
...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya 🎋...
Keesokan harinya, sebuah acara do'a bersama pun diselenggarakan dikediaman rumah Hendra untuk memperingati kepergian dirinya.
Semua warga berbondong-bondong disana, untuk memadati rumah Tri dan Puput. Masih tetap sama, wajah Sofia tak tampak hadir saat itu. Kematian Hendra sampai saat ini pun masih menjadi teka-teki bagi kedua orangtuanya. Mereka masih belum mengetahui siapa pelaku penusukan hari itu.
"Nak, ayo kita ke rumah Hendra . Pasti disana sudah banyak orang" ajak Marjono.
"Sofia takut ibu masih marah dengan Sofia mbah" ujarnya lesu tapi hatinya sangat menyimpan bara api dendam yang begitu membara.
"Sudah, ikut saja dengan Mbah " ucap Marjono sembari menenangkan cucunya tersebut.
Dirinya memastikan kepada Sofia, jika semuanya nanti pasti akan berjalan baik-baik saja disana.
Mereka berdua bergegas ke rumah almarhum Hendra dengan cepat, si Mbah tidak ingin jika kedatangannya disana nanti sudah telat dari waktu yang telah ditentukan.
"Pak Tri," ujar seorang saksi mata diperistiwa nahas Hendra, dia adalah warga kampung setempat.
Kebetulan, dirinya adalah kepala ketua didesa itu. Dan warga desa juga sangat menghormati dirinya disana.
"Iya pak Gus," timpal Tri sembari mendekat kan telinganya.
"Saya ingin berbicara tentang kesaksian saya kali ini." timpalnya, kali ini suaranya terdengar sangat jelas. karena keduanya menghindar jauh dari pengeras suara yang telah dipasang dirumah Tri dan Puput.
"Sebelumnya saya minta maaf pak , saya semalaman tidak bisa tidur memikirkan hal ini terus-menerus" ucapnya sambil meremas kedua tangannya.
"Katakan saja pak, ada apa sebenarnya" seru Tri sangat ingin mengetahuinya.
"Yang membunuh anak pak Tri adalah anak pak Pras, Dika pak!" tegas Gus dengan menundukkan kepalanya.
Saat mendengar kenyataan pahit itu, Tri hanya termenung dan sesekali memijit ke dua matanya. Ia ingin menyeka air mata yang hendak jatuh disana, agar tak terlihat oleh warga lainnya.
"Tidak mungkin pak!" ujarnya menepis kenyataan pahit itu.
"Saya bersumpah pak!" tegas Gus dengan memegang dadanya.
Tanpa mereka sadari, perbincangan mereka berdua pun tidak sengaja terdengar juga oleh Sofia dan kakeknya yang tengah berjalan menuju rumahnya.
"Jadi, dia pelakunya!" erang Sofia sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Jangan gegabah nak, tenangkan dirimu!" ujar Marjono disebelahnya.
"TIDAK MBAH!!!, tidak akan pernah aku biarkan dia bebas berkeliaran disana!" teriaknya lantang, bahkan melebihi malaikat pencabut nyawa.
Tri beserta Gus dan si Mbah, lalu mengikuti langkah kaki Sofia disana. Tri sedikit terlihat berlarian untuk meraih tangan Sofia agar menghentikan langkahnya saat itu, sementara Gus dengan perlahan tapi pasti menggandeng tangan Marjono yang sedikit gemetar.
Puput bersama ibu-ibu yang lain, yang tengah menggelar do'a didalam rumah juga berhamburan keluar rumah.
"Ada apa ini ?" tanya Puput ketakutan.
"Nak, nak, berhentilah Sofia !" pinta Tri dengan teriakan keras.
Suara-suara mereka saling bersahutan dibelakang, tapi tetap saja langkah kaki Sofia begitu pasti menuju teras rumah Prasetyo dan Sumitra saat itu.
"MAHARDIKA PRASETYO, keluarlah!!" teriakan Sofia seperti suara seorang lelaki.
Dia begitu murka disana, dengan semua amarah yang merasuki dirinya kali ini. Sembari menunggu kedatangan Dika keluar dari dalam rumahnya, mata Sofia pun terus berputar-putar disana untuk mencari sebuah benda.
Akhirnya, ia pun menemukan sebuah gunting dalam ember yang berisikan daun bayam diteras depan rumah Dika , gunting tersebut adalah milik Sumitra yang baru saja memetik daun bayam dipekarangan rumahnya.
