
...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya 🌷...
"Mbah, Dika ijin pamit dulu. Mau antarkan Gendhis pulang juga, karena tadi Sofia sudah menyuruh untuk antar pulang" kelit Dika mencari alasan untuk segera pergi dari sana.
Sofia hanya tersenyum ke arah si mbah tanpa menimpali perkataan apapun saat itu.
Busuk banget hati lelaki ini. Bisa-bisanya ia menutupi segala perbuatan bejatnya dengan mengatasnamakan Sofia. gumam Mahendra yang terlihat masih tidak terima dengan ketidakadilan yang diterima Sofia.
Hanya berselang beberapa detik dari Mahardika, ia pun juga terlihat berpamitan pada nenek dan kakek Sofia.
"Mbah, saya pamit pulang dulu ya" pamit Mahendra.
"Tunggu sebentar, Sof rantangnya bawa kemari" perintah si mbah pada cucunya.
Dengan penuh kepatuhan Sofia pun berlalu menuju dapur dan mengambil sebuah rantang yang berisi makanan untuk Hendra bawa pulang.
"Ini adalah bentuk sambutan dari warga sini kepada pendatang seperti kalian, tradisi ini sudah ada dari dulu. Sampaikan salam si mbah untuk orang tua kamu dirumah" jelas si mbah dengan mendetail.
Mahendra menyambut baik ketulusan si mbah kepadanya. Ia tahu betul bagaimana keadaan mereka disana, tapi mereka tidak melupakan orang lain ditengah kesusahan mereka.
Sofia terlihat mengantar keluar Mahendra sampai depan pintu rumahnya.
"Terimakasih mas, sudah mau berkunjung ke gubuk kami" suaranya terdengar sangat ramah, seakan tidak pernah terjadi apapun pada dirinya hari ini.
"Sama-sama, semoga kamu dan si mbah selalu di berikan rejeki yang tiada henti" sahut Mahendra mendo'kan kebaikan untuk Sofia dan si mbah.
Dirinya pun memilih berlalu begitu saja dari hadapan gadis tersebut, dan ia mengurungkan segala niatnya yang sudah tersusun rapi untuk ditanyakan kepada Sofia. Meski berat kakinya meninggalkan rumah itu, tapi dia tetap berjalan pulang tanpa keraguan.
Memang Mahendra tidak memiliki hak penuh atas semua kesedihan yang tengah dirasakan Sofia saat ini, tetapi dirinya sebagai seorang lelaki yang bersikap gentleman kepada wanita sangat geram jika harus menjumpai lelaki seperti Mahardika.
...🍂🍂🍂...
"Bu, ini ada makanan dari teman Hendra" ia meletakkan rantang makanan tersebut di atas meja.
"Kamu sudah punya teman disini?" tanya ibu Mahendra yang sangat mengenali kepribadian putranya itu. Ibu Mahendra bernama Puput Ismawati, biasa disapa dengan bu Puput. Sementara ayahnya bernama pak Triatmojo, panggilan akrabnya adalah pak Tri.
"Sudah dong bu, masak iya Hendra nggak punya teman. Semenjak Hendra mengambil kerjaan part time sebagai tukang ojek kan, Hendra sering sekali bertemu dengan orang baru" jelasnya bangga menceritakan kemajuan yang ada pada dirinya.
__ADS_1
Berbeda dengan saat dirinya berada diluar, Mahendra yang ketika berada didalam rumah. Jauh dari kata acuh ataupun cuek, justru ia terlihat cukup hangat berbaur dengan ke dua orang tuanya.
Ke dua orang tuanya pun sangat menikmati masakan Sofia kala itu.
Malam pun tiba, tepat pukul 7 malam itu terlihat Mahendra bergegas untuk pergi ke mushola kecil yang tak begitu jauh dari rumahnya. Ia adalah lelaki yang tak pernah meninggalkan sholat berjamaah sehari pun, meski begitu dirinya tidak pernah terlihat berpakaian terlalu agamis saat menuju mushola.
Masih dengan pakaian yang sama, setelan jeans dan atasan kaos selalu menemani harinya beraktivitas kemanapun.
