
...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya ⭐...
"Jangan pernah campuri urusan keluarga kami!," seru Gendhis yang baru saja tiba disana.
Kali ini, ia pun dengan nekat untuk datang ke pasar itu untuk merebut posisi Sofia disana. Ia ingin Sofia dipecat sebagai karyawan Sumitra dan Prasetyo saat ini, pasalnya jika memang orang lain saja bisa bekerja dengan mereka berdua kenapa tidak dengan anak beserta mantunya.
"Hari ini adalah hari terakhir kamu bekerja disini" tegas Gendhis yang sedikit sombong dengan kedudukannya saat ini.
Sumitra yang kebingungan mendapati ucapan Gendhis disana hanya diam dan kebingungan. Pasalnya ia dan suaminya tak pernah berkata seperti itu pada dirinya. Dan tak ada niat sedikitpun untuk memecat Sofia dari sana.
"Kamu siapa berani menentukan setiap posisi orang," timpal Prasetyo dengan tegas sambil menepuk punggung Gendhis.
Mendengar perkataan Prasetyo ia langsung menutup rapat-rapat mulutnya tanpa bersuara sedikitpun. Lain dengan Sumitra, ia masih terlihat cukup berani membantah ataupun menyuruh sesuka hatinya ibu mertuanya tersebut.
"Pak, sudah pak" pinta Sumitra sambil memegangi tangan suaminya yang sudah terlihat bergetar untuk menahan emosinya.
"Kalau begitu, Sofia ijin pamit saja ya pak buk" seru Sofia ditengah perdebatan Prasetyo dan Gendhis.
"Jangan ndok, justru perempuan yang tak tau diri ini yang harus pulang saat ini juga," tangan Prasetyo tepat menunjuk dihadapan wajah Gendhis.
Gendhis yang merasa kesal akibat dirinya tak mendapatkan dukungan, pergi begitu saja meninggalkan mereka disana. Ia berjalan sambil menghentakkan ke dua kakinya dan melengos begitu saja.
"Bapak jangan keras begitu sama Citra pak" tutur Sumitra pada suaminya.
"Kelak kita nggak ada, siapa yang mau mengingatkan mereka berdua buk?. Terlebih sikap Gendhis juga begitu pada bapaknya" ujar Prasetyo menasehati Sumitra.
Sofia yang sangat sedih melihat keadaan mereka, hanya bisa memandang lemas. Tanpa berani mencampuri jauh lebih dalam lagi.
"Ibuk titipkan ruko ini ya Sof," jelas Sumitra pada Sofia seperti biasa.
"Kamu, jangan pernah masukkan segala ucapan Gendhis tadi ya ndok. Kamu tetap bekerja seperti biasanya disini, segala keputusan ada pada bapak dan ibuk" tutur Prasetyo, Sofia mendengar hal itu hanya menundukkan kepala penuh santun terhadap keduanya.
Saat Sofia tengah membersihkan toko, ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang saat itu.
"Mbak,saya mau beli" suara itu terhenti tepat dibalik punggungnya.
__ADS_1
Sofia yang begitu mengenali suara itu, lalu berbalik dan menoleh ke arah lelaki itu.
"Mas Hendra," senyumnya merekah.
Hendra juga tersenyum saat mendapati Sofia yang masih berdiri diatas kursi kayu sambil membawa kemoceng ditanganya.
"Hati-hati nanti jatuh," nadanya terlihat mengkhawatirkan Sofia.
"Iya" Sofia menuruni kursi tersebut dengan perlahan, lalu menghampiri Hendra.
Keduanya terlihat saling mengobrol disana, karena begitu seru obrolan yang mereka bicarakan keduanya hingga lupa waktu.
"Cukup mas cukup," Sofia tak henti-hentinya tertawa sambil memegangi perutnya yang begitu sakit karena tertawa berulang kali.
"Hahah iya," sahut Hendra mengakhiri ceritanya yang membuat Sofia terpingkal-pingkal.
Hendra yang menemani Sofia sepanjang hari disana, juga turut membantu dirinya berjualan dan melayani beberapa orang pembeli saat itu. Ia terlihat tak segan memberikan bantuan itu kepada Sofia yang sudah berjasa besar dalam hidupnya.
