Pembalasan dendam sang bunga desa

Pembalasan dendam sang bunga desa
Kamu tetap milikku


__ADS_3

...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya 🎋...


"Bu, pak Hendra titip Sofia ya. Tolong jagain dia" pinta Hendra.


"Mau kemana kamu le," tanya Puput .


"Hendra mau pergi" tegasnya sambil terburu-buru pergi dari rumah.


Maksud kepergian dirinya kali ini adalah ingin membelikan Sofia sebuah obat khusus bagi ibu hamil untuknya.


Ketika dirinya ingin mengendarai motor miliknya, nahas bagi Hendra karena Dika dari kejauhan berjalan mendekatinya sambil membawa sebilah pisau disana.


Masih dengan keadaan marah dan sakit hati atas ucapan Hendra beberapa jam yang lalu, kali ini ia pun dengan gelap mata datang kembali disana.


"Duh, kenapa nggak nyala-nyala ini motor si!" gerutu Hendra sambil menginjak pedal motor itu berulang kali.


Tanpa berlama-lama, Dika yang sudah dekat dengan tubuh Hendra mendekapnya dengan erat. Dan pisau itu tertusuk tepat diperutnya dan sesekali dibenamkan dengan keras oleh tangan Dika .


Jleb ... jleb ...


Berulang kali ujung mata pisau itu di hunuskan ke perut Hendra. Beberapa orang yang melihat aksi Dika awalnya hanya biasa saja, hingga sampai ketika tubuh Hendra terjatuh dan tergeletak di tanah begitu saja. Dan Dika lebih memilih pergi menjauh disana.


Barulah kerumunan orang yang tengah menyantap hidangan diteras rumah Hendra mengelilingi pria malang tersebut.


"Astaga!!!,"


"Ya Allah"


"Pak ... pak Tri , bu Puput tolong Hendra tolong " teriak seorang ibu-ibu.


Tri dan Puput yang mendengar suara teriakan diluar itupun bergegas keluar dari kamar anaknya untuk memeriksa keadaan.


Dirinya berlarian ke arah kerumunan warga disana, sementara Puput yang sedari tadi memiliki firasat buruk kini hatinya terus bergetar ketika hendak mendekati tubuh Hendra .


"Ya Allah anakku, siapa yang melakukan ini siapaaa?!!" ujar Tri begitu terkejut dengan kondisi Hendra dan memapah kepala Hendra disana.


Sementara Puput yang masih berada dibelakang tubuh Prasetyo lemas tergeletak karena pingsan.


Kali ini, giliran Sofia yang keluar dengan tubuh sempoyongan dan matanya sedikit berputar-putar disana. Kakinya lirih berjalan, karena lilitan kain jarik yang membalut tubuhnya sempurna.

__ADS_1


Dengan menutupi mulutnya, air matanya begitu deras menghujani pipinya dengan cepat.


"Mas ... " panggilannya pilu sambil terus menangis.


"Lihat suamimu ini nak, nasibnya sungguh malang!!!" erang Tri yang terus menangisi kepergian Hendra begitu menyedihkan.


Beda dengan Puput, ia yang baru saja tersadar perlahan mendekat pada putra semata wayangnya itu dan meraih tangan Hendra.


"Pergi kamu pergi ...!" usir Puput pada Sofia.


Teriakan Puput yang begitu kencang menyayat hati Sofia. Ia tidak percaya, keadaan akan berubah lebih cepat dan mengenaskan seperti ini. Kali ini, tak ada lagi yang membela dirinya disana satu orangpun.


"Nak, kemarilah" panggil kakek Marjono kakek Sofia.


Lelaki tua renta itu memanggilnya penuh kehangatan dan membentangkan kedua tangannya untuk cucu tersayangnya.


"Masih ada kakek disini, jangan pernah takut sendiri" ucapnya lirih.


Sebagai anggota keluarga Sofia satu-satunya, tentu hatinya pun sangat terasa terluka dengan semua kejadian ini. Tapi lelaki yang kerap dipanggil si Mbah oleh warga setempat itu lebih memilih menguatkan dirinya dihadapan Sofia agar ia bisa menjadi tempat sandaran satu-satunya bagi cucunya itu.


"Bawa Sofia pergi dari sini Mbah!" tutur Sofia pilu.


