Pembalasan dendam sang bunga desa

Pembalasan dendam sang bunga desa
Ku bersyukur


__ADS_3

...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya 🌄...


Pagi yang begitu cerah dan matahari pun terlihat menyinari seluruh isi alam semesta dengan baik.


"Pagi buk," ucap Sofia yang tengah menyapa Sumitra.


Kali ini, Sofia berangkat bekerja bersama dengan Hendra. Untuk yang pertama kalinya mereka berdua terlihat pergi bersama dengan status ikatan resmi.


"Iya Sof, pasti dengan Hendra ya" ujar Sumitra, ia tersenyum tetapi dibalik senyuman itu tersirat kepidahan jelas yang tergambar dalam wajahnya.


"Ibuk sakit?" tanya Sofia cemas.


Kali ini semakin membuat Sumitra merasa sedih, karena sebentar lagi ia pun tak dapat menjumpai gadis impiannya tersebut ditempatnya itu.


"Buk, kenapa menangis. Ceritakan saja dengan Sofia. Biar ibu lega" pintanya.


"Tidak nak, tangis ini bukanlah kesedihan. Harusnya tangis ini adalah sebuah kebahagiaan bukan?" tanya balik Sumitra yang sekarang terlihat lebih tegar.


Sementara Sofia masih saja belum mampu mengerti setiap ucapan Sumitra dengan baik.


"Kenapa diam, apa yang ibu ucapkan benar kan. Sebentar lagi, kamu akan menikah dengan Hendra dan kamu pasti tidak akan bekerja bersama ibu lagi. Dan ibu bakal kesepian nantinya Sof" ucap Sumitra seperti kehilangan anaknya sendiri.


Kedua hubungan mereka sangatlah cukup erat, tak khayal Sofia pun terkadang menjadi tempat curhat Sumitra disaat sedih.


"Apa!, Sofia dengan Hendra buk!" nada tinggi Dika membuat keduanya terkejut.


"Ada apa ini Dik!, coba salam dulu nak!"


Dia masih terlihat dengan wajah bringasnya menatap Sofia.


"Apa kamu sengaja menjauh dariku!" tanyanya sambil membentak.


"Dika!, ingat dia bukan lagi kekasihmu nak!" seru Sumitra mencoba menyadarkan putranya yang saat ini gelap mata.


"TIDAK BUK!!, jika dia tidak bisa kumiliki maka orang lain tidak akan pernah bisa memiliki dirinya juga!" sumpah serapah Dika membuat hati Sofia hancur.


"Ibuk tau!, wanita ini sudah tiii" perkataannya dengan cepat dihentikan oleh Sofia.


"Nggak papa buk, maksud mas Dika mungkin baik. Karena selama ini dia sudah menjaga Sofia dengan baik." tunduknya.


"Aaarkkkh!, biarkan aku kali ini mengatakan kebenarannya pada ibuk Sof!"

__ADS_1


Dadi tempat duduknya ia hanya bisa menggelengkan kepala ke arah Dika dengan cepat.


"Sejujurnya kami berdua sudah pernah tid." perkataannya kembali terputus.


Kali ini bukan Sofia lagi yang menghentikan mulut Dika, melainkan Hendra yang sedari tadi sudah berdiri tegap dibelakangnya.


"Kami berdua sudah pernah tidur Bu!" timpal Hendra yang mengetahui kemana alur pembicaraan Dika kali ini.


"Diam kau!, bukan begitu Bu. Maksud Dika adalah Sofia dan Dika. Bukan dia!!!" ujarnya menepis perkataan Hendra.


"Diiiaaaaaaaaam!!" teriak Sumitra memisahkan keduanya dalam suasana yang sudah terlihat keruh.


"Sofia, ibuk minta bawa calon suamimu ini pergi dari sini" ucapnya sambil tertunduk tak berdaya.


Dika yang merasa kalah kali ini hanya pergi begitu saja tanpa berpamitan.


Sementara dijalan arah menuju rumah, Sofia tengah mengantar Hendra pulang dengan perasaan cemas.


"Mas,ehmm anu" wajahnya tampak terlihat bingung.


"Sudah kamu tenang saja, tidak perlu menjelaskan apapun pada diriku Sof. Aku akan tetap menerima kamu apa adanya, meskipun dengan semua masa lalu kamu yang menyakitkan itu" ujarnya.


Wanita mana yang tidak merasakan perih dihatinya, ketika ia hendak menikah dengan lelaki lain yang notabene bukan perusak dirinya. Pasti itu terasa seperti cambukan dan tamparan besar baginya.


