Pembalasan dendam sang bunga desa

Pembalasan dendam sang bunga desa
Pedih


__ADS_3

...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya 🖤...


"Mbah tolong jangan tinggalin Sofia!, bangun Mbah!!" tangisnya pecah saat melihat tubuh si mbah telah kaku dan terbujur kaku di ruang tamu milik mereka.


Dia yang begitu mencintai neneknya itupun, meraung kesakitan ketika menyaksikan semua ini. Sofia sangat terpukul dengan cara kepergian neneknya yang sangat tidak adil.


"Assalamu'alaikum" Sumitra beserta suami dan anaknya Dika berkunjung untuk melayat ke rumah Sofia.


Kali ini, Dika yang tengah berpura-pura terlihat santai memutuskan untuk ikut dengan kedua orangtuanya saat itu. Ia yang mengira semua akan baik-baik saja, tidak memiliki rasa takut saat kakinya mulai melangkah masuk ke dalam rumah itu.


"Tunggu!, hentikan langkah kakimu mas!" ucap Sofia tiba-tiba mengundang banyak mata disana.


Dia pun sambil menunjuk tubuh Dika yang masih didepan pintu.


"Aku!" dengan polosnya ia bersuara.


"Yah kamu!, tidak akan lagi kamu injakan kaki itu dirumah ini. Tubuh seorang pembunuh sepertimu tidak layak dihadapan si mbah ku ini !" ucapan Sofia mulai kasar.


Masih ditempat yang sama, Prasetyo dan Sumitra terlihat bingung memandangi putranya.


"Ada apa ini nak?" sahut Prasetyo yang sedikit melembut pada Sofia.


"Coba bapak tanya pada anak bapak itu!" ini adalah kali pertama Sofia berucap dengan nada kasar kepada Prasetyo yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri.


Luka hati yang ia tanggung kali ini, sudah terlalu pedih hingga tak dapat lagi memberikan rasa hormat yang terbaik untuk keduanya.


"Ada apa ini Dik?, apa yang sudah terjadi. Jelaskan nak?" pinta Sumitra.


"Tentu sampai kapanpun dia akan terus membungkam mulutnya buk, dia yang bernama Mahardika telah tega merenggut nyawa si mbah saya dengan kasar. Bagaimana mungkin, lelaki ini melakukan kesalahan kepada saya hingga berulang kali seperti ini. Salah apa diriku ini mas, apa kurangnya aku sampai dirimu bersikap seperti ini !!" Sofia menumpahkan seluruh amarahnya dengan sesekali memukul dadanya.


"Sudah,sudah ... tenang Sof" bujuk Puput calon ibu mertuanya.


"Pak, mari ikut saya." tegas Tri yang sudah berdiri disamping keduanya.

__ADS_1


Dengan wajah yang sudah berubah suram, Prasetyo mengikuti kemana langkah kaki Tri berjalan.


"Begini pak, sebelumnya saya minta maaf jika saya mendahului Sofia didalam. Tapi dengan keadaan seperti ini, seharusnya kan memang bukan saatnya untuk bersitegang didalam"


"Saya mengerti!" sahut Prasetyo dengan pasti.


"Jadi kemarin, menurut penuturan Hendra anak saya. Sepulangnya Hendra dengan Sofia dari pasar, mereka pun bertemu dengan Dika dijalan. Dengan kata lain, ia dihadang oleh putra bapak. Sampai pada akhirnya, Dika ingin memukul anak saya tapi dihentikan oleh si mbah dari arah belakang. Maksud si mbah ingin memegang tangan Dika, agar berhenti untuk berkelahi tetapi Dika dengan kuat memberontak tanpa tau siapa yang menghentikan langkah kakinya disana. Jadi seperti itu pak"


"Sebelumnya saya juga minta maaf pada pak Tri ya, atas semua ulah anak saya. Kali ini saya ijin pamit dulu, tolong sampaikan salam saya untuk Sofia didalam nantinya." jelas Prasetyo.


Kali ini, dirinya sungguh tak bisa lagi memaafkan putranya disana. Dia berjalan dengan tertunduk dengan rasa malu yang begitu besar.


"Pp-paakk. Tunggu ibuk dulu" Sumitra dengan tergesa-gesa mengikuti langkah kaki suaminya yang telah pulang terlebih dahulu ketimbang dirinya dan Dika.


Sampai dirumah, Prasetyo terduduk dengan menyandarkan kepalanya di pinggiran kursi kayu itu. Air matanya terjatuh kali ini, ia yang tak pernah melihat meneteskan air mata kali ini harus mengeluarkannya karena perilaku sang anak.


