Pembalasan dendam sang bunga desa

Pembalasan dendam sang bunga desa
Menjauh dariku


__ADS_3

...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya 💔...


Pada malam hari itu, tepatnya seusai sholat isya Sofia memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan si mbah yang belum tuntas mereka kerjakan diladang milik seorang warga.


Dirinya dengan cepat memetik semua kacang panjang itu sampai selesai, meskipun hari sudah mulai gelap tapi semangatnya tak pernah gentar jika itu menyangkut ke dua kakek dan neneknya.


Srek ... Srek ...


Terdengar beberapa langkah kaki orang dikegelapan malam itu. Suara langkah kaki itu terdengar cukup dekat pada Sofia. Sementara Sofia yang mendapati suara itu, segera mematikan sebuah lampu senter miliknya agar dirinya tak dapat dilihat dengan sempurna oleh orang itu.


Ia memilih untuk bersembunyi dibalik tumbuhan kacang panjang dan membungkam mulutnya rapat-rapat disana. Saat beberap lelaki tersebut kehilangan jejak Sofia, mereka pun terlihat mengurungkan aksinya dan berputar balik dari ladang tersebut.


Sofia yang saat itu setengah ketakutan, berlari untuk meninggalkan ladang tersebut sambil memastikan keadaan disekitarnya aman. Karena ia berlarian dengan tidak memperhatikan jalan, dirinya pun menabrak Hendra saat itu.


Brakkk


Terlihat semua kacang miliknya berjatuhan dari gendongan tangannya.


"M-mmas," ucap Sofia yang masih ketakutan.


"Hei, kamu kenapa Sof. Coba tenang dulu, tenang ada aku" ujar Hendra yang mencoba menenangkan diri Sofia.


"Anu mas, disana anu" tunjuknya sambil terbata-bata pada Hendra.


Hendra yang mencoba mengikuti arah tangan Sofia saat itu tak menjumpai apapun disana.


"Duduk dulu sini, tarik nafas dalam-dalam dan coba ceritakan perlahan." sahut Hendra yang mengajaknya duduk disebuah pos ronda.


Setelah dirinya mengikuti arahan Hendra, ia pun dapat mengatur nafas dengan baik dan ketakutan dirinya perlahan mulai hilang.


Sementara Hendra terlihat mengutip semua kacang yang tercecer dijalanan akibat benturan dirinya dan Sofia saat itu.


"Tadi diladang ada beberapa orang lelaki yang ngikutin aku mas," tutur Sofia sambil membendung air matanya.


Hendra yang mendengar hal itu, terpancing amarahnya. Dia tak ingin jika Sofia harus mendapati hal yang tidak ia inginkan terjadi.

__ADS_1


"Kenapa kamu semalam ini masih berada diladang?" tanyanya yang perihatin.


"Aku gantikan si mbah mas, mbah hari ini nerima pekerjaan untuk memetik kacang-kacang ini. Tapi karena si mbah merasa tidak enak badan, mereka berdua memutuskan untuk menyudahi pekerjaan mereka. Jadi aku harus gantikan pekerjaan ini sampai selesai." ujarnya yang begitu menyayangi ke dua kakek neneknya.


Hendra terenyuh mendengar kisah Sofia saat itu, tidak banyak perempuan diluar sana sepertinya. Kebanyakan gadis lainnya yang hanya sibuk dengan dunianya sendiri, ia justru terlihat sibuk merawat ke dua orang tua itu.


"Aku salut dengan kamu," ujar Hendra dihadapan Sofia.


"Semua anak ataupun cucu diluar sana pasti akan berperilaku sama sepertiku mas," jelas Sofia merendah.


Setelah beberapa menit kemudian mereka berbincang, terlihat Gendhis di sebrang jalan yang tak jauh dari tempat duduk mereka.


"Gendhis sudah bilang ke bapak kan, Gendhis tak sudi pulang ke rumah reot itu lagi. Sudah bapak pergi sana," maki Gendhis kepada orang tuanya sendiri.


Lelaki setengah baya itu hanya terdiam, dan terlihat gemetar tubuhnya waktu itu. Tanpa membalas ucapan Gendhis, ia lebih memilih pergi saat itu juga.


Sofia yang tidak pernah kuat jika melihat sosok orang tua disakiti, tubuhnya pun langsung merespon dengan baik. Ia sontak berdiri begitu saja, setelah kepergian Gendhis dari sebrang jalan.


