
Aku sudah tau kalau saat ini aku sudah berada di negeriku kedua, negeri mimpi yang tak pernah menyiksaku seperti di dunia nyata.
Kali ini tempatku sedikit baik dari pada tempat sebelumnya, sebuah kamar dengan dandanan nan begitu indah. Bisa aku sebutkan kamar seperti ini adalah kamar pengantin bagi sepasang kekasih yang baru menikah. Apa aku baru siap melaksanakan pernikahan dalam mimpi, kalau memang iya siapa kira-kira perempuan yang aku nikahi itu.
Aku membaringkan tubuhku di atas kasur yang di alasi dengan seprai putih. Beberapa saat aku menunggu, aku mendengar suara pintu terbuka.
Hah, apa ini istriku dalam mimpi. Tak bisa aku membayangkan jika ia mampu aku bawa ke dunia nyata.
Sangat sempurna, bahkan jauh lebih sempurna dari pada perempuan yang datang ke mimpiku beberapa hari lalu. Matanya indah, alisnya agak tebal, bibir dan dagunya pas untuk aku cium. Lehernya sedikit berjenjang, mungkin tempat bergantung ujung bibirku jika terpeleset sewaktu ingin turun ke bagian dadanya. Aih, dada yang sempurna, bulatannya pas untuk mata bedebah sepertiku.
Ia berdiri di depanku, sambil tersenyum. Aku tak mampu lagi menahan rasa gelisah pada diriku yang ke dua. Ia betul-betul melonjak ingin berjabatan dengan sesuatu dalam diri perempuan itu.
"Kau kenapa?" Ia duduk rapat di sampingku.
"Oh tidak apa-apa. Bagaimana apa kamu sudah siap?" Aku memegang tangannya dan memiringkan tubuhnya ke hadapanku.
Baju warna putih yang serasi dengan ruangan ini juga alas kasur ini membuat rasa dalam tubuhku semakin mendesak untuk bernostal gia dalam kamar pengantin mimpi.
"Ya, aku selalu siap. Kan aku hanya mimpimu."
__ADS_1
"Kau tahu kalau ini dalam mimpi?"
"Ya aku tahu, bagaimana layaknya yang kamu rasakan begitu pula yang aku rasakan. Hanya saja dunia kita berbeda, kau dari dunia para manusia, sedangkan aku dari dunia mimpi yang mahluk di dalamnya bebas menjadi apa saja termasuk menjadi perempuan di hadapanmu ini."
"Kau bisa jadi apa pun?"
"Itu hal yang sangat mudah,"
"Waw, aku suka. Apa kau bisa datang ke setiap tidurku?"
"Tergantung apa yang sedang kau pikirkan, jika kau memikirkan perempuan cantik, maka aku akan datang sebagai perempuan cantik, jika kau berpikir hal-hal lain maka aku akan sebagai hal laib itu pula."
Tanpa pikir panjang, aku merebahkan tubuhnya, ia sudah terbaring. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Sangat dekat sekali, aroma napas paling harum aku rasakan saat itu, bahkan lebih baik dari aroma napas Fariza.
Sambil mencium bibirnya dengan lembut, aku bicara padanya,
"Kau tidak apa-apa?" Tanyaku terlebih dahulu untuk memastikan keadaannya.
"Lakukan saja sesukamu, ingat aku ini hanya mimpimu yang memiliki batas waktu hidup. Sederhananya, aku bisa hidup jika kau telah merasakan seperti mati. Jadi lakukan lah, sebelum dunia membangunkanmu
__ADS_1
Tidak ada penjelasan panjang untuk percintaanku dalam mimpi kali ini. Tidak ada hentakan, tidak ada tarikan atau pun desahan napas. Tidak ada, aku hanya merasakan kenikmatan yang tak ada di toko-toko atau pun di mana saja. Hah, paling tidak aku sudah menang dari setiap manusia, jika mereka ingin bercinta terlebih dahulu mereka harus merayu, setelah itu menikah dengan cara yang membosankan, setelah itu menua dan tak layak lagi untuk bercinta. Sementara aku, dia yang aku panggil sayang akan selalu cantik meski pun umurku sudah mencapai masa tua yang bangka. Terimakasih Tuhan, kepalaku yang buruk ternyata mampu menjadi kepala yang gagah meski dalam mimpi. Di manapun itu, aku merasakan kenikmatannya.
