
...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya 🖤...
Mereka berdua tampak berlari kecil menyusuri lorong rumah sakit untuk mencari keberadaan anaknya, karena jam kunjung untuk besuk sudah usai terlihat beberapa perawat menyarankan agar untuk kembali esok hari. Tapi itu tak membuat mereka gentar untuk bertemu Hendra.
Saat itu, mereka yang menjumpai sosok Sofia yang tengah berdiri terus didepan ruangan Hendra masih saja terus menangis tiada henti.
"Nak, kamu siapa" tanya Tri dengan nada lirih sambil menepuk pundak Sofia.
Sofia yang menyadari kehadiran mereka sedikit gugup dan segera mengusap air matanya, Tri dan Puput mengamati bekas darah yang masih menempel ditangan Sofia kala itu.
"Ibuk,bapak orang tua mas Hendra?"sambil menunjuk tangan Sofia ke ruangan tepat disebelahnya.
"Iya" sahut Tri lirih.
"Jadi ... itu darah anak kita pak?" tangisnya pecah seketika melihat tangan Sofia, ia tidak dapat membayangkan keadaan Hendra didalam sana jika darahnya saja tadi keluar sebegitu banyaknya.
"Tenang buk tengan" suaminya mencoba memberi penguatan.
Sofia dibuat gelagapan melihat situasi saat itu, pasalnya ia sungguh dilanda rasa bersalah yang begitu hebat pada Hendra. Tapi bibirnya sama sekali tak berani berucap untuk bercerita saat itu, ia tak mau melihat ibu Hendra lebih histeris dari pada saat ini.
"Tapi pak, buk. Kalau mau masuk silahkan, Sofia tunggu diluar saja. Kata perawat mas Hendra biar bisa istirahat dulu didalam, jadi Sofia nggak masuk kesana tadi" kegugupan itu masih terlihat jelas di raut wajahnya.
Sementara keadaan didesa, masih terlihat cukup tegang malam itu. Pasalnya mobil pickup yang membawa Sofia dan Mahendra sudah tiba, mobil itu milik pak Yaksa salah satu warga desa yang cukup terpandang juga disana.
"Pak, gimana keadaan nak Hendra" salah seorang warga menanyakan keadaan bocah malang tersebut.
"Saya kurang tau persisnya seperti apa, yang jelas kritis kondisinya" sahut Yaksa.
Yaksa Strisno memiliki seorang putra bernama Rino Renaldi dan seorang putri bernama Rara Ismailiyah, ke duanya hanya terpaut satu tahun usianya. Sama-sama mengenal Mahardika, karena yang satu teman sekelas Dika dan Rara adik kelas mereka berdua. Sementara istrinya bernama Ida Isma.
Ia terpandang didesa itu karena memiliki tanah yang sangat luas didesa tersebut, dan memiliki kebun kentang berhektar-hektar. Tak khayal jika warga tersebut sangat mengenal dirinya.
Ke dua anaknya selama ini adalah anak penurut dan selalu jarang trlihat diluar rumah, karena bagi Rino dan Rara semua perintah ke dua orang tuanya adalah sebuah keharusan bagi mereka.
"Mbah ... Mbah ..." ketukan pintu bgitu kencang diketuk oleh bu Sumini tetangga mereka.
__ADS_1
Kali ini, bu Sumini ingin mengabari bahwa Sofia terlibat perkelahian antara Dika dan Hendra. Tak begitu kaget dengan hal yang seperti ini, jika terjadi sesuatu didesa maka dengan cepat berita itu menyebar layaknya sebuah virus.
Krieettt
si mbah membuka pintu rumahnya yang sudah agak lapuk itu.
"Ono opo tengah wengi ngene gedor-gedor" si mbah mencoba membetulkan pandangan matanya ditemaram lampu teras.
"Sumini ki mbah, putune samean Sofia nak rumah sakit saiki" ujar bu Sumini.
"YaAllah, kenopo Sofia?" si mbah trlihat lemas dan menangis.
"Sofia nggak papa, tapi tadi Hendra sama Dika tonjok-tonjokan berebut Sofia putune samean" jelasnya gamblang.
Tangisnya terhenti saat mendengar Sofia dalam keadaan baik-baik saja, tapi ia juga takut cucu semata wayangnya itu akan terlibat jauh dalam masalah ini.