"Sof ... tunggu aku," teriak Hendra memanggil Sofia yang sudah jalan menjauh darinya.


"Saya bapaknya Gendhis neng," jawab Hartono yang sedikit menggigil.


Ia terkaget mendengar ucapan lelaki setengah baya tersebut, bagaimana Gendhis bisa memperlakukan orang tua kandungnya seperti ini. Dirinya pun dengan segera memegangi Hartono yang sudah nampak pucat disana.


"Astaga pak, badanya panas begini pak" Sofia kaget menjumpai suhu badan Hartono yang begitu panas saat itu.


"Nggak papa, bapak cuma kecapean aja barangkali" jelasnya.


"Jangan remehkan demam pak, nanti kalau tidak diperiksa dengan baik bisa jadi makin serius sakitnya. Mari saya antar ke puskesmas," ajak Hendra.


"Tolong jangan bawa bapak kesana, seumur hidup bapak tidak pernah berani datang ke tempat seperti itu," tutur Hartono yang ternyata memiliki ketakutan tersendiri jika ia pergi ke tempat fasilitas kesehatan umum.


Keduanya saling menatap mata satu sama lain, seperti memberikan sebuah syarat keduanya pun nampak mengerti apa yang harus dilakukan.


"Baiklah, mari Sofia antar bapak pulang ya. Sementara mas Hendra akan membelikan bapak obat saja diapotik.

__ADS_1


Dengan penuh kesabaran, Sofia pun mendampingi Hartono sampai ke rumahnya. Dalam gubuk tua itu, Hartono tinggal sebatang kara. Dirinya yang sudah lama menduda sejak Gendhis kecil, membuat ia terbiasa hidup sendiri.


Rumah itu terlihat tak jauh berbeda dengan rumah Sofia. Sederhana dan jauh dari kesan mewah. Tak berselang lama, terdengar suara motor Hendra telah berhenti tepat dirumah Hartono.


"Assalamu'alaikum," ucap Hendra sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah itu.


Hendra pun membawa beberapa bungkus obat dan makanan di tangannya, Sofia lalu menerima ke dua kantong tersebut dari tangan Hendra dan segera menyiapkan untuk Hartono. Dengan penuh kasih sayang, gadis itu merawat orang tua Gendhis.


Bagaimana tidak, ia selalu teringat kepada ke dua kakek dan neneknya jika melihat orang tua lainnya yang ia jumpai. Ia juga merasakan ketir sebagai seorang anak, jika melihat perlakuan Gendhis. Pasalnya sudah sangat lama Sofia tidak mendapati kasih sayang dari ke dua orang tuanya. Dan rasa itu mungkin sudah hampir tidak bisa ia kenang kembali.


"Terimakasih, karena sudah menolong bapak. Anak-anak muda seperti kalian ini mungkin memiliki orang tua yang begitu hebat saat mendidik kalian sejak kecil, dan mereka pasti bangga dengan kalian" ujar Hartono yang menangis mengenang almarhum istrinya.


"Sudah pak, Sofia yakin lambat laun Gendhis pasti akan menyadari kesalahannya pada bapak. Dan kembali menjadi anak yang jauh lebih baik dari sekarang" harapan Sofia kepada putri Hartono.


Hartono hanya mengangguk lemas saat mendengar ucapan Sofia, pasalnya Gendhis memang sudah seperti itu semenjak ia kecil. Terlebih saat dirinya menginjak masa remaja, obsesinya untuk menjadi orang kaya begitu membutakan hatinya. Sampai tak tahu bedanya baik dan buruk kepada orang tua.


Keduanya pun, meninggalkan Hartono saat itu. Dan Sofia juga sudah menyiapkan beberapa obat untuk Hartono minum beberapa jam berikutnya.


"Ini, buat kamu sama si mbah dirumah" ujar Hendra memberikan 3 bungkus nasi kepada Sofia.


"Loh mas, kenapa dikasihkan ke Sofia. Kasihkan bapak dan ibuk saja dirumah." pintanya sambil mengembalikan bungkusan nasi tersebut.


"Sudah, itu buat kamu dan si mbah. Ibuk tadi sudah masak dirumah." pungkas Hendra yang terlihat menuntun motor miliknya dan lebih memilih menemani Gendhis berjalan.


...----------------...


Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️


🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.


🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.


🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️


🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2