
...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya🌻...
Pada sore hari itu, Hendra yang tengah menyiapkan segala berkas yang akan ia butuhkan nanti terlihat begitu semangat. Dirinya sudah mendapatkan dukungan dari kedua orang tuanya untuk mengadu nasib dikota.
Dengan penuh kebahagiaan, ia yang sudah memiliki awang-awang untuk pekerjaannya nanti. Dia pun sudah membayangkan akan bersanding dengan perempuan pujaan hatinya setelah ia berhasil mengumpulkan pundi-pundi rupiah nantinya.
Keesokan harinya, ia pun meminta restu kepada bapak dan ibunya untuk segera berangkat saat itu.
"Buk,pak Hendra berangkat dulu ya. Do'akan Hendra dan jaga diri kalian baik-baik dirumah" tutur Hendra meminta restu keduanya.
Baik Puput ataupun Tri, sudah memberikan restu itu jauh-jauh hari. Mereka meyakini, Hendra mampu menjaga dirinya dengan baik saat berada jauh dikota tanpa pendampingan mereka berdua.
Keduanya pun melepas putra semata wayangnya itu penuh keikhlasan.
Di persimpangan jalan dengan tak sengaja ia menjumpai Sofia yang saat itu hendak pergi ke pasar untuk bekerja.
"Sof, do'ain aku yah. Hari ini aku akan pergi ke kota untuk mencari pekerjaan" tutur Hendra yang juga berpamitan pada gadis pujaannya itu.
"Iyah mas, hati-hati saat berada dikota orang yah. Semoga semua berjalan baik sesuai keinginan mas Hendra" sambut Sofia pada Hendra.
"Kamu juga ya, tolong jaga baik-baik diri kamu saat aku jauh dari kamu" celetuk Hendra dengan spontan.
Sofia hanya tersenyum saat mendapati permintaan Hendra disana, pasalnya ia juga merasa sedih karena harus merelakan kepergian Hendra ke kota. Karena selama ini, Hendra sudah banyak menjaga dirinya dan ke dua kakek neneknya. Entah siapa lagi yang akan menjaga Sofia jauh lebih baik dari pada Hendra nantinya.
Tin tin ...
Sebuah angkutan umum sudah siap menunggu Hendra disana.
"Baiklah, sudah datang jemputanya. Aku pergi dulu yah" pamit Hendra sambil mengusap lembut rambut Sofia yang masih memandangi dirinya.
Sofia hanya bisa pasrah dan ikhlas melepas kepergian Hendra saat itu. Tak jauh dengan perasaan Hendra, dirinya pun juga ingin sekali rasanya memeluk erat tubuh Sofia untuk terakhir kalinya. Tetapi dirinya sadar betul, hal itu tak patut ia lakukan saat ini karena dirinya belum memiliki ikatan apapun dengan Sofia.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, ia pun telah sampai dikota. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, ia pun menuruni angkutan umum tersebut.
__ADS_1
"Hello kota, tolong bersahabatlah dengan baik ya" sambut Hendra sambil menghirup nafas dalam-dalam.
Jauh berbeda dengan suasana didesa, dikota terlihat begitu banyak orang lalu lalang untuk mencari nafkah. Dengan semua kesibukan mereka masing-masing, kota ini cukup terlihat padat dengan penduduknya.
Setelah dirinya berjalan cukup jauh, akhirnya ia telah menemukan tempat singgah untuk dirinya tinggali. Itu adalah sebuah kos putra dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan lainnya.
Karena Hendra harus hidup jauh dari ke dua orang tuanya, maka ia harus dituntut bijak dalam menggunakan uang. Ia harus mampu hidup sesederhana mungkin disini, tanpa harus menghamburkan uangnya dengan mudah nantinya. Dan dia juga harus mengirimkan sejumlah uang untuk ibu dan bapaknya dirumah.
"Ini untuk kunci kamar beserta kunci pintu pagar ya mas" jelas seorang ibu kos yang bernama Pratiwi.
"Baik bu, terimakasih. Ini saya bayar untuk 2 bulan ke depan." tuturnya dengan sopan sambil memberikan sejumlah uang.
"Makasih ya, semoga betah disini" timpal Pratiwi.