Dia yang tak sempat mengantarkan jenazah suaminya untuk yang terakhir kalinya itu, lebih memilih menghindar dari sana dari pada harus melukai hati kedua orang tua Hendra saat itu.


kenapa Tuhan, kenapa semua orang yang aku sayang engkau ambil dengan cepat dari sisiku. atau memang diriku ini pembawa sial bagi orang-orang yang berdekatan denganku. gumam Sofia sepanjang jalan.


"Sudah, rebahkan dirimu disini dulu nak" ucap Marjono sedih.


Sofia yang masih berbalut gaun pengantin adat Jawa itu hanya terus terdiam sambil memandangi atap-atap langit kamar. Air matanya sudah mengering disana, hingga tak terlihat lagi membasahi pipinya.


Si mba yang tengah diliputi kesedihan tengah duduk disebuah kursi kayu miliknya , sedari tadi ia hanya merenungkan ucapan seorang dukun beranak yang dulu sempat membantu ibu Sofia dalam melahirkan dirinya.


Flashback Mbah Marjono.


Malam hari itu langit begitu gelap dan hujan petir pun terus menerus membasahi tanah didesa itu begitu deras. Kedua orang tua Sofia yang tak memiliki banyak biaya akhirnya memutuskan untuk memanggil sebuah dukun bayi yang biasa menolong pasiennya juga didesa itu.


"oek, oek ," suara tangisan pecah untuk pertama kali dalam rumah itu , Sofia terlahir selamat tanpa kekurangan satu apapun disana.


Ayah dan ibunya begitu bahagia melihat putri cantiknya terlahir sempurna saat itu. hingga bahagia itu harus berubah menjadi kesedihan ketika sang dukun bayi menjelaskan garis hidup Sofia kedepannya nanti.

__ADS_1


"Anak ini terlahir tepat dimalam Senin pahing" tutur si dukun beranak .


"Ada apa memangnya uni" tegas ayah Sofia gelisah , kedua nenek dan kakek Sofia pun mendekat ke sana agar mereka juga mengetahui persoalannya.


"Dia akan bernasib buruk kedepannya nanti, siapapun yang berada didekatnya akan bernasib sial dan kemalangan. Itu nyata adanya!" tutur uni.


"Apakah tidak ada cara untuk menghapus itu semua?" tanya Marjono dengan sedih.


"Tidak ada !, itu sudah sebuah takdir dan ketentuan dari Tuhan " timpal uni pasti.


Ini yang tengah membersihkan tangannya dari bekas darah , segera pergi dari rumah itu begitu saja. Dan dirinya pun tidak mengambil sepeserpun bayaran dari ayah Sofia kala itu. Karena selain dirinya dukun beranak, uni juga mempercayai dengan hal-hal yang berbau mistis.


Jika dirinya mengambil uang itu dengan sadar, maka sebuah nasib sial dan kemalangan nantinya juga akan menimpa dirinya.


*


*


*


Dikediaman Hendra masih tampak sesak dipenuhi oleh kedatangan para warga disana. Sementara jenazah suami Sofia itupun telah selesai dimakamkan saat itu.


"Bu, mana Sofia ?" tanya Tri yang baru saja pulang dari makam.


"Jangan sebut nama anak itu lagi didepanku pak!" tepis Puput marah.


"Bu, ingat pesan Hendra tadi. bagaimanapun dia masih menantu kita Bu" ucap Tri mencoba menyadarkan istrinya.


"Tidak!, dia bukan lagi menantuku!. dia sudah merenggut nyawa anakku Hendra " tangis Puput pecah kembali disana sambil mengelus bingkai foto Hendra .


"Istighfar Bu, sadar Bu. Hendra sudah bahagia disana" jelas seorang tetangganya.


"Bapak akan menjemput Sofia Bu!" tegas Tri segera melangkahkan kakinya.


"Tidak pak!, jangan pernah berani melangkahkan kakimu kesana lagi. Atau tidak kau akan menjumpai istrimu ini sama dengan anakmu Hendra hari ini juga!" ancam Puput tanpa berpikir dahulu.


"Tapi Bu..." sahut Tri kesal.


"Pak Tri sudah, ada baiknya mengalah dulu dengan ibu Puput. Perasaannya begitu terluka saat ini" ujar perempuan yang tengah mendampingi Puput sejak tadi.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung ❤️


__ADS_2