Sementara dirumah sakit, ke dua orang tua Hendra tampak mengantarkan Sofia ke kamar kecil untuk membasuh darah itu dari tanganya. Dengan lembut Puput membimbing Sofia ke kamar kecil dan membantu untuk membasuh tanganya. Meskipun perasaannya tengah dirundung pilu yang begitu hebat, ia tetap memperhatikan Sofia.
Ia yakin, bahwa gadis inilah yang menyelamatkan Hendra dalam perkelahian saat itu.
"Sama-sama bu" ucap Sofia yang tertegun dengan kelembutan hati Puput.
YaAllah, mereka sungguh orang yang begitu baik. Hatinya begitu luas, dan kebaikan mereka sama dengan orang tua mas Mahardika. Apa sebaiknya aku ceritakan saja kejadian sebenarnya kepada orang tua mas Hendra ini, agar mereka mendapat keadilan atas anak mereka yang tak bersalah sedikitpun. Sofia beradu dalam diamnya.
Ditengah kucuran air kran itu, terlihat air itu mnjadi merah karena melebur menjadi satu dengan warna darah Hendra ditangan Sofia. Puput menggosok lembut tangan Sofia disana sampai putih bersih kembali.
"Sudah selesai nak, apa kamu nggak ikut kami masuk bertemu Hendra" ajaknya kepada Sofia yang masih mematung disana.
"Buk, pak. Sofia ingin menceritakan sesuatu kepada kalian berdua" ia terlihat bgitu ketakutan, hingga tanganya sedikit memelintir kecil bajunya.
Akhirnya Sofia menceritakan kejadian nahas saat itu, ia cerita se detail mungkin agar tidak ada kesalahpahaman antara dirinya dan ke dua orang tua Hendra saat itu.
Mereka yang mendengar kebaikan Hendra sangat bangga pada putranya, karena dapat melindungi gadis yang tak bersalah seperti Sofia.
"Sudahlah nak, kami ikhlas dengan apa yang sudah terjadi dengan Hendra saat ini. Mungkin ini sudah tulisan tangan Hendra yang sudah ditakdirkan seperti ini. Kamu juga tidak akan mnuntut apapun dari pihak keluarga Dika. Kami berdo'a supaya Dika diberikan jalan yang benar kedepannya" tutur Tri sambil mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Sofia tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh orang tua Hendra ini, mereka sungguh memiliki hati yang begitu luas seperti lautan.
Hanya berselang sepuluh menit dari pembicaraan mereka saat itu. Prasetyo akhirnya dapat menemukan rumah sakit Hendra setelah berkeliling jauh ke beberapa rumah sakit.
Skkkkk
Mereka bertiga terkejut, Dika sudah trsungkur dihadapan ke dua orang tua Hendra. Prasetyo memang sengaja mendorong keras tubuh putranya tersebut ke arah keluarga yang tak bersalah itu.
"YaAllah," pekik Puput.
Tri pun lalu membangunkan Dika yang sudah tersungkur itu. Ia masih belum tahu bahwa itu Dika dan keluarganya.
"Malam pak, ini ada apa ya. Apa salahnya, kok sampai diperlakukan seperti ini." ujar Tri sedikit kasihan dengan Dika.
"Malam pak Tri dan bu Puput, perkenalkan saya Prasetyo dan ini istri saya Sumitra. Dia ini adalah putra kami Dika yang sudah membuat Hendra kritis didalam" jelasnya tegas menjelaskan kesalahan anaknya.
Terlihat Puput menutup mulutnya sambil bergetar tanganya, ingin sekali berkata pada pemuda tersebut tetapi rasanya ia tak begitu memiliki kekuatan saat ini. Ia pun lalu mengelus pundak suaminya disana sambil menangis.
"Jadi bapak adalah orang tua mas Dika." jelas Tri dengan nada yang seolah kuat dalam situasi ini.
Prasetyo dan Sumitra mengangguk ketika mendengar perkataan Tri.
"Jadi maksud kedatangan kami kemari, ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya atas perilaku anak kami yang tidak bermoral ini pada pak Tri dan bu Puput. Dan sekiranya juga berkenan menerima bantuan kecil dari kami untuk biaya pengobatan Hendra sampai sembuh. Untuk anak kami, silahkan kalian proses sesuai hukum berlaku. Kami pastikan, sedikitpun tidak akan melindunginya dari jerat hukum nantinya." tegas Prasetyo yang terang-terangan ingin mengirim putranya masuk ke dalam bui.
...----------------...
Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️
🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.
🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.
🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️
🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.
__ADS_1
Terimakasih