Saat ia tengah berjalan di dinginya malam, dan jalanan yang terlihat masih begitu basah akibat derasnya hujan yang mengguyur. Beberapa jalanan becek dan membuat sedikit kubangan lumpur disana, akibatnya beberapa orang harus berjalan berjangkit dan menarik sedikit ke atas untuk yang mengenakan sarung.
Dipersimpangan jalan menuju rumahnya, ia pun mendengar Isak tangis perempuan yang tak cukup keras tapi masih mampu ia dengar dengan baik disana.
Dalam gelap malam, ia yang tak membawa penerang lampu hanya mengandalkan cahaya lampu yang sudah dipasang disetiap jalan. Tapi masih saja ada beberapa jalanan yang tak tersinari sempurna dari cahayanya.
"Kali ini aku nggak mau menuruti kemauanmu mas" Sofia menangis sambil terisak.
Dirinya menangis karena sebelumnya sudah mendapati sebuah tamparan dari Mahardika.
"Sudah berani menolak aku kamu yah" ujar Mahardika. Ia pun bersiap untuk menampar kembali gadis itu dengan mengacungkan telapak tangannya ke atas.
Tanganya sudah terlihat mengarah ke arah wajah Sofia disana. Belum hilang bekas tamparan yang baru saja ia layangkan, kini ingin berulah kebali.
Settt
Laju tangannya tiba-tiba ada yang menahan dalam kegelapan.
"Aku yakin, kali ini pasti kamu kan Mahardika?. Tidak ada seorang lelaki brengs*k yang aku jumpai di desa ini melainkan dirimu.
Tangan Mahardika ditepis degan begitu kuat oleh Mahendra.
"Oh aku tau,jadi dia alasan kamu untuk menolak permintaanku Sof" ujarnya melemparkan kesalahan pada Mahendra.
"Aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan mas Hendra, jadi stop bawa-bawa namanya setiap pertengkaran kita mas" jelas Sofia yang masih menahan sakit di pipinya.
Entah kekuatan berapa oktaf yang dilayangka Mahardika untuk menampar Sofia tadi, hingga ke lima sidik jarinya membekas merah kebiruan di atas kulitnya.
"Aaaargh, kamu memang wanita nggak tau di untung" umpat Mahardika yang segera menghampiri Sofia dan mencoba untuk menikamnya.
__ADS_1
Braaakkk
Terlihat motor Mahardika ditedang oleh Hendra dalam kegelapan, ia yang tak akan mungkin tinggal diam melihat Sofia di aniyaya untuk kesekian kalinya. Dengan menendang motor miliknya, ia berharap Mahardika dapat teralihkan kekesalannya pada dirinya.
Ia tak mau jika Sofia mendapati luka lebih dari ini.
"Sial*n, sejak kapan kamu selalu datang dan mencampuri urusan kami disini"
Tubuhnya berdiri meninggalkan tubuh Sofia yang sudah tersugkur di atas jerami yang sedikit basah karena hujan.
"Mm-mass" pekik Sofia yang ingin menghentikan langkah kaki Mahardika menghampiri Hendra.
Tapi ia tak bergeming disana, sikap arogannya selalu tak terkendali dengan baik saat kemauannya tak dituruti Sofia.
"Ayo kemari" tantang Mahendra.
Mereka pun berkelahi tanpa henti disana, ke duanya terlihat baku hantam berkali-kali dan tak terelakkan. Karena sama-sama tidak ingin mengalah, akhirnya ke dua lelaki tersebut saling memiliki luka yang cukup serius dibagian wajah.
Ada luka lebam dan terlihat darah keluar dari ke dua wajah mereka, yang satu mati-matian membela harga diri Sofia. Sementara satunya hanya ingin melampiaskan kebejatannya pada gadis lugu tersebut.
"Tolong hentikan," Sofia masuk ke dalam perkelahian tersebut sambil membungkukkan badanya untuk melindungi Mahendra disana. Yang sudah sedikit lemas akibat pukulan helm dari Mahardika bertubi-tubi.
Warga sekitar yang baru saja turun meninggalkan mushola, dengan sigap menghampiri ke dua lelaki tersebut yang tengah beradu jotos disana. Sofia hanya bisa menangis sejadi-jadinya mendapati luka Mahendra yang cukup serius.
...----------------...
Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️
🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.
🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.
🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️
🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.
Terimakasih
__ADS_1