"Kenapa bapak malah pergi, jadi nggak enak sama Sofia pak!" celoteh Sumitra tanpa memperdulikan suaminya yang tengah bersedih.


"Pak!, ayolah kita kembali kesana sekarang juga!." pintanya.


"Pak!"


"Kenapa bapak ini ..." dia seperti anak kecil kali ini.


"Aku mohon bu, tinggalkan aku sendiri kali ini. Aku ingin menenangkan diriku sebentar saja!" ucap pilu Prasetyo.


Seperti sebuah kesialan yang bertubi-tubi datang menghampiri keluarga mereka, perlahan tapi pasti. Semua masalah itu membuat sesak dadanya perlahan, dan tak dapat ia tangani dengan baik kali ini.


"Pak, ibu mohon kita hargai Sofia sekeluarga!" jelas Sumitra yang masih saja tak mengerti permintaan Prasetyo.


"SUMITRA!!! hentikan semua ini buuuk"


Ke dua mata Sumitra terbelalak akibat sentakan yang dilayangkan pada dirinya.

__ADS_1


"Anakmu itu sungguh tidak berguna buk,dia hanya bisa membuat kita malu seumur hidup kita!. Bahkan diusia kita yang sudah bau tanah ini, tak pernah sedikitpun ia membanggakan kita sedikit saja"


"Pak, maafkan Dika"


"Kamu masih membela pembunuh ini buk, kejam sekali kamu. Aku tahu kamu seorang ibu, tapi seorang orang tua akan mendidik anaknya dengan benar dan baik. Bukan malah membutakan mata hati anak itu dengan kasih sayang berlebih. Lihat dia baik-baik, berapa kali pun dia berulah kamu seolah siap pertaruhkan nyawamu untuknya dengan percuma"


"Maafkan Dika pak!" kali ini Sumitra terlihat bersujud dikaki suaminya.


Prasetyo yang sudah tak tahan lagi dengan ulah istrinya, dengan cepat mengambil sebilah parang panjang miliknya. Benda itu sudah lama tak pernah ia buka, semenjak kepergian sang ayah sewaktu dulu ia bujang.


"Jika kau terus membela anakmu seperti itu, bagaiman jika kuhabisi saja nyawanya ditanganku sendiri. Mungkin semua luka dan rasa malu ini akan sirna dan tak terasa pedih jika aku sendiri yang melakukannya"


Parang itu sudah dekat dengan urat leher Dika.


"Tidak pak tidak!" tegas Sumitra sambil terus membekap mulutnya sendiri.


"Kalau begitu sadarlah, dan kirim anak ini ke kantor polisi sekarang juga!"


Dengan tega kali ini tangannya terlihat menggandeng Dika disana, ia yang sudah tak lagi memperdulikan tangisan Dika memohon berulang kali padanya tetap berjalan lurus dan membawa putranya itu ke hadapan polisi.


Maafkan ibumu ini nak!, kali ini ibu akan merubahmu lebih baik. Jika memang semua kasih sayangku telah membutakan mata hatimu selama ini, maafkan ibu!. Cinta ini sudah teramat jauh untukmu, dan sayang ini juga sudah teramat dalam bagimu. Jadi ibu mohon, semoga setelah badai ini kamu mampu menemukan jati dirimu yang lebih baik lagi tanpa bantuan ibumu ini. Kelak jika ibu sudah tak ada lagi didunia ini, ibu yakin kau mampu menyadari semua rasa sayang kami kepadamu!. gumam Sumitra sambil terus menyeret tangan Dika ditepi jalan.


Setibanya dikantor polisi, Sumitra yang mematuhi segala ucapan suaminya lalu menodongkan anaknya tersebut ke hadapan salah seorang petugas.


"Saya serahkan anak saya pak, dia telah membunuh warga desa kami!" serunya dengan tatapan mata yang kosong dan kaku.


"Tidak bisa seperti ini bu, semua harus ada prosedurnya" jelas polisi bertubuh gempal.


"Bapak tenang saja, jika tidak nanti mungkin besuk bakal ada yang melaporkan anak saya kemari. Dan sebelum mereka datang kesini terlebih dahulu, saya ingin menyerahkan anak saya dahulu kesini lebih awal dari mereka." timpal Sumitra.


Nadanya terlihat begitu tegar dan tegas, tapi ibu mana yang tahan jika harus melihat anaknya sendiri diserahkan kepada pihak berwajib.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung ❤️


__ADS_2