
...Happy Reading guys, semoga kalian selalu menikmati alur ceritanya 🌷...
"Pak, buk maaf ya Hendra pulang tanpa memberi kabar dulu dengan kalian" ucapnya.
Mereka yang sudah sangat bahagia disana, tak dapat lagi berkata lebih banyak lagi.
"Sebelum bapak dan ibu tidur, boleh tidak kalau Hendra menyampaikan sesuatu" kali ini ia terlihat lebih serius lagi.
"Apa nak?" ke dua mata orang tuanya kali ini hanya tertuju pada dirinya.
"Hendra ingin melamar Sofia," ucapnya lirih dan gemetar.
Keduanya sejenak terdiam dan hanya saling berpandangan seakan tak percaya jika anak kecilnya ini sekarang sudah tumbuh beranjak dewasa dan sudah ingin meminang seorang gadis.
"Gimana pak,buk?" ulangnya, sementara ibuk dan bapaknya dengan serentak mengangguk dengan berkaca-kaca.
Tangis hendra pun pecah, tanganya kali ini menutup sebagian wajahnya penuh rasa syukur. Ia yang sudah jauh-jauh hari mengumpulkan semua keberaniannya kini sudah tercapai keinginannya.
Mereka pun menutup pembicaraan malam itu dengan penuh sukacita.
Keesokan harinya, Hendra dan sang ibu tengah pergi ke pasar yang tak lain adalah tempat bekerja Sofia juga disana. Keduanya terlihat asyik memilih beberapa barang yang hendak dibawah nanti malam ke rumah Sofia.
"Buk, sedang belanja apa kali ini?" sapa Sumitra disamping rukonya.
"Ah, Bu Sumitra apa kabar. Saya turut berduka cita atas meninggalnya Dirga ya bu. Dia memang anak baik, lihat saja kepergiannya untuk yang terakhir kali kemarin begitu ramai pelayat yang menghantarkan dirinya ke tempat peristirahatan terakhirnya" tuturnya.
"Terimakasih ya Bu" pungkas Sumitra.
"Saya tengah mengantarkan putra saya nih Bu, katanya sudah nggak sabar buat meminang gadis impiannya" ucap Puput tanpa menyebutkan inisial gadis tersebut.
"Wah, sungguh beruntung gadis itu kelak. Mendapatkan seorang calon suami yang sangat tampan dan sudah mapan juga" seru Sumitra ikut larut dalam kebahagiaan.
"Aamiin, kalau begitu saya ijin pamit pulang dulu ya Bu".
Sofia yang sedari tadi tidak sengaja mendengar percakapan Puput dan Sumitra tampak berdebar-debar tak karuan.
Akh!, kamu gila Sof. Jangan terlalu yakin jika yang mereka bicarakan adalah kamu orangnya. Mas Dirga juga sekarang sudah mengenal kota, bahkan para gadis disana jauh lebih menarik darimu. gumamnya sedih.
Pada malam harinya, ketika Sofia hendak menutup pintu rumahnya. Tangannya terlihat mengurungkan untuk melanjutkannya.
"Assalamu'alaikum" seru Hendra sekeluarga.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam ..." ucap ke dua nenek dan kakek Sofia.
Sofia masih bingung dengan kedatangan mereka bertiga yang secara mendadak malam ini. Ditangan mereka masing-masing juga membawa sebuah bingkisan yang nantinya diserahkan kepada calon menantunya itu.
"Wah, malam-malam begini" goda si mbah sambil tersenyum ke arah Dirga.
Kedua orang tua yang lanjut usia itu, rupanya sudah mengetahui betul apa maksud kedatangan mereka malam hari ini ke rumahnya.
"Tidak usah berlama-lama lagi ya mbah, sepertinya si mbah sudah paham betul tentang kedatangan kita malam-malam begini" ucap Tri mewakili putranya.
"Iyaah" ujar si mbah sambil tersenyum hangat.
"Ayo duduk sini Sof," pinta Puput pada gadis tersebut.
Sedari tadi ia hanya diam dan berdiri mematung disamping kakeknya.
"Ii-iya buk" Sofia terlihat lebih kikuk kali ini.
"Ayo le, cepet disampaikan apa maksud kedatangan kamu kemari. Apa bapak saja yang mewakili lagi?" goda Tri pada anak bujangan nya.
Tangan Hendra terlihat mengeluarkan sebuah kotak merah dengan simbol bunga di atasnya, dalam kotak tersebut berisi 2 buah cincin yang hendak Hendra pakaikan ke jari manis Sofia dan satunya akan terpasang pula dijari manisnya.