Hendra yang baru pertama kali tiba dikota itu, memutuskan untuk beristirahat sebentar sebelum ia keluar untuk mencari pekerjaan. Sampai akhirnya ia pun terbangun karena suara adzan berkumandang, Hendra yang selalu taat dalam menjalankan perintah ke dua orang tuanya selalu menanamkan hal baik itu kemanapun ia pergi. Dirinya pun lalu mengambil air wudhu dan menunaikan sholat dikamar.
Ketika ia menyelesaikan sholatnya, ia pun segera mengambil handphone miliknya untuk mengabari ke dua orang tuanya yang mungkin sudah gelisah menunggu kaabrnya sejak tadi.
☎️ "Assalamu'alaikum buk, Hendra sudah sampai dikota dengan selamat." suara Hendra.
☎️" Baiklah kalau begitu, sampaikan salam Hendra untuk bapak ya bu. Hendra sudahi dulu teleponnya" suara Hendra.
Saat dirinya sudah menghubungi ke dua orang tuanya ia merasa lega, tapi tetap saja ada yang mengganjal didalam hatinya saat ini. Dirinya yang kini tak dapat menatap wajah Sofia, tak dapat pula mendengarkan suaranya lagi. Pasalnya gadis tersebut tidak memiliki sebuah handphone layaknya gadis seumuran dirinya.
Tapi semua itu justru menjadikan Hendra untuk lebih semangat lagi dalam mencari pekerjaan dan segera mengumpulkan uang agar bisa pulang dengan cepat.
Dirinya pun sudah bersiap membawa sebuah lamaran pekerjaan, dan memakai kemeja lengkap dan rapi serta sepatu hitam miliknya. Jalan demi jalan ia susuri disana, karena letak tempat tinggal Hendra saat ini begitu dekat dengan beberapa perkantoran ia hanya berjalan saat menuju tempat tersebut.
Setibanya disebuah hotel yang cukup terlihat besar dan menjulang tinggi itu, ia pun dengan segera memasuki hotel tersebut dan terlihat menghampiri sebuah meja front office untuk menanyakan sebuah lowongan pekerjaan disana.
"Permisi mbak, apa ada lowongan?" tanyanya penuh semangat.
"Maaf mas, sementara ini kami masih belum membuka lowongan pekerjaan" tutur seorang karyawan disana.
__ADS_1
"Baik, terimakasih" sahut Hendra.
Ketika ia membalikkan badannya dengan cepat tanpa melihat jalan, ia pun menabrak seorang perempuan yang memiliki tinggi setara dengan dirinya. Ia terlihat rapi mengenakan blazer bewarna pink salem disana.
"Auww," suara wanita itu mengalihkan pandangan Hendra pada beberapa kertas yang berhamburan disana.
"Tolong maafkan saya mbak," sahutnya segera sambil membantu wanita tersebut untuk kembali berdiri.
"Oke," imbuh wanita tersebut.
Hendra yang saat itu masih terlihat sibuk mengemasi semua kertas yang berserak disana, dengan sabar ia mengutip satu persatu kertas-kertas itu.
"Kamu siapa ya, saya belum pernah berjumpa dengan kamu disini" ucap wanita tersebut.
Ia adalah Paramita Reynaldi, pemilik hotel tersebut. Saat Hendra mendengar pertanyaan tersebut ia pun bergegas berdiri sambil membenarkan kemejanya yang sedikit berantakan itu.
"Perkenalkan bu, saya Hendra. Tadinya saya mau melamar pekerjaan disini, tapi ternyata tidak ada lowongan sama sekali" tutur Hendra pada Paramita yang akrab disapa bu Mita oleh semua karyawannya.
"Oh jadi begitu, mari ikut ke ruangan saya" anaknya.
Hendra yang masih bingung disana, dengan patuh mengikuti langkah kaki Paramita saat itu. Dirinya masih belum tau siapa perempuan tersebut dan apa jabatan dirinya dihotel ini. Sampai bisa dengan mudah mengajak dirinya untuk masuk begitu saja, tanpa harus ada lowongan pekerjaan.
...----------------...
Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️
🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.
🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.
🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️
🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.
__ADS_1
Terimakasih