. Jangankan Tuhan, orang biasa sekali pun akan marah jika yang kita lakukan ini mereka ketahui."


Perempuan hampir paruhbaya itu mengedipkan matanya padaku lalu pergi ke dalam kamarnya.


Aku tidak memperdulikannya lagi, bagiku kebahagiaan dengannya bukan kebahagiaan yang baik. Hanya omong kosong belaka untuk menakut-nakuti detak jantungku saja.


Aku merebahkan tubuhku lagi, tapi kali ini Fariza yang menjadi selimutku. Ia tidak pergi ke kamarnya, ia malah memilih untuk tidur bersamaku.


Sebelum mata ia pejamkan ia masih bicara padaku, "Ladri, tolong kau jaga tubuhku dari mata siapa pun yang ingin memandanginya, sebelum mata itu menikahi mataku."


Ia menguap, aroma napasnya masih wangi dan aku akan sangat sulit untuk melupakan aroma seperti itu.


Di atas dadaku ia letakkan kepalanya, jangankan hembusan napasnya, detak jantungnya saja jelas terasa ke tubuhku.


Aku menatapnya penuh, setiap tanda yang ada di wajahnya aku lihat. Aku melihat sebuah tanda yang menempel pas di bagian urat lehernya. Tanda itu berwarna hitam seperti tahi lalat. Di antara matanya, ada sekelompok pasukan yang juga berwarna hitam berbaris indah mewarnai matanya. Aih, sungguh indah dirimu Fariza. Andai aku masih mempunyai malam setelah malam ini, barangkali esoknya kita sudah akan resmi menjadi pasangan suami istri.


Dalam kegelapan yang tak bertepi itu aku berteriak memanggil sosok yang selalu hadir dalam tidurku.


"hei, jiwa-jiwa yang tidak memiliki jasad. Tunjukkan wujudmu," mataku liar menatap segala sudut yang tak tampak dalam kegelapan itu.


Angin menerpa diriku, aku terperosok ke sebuah benda keras besar.


Cahaya gelap itu mulai berwarna, bukan putih warnanya tapi serupa malam yang di penuhi kabut kegelapan.


Aku berdiri dan memperbaiki posisiku, sosok yang selalu muncul tanpa wujud itu muncul di hadapanku. Wajahnya sama denganku, sama-sama memilukan.


"Kau," aku menatapnya seperti tidak percaya dengan jasad yang ia kenakan.


"Ini lah aku, Ladri. Dulu aku pernah mengatakan padamu, kalau aku adalah dirimu yang paling baik. Aku muncul bukan berarti aku mampu mengalahkan sosok hitam pekat dalam mimpimu."


"Jadi ?"

__ADS_1


"Ini kedatanganku terakhir dalam mimpimu sebagai kata-kata yang selalu ingin mengubah hidupmu. Jika engkau mendengar suara yang bertentangan dengan kodrat Tuhan, itu bukan aku, tapi sosok hitam yang akan bebas masuk ke dalam mimpimu sepanjang engkau masih tertidur. Sekarang aku pergi, kepergianku ini adalah janji dengan junjungan kami, jika engkau tak lagi di jalan yang baik, maka kebaikan akan mempersiapkan diri untuk pergi. Harusnya malam ini dan malam-malam berikutnya aku masih bisa hadir di setiap mata yang kau pejamkan. Sayang, kesempatan terakhir itu malah kau nodai dengan seorang perempuan yang tidak halal bagimu."


"Maksudmu,?


"Kau telah mengotori dirimu dan jiwamu di hadapan Tuhan. Harusnya kau melakukan itu bukan usia hari ini, kau masih mempunyai tahun yang harus kau tempuh. Kau melawan takdir Tuhan Ladri, dan kau akan menerima ganjarannya. Sebagai ruh keduamu, aku meminta izin untuk pulang, ke tempat di mana aku akan di istirahatkan Tuhan. Selamat malam Ladri, jika kau rindu ingin bertemu denganku maka pejamkan lah matamu dan bayangkan kalau engkau sedang bermimpi bertemu dengan kata-kata yang tak pernah habis untuk menasehatimu."


"Tunggu !"


"Sudah, tak perlu kau cemaskan ia lagi."


"Apa kau sosok hitam yang disebut-sebuatnya itu?"


"Ya, aku lah sosok hitam itu, kata-kata yang akan selalu mengajarkanmu bagaimana caranya bahagia. Sekarang yang harus kamu pikirkan bagaimana caranya bahagia di sisa hidup dalam alam bebas. Ingat Ladri, kau akan segera menemukan penderitaan. Apa kau mau menderita se umur hidupmu? Tidakkan, jadi temukan kebahagiaanmu. Ibu dari Fariza sudah kau setubuhi tanpa kau tahu, karna sosok putih yang berpura-pura baik itu menidurkan dirimu hingga kenikmatan itu tidak ada kau peroleh. Sekarang, bangunlah. Lihat wajah Fariza, ia sudah siap untuk berjibaku denganmu."


Dengan begitu saja mataku terbuka, aku melihat Fariza tidur. Masih sama seperti tadi, aroma napasnya masih wangi.


Barangkali memang betul, aku harus betul-betul bahagia, sebelum kemalangan menimpa diriku.


Aku mencium kening Fariza, kening adalah tanda kalau aku meletakkan cinta terlebih dahulu sebelum nafsu.


Ketika bibirku akan terdampar di bibirnya, matanya terbuka.


kami saling bertatapan, sangat singkat sekali, aku langsung melepaskan tatapan itu dan kehabisan akal untuk berkilah pada Fariza.


Bukannya marah padaku, Fariza malah senyum tipis dan seperti ingin aku ulangi kembali.


Aku mendekatkan wajahku kembali tanpa kata-kata yang ia utarakan padaku.


Sungguh sangat hebat, aku merasakan itu semua, jika aku tahu jatuh cinta itu sehebat ini, aku tidak akan pernah menyianyiakan manusia asalkan ia perempuan.


Malam itu, adalah malam yang luar biasa, tubuhmu kuyup dan lemah sekali, Fariza juga demikian hanya terbaring tak berdaya menikmati kenikmatan yang baru lalu. Saat itu ia bicara meminta padaku, agar aku tidak sama bejatnya dengan laki-laki lain.


Dengan penuh kebahagiaan pula, permintaannya itu aku lengkapi dengan sumpah.


"Fariza, selagi Tuhan masih ada, percayalah padaku karna aku tidak mungkin mengingkari sumpahku padanya. Aku bersumpah, selagi engkau hidup dam aku hidup, aku akan selalu bersamamu. Percayalah.


Ia tersenyum, dan menarik selimut untuk menutupi semua tubuhnya yang hampir dingin.

__ADS_1


"Semoga kau mimpi indah."


Aku mencoba untuk memejamkan mataku, dan pada akhirnya aku betul-betul berhasil menidurkan diriku tanpa mimpi."


__ADS_2