Pembalasan dendam sang bunga desa

Pembalasan dendam sang bunga desa
Menyiakan kesempatan


__ADS_3

...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya 💫...


Keesokan harinya, Mahardika masih ditempat yang sama untuk menjalankan bisnis yang dititipkan ditanganya oleh ke dua orang tuanya kepada dirinya.


"Mas, kapan si kamu putus dengan Sofia" suara mesra Gendhis yang tengah bergelayut ditubuh Dika dengan manja.


Hampir penghuni ruko disana sudah mengetahui hal menjijikan tersebut, tapi tak satupun dari mereka yang berani melapor kelakuan sepasang muda mudi ini terhadap orang tuanya masing-masing.


Sialnya hari itu, kelakuan mereka tengah kepergok langsung oleh Prasetyo dan Sumitra yang tiba-tiba ke pasar untuk mengantarkan istrinya menunggui ruko yang dijaga oleh Sofia. Karena Sofia hari ini tengah tidak masuk untuk bekerja.


Derap langkah kaki Prasetyo berjalan menuju ruko tersebut, bagaikan malaikat pencabut nyawa bagi Dika yang tengah bermanja ria dengan Gendhis disana. Ke dua matanya itu pun menyaksikan hal yang tak ia inginkan untuk terjadi pada putra semata wayangnya itu.


"Hentikan!" teriak suara Prasetyo dengan lantang sampai mengundang banyak mata disana. Semua orang terlihat keluar dari ruko milik mereka untuk menyaksikan keributan disana.


Gendhis dan Dika yang menyadari suara tersebut tersentak seketika karena terkejut. Lantaran Dika dengan cepat melempar tubuh Gendhis dengan tidak sengaja.


"Akkkh" pekik Gending.


Dika tak menggubris gadis tersebut, ia memilih fokus untuk menatap ke dua bapaknya yang sudah siap memberikan sebuah ultimatum kepada dirinya.


"Dasar rendahan dirimu le, sudah tau dirimu bersama Sofia masih saja dengan gadis lain. Kali ini, bapak pastikan bukan orang lain yang akan menghukum dirimu. Tapi bapak sendiri yang akan turun tangan dengan hal menjijikan ini." cecar Prasetyo bertubi-tubi.


Sementara Gendhis meringkuk ketakutan.


Tak selang berapa lama, bapaknya pun menggelandang ke duanya ke sebuah kantor KUA yang berada didekat kantor bapak Dika saat itu.


Gendhis yang tersenyum kegirangan mendapati hal itu, seperti gayung yang bersambut. Baru saja tadi pagi ia merengek ke arah Dika untuk segera memutuskan Sofia, ternyata kali ini terjawab dengan dirinya dibawa ke KUA oleh orang tua Dika.


Gadis ini memang cocok dengan Dika, lantaran ke duanya sama-sama tak memiliki hati.


"Tolong nikahkan mereka berdua segera" perintah Prasetyo kepada salah seorang pegawai disana.


"Punten pak Pras, tapi persyaratannya gimana?" ujar wanita yang mengenakan jilbab itu bertanya penuh sopan.

__ADS_1


"Menyusul" timpal Pras dengan cepat.


Wanita tersebut lalu menghubungi seorang penghulu untuk datang kesana dan menjalankan perintah Prasetyo.


Sementara Dika masih saja terus merengek dan membujuk rayu Sumitra di ujung kursi lainnya.


"Dika mohon ampun bu, tolong berikan keselamatan pada Dika kali ini. Dika belum mau menikah, apalagi dengan Gendhis" ujarnya.


Tapi Sumitra tak bergeming dengan permintaan putranya disana, ia rasanya sudah jengah dengan semua sikap Dika. Baru kemarin ia terselamatkan dari dinginya jeruji besi, kali ini ia berulah lagi. Sementara Gendhis yang mendengar perkataan Dika bahwa dia tak mau menikah dengan dirinya hanya melirik sinis ke arahnya.


Akhirnya aku bisa mengelabui ke dua orang tuamu dengan baik mas, dan untuk kamu Sofia kali ini kamu sudah kalah telak denganku. Se ayu dan selembut apapun dirimu, dan setinggi apapun dirimu di puji melangit oleh seluruh pria penduduk desa ini, tak akan membuatku gentar untuk bersaing denganmu. gumam Gendhis.


"Mari pak Pras, sudah siap" panggil perempuan berkerudung tadi.