"Ada apa ini Sofia ,kenapa nak?!" ujar Prasetyo yang masih keheranan disana, sementara rumahnya telah penuh dengan lautan manusia.
"Tidak pak tidak!, lihat tangan anak itu, tengah membawa gunting disana!" pekik Sumitra ketakutan menyaksikan kemarahan Sofia.
Prasetyo sangat mengenal baik gadis tersebut, bahkan dirinya begitu menyayangi Sofia bagaikan putrinya sendiri.
"Tidak bu!, pasti semua ini salah anakmu!" seru Prasetyo tegas sambil terus menatap gunting yang tengah dibawahnya.
Sofia sangat terkenal dengan pembawaan dirinya yang lembut dan sopan santun ketika berbicara, berbeda dengan pembawaan dirinya kali ini sungguh sangat berbeda.
"Dika ... cepat keluar!" teriak Prasetyo membangunkan Dika dari tidurnya.
Dengan mata yang baru saja terbuka , ia berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang tengah dikepung dengan lautan manusia disana.
"Bapak ingin bertanya pada kamu nak, sekali ini saja bapak mohon. Apa yang membuat kamu semarah ini nak!" tanya Prasetyo penuh kasih sayang.
"Di-dia telah membunuh semua orang yang Sofia sayangi. Jika bapak tidak percaya, tanyakan saja kepada Gus tetua desa kita!" tunjuk Sofia dengan isak air mata yang berderai disana.
Prasetyo pun sangat mengagumi sosok Gus didesa itu.
__ADS_1
"Apakah benar adanya Gus ?" tanya sopan Prasetyo.
"Maaf pak Pras, memang seperti itu adanya kesaksian saya pada peristiwa kemarin" dengan lembut Gus menuturkan semuanya dengan baik, tanpa bermaksud menyinggung Prasetyo dan Puput disana.
Dengan tarikan nafas yang panjang, dan tatapan mata yang sangat sayu Prasetyo menyeret anaknya itu kehadapan gadis yang telah ia berikan luka begitu banyak didasar hatinya.
"Pak, jangan pak!. tolong hentikan pak!" rintih Sumitra menyaksikan anaknya dibawa paksa kehadapan Sofia.
"Berikan dia hukuman yang pantas untuk semua luka hatimu nak!" perintahnya.
Wajah putih pucat Dika, mengiringi langkah kakinya yang sudah gugup berada ditengah-tengah lautan manusia disana.
Bahkan seorang ayah pun takkan pernah tega melakukan hal seperti itu pada anaknya sendiri, melainkan dirinya telah terikat dengan sebuah sumpah.
"Mahardika!"
"Prasetyo"
"Bernafaslah selama masih bisa bernafas saat ini, hirup udara saat ini dengan panjang. Karena kamu takkan pernah mendapatinya lagi atau bahkan melihatnya lagi" langkah Sofia begitu mengerikan saat ini.
Semua orang dibelakang memanggilnya dengan bergantian, tetap saja langkah kakinya tak gentar sedikitpun.
Tanpa ragu, Sofia dengan cepat menghunuskan gunting itu ke dasar perut Dika dengan tajam.
"Satu, untuk mas Dirga .Jleb"
"Dua, untuk si mbahku . Jleb!"
"Dan terakhir untuk suamiku Hendra dan semua luka yang selama ini telah kau goreskan dalam hidupku!" suaranya lirih .
Dika menyambut kematiannya dengan keadaan tersadar disana, bisikan demi bisikan Sofia begitu jelas mengalun di telinganya. Dan perlahan mata yang tadinya terbelalak karena menahan rasa sakit, kini sedikit demi sedikit tertutup rapat dan tubuhnya terjatuh ke tanah.
"Tidaaaakkkkkk," teriak Sumitra menangisi nasib putranya telah kehilangan nyawa ditangan seorang gadis yang begitu ia sayangi selama hidupnya.
Dengan wajah datar dan menangis, Prasetyo mencoba menenangkan istrinya yang tengah meraung di pelukannya.
Ia ingin Sumitra menyadari semua hal yang telah dilakukan putranya selama hidupnya saat itu. Dika sekarang pergi dengan tenang, dirinya telah menghadap Tuhan dengan semua penebusan dosanya di dunia ini.
......................
__ADS_1
...TAMAT ...