"Hei, tenang. Kamu tidak sendiri, ada aku yang akan selalu menggandeng kamu dimanapun kakimu melangkah kan?"


Dirinya kini merasa lebih lega, karena dia sadar lelaki yang kelak akan mendampingi dirinya akan menerima keseluruhannya dengan baik.


Ketika Sofia dan Hendra sudah sampai didesa, Dika yang sedari tadi sudah terhasut oleh bisikan setan dengan segera menghentikan langkah mereka berdua.


"Lepaskan dia sekarang juga!, atau kamu akan menyesal nantinya!" gertak Dika.


Hendra tidak melayani ocehan Dika disana.


"Permisi" ucap Hendra santun, kali ini sambil menggandeng tangan Sofia dengan pasti.


Kemesraan mereka berdua tidak menyurutkan tekad Dika yang sudah semakin menjadi, ia malah tersulut apa cemburu kali ini.


"Kali ini, kamu akan berhadapan denganku Hendra!"


Pria itu sudah terlihat menyisingkan lengan bajunya dan deru nafasnya sudah setara dengan badak bercula satu.

__ADS_1


"Jangan lancang mengambil dia dariku!"


Tangan Dika yang sudah terangkat tinggi ditepis oleh nenek Sofia yang baru saja pulang dari ladang.


"Aaarggh, lepaskan!" serunya.


Dika yang tak menyadari bahwa itu si mbah, dengan cepat memberontak dari tepisan si mbah dengan cepat dan brutal.


Dugh!!!


si mbah pun terjatuh ke tanah, saat itu posisinya terlentang ketika terkena dorongan dari tangan Dika. Malang nasibnya, saat terjatuh rupanya kepala si mbah tengah membentur batu yang sedikit memiliki ujung yang lancip.


Akibatnya, kepala si mbah pun bersimpah darah akibat benturan tersebut.


"Tidaakkk!!!, mbah. Sofia mohon si mbah yang kuat." Isak tangisnya yang baru saja pergi kini kembali lagi membasahi pipinya.


Entah kenapa, bagi dirinya siapapun yang mencoba menghalangi dirinya dari keburukan pasti akan bernasib buruk juga. Kali ini, nasib itu pun menimpa nenek yang begitu ia cintai seumur hidupnya.


"Sebentar, akan aku carikan mobil untuk si mbah" ucap Hendra cemas sambil celingukan ditepi jalan raya.


Dia pun sibuk menghentikan beberapa kendaraan disana, supaya mau mengantarkan si mbah menuju rumah sakit dengan cepat. Terlihat beberapa mobil pun menolak permintaannya disana, dan hanya berlalu begitu saja.


"Alhamdulillah, terimakasih pak!. saya butuh tumpangan sampai dirumah sakit"


"Baik, cepat masuk mas"


Setelah setengah jam berlalu, Hendra akhirnya bisa menyetop satu mobil untuk si mbah.


"Nak ..." ucap si mbah yang terlihat sudah begitu dingin tubuhnya, dan ucapannya kali ini terdengar gemetar.


"Iya mbah, tenang sebentar lagi kita bakal sampai kan mas?"


"Iyah mbah, sebentar lagi" pandangan mata Hendra tetap lurus ke arah jalan didepan.


"Tidak, waktu si mbah tidak banyak. Tolong dengar ucapan mbah baik-baik, kamu harus jadi anak yang baik nak. Jangan pernah kamu menyiakan orang yang sudah menyayangimu dengan tulus dihidupmu. Dan berjanjilah pada si mbah, bahwa Hendra adalah laki-laki yang terakhir nantinya menjagamu Sofia!"


panggilan itu, menjadi ucapan yang terakhir kali keluar dari mulut si mbah. Saat ini, tubuhnya terlihat pucat dan dingin. Tak ada aliran darah dalam gurat wajahnya, hanya pucat pasih bersih.


"Innalilahi wainnailaihi rojiun" tutur Hendra yang baru saja mengecek denyut nadi si mbah.


Pengendara mobil yang mengantarkan mereka berdua pun juga turut berduka disana, mereka gagal menyelamatkan nyawa nenek tua tersebut. Tapi bagi Sofia dan Hendra, dia sudah berjasa besar kali ini. Meski pun mereka tak mengenal keduanya, masih mau berbaik hati memberikan tumpangan.

__ADS_1


__ADS_2