Sofia yang kebingungan dari tadi hanya bisa menoleh ke kiri dan kanan tanpa bersuara sedikitpun.
"Kemarikan jari kamu," pinta Hendra, ia pun hanya menurut begitu saja tanpa perlawanan.
"Sebelum aku pasangkan cincin ini, aku ingin pastikan dahulu ke kamu. Apa kamu mau, menjadi calon istriku di masa yang akan datang?"
Tanpa diduga, bersamaan dengan ucapan manis Hendra tersebut sebuah tiupan angin lirih menerpa wajah Sofia disana. Angin yang masih sama persis, ketika ia sedang berada dimakan Dirga kala itu.
"Mas," ucapnya.
"Kenapa Sof?, apa kamu ragu. Jika memang iya, aku tidak akan memaksakan hal ini" ujar Hendra tegas.
"Bukan mas, maksud Sofia anu ..." ia kembali terbata saat hendak menyampaikan hal mistis itu.
"Ah, maklum. Anak muda jaman sekarang banyak pemalunya buk, pak. Padahal dihati mereka, sebenarnya sangat mau." jelas si mbah sambil menyenggol tubuh cucunya.
"Eh iya, Sofia mau kok mas!" ucapnya tanpa ragu.
Kali ini pun dengan lantang dan keberanian dirinya, ia mengutarakan semua isi hatinya yang memang sedari dulu sudah sama seperti Hendra.
__ADS_1
"Alhamdulillah ..." seru para orang tua.
Akhirnya, semua sepakat bahwa pernikahan mereka akan digelar pada bulan berikutnya. Di wajah keduanya sangat tersirat kebahagiaan yang tak pernah terlihat sebelumnya.
"Lah ketemu lagi Bu, tadi dipasar dan sekarang ..." ujar Sumitra sambil menunjuk ke arah rumah Sofia.
"Iya bu, malam hari ini kami baru saja dari rumah Sofia untuk meminta ia pada ke dua kakek dan neneknya" tutur Tri, sementara senyum Puput dan Hendra begitu merekah disana.
Sontak penjelasan Tri tersebut membuat pilu hati Sumitra, bagaikan seorang anak muda yang baru saja diputuskan oleh kekasihnya ia sangat terlihat bingung harus bersikap sedih ataupun senang.
"Wah, wah, selamat ya nak Hendra. Pak Tri dan bu Puput juga selamat yah. Kami turut berbahagia" timpal Prasetyo yang mewakili istrinya.
Merekapun akhirnya berpisah digelap malam, saat itu bulan yang terlihat begitu indah melengkung dengan sinarnya di atas langit biru malam. Seakan mengisyaratkan kebahagiaan juga dalam penyatuan dua insan ini.
"Bu, kenapa to Bu. Mukanya ditekuk begitu, bapak kan jadi sungkan sama mereka" tanya Prasetyo sembari melipat ke dua tangannya ke belakang.
"Aku, sudah tidak ada harapan lagi pak"
"Hah, kenapa memangnya Bu!"
"Aku, sudah tidak bisa berharap lagi untuk meminang Sofia untuk Dika." ujarnya pilu.
"Buk, buk. Dia itu juga pantas berbahagia kan, anak kita sudah berumah tangga. Lalu kamu ingin menyiksa Sofia lebih lama lagi?, kalau bapak jadi kamu. Akan ku buang cepat-cepat semua rasa itu dari pikiranku. Karena sama saja kita mengekang kebahagiaan orang lain untuk ke egoisan kita sendiri"
Sumitra yang terlihat tak berselera lagi, menuju rumah dengan wajah yang lesu dan tak ingin meneruskan perdebatan yang membuatnya sesak tak menentu ini.
"Buk, buk. Masih saja kamu memanjakan anakmu yang kurang bersyukur itu" gerutu Prasetyo sambil menutup pintu rumah.
......................
Hai guys, ini adalah karya ke tiga othor. Aku berharap semua karya recehku ini bisa menghibur kalian dari kepenatan dunia nyata ya. ❤️❤️❤️
🔻Jangan lupa tekan tombol ikuti agar kalian mendapatkan notif setiap harinya.
🔻Jangan lupa like , vote dan favoritnya juga yah.
🔻 Kalau mau kasih hadiah juga sangat diperbolehkan ❤️
🔻 Ditunggu komen yang membangun untuk karya othor.
Terimakasih
__ADS_1