*****
Setelah hari bebas bebas kemaren, aku tidak lagi merasakan disengat matahari entah buat pekan atau bulan berikutnya. Setitik cahaya dari lubang kecil itu, tidak mampu memberikan rasa hangat pada tubuhku. Jika ada yang mengatakan banyak cara manusia untuk mati itu memang betul, ada mati mendadak, mati terbunuh, mati memang sudah tanggalnya, yang paling menyesakkan dada, mati, tapi masih berkeliaran dalam tempat terburuk. Hebatnya tidak boleh mati, harus disiksa terlebih dahulu sampai penumbuk lesung petani ada berdaun dan berbunga. Sangat mustahil, tapi itu yang aku rasakan, mati dalam badan yang masih ingin tersiksa.
Setelah seorang kurir makanan menghantarkan makanan hebat tapi lebih kepada menjijikkan , aku tidak bisa lagi untuk menahan diri. Beberapa hari pertama aku memang tidak menyentuh makanan buruk itu, tapi rasa lapar yang pada akhirnya menjadi kelaparan memberontak dalam perutku. Sangat sakit sekali, ketika lapar datang tapi berjam-jam setelah itu makanan belum juga datang. Jika aku tidak makan, jam 8 pagi maka aku akan makan jam 8 malam, berapa jam aku harus menahan rasa lapar. Setelah aku tahu kelaparan lebih sakit dari pada harus melawan rasa jijik, aku tidak memperdulikan itu lagi. Dari mana makanan itu mereka tampung, dari comberan, dari lubang WC, atau dari mana saja, tidak menjadi masalah bagiku. Asalkan batang tubuhku tidak menjerit. Yang pasti penjara bukan tempat yang tepat untuk bermanja-manja.
Piring besi yang berkarat sudah terletak di depanku, juga segelas air putih. Masih sama dengan hidangan pertama, di letakkan di atas talam yang ditutup oleh plastik hitam.
Itu bukan kejutan lagi padaku, aku buka dengan berlahan. Pelan-pelan aroma comberan sudah hampir sampai ke hidungku.
Setelah plastik aku lepaskan, rasa mualku muncul begitu saja, tapi rasa lapar juga menyesak dalam perutku.
Ini yang disebut buah simala kama, kata orang pilih ayah, ibu mati, pilih ibu ayah mati. Intinya tidak ada pilihan, sama denganku, meski sedikit berbeda. Jika aku tidak makan, rasa lapar akan membunuhku, jika aku makan, yang akan aku makan itu pula yang akan membunuhku.
Berlahan aku tatap kembali makanan di piring besi itu. Warnanya kuning, tapi ada coklat kemerah-merahan. Cara penyajiannya pun sangat menjijikkan, sendok, mereka letakkan telungkap di bagian sampingnya, setelah itu baru mereka hiasi dengan makanan aneh, modelnya sedikit memanjang dan setiap ujungnya meruncing dan ada juga satu-satu terputus berjabut-jabut, dan jika aku sendok selalu ada yang putus bahkan ada juga seperti, taik. Apa memang seperti ini makanan dalam penjara, atau hanya aku saja.
Aku menutup hidung dengan tangan kiriku, pelan-pelan piring itu aku pandangi kembali. Meski rasa mual selalu menyesak, tapi aku harus kuat, aku tidak boleh mati kelaparan. Sendok yang sudah dilumuri warna-warna kuning dibagian mulutnya, aku susupkan ke mulutku, aku telan tanpa pertimbangan, pas waktu akan melewati kerongkonganku, semuanya aku keluarkan kembali. Burraaaakkk, air mataku datang begitu saja, bukan air mata sedih, tapi air mata kelaparan.
__ADS_1