"Mas Hendra jago sekali dalam melayani pembeli" puji Sofia pada Hendra.
"Nggak juga," sahutnya terlihat malu.
Ketika semua keperluan yang ia butuhkan telah didapatkan, dirinya pun mengajak Hendra untuk pulang saat itu. Tetapi sungguh diluar dugaan, ternyata dibawah sana sudah ada Dirga yang menunggu dirinya sedari tadi untuk menjemput Sofia.
"Mas, kesini juga. Mau beli apa?" tanya Sofia yang membuat kikuk dirinya.
"Emmm, nggak ada. Tadi mau pulang, berhubung aku ingat kamu jadi sekalian mampir mau aku antar pulang" jawab Dirga yang tak sungkan lagi.
Sofia saat itu bingung dengan ke dua lelaki yang saat ini berada tepat dihadapannya, yang keduanya sangat dikenal baik oleh dirinya. Karena tak ingin mengecewakan Hendra dan Dirga, Sofia lebih memilih untuk berjalan kaki saja. Tanpa harus melukai salah satu dari mereka.
"Mas pulang aja ya, Sofia bisa jalan" tuturnya kepada kedua lelaki tersebut.
Karena Hendra yang searah dengan rumah Sofia, ia pun saat itu mengikuti dirinya dari belakang tanpa membonceng Sofia. Dirinya terus mengikuti gadis tersebut sambil mengemudikan motornya sangat perlahan, dan sabar.
"Mas, pulang aja dulu. Sofia nggak papa kok." ujar Sofia.
__ADS_1
"Nggak papa, kan kita sejalan. Karena kamu lebih memilih untuk jalan, jadi aku ikutin kamu begini aja. Hitung-hitung jadi bodyguard nona Sofia sehari." jelas Hendra yang kembali membuat Sofia tertawa.
Hendra sangat menyukai jika Sofia tengah tertawa lepas, baginya senyum itu sangatlah jarang ia temui pada gadis tersebut.
Keduanya pun akhirnya terpisah diperempat jalan dan menuju rumah masing-masing.
Ternyata pemuda itu juga menaruh harapan pada Sofia, aku harus lebih dulu mendapatkan hati Sofia dibandingkan dirinya kali ini. Kesempatan yang sudah ku tunggu sekian tahun lamanya, takkan ku lepas begitu saja dari hadapanku. gumam Dirga.
Setelah lepas dari Dika, ternyata banyak sekali pemuda desa yang mencoba mendekati dirinya. Kali ini para pemuda desa terlihat lebih berani untuk menyapa Sofia, tidak seperti dahulu saat Sofia masih berada dalam genggaman Dika. Semua terlihat menjaga jarak dengan gadis ini, bahkan enggan untuk sekedar menyapa.
Tetapi semua itu tak cukup berarti bagi Sofia kini, ia lebih mengutamakan ke dua kakek dan neneknya yang jauh lebih membutuhkan dirinya.
Uhuk ... uhuk ...
Terdengar suara batuk si mbah begitu keras hingga terdengar kedalam kamar Sofia.
"Mbah, sudah jangan dilanjutkan lagi kerja diladangnya. Biar Sofia yang akan gantikan" ujar Sofia yang tengah menemani si mbah sambil memijat ringan kakinya.
"Tapi pekerjaan kamu gimana," tanya mbah disela suara batuknya yang begitu keras.
"Setelah pulang kerja, atau dipagi hari buta Sofia bisa ke ladang terlebih dahulu. Nanti akan Sofia atur mbah" jelas Sofia mencoba membuat si mbah tenang tanpa berpikir lebih berat.
Batuk itu tak kunjung berhenti, si mbah pun terus menerus batuk berkepanjangan. Sampai akhirnya Sofia membuatkan ramuan yang biasa si mbah ajarkan kepadanya. Minuman itu diberikan Sofia selagi panas, sambil meniupnya pelan Sofia dengan sabar menunggui si mbah untuk meminum habis ramuan tersebut sampai habis tak tersisa.
Setelah meminum ramuan itu, Sofia pun membantu si mbah untuk berbaring di atas tempat tidur.
...----------------...
Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️
🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.
🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.
🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️
__ADS_1
🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.
Terimakasih