Pembalasan dendam sang bunga desa

Pembalasan dendam sang bunga desa
Jera


__ADS_3

...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya 💌...


"Saya mohon pak buk, tolong kasih saya kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalah saya kali ini. Saya tidak mau masuk bui" Dika bersimpuh dikaki Tri seraya memohon ampunan.


Plaakkk


Tamparan keras Prasetyo kembali mendarat dipipinya, entah berapa kali Prasetyo menampar Dika dengan keras. Ke dua pipinya sudah terlihat begitu lebam.


Miris hati Puput menyaksikan keadaan disana, ia pun teringat Hendra putranya yang tengah terbaring lemah didalam sana. Sebagai seorang ibu, perasaannya begitu ketir melihat semua ini.


"Tolong hentikan semua ini pak, saya hargai didikan bapak yang begitu tegas dengan mas Dika ini. Tapi, saya juga seorang ibu, saya bisa merasakan perasaan bu Sumitra yang sedari tadi diam saja disana" Puput menunjuk Sumitra yang hanya diam karena sudah menyepakati perkataan suaminya dirumah tadi.


Sumitra termasuk istri yang sangat patuh terhadap suami, semua perintah dan larangannya selalu ia emban dengan begitu baik.


"Saya baik-baik aja bu Puput" ucapnya pilu menahan sedih.


Sementara Puput dapat melihat ia juga begitu getir melihat semua ini. Dengan tarikan nafas yang dalam, pak Tri terlihat mengutarakan keinginannya dalam kasus ini.


"Saya mewakili istri saya juga, kami berdua memutuskan untuk tidak membawa kasus ini ke jalur hukum pak. Kami terima dengan ikhlas sebagai suratan takdir anak kami seperti ini. Mohon do'anya saja bagi Hendra supaya bisa cepat siuman dan pulih seperti sediakala." Tri memaparkan permintaannya.


"Terimakasih atas ketulusan hati pak Tri beserta bu Puput yang sudah memaafkan anak kami ini. Saya harap dia bisa berubah menjadi lebih baik, bukan bermain dengan kesempatan besar ini. Tadinya saya sendiri yang ingin menggelandang dirinya langsung ke kantor polisi. Tapi saya pikir, kesempatan itu berhak didapat oleh keluarga korban. Maka dari itu ia saya seret kemari" ucap tegas Prasetyo yang tanpa pandang bulu terhadap anaknya.


"Ini bu Puput kwitansi pembayaran rumah sakit atas nama Hendra" Sumitra terlihat berjalan menghampiri Puput disana dan memberikan secarik bukti pembayaran lunas rumah sakit.


Dengan ekspresi tak percaya ia menerima kertas itu dengan penuh gemetar.


"Terimakasih banyak atas semua ini ya bu, saya terima kebaikan bapak dan ibu Sumitra." sahut Puput.


Selanjutnya kini bergantian Prasetyo menyalami Tri disana dengan amplop coklat yang berisikan uang ganti rugi atas kelakuan puteranya itu. Pasalnya ia memang sudah menyiapkan uang itu untuk jalan berobat Hendra kelak.

__ADS_1


"Skkk skkk, tolong bapak terima semua ini. Betapa malunya kami jika bapak dan ibu menolak semua ini. Anggap ini adalah bentuk ucapan terimakasih kami pada kalian yang sudah membebaskan Dika dari jerat hukum atas tindak tanduknya." Prasetyo meremas erat tangan Tri kala itu.


"YaAllah pak, kami sama sekali tidak mengharapkan ini" sahut Tri dengan gemetar suaranya.


"Tolong diterima ya pak," ucap Sumitra dengan memelas.


Tri hanya menoleh ke arah istrinya Puput yang masih berdiri dihadapan Sumitra. Puput pun terlihat mengangukkan kepalanya, untuk menyetujui suaminya.


"Saya terima semua kebaikan bapak ini ya, hanya do'a yang bisa saya berikan pada keluarga kalian sebagai bentuk balas Budi kami" tutur Tri yang sudah menerima uang tersebut.


"Justru do'a itu tak akan pernah setara derajatnya dengan semua uang ini pak. Baiklah, kami undur diri dulu. Semoga Hendra segera pulih secepatnya" timpal Prasetyo.