Ia pun dengan cepat mengarahkan anaknya dengan gadis tersebut masuk ke dalam ruangan itu. Dan semua terjadi begitu cepat, sebuah kalimat ijab pun terlantun dengan gemetar dari suara Dika.


"Sah?" tanya penghulu tersebut kepada beberapa orang disana.


"Sah , sah , sah ," beberapa orang itu terlihat menjawab dengan serentak pertanyaan itu.


Tapi memang sungguh tidak adil rasanya bagi Sofia, karena baik Sumitra ataupun Prasetyo tidak mengetahui tentang perlakuan bejat anaknya yang sudah menimpa gadis tak berdosa itu.


"Pak,buk" Gendhis menghampiri mereka untuk mencium tangan keduanya.


Prasetyo menyambut ucapan Gendhis, tapi ia lebih membuang muka dihadapan gadis yang tak memiliki moral itu. Sementara Sumitra dengan segala sikap lembut ke ibunya menyambut hangat gadis yang telah resmi menjadi istri Dika.


Tak berapa lama kemudian, orang tua Gendhis pak Hartono pun datang ke kantor KUA untuk menghampiri putrinya itu. Ia hanyalah seorang petani yang sering menggarap ladang beberapa warga desa. Jika dibilang mampu dalam ekonomi, masih jauh jika disetarakan dengan keluarga Dika.


"Maaf pakades, sebenarnya apa yang sudah terjadi disini" ujarnya panik saat mendapati putrinya sudah dinikahkan tanpa sepengetahuan dirinya.


Kali ini ia datang dengan baju yang lusuh dan keringat bercucuran. Celananya yang penuh dengan lumpur, tak membuat langkahnya gentar menjumpai Gendhis.


"Pak, apaan si begitu. Dibersihkan dulu itu kakinya" ucap Gendhis malu mendapati bapaknya yang tampil apa adanya di ke dua mertuanya.

__ADS_1


Ternyata, bapaknya yang sudah hidup sebatang kara itu sering diperlakukan Gendhis dengan tidak baik. Sikapnya yang sering kurang ajar dengan orang tuanya tersirat dengan baik saat itu dihadapan Prasetyo dan istrinya.


Saat mendapati kenyataan pahit itu, Sumitra hanya mengelus dada. Dan Prasetyo yang tak segan disana, mencoba menghentikan ucapan Gendhis yang menurutnya sama sekali jauh dari kata sopan.


"Cukup" ia pun menatap tajam ke dua mata Gendhis.


Gadis itu yang mendapati sikap bapak mertuanya murka terhadap dirinya lalu mengunci rapat mulutnya.


"Begini pak Hartono, maaf jika kelakuan saya ini membuat bapak tersinggung. Tetapi sesuai adat yang berlaku didesa kita, saya terpaksa melakukan semua ini dengan segera tanpa pikir panjang lagi. Ke dua anak kita ini sudah bersikap jauh dari adat leluhur kita" ujar Prasetyo yang begitu sopan dihadapan Hartono.


Hartono disana hanya terdiam pilu mendapati tingkah putrinya saat itu, sambil melepaskan topi petani miliknya ia berkali-kali mengucap permintaan maaf kepada ke duanya. Ia pun menyesal telah gagal mendidik Gendhis sepeninggal ibunya.


"Cepat minta restu ke mertuamu ini" perintahnya terhadap Dika.


Ia pun tanpa berkata mencium tangan pria setengah baya itu. Lain halnya dengan Gendhis, ia merasa tak sudi jika bersalaman dengan bapaknya dengan kondisi kumuh seperti saat ini.


Gayanya sudah melangit setelah menikah dengan Dika, bayangan hidup mewah dan jauh dari garis kemiskinan sudah melayang indah di pikirannya. Ia pun sama sekali tak menyambut hangat kehadiran Hartono disana, sementara sang ayah hanya ingin memastikan putrinya itu baik-baik saja dan tidak terjerembab ke hal yang jauh tidak baik melebihi hari ini.


Kuberikan restuku kepadamu nak, semoga hidup yang selama ini kau mimpikan segera terwujud. gumam Hartono dalam hati.


Ia pun segera berpamitan kepada Prasetyo dan Sumitra saat itu, dan meyerahkan sepenuhnya Gendhis kepada mereka berdua. Langkah kaki tuanya pun meninggalkan tempat itu tanpa sebuah arti.


...----------------...


Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️


🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.


🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.


🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️


🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2