Sambil memeluk erat tubuh Puput, Sumitra terlihat berlinang air mata. Mereka ke dua ibu yang sangat hebat dalam situasi seperti ini. Dan merekapun memutuskan untuk pergi dari tempat itu.


Sofia yang sedari tadi badanya gemetar menyaksikan semua itu, ia hanya mematung dan memandang sinis wajah Dika yang melirik ke arahnya. Ada sebuah dendam yang teramat dalam dirinya saat ini, memang tak pernah terbesit ucapan ataupun perasaan suka dirinya kepada Hendra.


Tetapi melihat keadaan Hendra saat ini, yang waktu itu mati-matian melindungi dirinya. Membuat ia tak terima rasanya, jika menyaksikan Dika lepas dari jerat hukum dengan mudahnya.


Tit Tit Tit


Terdengar alat bantu yang tengah menancap dibeberapa bagian tubuh Hendra disana.


Kali ini dia tak hadir sebagai sosok pelindung Sofia, ia lemas tak berdaya sedikitpun. Suaranya yang selalu terdengar lantang membela Sofia, kini sunyi hampir tak bersuara. Tangan kuat itu, kini menjadi lemah seketika.


Air mata Sofia berlinang begitu deras menyaksikan keadaan Hendra saat ini. Ia tidak percaya nasib malang ini akan menimpa lelaki baik ini.


Mas yang kuat disana, bertahanlah demi ke dua orang tuamu untukku. Jangan engkau kalah dengan semua alat yang menancap ditubuhmu ini, berjalan dan kembalilah kepada kami. Disini kami semua masih membutuhkan dirimu. ucap Sofia lirih dalam hati.


Dengan bersamaan, seketika tangan Hendra bergerak mencoba merespon sentuhan tangan ibunya. Matanya sedikit demi sedikit mencoba untuk terbuka dari tidurnya kala itu. Sementara Tri bergerak keluar untuk memanggil dokter.

__ADS_1


Hanya beberapa detik, dokter yang sigap pun datang mengecek tubuh Hendra disana dengan baik.


"Ini semua diluar dugaan, putra bapak dan ibu sungguh kuat melewati semua masa sulit ini. Tadinya saya memperkirakan bahwa Hendra akan koma sekitar 1-2 minggu ke depan, tapi belum sampai hari berganti ia sudah siuman. Selamat" jelas dokter Handoko.


Ternyata tubuh Hendra menolak semua kesakitan ini dan bergegas merangsak untuk memilih bangun dari tidurnya. Dalam tidurnya saat itu, ia merasa digandeng oleh seorang perempuan yang menuntun dirinya untuk berbalik dari sebuah cahaya terang yang ia hampiri kala itu.


Gadis itu mengajaknya kembali ke sebuah tempat dimana yang terasa hangat bagi dirinya, berbeda dengan tempat putih sebelumnya ia merasakan hawa dingin disana. Dan dalam ingatannya, itu seperti wajah Sofia.


Dengan mulut yang masih tertutup dengan alat bantu oksigen. Tangannya menunjuk Sofia yang tengah berdiri lebih jauh dari jangkauan Hendra. Puput yang menyadari respon anaknya tersebut segera memanggil Sofia.


"Iya mas" ujar Sofia yang sedikitpun tak berani menyentuhnya.


Mata Hendra berkedip dan berlinang air mata mendapati Sofia ada disisinya. Pasalnya Ia ingin memastikan keadaan Sofia kali ini supaya baik-baik saja, dan dia mendapatkan hal itu.


Dibalik alat bantu pernapasan itu, senyumnya mengembang saat melihat wajah Sofia. Ia terus memandangi wajah Sofia tanpa henti. Sementara ke dua orang tua Hendra yang menyaksikan momen tersebut memilih untuk mundur satu langkah pada ke duanya. Mereka ingin ke duanya bisa saling mengutarakan isi perasaan masing-masing saat ini dengan baik.


"Apa masih sakit mas?" tanya Sofia kepada Hendra.


Ia menggelengkan kepalanya ke arah Sofia sambil tersenyum manis.


...----------------...


Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️


🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.


🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.


🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️

__ADS_1


🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.


Terimakasih


__ADS_2